Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
45. Penyelamatan


__ADS_3

Abimanyu menghela napas tiba-tiba, berbalik pada Kisa persis setelah mereka memasuki apartemen gadis itu.


"Jadi gitu," gumam pria tersebut. "Kamu ... enggak punya rencana ngelanjutin akting kamu?"


Bagaimana mungkin Abimanyu tidak menyadarinya jika seluruh tembok kamar perempuan ini diisi oleh foto Abimanyu dari berbagai sudut? Bukan sekadar foto yang dia dapatkan di sosial media, tapi secara jelas foto yang dia dapatkan diam-diam atau mungkin diambil oleh orang suruhan.


Dia mengundang Abimanyu untuk mengakhiri sendiri sandiwaranya.


"Karena udah enggak ada gunanya." Perempuan yang memakai wajah Juwita itu kini menghapus seluruh kepolosan di sana, menyisakan kekosongan yang dingin. "Istri kamu udah diambil sama organisasi."


"Organisasi, huh?" Abimanyu ikut mengakhirinya sesuai yang dia mau. "Kamu bukan anak organisasi mana pun, kan?"


Orang ini tidak punya hubungan dengan penjualan narkoba atau penculikan yang Abimanyu sedang tangani. Tugas dia sepertinya cuma mengecoh Abimanyu dan tak lebih dari itu.


Dia punya tugas lain. Hal yang secara khusus ditujukan untuk Abimanyu.


"Sakura, kah?" Abimanyu menebaknya. "Kayaknya dia belajar dari pengalaman."


"Kamu enggak pergi nolongin istri kamu?"


"Kalau mereka berani ngapa-ngapain istri Eksekutif Aliansi, perang organisasi jelas langsung pecah. Ranaya pasti bakal pulang sendiri." Abimanyu tersenyum. "Dia itu enggak setolol Sakura soalnya."


".... Main pura-pura begini terlalu ngebosenin." Kisa menjatuhkan dirinya di sofa, duduk angkuh memandangi Abimanyu. "Gimana kalau sementara kita gencatan senjata dulu? Urus istri kamu, organisasi kamu dan apa pun itu urusan kalian baru habis itu kita lanjutin ini."


"Enggak lucu." Abimanyu mendengkus. "Kamu kira saya masih mau buang-buang waktu sama kamu?"


"Bukannya kamu udah tau kalau kita enggak lagi main-main?" balas perempuan itu penuh arti. "Abimanyu, kamu yakin kamu enggak sadar kalau saya megang kelemahan kamu?"


"...."


"Mau kamu marah soal saya mirip Juwita, mau kamu ngerasa tersinggung karena saya seenaknya jadiin muka saya ini 'senjata', kamu tetep enggak bisa nolak Juwita di diri saya."


"...."


"Jadi kamu boleh pergi sekarang, jemput istri kamu dulu karena dia juga tokoh penting buat drama kita."


Abimanyu memejamkan mata. Satu hal yang sangat ia sadari sekarang. Istri pertamanya yang kabur, Sakura, sudah bukan perempuan tolol yang hanya tahu beteriak ataupun menangis.


Dia sekarang sudah pintar bermain cantik.


*


"Akhirnya gue bisa bales dendam, *****."

__ADS_1


Rara hanya menatap datar Caca yang menyeringai semangat. Tentu saja Rara tidak kaget mengetahui dendam Caca padanya. Dia hampir dipenjara dan terpaksa harus minta maaf di depan kamera atas perbuatannya mencakar Rara.


Melihat Rara populer saja membuat dia sudah gatal-gatal apalagi setelah Rara menyerangnya secara langsung.


"Lo pikir cuma karena lo nikah sama Abimanyu, bekasnya Sakura, lo bisa seenaknya sama gue?! Hah! Jatuhin orang kayak lo sambil merem gue juga bisa!"


Rara menghela napas. "Bau orang bego," gumamnya sengaja.


"APA LO BILANG?!"


"Enggak, sori, gue keceplosan."


"Lo dasar murahan!" Caca langsung mengamuk, menjambak rambut Rara. Posisi dia sangat menguntungkan sebab Rara terikat di kursi sementara Caca bebas melakukan apa saja padanya.


Ketika rambutnya ditarik sampai rasanya tercabut banyak, Rara langsung meringis. Mau tak mau berpaling ke arah Mahen yang menontonnya tanpa ekspresi.


Rara tidak berniat ditolong. Malah Rara kembali berkata, "Ngurusin lo buang-buang waktu banget, Ca. Gue enggak ngerti gunanya ngomong sama lo tuh apa."


"LO KIRA KARENA SEKARANG TERKENAL, LO LEBIH BAIK DARI GUE?! GUE BISA BIKIN LO JATOH SAMPE ENGGAK ADA SATUPUN LAGI DI DUNIA INI YANG BISA NOLONGIN LO!"


"Ohya? Masa? Ciyus?"


Mahen mengerutkan keningnya di sana. Kenapa Rara terkesan sengaja memancing Caca untuk lebih menyakitinya? Dia gila atau bagaimana?


Terserah mereka mau jambak-jambakan.


Mahen berbalik, hendak menyuruh seseorang pergi membawakannya kopi saat tiba-tiba bangunan bergetar hebat. Mahen, Caca juga Rara tentu saja kaget merasakan guncangan kuat itu terasa seperti gempa berkekuatan dahsyat.


"Tes, tes."


Rara yang paling terkejut mendengar suara Abimanyu tiba-tiba terdengar di seluruh interkom.


"Gue di sini cuma tamu yang kebetulan lewat," ucap pria itu, bergema di seluruh sudut bangunan. "Gimana kalau kalian dateng bawain teh atau kopi? Sekalian juga perempuan cantik yang namanya Ranaya."


Mahen mengumpat. "Gila yah dia?! Ngelakuin ini sama aja minta buat perang beneran!"


"Gue ulang, gue di sini cuma tamu yang kebetulan lewat. Gimana kalau kalian dateng bawain teh atau kopi? Sekalian bawain perempuan cantik yang kayaknya lagi nangis. Namanya Ranaya."


"SIAPA YANG NANGIS?!" Rara malah membantah. "LAGIAN BURUAN TOLONGIN!"


Abimanyu malah terkekeh. "Butuh ditolongin ternyata."


*

__ADS_1


Pintu ruang pengawas di mana Abimanyu duduk tiba-tiba didobrak, disusul todongan puluhan senjata.


Tomoya dan Rendi ikut mengangkat senjata mereka, tapi jumlah antara keduanya benar-benar berbeda. Musuh puluhan, mereka cuma bertiga. Sedangkan Abimanyu malah sibuk duduk santai.


"Ternyata Eksekutif Aliansi tolol juga. Bisa-bisanya dateng ke sarang buaya tapi mikir masih bisa ngelawan," ucap seseorang yang Abimanyu kenali.


Mahen. Ternyata dia bagian dari organisasi ini, kah? Tidak terlalu mengejutkan.


"Mahesa Mahardika kayaknya udah terlalu tua buat ngebesarin orang-orang pinter lagi." Mahen tersenyum remeh. "Gimana kalo sambil nungguin dia mati, kalian contohin rasanya jadi mayat?"


"Hmmm, gitu ternyata." Abimanyu menghela napas. "Kalian Grup Band Anti-Mahardika. Karena Mahardika udah tua jadi kalian ngerasa begitu dia mati, negara bakal pindah kontrol lagi."


Tomoya terkekeh. "Bos, seenggaknya panggil tero-ris. Lebih keren daripada grup band. Kan kasian."


"Ohiya yah. Yaudah deh, tero-ris."


Mahen mengerutkan kening marah. "Lo kira Aliansi-nya Mahardika masih bisa kayak dulu?!"


Abimanyu beranjak. "Kayaknya lo salah paham. Lo kira Aliansi enggak mau perang karena Mahardika lagi sekarat jadi kalian, siapa pun kalian, ngerasa bisa ngacak-acak negara pake narkoba, penjualan organ, dan apa pun lagi kerjaan kalian yang banyak duitnya itu."


"Jadi lo mah bilang Aliansi udah siap perang?!"


"Enggak. Aliansi enggak siap-siap buat perang." Abimanyu menjentikkan jari dan sensasi bangunan bergetar itu pun kembali terasa. "Cukup divisi gue yang siap."


Mahen akhirnya menyadari asal dari gempa ini. Atau lebih tepatnya ini bukan gempa melainkan ledakan tanpa suara yang merubuhkan bangunan.


"Hah! Dasar tukang pamer! Lo kira istri lo enggak bakal kena?!"


"Bodo amat sih. Kalo dia mati ya udah ajalnya."


*


"Kyaaaaa!"


Olivia menatap datar Caca yang sibuk berlindung di bawah meja karena takut gempa. Berusaha diabaikan perempuan konyol itu, pergi membuka ikatan tangan Rara.


"Lo enggak pa-pa?"


Rara mengangguk. "Abimanyu mana?"


"Lagi bikin dosa. Mending lo enggak tau. Intinya kita keluar dulu."


Rara sekali lagi mengangguk. Tapi sebelum pergi, Rara menarik lengan Caca ikut dengannya.

__ADS_1


*


__ADS_2