
Entah bagaimana dengan malam pertama orang lain tapi malam pertama Rara diisi oleh sesi buka kado yang tidak bisa selesai hanya dalam waktu dua jam. Rara menghitung total hadiah dari Juwita dan kotaknya berjumlah dua ratus lima puluh, angka yang diambil dari umur Rara, 25.
Tiap kali Rara membuka satu kado, ia meringis memikirkan bagaimana nanti bisa memberi balasan. Mulai dari kunci mobil, ponsel, gaun pesta, sepatu, sampai selusin lingerie Victoria Secret yang harganya membuat Rara meringis.
"Emangnya waktu kamu nikah sama Sakura, Tante Juwita begini juga?" tanya Rara pada pria yang sibuk melihat laptop di kasur.
"Enggak." Abimanyu melirik. "Juwita enggak ngerestuin saya sama Sakura. Lagian waktu itu juga nikahnya buru-buru."
"Ini juga buru-buru."
"Artinya Juwita nganggep kamu menantu." Abimanyu berhenti sejenak dari kegiatannya, menatap lurus pada Rara. "Kalo kamu mau berterima kasih, kirimin makanan tiap kamu bikin sesuatu. Tapi jangan makanan laut kayak ikan apalagi cumi. Kebanyakan Juwita enggak suka."
Rara mengangguk mengerti. Sepertinya mulai sekarang ia harus meluangkan waktu untuk membuat makanan dan mengirimnya khusus untuk keluarga Abimanyu. Sebagai bentuk kesopanan.
"Kalau bisa," Abimanyu kembali bicara, "kamu dateng ke sana sesekali."
"Sendirian?"
Abimanyu kembali fokus pada laptopnya. "Kamu tau sendiri saya pernah dituduh punya skandal sama Juwita jadi pulang ke sana udah aneh buat saya. Tapi kamu harus beda dari Sakura. Keluarga saya keluarga kamu juga."
"Oke."
"Dan inget," kata pria itu pelan tapi terasa dingin, "jangan pernah bikin masalah sama keluarga saya. Kamu enggak akan pernah ngeliat saya ada di belakang kamu belain kamu kalau sampe kamu bikin masalah sama mereka."
Rara terdiam.
"Ah, kecuali Banyu. Kalo dia saya dukung kamu."
Dasar aneh. Tapi terlepas dari itu Rara memang tidak berniat membangun hubungan buruk. Bahkan Rara sudah menyusun rencana jika ternyata keluarga Abimanyu tidak menyukainya atau mengatainya pelakor. Rara tidak akan memaksa Abimanyu untuk membelanya dengan mengesampingkan keluarga dia sendiri.
Karena bagi Rara, keluarga terutama orang tua adalah segalanya.
"Ngomong-ngomong," Rara mengulurkan catatan di tangannya, "ini total hadiah dari Tante Juwita."
Nolnya saja sudah membuat Rara ketar-ketir. "Saya ambil bajunya aja. Yang lain, kayak mobil, emas, cincin, semuanya buat kamu aja."
Abimanyu menutup laptopnya. Menatap Rara yang tengah duduk di karpet sementara dia sendiri di atas ranjang. Tidak ada suasana khas malam pertama yang malu-malu di antara mereka, karena pernikahan ini adalah bagian dari eksekusi rencana.
__ADS_1
Rara pun berusaha keras untuk selalu ingat perkataan temannya. Bahwa Rara menjijikan, perbuatannya ini kotor, jadi jangan terlalu menikmatinya dan sadar diri bahwa ini semua akting.
Tapi Abimanyu diam-diam merasa tidak terlalu senang. Abimanyu sudah berjanji pada Juwita, pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan neraka seperti saat bersama Sakura. Karena itu sikap Rara yang terlalu tenang membuat Abimanyu terganggu.
"Maksudnya buat balik modal?" balas Abimanyu setelah sempat diam. Diambil catatan itu dan melihat totalnya memang agak keterlaluan.
Juwita bukan wanita boros. Sepertinya dia memang sengaja memberi hadiah mahal dengan harapan bahwa istri Abimanyu bahagia dengan pernikahannya.
"Kamu udah dipilihin hadiah repot-repot sama Juwita sampe ngeluarin uang sebanyak ini." Abimanyu turun dari kasur. "Sekarang kamu maksudnya enggak mau terima?"
Rara tersentak. "Bukan gitu," sangkalnya buru-buru. Sungguh bukan begitu memang tapi hadiahnya terlalu banyak. "Kamu udah ngasih banyak terus keluarga kanu malah ngasih juga. Saya mungkin emang manfaatin kamu tapi enggak segininya juga."
"Kalo gitu baik-baik sama Juwita." Abimanyu menyerahkan catatan itu lagi. "Kamu ngasih saya? Fine, saya ambil. Saya kasih ke kamu lagi jadi gantinya baik-baik sama Juwita. Kalo perlu baik ke dia lebih dari kamu baik ke siapa pun di dunia ini. Lebih dari kamu baik ke diri kamu sendiri."
Rara terdiam. Lalu menerima catatan itu kembali. "Kamu sesayang itu sama mama tiri kamu?"
Abimanyu tak menjawab.
"Maksud saya, biasanya kan mama tiri tuh beda dari mama kandung. Bahkan tante kita, sodara mama kita, beda kalo sama kita. Tapi kamu kayaknya sayang banget sama Tante Juwita."
Juwita pernah terluka karena Sakura dan merasa bersalah atas Sakura, karena itu Abimanyu sangat berharap Rara bisa membuktikan bahwa Abimanyu tidak membawa Sakura yang baru ke hidupnya.
"Daripada ngomongin itu lagi," Abimanyu melirik jam tangannya, menemukan sekarang sudah pukul dua malam, "kita enggak ngapa-ngapain?"
Rara tersedak. "Maksudnya tidur kan? Yap, udah tengah malem jadi langsung istirahat!"
Dasar anak perawan. Dia pikir trik konyol begitu mempan pada badjingan macam Abimanyu?
Ketika istrinya beranjak mau naik ke kasur dan sepertinya meringkuk pura-pura tidur, Abimanyu menarik lengannya hingga dia terjatuh ke belakang.
Posisi jatuhnya sangat manis. Langsung duduk di pangkuan Abimanyu dengan posisi menyamping.
"Kamu tau habis nikah tapi nunda-nunda malem pertama tuh seru kalo di novel?" tanya pria itu. "Tapi kalo di dunia nyata, nunda malam pertama sehari itu udah neraka jadi jangan coba-coba."
Rara menelan ludah takut. "E-enggak bisa besok aja? K-kamu kan juga capek."
"Besok, kah?" Abimanyu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Senyum yang sukses membuat jantung Rara kembali berdebar kurang ajar. Padahal Rara berusaha keras mengingatkan dirinya. Ini settingan. Ini hubungan kontrak. Ini sesuatu yang tidak membawa-bawa perasaan. Ini tidaklah nyata.
Namun ketika Abimanyu menekan punggung Rara mendekat sementara tangan lainnya menyentuh pipi Rara, debaran jantung itu malah semakin gila.
Dia suami Sakura yang Rara rebut paksa demi kepentingannya. Dia adalah pria kejam dan licik yang Rara harus hindari kecuali benar-benar harus terlibat. Jadi tolong jangan berdebar.
"Enggak masalah kalo besok," bisik Abimanyu di bibirnya, "tapi DP dulu."
Bibir pria itu secara nyata menyentuh bibirnya. Rara menahan napas hingga tersekat. Merasa asing dan tak nyaman ketika untuk pertama kali ia membiarkan bibirnya dijamah oleh pria.
"Ranaya."
Rara memejamkan matanya kuat-kuat.
"Ranaya."
Apa sih?! Kalau mau cium lakukan saja! Buat apa panggil-panggil?!
"Rana—"
"Apa?!" Rara membuka mata, mendelik kesal. Orang lagi gugup juga kenapa dia malah banyak omong?
Abimanyu malah tersenyum. "Saya kayak nyoum tembok."
"Maksud kamu—"
Seolah memang sengaja mau memotong ucapan Rara, Abimanyu kembali menciumnya namun kali ini bukan sekadar kecupan di atas bibirnya. Dia meloloskan lidahnya masuk ke mulut Rara, bersamaan dengan tangannya meremas pinggang gadis itu.
Rara melemas di tempat. Gadis itu bahkan berusaha melepaskan diri karena tak terbiasa tapi Abimanyu menahannya, mencium Rara sesuka hatinya.
Ketika ciuman itu terlepas, benang saliva terjuntai seolah tak ingin memisahkan mereka.
Detik berikutnya Rara beranjak, berlari masuk ke kamar mandi, meninggalkan Abimanyu yang menjilati bibirnya sendiri.
Tidak buruk, pikir pria itu. Mungkin karena terlalu terbiasa dengan banyak wanita berpengalaman Abimanyu jadi merasa asing dengan gadis tanpa pengalaman sama sekali.
*
__ADS_1