Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
15. Tidak Suka Diabaikan


__ADS_3

Katanya jadi anak kesayangan itu enak. Apalagi anak tunggal kesayangan. Apa pun yang kalian inginkan akan diberikan, karena kalian satu-satunya. Cinta dan kasih sayang orang tua begitu besar, semua orang pun seakan tahu kalian berharga saking banyak pengorbanan yang orang tua kalian lakukan.


Rara sudah terbiasa mendengar kata, "Rara anak kesayangan Mama Mona, yah." Atau kalimat, "Mamamu pasti rela ngelakuin apa pun buat kamu, Rara."


Rara seharusnya bersyukur, namun bagaimana kalau Rara justru merasa tertekan? Ia merasa seperti segala sesuatu di hidupnya tidak ia lakukan sendiri.


Anak manja. Anak yang tidak bisa melakukan apa-apa. Anak yang bersembunyi dibalik punggung orang tuanya dan membiarkan orang tuanya melakukan segala hal untuk dia hidup bahagia.


"Kerjaan kamu sekarang apa?"


Pertanyaan Mahen menyentak Rara dari lamunan. Gadis itu menoleh, lagi-lagi terpaksa harus terima bahwa kini dirinya berhadapan dengan perjodohan 'demi kebahagiaannya' sendiri.


"Nyusahin orang tua."


Mahen cengo. "Eh?"


"Itu kerjaan saya sekarang." Rara tersenyum manis dan sedikitpun tidak berniat menarik ucapannya. "Saya mau ngelamar kerja jadi 'tulang punggung keluarga' tapi saya belum lulus seleksi dan masih terus ditolak."


Mahen tiba-tiba menutup mulutnya, tertawa lepas hingga wajah manisnya tampak semakin manis.


"Aku kepo kamu mikirin apa sampe murung gitu, ternyata begituan," kata dia di sela-sela tawanya. "Ah, maaf, pake aku-kamu aja enggak pa-pa kan? Saya-sayaan kesannya kaku banget."


Rara mengangguk saja. "Emangnya enggak boleh mikirin begituan?"


Pria iru masih tertawa tapi juga berusaha menghentikannya. "Bukan." Dia berdehem. Lalu tersenyum. "Itu bukannya semua yang dipikirin anak yah kalo udah dewasa?"


Rara sedikit terkejut. "Kamu juga?"


"Tanpa nyinggung soal gender, tapi bukannya kadang laki-laki justru lebih ditekan soal itu?" Mahen melipat tangan. Memandang ke arah tanaman yang berada di dekat mereka dengan sorot teduh. "Bahkan anak yang nakal juga sering mikir gimana mereka enggak jadi beban."


Baguslah. Rara pikir dirinya saja yang terlalu tidak bersyukur.


"Emangnya kamu mau bahagiain orang tua kamu pake cara apa?"


"Itu rahasia." Rara menoleh. "Tapi aku iri sama mereka yang punya banyak uang sampe orang tua mereka bahkan enggak perlu kerja, cuma perlu di rumah istirahat sama hidup mereka. Aku harap aku juga bisa jadi kayak gitu."


"...."


"Tapi Mama terlalu over protektif. Masalah yang bisa aku handle sendiri selalu diliat enggak bisa sama sekali."


Mahen menatap Rara lekat. "Maksud kamu masalah tuduhan kamu orang ketiga? Aku tau pertemuan hari ini ada hubungannya sama itu."

__ADS_1


"Gimana kalau aku memang orang ketiga?" Rara balik bertanya.


Membuat Mahen diam dan hanya menatapnya.


"Atau mungkin karena aku terlalu polos dan manis kayak kata Mama, jadi mustahil aku main-main sama suami orang?"


"Enggak." Mahen menjawabnya tanpa ragu. "Enggak ada orang polos di dunia ini. Yang ada cuma orang bodoh."


Rara tertegun.


"Kalau kamu orang bodoh kamu enggak mungkin terlalu peduli buat mikirin balas budi ke orang tua kamu. Jadi detik kamu bilang kamu beban orang tua, aku udah enggak nganggep kamu polos."


Mahen tersenyum manis. "Aku setuju sama perjodohan ini tapi kalau memang kamu enggak mau ada pernikahan dulu dan mau fokus ke tujuan kamu yang lain, sama sekali enggak masalah kita kenalan dulu."


*


"Saya mau ketemu Pak Abimanyu."


Mahen benar. Rara tidak polos, tidak juga bodoh.


Rara tidak pernah suka dipermainkan begitu saja. Berkat Abimanyu yang memilih mengabaikannya, Rara terpaksa harus menghadapi perjodohan yang kini tampaknya sudah resmi.


Tapi kalau memang dia berniat melakukan ini, maka Rara tidak akan ragu membalas.


"Pak Abimanyu sedang tidak ada di rumah, Mbak. Mungkin baru akan kembali beberapa hari lagi."


Rara sejenak diam tapi kembali berkata, "Kalau begitu saya mau ketemu Sakura."


Ada keraguan di wajah penjaga namun sepertinya mereka mengenali Rara sebagai selingkuhan Abimanyu. Pintu gerbang pun terbuka untuknya, memberi Rara akses memasuki kediaman megah pria itu.


Rara berjalan masuk ditemani oleh pelayan yang berkata akan membawanya pada Sakura. Kakinya memijak kemewahan rumah itu dan bertanya-tanya bagaimana bisa pria semuda Abimanyu memiliki semua ini? Umur mereka bahkan belum mencapai angka tiga puluh.


Tapi itu tidak bisa Rara pikirkan lebih jauh karena akhirnya ia berhenti di depan pintu kamar Sakura.


"Nyonya." Pelayan mengetuk pintunya. "Ada tamu buat Nyonya."


Hening.


Rara menoleh pada pembantu tersebut. "Saya bisa sendiri. Tolong tinggalin saya sebentar."


Ada keraguan tapi pelayan itu memilih berkata, "Baik, Mbak."

__ADS_1


Setelah dia pergi, Rara mendorong pintunya terbuka tanpa menunggu izin. Menemukan kamar mewah Sakura kini berantakan dan dipenuhi oleh aroma alkohol.


"Sakura."


Wanita itu sempat tidak mau berpaling, namun mendengar suara Rara, dia langsung terlonjak.


"LO!" Tentu saja dia histeris melihat Rara. "LO DASAR CEWEK MURAHAN! TUKANG REBUT SUAMI ORANG! MAU NGAPAIN LO KE SINI, HAH? DASAR ENGGAK TAU MALU!"


Rara tersenyum miris. "Lucu ngeliat cewek femes ternyata cuma cewek goblok."


"Apa lo bilang?!" Sakura beranjak dan berniat menjambak rambut Rara. Mungkin sekarang dia benar-benar sudah gila akan situasinya sampai tidak bisa berpikir rasional.


Tapi sebelum dia bisa berbuat, Rara menangkap pergelangan Sakura. Mendorongnya hingga dia terjatuh di tempat tidur. Rara menindihnya, mencegah Sakura memberontak karena Rara tidak datang untuk mengelak.


"Makin lo begini, makin Abimanyu mainin lo, Sakura." Rara menekan lengannya kuat. "Makin lo ngamuk makin Abimanyu punya bahan buat ngatain lo bego. Udah gue bilang, ngemis belas kasihan bikin lo makin menyedihkan, bukan pantes dikasihanin."


Sakura terus memberontak namun kondisinya yang kacau tidak mungkin melawan Rara yang segar bugar.


"Gue enggak selingkuh sama Abimanyu." Rara akhirnya mengkhianati kesepakatan. "Dia bayar gue buat bikin lo kayak gini."


Wanita itu jelas membeku. Daripada Abimanyu berselingkuh dengan Rara bukankah skenario dibayar lebih masuk akal?


"Dia bilang dia mau cerai sama lo tapi juga pengen bikin lo kacau. Karena lo nuduh dia selingkuh sama nyokapnya."


"Itu bukan nuduh!" Sakura berteriak tapi dia berhenti memberontak. "Abimanyu emang suka sama mama tirinya!"


"Siapa yang mau percaya omongan orang yang cuma suka teriak-teriak, buang-buang barang, ngamuk terus minum-minum?"


Sakura lagi-lagi membeku.


"Mau lo yang bener sekalipun, selama lo ngamuk-ngamuk emang siapa yang mau percaya? Dibanding belain perempuan, yang walaupun istri sah kerjaannya malah ke klub make narkoba, minum-minum, judi, ngamuk kayak banteng, bukannya orang lebih suka sama selingkuhan yang diem, sopan, walaupun lo tau gue mungkin cuma perempuan sok polos, yang licik dan manfaatin penderitaan lo."


Rara melepaskan tangan Sakura.


"Jadi lo mau terus-terusan jadi korban yang enggak dipeduliin atau ngelawan?"


Rara akan membalas pria itu. Dia mengabaikan Rara sampai ia kesulitan padahal mereka sepakat saling membantu. Kalau Sakura yang dia hancurkan mendadak bangkit berkat bantuan Rara, Abimanyu pasti kesulitan, kan?


*


Rara ngambek karena Bang Abi enggak angkat telfon 😏

__ADS_1


__ADS_2