Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
54. Kelemahan Abimanyu


__ADS_3

Esok hari Rara merasa Abimanyu seperti tengah menghindarinya. Padahal kemarin dia bicara pada Rara tapi pagi ini Abimanyu sedikitpun tidak buka suara. Awalnya Rara pikir itu karena masih pagi. Abimanyu biasanya memang suka diam saat pagi hari apalagi ketika baru bangun tidur.


Tapi Rara sadar bukan sekadar itu ketika sarapan berlangsung.


Abimanyu tidak menoleh pada Rara bahkan saat Rara bicara. Pria itu malah memanggil Kisa duduk persis di sampingnya, lalu menyuapi perempuan itu dengan sendok yang Abimanyu pakai.


"Yaelah, pagi-pagi udah najis." Banyu mendengkus. "Rara, lo juga duduk di sini, deh. Biar gue suapin juga."


"Mas Banyu bisa aja."


Abimanyu tidak bereaksi apa-apa. Dia malah mengulurkan tangan ke sudut bibir Kisa.


"Banyu," katanya pelan. "Lo enggak kerja?"


"Gue kerja di mana aja bisa. Emang kenapa?"


"Gak."


Rara menunduk, memutuskan sedikit lebih agresif. "Kemarin ada orang nganterin baju buat saya, Pak. Makasih, yah. Bajunya bagus-bagus."


"Hm."


Hm doang?!


"Ohya, Pak, habis sarapan Bapak ada kegiatan apa? Biar saya siapin—"


"Gak ada."


Rara menahan dirinya untuk tidak memberi tatapan membunuh. Dasar si Brengsek ini, jangan bilang dia dipengaruhi lagi oleh Kisa?


Cih, masa disuruh-suruh oleh wanita dia mau? Mana wibawanya sebagai mafia, dasar Abimanyu berengsek!


"Gitu yah, Pak. Saya ngerti."


"Mending lo temenin gue aja, Rara." Banyu tersenyum miring. "Ngapain repot-repot ngurusin si Kampret ini? Kalo sama gue, lo dijamin happy."


"...."


Rara merasa ini agak bahaya. Abimanyu sedikitpun tidak bereaksi padahal kemarin dia tidak rela Rara jalan dengan Banyu.


*


Rara hendak mengajak Abimanyu bicara berdua untuk memastikan, tapi Kisa ternyata tidak memberi celah. Sampai malam tiba dia bahkan terus mengikuti Abimanyu, tak memberi celah bagi Rara untuk masuk. Tidak ada kesempatan bagi Rara menggoyahkan tembok dingin Abimanyu sekarang.


"Jadi gitu cara main kamu sekarang?" Rara pada akhirnya cuma bicara pada Kisa. "Karena Abimanyu baik sama saya, kamu mau jauhin dia dari saya?"


Kisa hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Saya enggak keberatan sama kelakuan kamu sekarang. Kenapa? Soalnya saya juga pelakor. Saya ngelakuin hal yang sama persis kayak kamu buat ada di posisi saya sekarang." Rara menatapnya tajam. "Bukannya kamu harusnya lebih bersyukur sama itu?"

__ADS_1


"...." Kisa berjalan mendekat. Berhenti tepat di samping Rara untuk meninggalkan bisikan, "Kamu emang baik."


Rara kontan tercengang.


"Makanya lebih baik kamu enggak banyak tingkah. Kalo enggak saya mungkin terpaksa harus bunuh kamu, Rara."


*


Abimanyu meringis pelan akibat rasa sakit kepala itu. Telinganya berdengung sekali lagi, membuatnya dapat mendengar suara-suara ledakan dan teriakan kematian kawan-kawannya dari Aliansi.


Walau sudah diberi persiapan mental sebelum terjun, Abimanyu tidak menyangka dampaknya akan sekuat ini.


"Hati-hati, yah."


Abimanyu tertegun mendengar di antara suara-suara bising kepalanya, bisikan manis itu mengalun bagaikan nyanyian surga.


"Aku doain semuanya baik-baik aja."


Siapa itu? Apa Juwita? Hanya Juwita yang suaranya bisa terdengar selembut itu di kepala Abimanyu. Tapi kenapa suaranya seperti bukan milik Juwita?


Dan Abimanyu seharusnya sedang menjauhi Juwita demi kewarasannya sendiri.


"Bi."


Suara perempuan itu justru semakin berdatangan.


Abimanyu menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa, bernapas lewat mulutnya akibat tekanan udara yang mendadak terasa berat.


Perempuan itu menyapukan telapak tangannya di kulit punggung Abimanyu, sedangkan bibirnya bergerak manis mengecup tengkuknya. Abimanyu semakin tercekik oleh napasnya sendiri, menikmati tubuhnya diacak-acak oleh wanita khayalan itu.


"Ranaya," desah Abimanyu tanpa menyadari perbuatannya sendiri.


Abimanyu bahkan sudah tidak sadar ia kini sudah menyentuh dirinya sendiri. Hal yang bahkan sudah tidak ia lakukan sejak jaman kuliahan karena ada banyak tangan gadis-gadis, sekarang justru ia lakukan sambil berkhayal.


"Bapak butuh bantuan?" tawar sebuah suara.


Abimanyu terkejut saat membuka matanya, sosok pembantu baru yang dibawa Banyu kini sudah berlutut di depannya. Tapi pertanyaan kenapa dia di sini dan bagaimana dia masuk padahal pintu terkunci tidak dapat Abimanyu ajukan. Sebab mulut dia kini sibuk menggantikan tangan Abimanyu, melemparnya pada kepuasan tak terlukis.


Abimanyu tidak peduli pada apa pun sekarang selain menikmati mulut itu lebih lama.


Begitu merasa pertahanannya akan runtuh, tangan Abimanyu yang tidak terluka langsung menarik Rara, menuntun wanita itu duduk di pangkuannya.


Rara tak mau hanya pasif. Ditangkup wajah Abimanyu, mencium bibirnya sekaligus melampiaskan rasa rindu setelah sebulan lamanya mereka berpisah.


Rara tahu pasti seperti ini. Hypers-3ks macam Abimanyu mana mungkin tidak butuh pelampiasan apalagi setelah sebulan berpisah dari istrinya. Dia adalah pria yang bahkan menggunakan mulut Rara untuk nafsunya sendiri saat Rara datang bulan, jadi dia akan selalu dan selalu butuh wanita.


Malam ini, setidaknya lewat tubuhnya, akan Rara buat dia ingat seberapa liar mereka selama ini.


*

__ADS_1


"Gini yah, Sayang," kata Juwita saat Rara masih bersamanya kemarin, "laki-laki sama perempuan itu beda. Laki-laki itu keras di luar, kokoh di luar, tapi lembek di dalem. Lemah banget di dalem. Perempuan itu lemah di luar, lembek di luar. Tapi di dalam kita keras."


"Makanya laki-laki mau sekuat apa pun, mau sekeras kepala apa pun, ujung-ujungnya dia enggak bakal bisa ngelawan yang namanya kasih sayang perempuan. Enggak mungkin bisa."


Kini Rara tersenyum-senyum sendiri, karena seperti kata Juwita, ia kini berhadapan dengan sisi lemah Abimanyu.


Dan ia menang.


Dari mana Rara tahu? Adalah dari bagaimana Abimanyu tidak melepaskan pelukannya dan menolak melepaskan itu.


"Bapak capek, yah?" bisik Rara seperti tengah bicara pada anak bayi. "Mau saya ambilin air minum enggak, Pak?"


Abimanyu menggeleng. Hanya menenggelamkan wajah di leher Rara, seolah-olah harus di sana dia bernapas baru bisa.


"Kalo gitu kita pindah ke kasur yuk, Pak. Kasian Bapak duduk terus."


Abimanyu mengerang. Seolah-olah dia merengek karena disuruh bergerak dari posisi nyamannya.


"Abimanyu," bisik pria itu. "Enggak usah Bapak. Panggil aku Abimanyu."


Rara tersenyum lembut. "Abimanyu? Boleh manggil kamu Abimanyu?"


Pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


Rara mendorong pelan bahunya agar pelukan itu lepas. Wajah Abimanyu seketika merengut, seperti seorang anak yang ngambek karena mainannya direbut paksa.


Tapi cemberut di wajah Abimanyu langsung menghilang ketika bibir Rara mengecup manis keningnya.


"Aneh," gumam dia. "Kenapa aku ngerasa kita udah sering ngelakuin ini?"


"Hm? Mungkin karena kamu itu orang mesum yang mainin punyanya sendiri padahal udah besar."


Abimanyu justru tertawa pasrah. "Maaf kalo kamu enggak nyaman, Rara."


"Enggak. Malah kayaknya seru ngeliat kamu ona-ni." Rara pura-pura berpikir serius, tapi langsung terpekik oleh tawa saat Abimanyu menggigit lehernya.


"Pegangan," bisik pria itu sebelum dengan satu tangannya yang sehat dia mengangkat Rara, berpindah ke tempat tidur.


Mereka berbaring di sana dan Abimanyu langsung mengerang sakit.


"Kenapa?"


"Sakit kepala," jawab pria itu, terdengar manja. "Kamu elus-elus, yah?"


"Yang atas atau yang bawah, nih?"


Abimanyu tertawa.


*

__ADS_1


chapter depan, kira-kira kisa ngapain yah?


__ADS_2