
Pagi-pagi sekali, Rendi mengetuk pintu kamar Abimanyu di mana Rara berada. Abimanyu menyuruhnya buat memulangkan Rara ke tempat dia menginap. Rara langsung keluar dengan pakaiannya semalam. Dia terlihat sudah mandi, tapi kantung mata dan pucat di wajahnya tidak bisa dihilangkan.
"Mari, Mbak."
"Hm." Rara tidak mau banyak bicara dan suaranya terdengar seperti dia sedang sakit. Perempuan itu berjalan mendahului Rendi, sudah paham kalau ia memaksa di sini pun Abimanyu juga akan bersikap keras kepala.
Tapi saat Rara sampai di lantai satu dan melewati ruang tengah, sebuah suara menghentikannya.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar," kata sebuah suara berbahasa Inggris fasih dan aksen British yang kental. "Bergabung ke mejaku, Nyonya."
Cara dia bicara seperti seorang bangsawan saja. Tapi kalau melihat wajahnya, Rara percaya dia pasti berdarah bangsawan Inggris, setidaknya sedikit.
"Mbak, Bos ngelarang terlalu ngeladenin Rose," bisik Rendi.
Rara sejujurnya sedang tidak mau banyak bicara, tapi entah kenapa ia tak mau menolak tawaran Rose, orang yang entah siapanya Abimanyu. Maka Rara datang, mengabaikan peringatan halus Rendi.
Pelayan langsung menarik kursi buat Rara, menuangkan minuman ke cangkirnya.
"Kamu siapanya suami saya?" tanya Rara padanya, tentu saja dengan bahasa yang dia mengerti.
"Aku? Anggap saja aku orang yang sangat penting sampai dia rela mati." Rose malah menjawab provokatif. "Daripada bicara tentang aku, bagaimana kalau bicara tentang kalian saja? Kudengar kalian bertengkar kemarin."
Rara hanya diam. Buat apa juga ia membicarakan pertengkarannya dengan Abimanyu pada orang asing, terlebih orang asing itu sangat cantik.
"Aku tahu sedikit tentang Sakura," kata Rose lagi.
Sukses membuat ekspresi Rara menjadi muram. "Kamu tau apa?"
"Cukup banyak. Terlebih karena berkat dia, yang secara dramatis ternyata sudah mati, pemimpin tertinggi Aliansi sampai ditangkap dan dianggap mati di tangan musuh. Itu lucu karena cuma untuk alasan konyol cinta tidak terbalas, dia seperti menembak nuklir ke negara sendiri dan memusnahkan semua orang hanya karena dia sakit hati." Rose tertawa sangat lepas, seperti malaikat namun ucapannya malah seperti iblis.
"Enggak lucu." Rara mendengkus. "Saya ke sini cuma mau tau kamu siapanya suami saya, bukan ngomongin soal Sakura."
"Hm? Memang apa yang mau dibicarakan lagi? Suamimu kan sudah memilih membuang kamu juga, seperti Sakura. Jadi aku cuma ingin bilang walaupun sakit hati, jangan mengulang kesalahan sama. Negara ini bukan pelampiasan rasa kecewa kalian yang tidak penting."
"Abimanyu enggak—"
"Menurutku, kamu tidak sepenting itu untuk Abimanyu." Rose menyesap tehnya baik-baik, tersenyum kecil. "Kamu tidak lihat? Dia membuang Sakura, lalu membuang kamu, lalu membuang semua hal yang menghalangi hidupnya. Dengan kata lain kamu dianggap pengganggu. Aku benci anak kecil, kuberitahu padamu, tapi aku cukup kagum dengan Abimanyu yang tidak pernah melepaskan anaknya ke mana pun dia pergi. Dia bahkan tidak punya suster untuk anaknya itu, padahal punya banyak pelayan. Anak kecil mengganggu yang bahkan tidak bisa bicara jelas itu jauh lebih penting daripada kamu."
"...."
Rose tersenyum polos. "Itu pendapatku sih. Terserah padamu mau percaya atau tidak."
__ADS_1
Beberapa langkah dari sana, Rendi yang mendengarnya, seketika menghela napas. Kalau ditanya Rose itu orang jahat atau orang baik, susah buat menjawab. Namun kalau harus memilih, dia tidak jahat tapi tidak baik.
Dia cuma menyebalkan.
Jangankan Rara, Abimanyu bahkan sering dibuat menahan diri tidak mencekiknya.
"Saya udah bilang jangan ikut campur urusan orang lain, Rose." Suara Abimanyu tiba-tiba terdengar, membuat Rendi berpaling padanya.
Pria itu berjalan melewatinya setelah menyerahkan Abirama untuk dijaga sebentar. Dia datang mendekati meja mereka, menarik lengan Rara agar berdiri.
"Kamu pulang," katanya penuh penekanan.
Tapi Rara hanya menunduk.
"Ranaya, pulang."
Tubuh Rara justru bergetar seiring dengan napasnya yang tersekat-sekat. Walau tahu Rose memprovokasinya, ucapan Rose seperti racun ampuh yang menggerogoti kewarasan Rara.
Selama ini Rara selalu percaya Abimanyu menjauh untuk kepentingannya. Ia percaya bahwa Abimanyu terlalu merasa bersalah atas kematian Sakura dan merasa terlalu berdosa untuk mencintai Rara yang di mata dia mungkin terlalu suci.
Tapi ... tapi bagaimana kalau semua itu cuma dusta? Bagaimana kalau Rose benar, bahwa sebenarnya Abimanyu cuma menganggapnya hama tidak penting jadi menjauhlah dari hidupnya?
"Ranaya—"
"Aku ngabisin waktu empat tahun buat sabar. Sabar banget, Bi." Rara lagi-lagi tak bisa menahan air matanya. "Aku sabar banget karena aku yakin kamu sayang sama aku."
Abimanyu hanya mengatup mulutnya.
"Tapi mungkin kamu sebenernya enggak."
Satu kalimat singkat itu hanyalah sesuatu yang diulang dari ucapan Rose tadi. Bahwa sebenarnya Abimanyu tidak menganggap Rara penting yang juga sama saja dengan kalimat Abimanyu tidak menyayangi Rara.
Tapi itu ternyata berbeda ketika sampai di telinga Abimanyu. Sesuatu yang sangat panas bergejolak dalam dirinya, membuat Abimanyu bahkan tidak sadar sudah menyambar lengan Rara, berteriak di wajahnya.
"KAMU NGERTI APA?!"
Dibanding semalam, kemarahan itu terlihat jauh, jauh, jauh, sangat jauh lebih besar sampai-sampai Rara mematung kaku.
"KAMU NGERTI APA BEBAN AKU, HAH?! KAMU NGERTI APA SOAL PIKIRAN AKU?!"
Rara tersekat.
__ADS_1
"KALAU ADA YANG SALAH SAMA KAMU, AKU YANG DISALAHIN! KALAU ADA YANG LUKA DARI KAMU, AKU YANG HARUS TANGGUNG JAWAB! KALAU MATA KAMU BASAH, AKU YANG DIANGGEP PENJAHAT! KALAU AKU ENGGAK BIKIN KAMU BAHAGIA, AKU DIBILANG ANAK SETAN!"
"...."
"AKU HARUS TANGGUNG JAWAB SAMA SEMUA HAL TENTANG KAMU SEMENTARA KAMU, KAMU CUMA MIKIRIN DIRI SENDIRI! KAMU CUMA MENTINGIN PERASAAN KAMU!"
Rara menggigit bibirnya yang semakin bergetar. Pertengkaran itu ternyata tidak bisa berhenti.
"Aku cuma mikirin diri sendiri?!" balas Rara muak. "AKU SABAR NUNGGUIN KAMU NENANGIN DIRI KAMU YANG PENGECUT!"
"SIAPA YANG NYURUH KAMU SABAR NUNGGUIN?! AKU UDAH NGIRIM SURAT CERAI BUAT JELASIN KE KAMU SEJELAS-JELASNYA KALAU KAMU ENGGAK PERLU NUNGGU APA-APA!"
"AKU ENGGAK MAU CERAI!" Rara menarik kerah pakaian Abimanyu, bahkan tak peduli lagi kalau sekarang mereka terlihat seperti saling ingin memukul. "AKU ENGGAK MAU CERAI! AKU ENGGAK MAU PISAH, KAMU NGERTI?!"
"MAKANYA KAMU EGOIS!" Abimanyu mencengkram sangat kuat lengan Rara. "MAKANYA KAMU CUMA MIKIRIN DIRI SENDIRI! AKU MUNDUR DARI KAMU KARENA SADAR AKU ENGGAK BISA BIKIN KAMU BAHAGIA, TAPI KAMU KERAS KEPALA MAU NUNGGUIN SESUATU YANG SEBENERNYA ENGGAK ADA!"
"AKU CUMA MAU KAMU PULANG!"
"KALAU KAMU SAKIT HATI GARA-GARA, JANGAN NYALAHIN AKU! SALAHIN DIRI KAMU SENDIRI! MAU KAMU?!"
Rara menggigit bibirnya keras.
"KAMU NGAREP APA HAH?! PENGEN AKU PULANG?! FINE, AKU PULANG! TAPI KALAU KELAKUAN AKU BIKIN KAMU NANGIS-NANGIS KE JUWITA LAGI, JANGAN KIRA AKU BAKAL MINTA MAAF! SEMUANYA SALAH KAMU SENDIRI! KAMU YANG MINTA SENDIRI!"
Rara sudah menangis terisak-isak tapi juga terus menarik-narik kerah Abimanyu sebagai balasan. "KAMU JUGA ENGGAK NGERTI!"
"ENGGAK ADA YANG PERLU DINGERTIIN!" bentak Abimanyu. "MENDING SEKARANG KAMU PULANG KE RUMAH MAMA KAMU! JANGAN TINGGAL LAGI SAMA JUWITA! MEREKA BUKAN KELUARGA KAMU LAGI! KITA UDAH CERAI!"
"ENGGAK!"
"AKU MINTA CE—"
Sebelum Abimanyu sempat menyelesaikan kalimatnya, kalimat berbahaya dari seorang suami, sebuah tendangan keras melayang, sangat amat keras sampai menerbangkannya.
Tapi di saat yang bersamaan, alasan Abimanyu tidak menghindarinya bukanlah karena tidak mampu, melainkan karena tendangan lain juga mengarah pada Rara.
Pria itu hanya secara spontan melindunginya, merelakan punggung dan belakang kepalanya terbentur keras pada tembok.
*
buat pembaca yang kayaknya udah panas banget, abimanyu dan rara pasti akan bersama. tapi buat naklukin badjingan mafia kayak abimanyu, memang butuh air mata seember gede. jadi suabar :)
__ADS_1