
"Kasih aku anak."
Pupil mata Abimanyu pelan-pelan terlihat bergetar, tak menyangka dari semua hal yang bisa Rara minta darinya, dia menyebutkan hal itu.
"Aku enggak bakal nunggu kamu pulang lagi," gumam Rara walau terlihat sangat kuat menahan sakit di hatinya. "Aku enggak bakal maksa kamu lagi. Aku janji aku enggak bakal berharap apa-apa lagi."
"...."
"Tapi kasih aku anak."
"...."
"Aku enggak mau sendirian. Kamu boleh pergi jauh, di ujung dunia pun terserah kamu, tapi tinggalin sesuatu yang bikin aku yakin sejauh apa pun kamu, ada diri kamu yang lain sama aku, Bi."
Abimanyu mengatup mulutnya. Dulu ia punya perasaan sama di mana ingin Rara memiliki anak darinya. Tapi ....
"Kalo kamu enggak mau ngabulin itu, berarti alasan kamu mau pergi itu cuma bohong."
Curang.
Sejak dulu, Rara memang selalu berbuat curang untuk menang darinya.
"Kamu janji bakal jagain?" tanya Abimanyu, yang justru membuat Rara terkejut sendiri.
Mungkin dia pikir Abimanyu akan menolaknya.
"Um." Rara mengangguk. "A-aku udah belajar dari lama."
Dari sejak Rara berharap punya anak di pernikahan mereka, ia menghabiskan banyak waktu untuk belajar menjadi seorang ibu. Bahkan demi melatih dirinya, Rara banyak mengambil alih pekerjaan Juwita di rumah sebagai ibu.
"Kasih aku waktu buat mikir sebentar." Abimanyu beranjak, tapi sebelum pergi ke tempat Rose berada, pria itu menyempatkan itu berkata, "Makan yang banyak. Kamu lebih cantik kalo gendutan dikit."
Mungkin itu sekadar goyonan buat mencairkan suasana, walau Rara tahu Abimanyu memang punya selera cewek cantik berlemak daripada cewek cantik yang kurus—namun Rara tidak tertawa. Bibirnya justru semakin bergetar, makin terasa sulit untuk menahan dirinya tidak berduka.
Apa benar semuanya berakhir di sini?
*
"Rose, ayo pulang." Abimanyu mengulurkan tangan pada perempuan itu, hendak menarikmua berdiri kalau Banyu tidak buru-buru datang, memukul tangan Abimanyu.
Adik bodohnya itu mendelik, tapi langsung tersenyum tolol waktu menghadap Rose.
"Pegang tangan aku, Princess. Enggak usah tangan dia."
Rose tidak peduli itu tangan siapa karena yang penting dia berdiri. "Urusanmu dan istrimu sudah selesai? Kukira kita menginap di sini."
"Kamu yang kayaknya bisa mati kalau digigit nyamuk enggak usah ngomong mau nginep di sembarang tempat."
Sebelum Rose membalasnya, Banyu sudah menyikut rusuk Abimanyu dan menatapnya penuh dendam. "Jangan sembarangan ngomong sama cewek orang!"
__ADS_1
Abimanyu berusaha sabar, tapi sumpah kelakuan Banyu dari tadi bikin dia merasa sabar justru kesalahan.
"Lo mau sujud di kaki dia sambil kayang juga enggak bakal dia mau sama lo, geblek! Lo kira nih cewek normal?!"
"JELAS ENGGAK NORMAL! TERLALU CAKEP BUAT DIBILANG NORMAL!" Banyu berseru menggebu-gebu.
Walau seketika mengundang geplakan Juwita di kepalanya.
"Udah, diem kalian." Juwita mendengkus malu. Tapi daripada panjang, dia langsung menoleh pada anak sulungnya. "Kamu udah mau pergi?"
Abimanyu mengedik pada Rose. "Dia enggak boleh lama-lama di luar."
Sebutan Banyu itu tidak salah, memang Rose adalah princess. Karena itulah untuk keluar dari 'istana' pun dia tidak boleh lama-lama.
Mendengarnya, Juwita hanya mengangguk dan mengucapkan perpisahan formal pada sang tuan putri. Kedua orang tua Abimanyu tidak banyak bertanya soal kelanjutan hubungannya dengan Rara lagi, terutama Juwita. Dia terlihat paham dan terima apa pun yang Abimanyu putuskan sekarang.
Juwita tahu Abimanyu dan Rara bukan anak kecil. Mereka berhak memutuskan sendiri jalan hidup mereka.
Mereka cuma mengantar Rose sampai ke mobil, juga sekalian mengucapkan salam perpisahan pada Abirama.
"Papa, Abi macih mau di cini," kata Abirama waktu mereka duduk di mobil. "Ental aja pulangnya."
"Enggak bisa, Nak. Papa ada kerjaan, terus Rose juga udah capek."
"Kak Roce capek telus."
Olivia terkekeh mendengarnya. "Sini sama Onti, Sayang. Papamu mau nyetir."
"Papa, nanti ke cini lagi yah? Abi cuka main cama kakak."
Kakak yang dimaksud Abirama pastilah adik-adik Abimanyu. Namun permintaan anaknya itu hanya Abimanyu diamkan, karena mungkin ini adalah pertemuan terakhir mereka dengan keluarganya.
*
Rose langsung demam begitu mereka tiba di markas. Abimanyu cuma bisa menghela napas, menyaksikan perempuan itu ditangani oleh dokter-dokter pribadinya yang begitu takut jika sampai terjadi sesuatu pada Rose.
Karena sudah terlalu terbiasa, Abimanyu cuma bengong saja menunggu sampai dokter menyelesaikan urusan mereka. Sampai-sampai tak sadar Abimanyu ketiduran di kursi, bangun-bangun kamar itu sudah hening kecuali dari suara Olivia mengganti kompres di dada Rose.
"Dia gimana?" tanya Abimanyu kemudian.
"Tekanan darahnya rendah." Olivia cuma menjawab singkat, juga sudah terbiasa. "Lo ditegur sama istri keduanya Mahardika. Dia bilang lo harusnya enggak ngebawa-bawa Rose apalagi enggak ada tujuan."
Abimanyu menghela napas, sudah ia duga bakal kena marah. Tapi mau apa dikata kan? Rose juga bukannya mudah diatur.
"Gue udah minta Rendi nyiapin tempat baru. Rara udah masuk ke sini sama Banyu, jadi kita disuruh bawa Rose ke tempat lain. Terus, katanya lain kali kalo lo masukin orang asing lagi, mau istri lo sekalipun, Arina enggak bakal maafin lo lagi."
Abimanyu sekali lagi menghela napas. Pria itu berbalik, kembali pergi ke sofa tadi dia tidur karena mendadak menyesal sudah bangun.
Kalau Arina sampai marah pada Abimanyu, dia akan melampiaskan kemarahan itu pada keluarga Abimanyu sebagai bentuk 'hukuman' karena tidak mengerjakan tugas dengan baik.
__ADS_1
Lihat kan? Abimanyu baru bertemu Rara sekali, tapi seseorang sudah merasa marah dan terganggu.
Hidup Abimanyu sekarang sudah terlalu terbelenggu. Ia sudah tidak bisa bebas apalagi berharap mengubah sesuatu bahkan ketika semua orang bilang tidak ada kata terlambat buat berubah.
Setidaknya buat Abimanyu sudah terlalu lambat.
Ia sudah terlibat dan satu-satunya hal yang bisa Abimanyu bebaskan hanyalah Rara.
Hanya dia seorang.
"Liv."
"Hm?"
"Ranaya minta anak."
Olivia sempat terkejut, tapi sesaat kemudian perempuan itu justru tampak mengerti, seolah-olah sudah menduga sebelumnya.
Bukan Olivia tidak mengerti perasaan Rara. Terlepas dari Abimanyu tidak menyuruh dia menunggu, Rara selama ini berusaha percaya bahwa hubungan dia dan Abimanyu baik-baik saja.
Tidak mudah bertahan di atas hubungan yang menyakitkan, tapi setidaknya empat tahun ini Rara tetap keras kepala.
Hanya ... kadang-kadang keinginan tidak selalu harus terwujud.
"Jangan." Olivia cuma bisa mengatakan ini. "Menurut gue jangan."
Abimanyu terdiam.
"Gue tau lo mikirin istri lo banget, Abimanyu. Lo sayang sama dia, peduli setan orang ngerti atau enggak. Tapi anak buat dia? Itu cuma ibarat lo maksa seseorang lahir di takdir yang kemungkinan besar bakal menyedihkan."
"...."
"Abirama beda. Dia punya jaminan masa depan dan lo juga udah siap kalau sampe ada apa-apa sama dia. Tapi kalau misal Rara punya anak dari lo, menurut lo dia beneran siap sama takdir anaknya? Sama status dia sebagai anak lo?"
Rara mungkin tidak akan siap.
Dia tidak akan pernah siap.
Olivia benar. Permintaan Rara terlalu sulit dikabulkan.
"Tapi ... gue udah janji ngabulin."
"Lo lebih mentingin janji yang bisa lo ingkarin dan lo bisa minta maaf, daripada mentingin hidup satu anak yang mungkin bakal luar biasa tersiksa?"
Abimanyu hanya bisa terdiam.
*
hal yang gagal pembaca pahami dan gagal author sampaikan di cerita ini adalah unsur politik yang nyata. Abimanyu bukan mafia super power. dia punya bos yang lebih superpower. enggak bisa seenaknya merintah kayak mafia di cerita-cerita lain. makanya kadang pembaca berharap abimanyu tuh mutusin sama rara seenaknya aja tanpa harus peduli sama orang lain.
__ADS_1
di cerita ini enggak akan bisa.