Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
84. Malam Mengerikan Datang


__ADS_3

Rose beranjak dari ranjang, menyeret kakinya di atas karpet lembut yang bulunya sehalus awan di langit. Langkahnya berhenti di sofa mewah berlapis emas, menjatuhkan dirinya untuk kembali bersantai seperti kemarin-kemarin.


"Olivia di mana?" tanya Rose pada pelayannya.


"Mungkin di atas bersama Abirama, Nona."


"Panggil dia."


Perintah Rose itu mutlak. Maka tidak heran Olivia langsung muncul meski wajahnya terlihat malas-malasan.


"Lo enggak bosen manggil-manggil gue ke sini buat ngeluh doang?"


"Di mana si Bodoh itu?" Rose tetap bertanya. "Dia sudah menghilang tiga hari dan gara-gara itu aku harus terkurung di sini. Memang dia pikir aku siapa? Tahanan? Daripada disebut kamar, ini lebih seperti penjara!"


Olivia mendengkus. Apa boleh buat kan? Abimanyu tidak ada di markas sekarang dan kalau sampai seseorang datang mengincar nyawa Rose, kemungkinan dia selamat lebih tinggi di sini.


Ruang bawah tanah paling dalam.


"Olivia bodoh, katakan sesuatu!"


"Ck, berisik. Abimanyu bakal pulang kalo emang udah waktunya pulang. Lagian lo mau di atas kek mau di bawah kek, kerjaan lo kan cuma tiduran kalo enggak duduk minum teh ala princes!"


"Hei." Rose menatap tajam pada Olivia. "Suasana hatiku terlalu buruk untuk memaafkan seseorang sekarang jadi lebih baik jaga ucapanmu."


Perkataan Rose seketika membuat Olivia diam. Di situasi biasa Rose sebenarnya cukup mudah diajak bicara tapi kalau dia sungguhan kesal, sangat sulit untuk menanganinya.


"Rose." Olivia bersandar pada pintu baja kamar itu. "Abimanyu ngorbanin segalanya buat lo. Gara-gara dia jagain lo, dia enggak bisa lagi milih balik ke istrinya. Seenggaknya buat Abimanyu, sabar beberapa hari, harusnya lo bisa kan?"


"Jadi benar dia pergi memberi anak untuk istrinya? Dasar pria bodoh. Dia terbawa perasaan berlebihan." Rose mencerca.


"Kalo udah ngerti, mending lo istirahat. Dokter bilang badan lo belum pulih total."


"Badanku tidak pernah pulih total seumur hidup."


Olivia cuma berjalan pergi.


Rose menyeringai. "Kuharap anak Abimanyu itu laki-laki."


Tanpa menjawabnya, Olivia terus melangkah pergi.


"Jika dia perempuan ... dia hanya akan hidup bersama kutukan. Beritahu itu pada si Bodoh."


Suara langkah kaki Olivia semakin jauh dan senyum Rose seketika sirna. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada kursi, lewat isyarat tangan ia menyuruh pelayan pergi meninggalkannya sendirian.


Di ruang bawah tanah yang gelap nan dingin itu, Rose termenung memandangi pintu baja yang melindunginya dari dunia luar.


Sekaligus mengurungnya dalam kesendirian dan kegelapan yang tidak akan dibayangkan oleh siapa pun.


"Si Bodoh Abimanyu." Rose bergumam sendiri. "Dia tahu gelap tempat ini bagiku tapi tetap pergi ke sana menciptakan orang baru yang akan bernasib sepertiku? Seharusnya kalau terlanjur berbuat jahat pada istrimu, lakukan saja sampai akhir."


Kebaikan terakhir Abimanyu pada Rara pasti akan berakhir petaka besar. Rose sudah bisa melihatnya.

__ADS_1


*


Suara lapis demi lapis pintu terbuka membangunkan Rose dari tidurnya. Seperti biasa, kegelapan menyapa mata itu sejak Abimanyu pergi. Tapi seiring langkah kaki mendekat, Rose mengenali aromanya hingga spontan ia berkata, "Hampir aku memecatmu dari dunia ini, Budak Tidak Berguna."


Abimanyu muncul setelah hampir dua minggu menghilang.


"Saya denger kamu sakit lagi."


"Siapa yang tidak sakit dikurung di tempat sialan ini?"


"Jangan ngomong kayak gitu. Kamu sementara mesti betah di sini."


Rose mendelik. Kalau saja tenaganya cukup, sekarang juga ia pukul kepala pria ini. "Kenapa juga aku harus di sini?! Kamu memasukkanku ke sini karena keputusan sepihak pergi mengangkangi istrimu. Dua minggu melakukannya belum cukup membuat dia hamil?! Kalau begitu dia madul atau kamu yang impoten!"


Abimanyu diam saja.


"Cepat keluarkan aku. Aku rasanya mau mati di ranjang ini sekarang. Salah-salah aku duluan yang pergi ke surga sebelum Paman Mahesa mati."


"...."


"BERHENTI DIAM SAJA!"


Abimanyu menghela napas. "Rose."


Nada suara Abimanyu terdengar mencurigakan. Rose memicing namun sesaat ekspresinya langsung mengeras.


"Sialan," gumam gadis itu. "Paman ... sudah pergi?"


Rose diam-diam menggigit bibirnya. Dua minggu ia kesal karena harus terkurung dalam kegelapan, tapi baru pertama kali ia bersyukur kamarnya benar-benar sangat gelap.


Dengan begitu seharusnya Abimanyu tidak melihat bagaimana wajah Rose memerah, menahan air matanya.


"Tidak ada yang baik-baik saja, Bodoh. Sekarang nyawaku benar-benar sudah terancam dan aku harus terus berada di sini seperti tikus."


Abimanyu hanya meremas tangan mungil gadis itu.


"Rose, ada satu lagi."


"Aku tidak mau tahu lagi. Itu tugas kalian semua untuk membereskan kekacauan karena kematian Paman. Tugasku baru dimulai setelah semua itu jadi pergi sana dan kerjakan tugasmu."


Abimanyu tidak sedikitpun marah sekasar apa pun sikap Rose. Abimanyu adalah salah satu yang tahu bahwa sikap Rose ini terbentuk dari keras hidupnya menanggung beban tanggung jawab sebagai pewaris Mahardika.


Sebenarnya Abimanyu tidak ingin membebani dia, tapi berita ini harus ia sampaikan.


"Nyonya Maheswari, mama kamu ...."


Rose menahan napasnya.


".... Pagi ini ... dimuti-lasi sama Pasukan Anti-Mahardika."


Hanya sesaat setelah itu, Rose terbatuk-batuk dan suhu tubuhnya meningkatkan seiring dari pernapasannya tersekat-sekat.

__ADS_1


Abimanyu mendekap tubuhnya, berusaha menenangkan kekacauan di tubuh Rose yang mungkin sudah siap tapi tetap tidak bisa menahan ledakan demi ledakan di kepalanya sekarang.


Semua tidak akan baik-baik saja tapi Abimanyu sudah berjanji pada Mahesa Mahardika untuk menjaga gadis ini.


*


"Pa, aku udah nganter adek-adek ke bawah." Nayla melapor setelah menyelesaikan tugas yang diberikan walau tampak masih sulit mengerti keadaan.


Dia tidak tahu kenapa mendadak Adji menutup gerbang rapat-rapat, lalu banyak orang terlihat berjaga di luar sana, dan Adji, Banyu juga Cetta terlihat sangat tegang persis setelah Abimanyu pergi.


Semua anak-anak Juwita pun disuruh turun ke ruang bawah tanah yang baru Nayla tahu ternyata ada di bawah kediaman mereka.


"Yang, emang ada apa, sih? Kok kita ngumpet di rumah sendiri?" tanya Nayla kebingungan.


Cetta tidak menjawab, sibuk dengan tablet di tangannya. Lalu dia berkata, "Pa, sistem selain keamanan udah shutdown semua."


Banyu mengantongi ponselnya setelah dia menelepon seseorang. "Juwita, Rara, Nayla, kalian bertiga juga buruan turun ke bawah."


"Tapi kenapa—"


"Nayla, Rara." Juwita mencegah anak menantunya bertanya, memberi isyarat saja agar mereka patuh.


Juwita mengambil senter untuk penerangan, lantaran penerangan kediaman dimatikan secara total oleh Cetta. Di belakangnya Rara dan Nayla mengikuti, berusaha menahan rasa penasaran mereka akan situasi.


"Pak Mahardika kemarin malam meninggal," jelas Juwita di antara keheningan saat mereka menuruni tangga. "Beliau itu lebih dari mantan presiden. Banyak yang bilang beliau diktator, secara sepihak ngambil banyak kekuasaan dari orang-orang."


"Tapi Pak Mahardika bukannya orang baik, Bu?" timpal Rara.


"Memang. Pak Mahardika ngambil paksa kekuasaan dari orang-orang yang jahat. Makanya dari sejak Pak Mahardika berkuasa, hal-hal kayak korupsi sampe hal-hal sekecil anak jalanan itu berkurang drastis. Beliau yang ngatur semuanya."


Juwita menoleh.


"Makanya begitu Pak Mahardika meninggal, orang-orang yang ngerasa rugi dengan kebijakan Pak Mahardika langsung gerak. Berapa dekade Pak Mahardika ngambil kekuasaan. Berapa banyak orang yang seharusnya kaya lewat jalur nakal dibikin miskin karena enggak bisa gerak. Orang-orang kayak mereka itu tersebar luas sampe ke luar negeri."


Juwita meraih tangan masing-masing dari mereka, menggandengnya agar terus berjalan.


"Kita yang punya hubungan kerja, Abi yang anak Papa, Rara yang istri Abimanyu, kita semua pasti jadi target mereka juga. Apalagi kamu, Rara."


Rara tertegun.


"Abimanyu empat tahun terakhir gila-gilaan berusaha mundurin mereka semua. Fakta kalo kamu istrinya Abimanyu aja udah cukup bikin mereka mau nyiksa kamu sampe kamu enggak bisa minta ampun."


Dada Rara langsung bergemuruh.


Jadi ... jadi karena itu dia bersikeras pergi? Salah satunya karena ini?


"Bu, aku takut." Nayla langsung menggigil ketakutan, memeluk lengan Juwita erat-erat.


"Enggak pa-pa. Ada Papa, Cetta sama Banyu jagain kita." Juwita berusaha tersenyum. "Lagian Abi di sana juga enggak bakal biarin kita kenapa-napa, kan?"


*

__ADS_1


__ADS_2