Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
90. Positif


__ADS_3

Tiga minggu setelah itu.


Di dalam kamar tidurnya yang sementara, Rara terduduk memandangi dua garis merah test pack di tangannya. Ada senyum kecil di bibir Rara, untuk kesekian kali ia meresapi rasa senang yang meletup-letup di dadanya.


Setelah sekian lama ia berharap, impian kecilnya terwujud juga.


Rara harus memberitahu semua orang. Terutama Juwita. Dia yang paling menunggu walau tidak mau bicara langsung.


Tapi ....


"Aku mau kamu yang tau dulu, Bi." Rara menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak, enggak. Kita udah sepakat pisah. Enggak boleh kayak gitu, Rara."


Rara menarik laci meja riasnya, meletakkan test pack di dalam sana. Entah kenapa ia merasa belum waktunya pergi memberitahu Juwita.


Lagipula tidak masalah menunda sehari dua hari kan? Kebetulan Juwita juga sedang sibuk di luar. Banyu, Cetta, bahkan Nayla pun semuanya sibuk belakangan mengurus sisa-sisa kekacauan yang berdampak pada bisnis mereka.


Daripada itu Rara harus buru-buru keluar, pergi memasak makanan. Hari ini adalah gilirannya mengurus anak-anak yang seluruhnya diliburkan oleh sekolah mereka.


"Lila, Nia! Sini bantuin Kakak masak dulu!" seru Rara ketika keluar dari kamar kecilnya.


Perempuan itu mendekati dapur terbuka di dekat pohon mangga, membuka kotak styrofoam tempat penyimpanan bahan makanan yang ternyata kosong.


"Loh? Kok kosong? Cetta belum beli bahan makanan?"


Lila berjalan mendekatinya. "Tadi kata Ibu hari ini enggak usah masak, Kak. Orang catering katanya bakal dateng bawain makanan."


"Ohya? Siapa yang pesen? Nayla?"


Lila menggeleng. "Abang Abi."


"Eh?"


"Mbak Rose katanya mau datang ngobrol sama Papa nanti siang. Kata Ibu kalo Kakak udah selesai mandi, tolong siapin kursi sama meja yang bersih."


Ah, begitu kah? Bukan Abimanyu yang pulang tapi Rose punya urusan penting dengan Papa.


Hampir Rara besar kepala.

__ADS_1


"Gitu toh." Rara tersenyum. "Yaudah, bantuin Kakak yuk. Panggil adek-adek juga."


"Iya, Kak."


Ditemani adik-adik iparnya, Rara menata tempat untuk tamu penting mereka nanti. Pohon paling besar tempat ayunan mereka tumbang tapi karena Juwita bilang kursi Rose harus di bawah pohon yang tidak panas, Rara menatanya di bawah pohon yang setidaknya cukup melindungi Rose.


Padahal hanya menata meja, piring dan memasang beberapa hiasan kecil, tapi waktu berlalu dua jam. Meski begitu, Rara tersenyum puas dengan hasilnya.


Tak butuh waktu lama setelah itu makanan datang. Rara menatanya dibantu Juwita dan Nayla yang pulang cepat demi menyambut tamu mereka. Dan hanya tiga puluh menit setelah itu, Rose muncul bersama rombongannya.


"Selamat datang," sapa Adji dengan senyum kecil saat menemukan Rose pucat lelah.


"Ya, selamat siang." Rose melewatinya, duduk begitu saja di kursi paling dingin. "Pura-pura tidak lihat saja aku mabuk kendaraan."


"Kamu harusnya enggak maksain badan kamu ke sini, Rosella." Adji ikut duduk di kursinya. "Kalau ada apa-apa, lebih baik kamu yang panggil saya."


"Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil." Rose terlihat sangat tidak sehat, tapi dia berusaha duduk tegak. "Yah, terima kasih, setidaknya."


Rara menarik kursi untuk ikur duduk setelah semua orang ikut duduk. Tatapannya sejenak bergeser pada Abimanyu yang berdiri saja di sebelah kursi Rose.


Dalam hati, Rara masih mempertimbangkan. Haruskah ia beritahu Abimanyu? Atau beritahu Juwita agar Juwita memberitahu Abimanyu?


"Aku dengar kamu sudah mengalihkan banyak usahamu pada anakmu," kata Rose sembari menyeruput tehnya. "Aku tidak memerintah tapi meminta tolong. Untuk sekarang jangan pensiun apalagi lepas tangan. Aku percaya bahwa anak-anakmu semuanya punya kemampuan, tapi pengalaman mereka dan pengalamanmu berbeda. Di masa krisis negara, aku lebih butuh kamu daripada anakmu."


Rara sekali lagi melirik Abimanyu dan tak menyangka kalau pria itu juga sedang melihatnya.


Tapi suara Rose yang membicarakan hal tentang masa depan, krisis, perang, dan hal-hal mengerikan itu, Rara hanya bisa mengatup mulut. Abimanyu pasti tidak punya waktu untuknya. Dia pasti sedang sibuk membantu Rose.


Pada akhirnya Rara tersenyum. Meyakinkan hatinya bahwa semua baik-baik saja sekalipun mereka berpisah.


Toh dia tidak pindah ke lain hati. Dia sibuk bekerja dan membantu negara. Hasilnya pun dia sisipkan untuk Rara sebagai isyarat bahwa dia ingat siapa istrinya.


"Aku khawatir dengan perang saudara di masa depan."


Rara menahan napas. Masih ada lagi?


"Menurut kamu masih ada kekacauan lagi di masa depan?" balas Adji, tampak cukup tegang.

__ADS_1


"Tidak. Bukan itu maksudku." Rose menghela napas. "Perebutan kekuasaan yang sebenarnya. Antara kami, pewaris Mahardika, dengan mereka yang mengaku sebagai penguasa, Narendra."


"Nak, hubungan Pak Mahardika sama Narendra dari awal baik. Ini saran dari saya tapi kalau kalian mau masa depan yang baik, jauh lebih baik kalian kerja sama daripada rebutan."


"Hubungan baik itu sudah terputus sejak kematian Lio Narendra dan Trika Narendra." Rose mengipasi dirinya mendadak. "Lalu dinyatakan selesai setelah kematian Paman. Kamu sendiri juga tahu hubungan baik mereka tidak dilandasi persahabatan kan? Paman selalu menganggap Trika Narendra sebagai bagian dari kerajaan Mahardika, sementara Luka Narendra membenci Paman Mahesa."


"Tapi alasan kalian baikan itu lebih penting. Baik Narendra atau Mahardika, dua-duanya peduli sama warga sipil. Saya cukup yakin Narendra sendiri enggak mau kejadian sama terulang lagi."


"Tapi penguasa hanya boleh satu. Itu peraturan di dunia, mutlak. Aku juga tidak ingin, tapi ingin atau tidak ingin tidak bisa menghentikan kekacauan. Kamu seharusnya juga tahu."


Adji mengusap wajahnya frustrasi. Suasana di meja itu jadi sangat suram, terutama ketika Cetta, Banyu dan Abimanyu sama-sama menelan ludah pahit.


Mungkin karena pengaruh tekanan di sekitarnya, Rara mendadak merasa mual. Rara menutup mulutnya, berusaha menahan agar tidak merusak obrolan tapi ....


"Huek!"


Semua mata kompak menoleh pada Rara.


Wanita itu berkeringat dingin, buru-buru beranjak. Namun entah kenapa badan Rara terasa lemas seperti habis olahraga berat. Kakinya yang baik-baik saja tersandung tanpa sebab, membuatnya nyaris mencium rumput jika tubuhnya tak ditangkap oleh lengan seseorang.


Rara terpaku melihat Abimanyu menatapnya tanpa ekspresi. Pria itu mengulurkan tangan ke leher Rara, menekan sesuatu di sisi kiri lehernya, berpindah meremas tangannya, lalu tiba-tiba tersenyum.


Dia tiba-tiba menunduk, diam-diam berbisik, "Positif?"


Dari mana dia—


"Hei, berhenti berpelukan hanya karena kalian baru bertemu." Rose tak membiarkan suasana itu berlangsung terlalu lama.


Abimanyu menoleh. "Maaf. Ranaya kayaknya enggak kuat dengerin obrolan berat kalian jadi boleh saya anter dia ke kamarnya dulu?"


Rose mendengkus. Mengibas-ngibaskan tangannya tanda mengusir. Lalu dia kembali menatap Adji, melanjutkan obrolan tadi.


Tapi setelah Abimanyu pergi, di meja itu, Juwita diam-diam melihat ke arah anak tiri dan menantunya pergi. Tanpa diketahui oleh siapa pun, Juwita menahan senyum di bibirnya.


Mungkin kali ini firasat buruknya tidak akan menjadi nyata.


*

__ADS_1


untuk semua dukungan pembaca sejauh ini, author berterima kasih. dari komentar-komentar kalian author termotivasi untuk bikin karya yang lebih menyenangkan dibaca lagi.


rara-abimanyu udah hampir selesai tapi mereka akan muncul lagi di cerita anak mereka yang sangat-sangat berkaitan sama kisah ini.


__ADS_2