
Di sebuah jurang mengerikan itu, rasanya suara-suara makhluk malam bergaung. Persis di bibirnya, seorang pria sepantaran Abimanyu duduk bersenandung kecil. Dia seperti tengah menemani sepi di sana agar tak terlalu menyedihkan.
Memikirkan seorang perempuan yang beberapa tahun lalu berdiri di sini, menangis sampai badannya terguncang.
"Lo mau gue selametin?" tanya Zayn pada perempuan itu, dulu. "Sekarang gue akuin gue cuma kayak tikus. Ngelawan Mahardika yang udah sekarat pun masih mustahil. Tapi, Sakura ...."
"...."
"Enggak lebih dari sepuluh tahun lagi, entah mati karena sakit, mati karena ditusuk, mati kecelakaan, Mahesa Mahardika pasti bakal mati. Ujung-ujungnya dia punya batas waktu."
"...."
"Begitu dia mati, gue janji sama lo bakal matahin lehernya Abimanyu. Gue bakar hidup-hidup keluarganya, terutama Juwita, yang bikin lo begini."
"...."
"Bilang aja ... lo mau yang mana."
Sakura, perempuan itu membungkuk di antara tangisannya. Berdiri nampaknya sulit bagi dia lantaran terlalu larut dalam kesedihan itu.
Tapi Sakura berusaha kembali berdiri tegak. Menatap Zayn yang berdiri lima langkah darinya.
"Aku udah enggak sanggup." Sakura menggeleng lemah. "Ngeliat siang jadi malam, malam jadi siang aja udah enggak sanggup."
"Apa susahnya sih ngelupain Abimanyu? Cowok enggak guna kayak dia emangnya—"
"AKU JUGA MAU LUPAIN!" teriak Sakura frustfasi. "AKU KE SINI JUGA KARENA MAU LUPAIN! TAPI ENGGAK BISA! ENGGAK BISA! GIMANA CARANYA BUAT LUPAIN?! MINTA KE TUHAN?! MINTA KE DEWA?! ATAU DATENG KE DUKUN BIAR PERASAAN AKU ILANG?!"
Zayn seketika diam.
"Aku udah putus asa minta," rintih Sakura. "Ini udah jadi kutukan, bukan lagi cinta."
"...."
"Kamu jangan ikut campur. Aku yang berhak mutusin ke mana aku mau pergi."
Zayn memejam. Menarik napas panjang dan menghelanya pelan. Ketika ia membuka mata lagi, Zayn tersenyum.
"Kalo gitu ... kalo neraka sama surga beneran ada ... sampe ketemu lagi di sana."
Bibir Sakura bergetar hebat. Namun meski dia melihat mata seseorang yang ingin coba menyelamatkannya, Sakura memilih mundur, menyerah pada segalanya.
Hal selanjutnya adalah keheningan dan suara angin dari lembah. Bahkan suara seseorang jatuh dari ketinggian tidak terdengar sedikitpun lantaran dalamnya jurang itu.
Zayn memasukkan tangannya yang terkepal di dalam saku celana, bergerak mendekati bibir jurang tempat Sakura menjatuhkan diri.
Yang terlihat hanyalah kegelapan tak berujung.
Baik hari itu maupun hari ini.
__ADS_1
"Zayn." Seseorang mendekat dari belakang saat Zayn hendak membakar rokok. "Anaknya Abimanyu kemungkinan lahir malem ini. Rose cuma sama Olivia sekarang."
"Olivia plus lima belas ribu orang buat gantiin Abimanyu," timpal Zayn.
"Tapi bukan Abimanyu," bantah Rin. "Kalo enggak bisa ngambil kepala Rose, minimal nyerang sekarang bikin kepalanya Abimanyu yang melayang. Udah jelas kan Arina enggak bakal terima alesan Rose diserang karena Abimanyu lagi nemenin istrinya lahiran. Ini kesempatan."
"Ogah."
Rin kontan melotot. "HAH?!"
"Ogah." Zayn malah mengulangnya padahal tahu Rin sudah dengar.
"OGAH?! Lo mau disemprot sama Bos karena alesan OGAH?!"
"Tugas kita emang ngambil kepalanya Rose," Zayn menjatuhkan dirinya begitu saja di tanah, tidak peduli itu kotor, "tapi ngapain juga gue ke sana kalo udah tau enggak bakal berhasil?"
"Kalo enggak nyerang, lebih enggak berhasil, Tolol."
"Lo yang tolol, Rin sayang."
Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya penuh celaan.
"Kerusakan pasca perang kemarin emang masih banyak bekas, makanya pertahanan Rose sekarang pasti keras banget. Kalo nyerang sekarang, kita cuma ngabis-ngabisin orang kita sendiri. Ujung-ujungnya bakal kalah dan yah, Abimanyu pasti bakal dihukum, kemungkinan hukum mati. Tapi kalo Abimanyu mati terus digantiin sama orang baru gimana?"
"Itu ...."
"Gue denger Dion kemarin ketemu sama Kaisar Narendra. Kalo mereka ngebentuk aliansi baru berarti enggak lama lagi pertahanan di sekitar Rose bakal lebih gila. Orang-orang sekelas Narendra jagain Rose, hah, jadi tambah ngimpi ngambil kepala dia."
Zayn menatap Rin dari bawah namun tersenyum sangat tinggi. "Gue yang ketua atau lo yang ketua, Rin?"
".... Gue cuma—"
"Kalo mau ngambil kepala Rose, targetnya bukan Rose, tapi Abimanyu." Zayn melompat berdiri, meninggalkan jurang itu. "Kalo mau ngambil kepalanya Abimanyu ... biarin anaknya lahir dulu."
*
7 tahun kemudian.
"Nona, Abimanyu sudah selesai bersiap. Waktunya berangkat."
Rose tetap diam menikmati angin yang bertiup kencang. Perempuan itu bersandar pada bibir jendela istananya, menarik dan mengembuskan napas.
Pintu kamar terbuka, memunculkan sosok Olivia. "Oi, kita udah ditungguin. Lo ngapain masih ngelamjn di sana?"
Rose menoleh. "Abimanyu di mana?"
"Tuh." Olivia mengedik ke luar dan sesaat setelahnya Abimanyu muncul. "Harus banget Abimanyu dulu yang jemput baru lo mau gerak."
Abimanyu mendekati Rose. "Ini pertemuan penting buat negara, Rose. Buat ini aja, jangan manja dulu. Jangan ngeluh soal jetlag, atau ngeluh soal panas, apalagi ngeluh soal pusing. Kamu ngerti?"
__ADS_1
"...."
Abimanyu mengulurkan tangan padanya. "Sini. Saya gendong ke pesawat. Obat tidur kamu udah diminum kan?"
Biar Rose tidak mabuk pesawat, dia bukan minum obat anti mabuk tapi obat tidur agar sepanjang perjalanan dia tertidur pulas dan punya tenaga menghadiri pertemuan.
Setelah tujuh tahun Rose, Dion dan Damar menggantikan Mahesa, akhirnya mereka diakui oleh pemerintahan dunia. Karena itu pada pertemuan kali ini, Rose sama sekali tidak boleh sakit bahkan jika dia sakit.
Pertemuan ini menentukan nasib masa depan negara mereka.
"Ayok."
"Abimanyu." Rose mendongak. "Kurasa sebaiknya kamu tidak ikut."
"Rose, bukan waktunya becanda sekarang. Ayo buruan—"
"Sekali lagi, kurasa sebaiknya kamu tidak ikut." Rose berlalu. "Aku tidak mau bertanggung jawab."
Abimanyu mengerutkan kening. Kepalanya dipenuhi oleh pertemuan penting ini hingga ia tidak bisa memahami maksud Rose. Bagi Abimanyu sekarang tidak ada yang lebih penting daripada memastikan Rose sampai di tempat pertemuan dengan selamat.
Di depan sana, Rose yang mendengar suara Abimanyu mengikutinya tidak lagi banyak bicara.
Lagipula Rose tidak tahu pasti ada apa. Mungkin ia sendiri hanya sedang gugup.
Tapi yang jelas Rose merasa Abimanyu harus tetap berada di negara ini.
*
"Zayn." Rin menengok ketua timnya yang sekarang malah sibuk bermain game di HP. "Rose, Dion, Damar udah berangkat. Banyu, Abimanyu, Adji ikut sama rombongan mereka. Perwakilan dari Narendra juga berangkat dua puluh menit lalu."
"Hmmmm, gitu toh?"
"Perintah?" tanya Rin.
Zayn tampak sangat fokus menyerang musuh di game-nya sampai Rin khawatir layar HP itu pecah akibat tekanan kuat. Namun suara kemenangan di game hanya membuat pria itu tertawa lebar.
"Winner! Yeeeeey!" seru Zayn bahagia.
"Zayn."
Pria itu tersenyum. "Kalo gitu tolong jemputin anak Abimanyu. Pesawat dia juga udah nungguin."
Rin tak menunggu kalimat lain lagi karena sudah menunggu perintahnya sejak tujuh tahun terakhir.
Akhirnya mereka bisa bergerak juga.
*
Cerita anaknya Abimanyu akan keluar besok, yah😊. tapi cerita ini masih punya ekstra part juga jadi tungguin 👌
__ADS_1
bisa langsung dibaca 👇