Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
20. Tahu Dari Mana?


__ADS_3

Sepertinya batas kesabaran seseorang bisa sampai tanpa tanda. Dari semua sikap yang Abimanyu perkiraan akan Sakura ambil, kabur ke luar negeri tiba-tiba itu diluar jangkauannya. Bukan karena Sakura tidak mampu tapi karena Sakura tidak pernah memilih jalan jika itu berarti meninggalkan Abimanyu.


Lima tahun dia punya waktu. Bahkan di awal, ketika dia melihat Abimanyu memeluk Juwita dan Sakura langsung salah paham pada hubungan mereka, saat itu kalau dia berpikir cerdas dia seharusnya sudah pergi. Tapi dia justru bertahan.


"Orang kita masih ngawasin istri lo di bandara Australi, Bos. Ada perintah?"


Abimanyu berpaling cuek. "Urusan dia mau ngapain. Lagian habis koar-koar di sosmed, hidup dia di sini juga udah berantakan."


Dari awal sampai akhir Abimanyu tidak peduli pada Sakura. Pernah ia kasihan, kadang ia juga simpati, tapi Sakura tidak pernah menggunakan rasa kasihan dan simpati itu. Dia lebih suka bertindak seenaknya jadi lakukan saja terserah dia.


"Urusan cerai lo gimana, Bos?"


"Kalo dia balik ya gue urus. Kalo enggak ya bodo amat."


Tomoya mendengkus. "Kayaknya emang mending lo ditinggalin bini lo, Bos. Bangsat lahir batin."


Alih-alih tersinggung, Abimanyu justru tersenyum miring. "Cewek emang suka ketipu asal lo punya tampang sama duit."


Abimanyu cuma memanfaatkan itu saja. Toh dari awal ia tidak berniat mencari jodoh. Abimanyu sudah memberikan segalanya pada Juwita, entah ketulusan atau apa pun. Abimanyu meninggalkan semua itu di tangannya dan menjalani hidup tanpa ketulusan apa pun lagi.


Kalau wanita terpikat padanya, semua itu salah mereka sendiri.


*


Rara merasa naif ketika kepergian Sakura ke luar negeri malah membuatnya sedikit merasa bersalah. Rara takut bahwa pihaknya sekarang adalah pihak yang salah lalu pihak Sakura justru pihak tertindas dan suatu saat Tuhan akan membalas perbuatannya.


"Tapi ngomong-ngomong," gumam Rara tiba-tiba, "kalo Sakura udah enggak ada, skandalnya selesai kan? Berarti aku sama Abimanyu juga selesai?"


Tidak bisa. Rara butuh Abimanyu untuk menghentikan perjodohannya dulu. Mereka belum membahas ini karena berbagai hal yang lewat.


Maka Rara menghubungi Abimanyu.


"Saya mau ketemu kamu. Ada yang mau saya omongin."


Di seberang sana, Abimanyu membalas, "Dateng ke rumah saya." Lalu mematikan panggilan.


Sikap dia itu agak membuat Rara kesal. Kadang Abimanyu bertingkah sangat cuek sampai Rara merasa diremehkan. Tapi tak mau dibilang baperan, Rara memaafkan saja, bersiap-siap pergi menemui Abimanyu.


"Ma, aku mau ke rumah temen dulu, yah." Tentu saja setiap izin Rara harus berbohong. Apa yang akan Mama katakan kalau sampai tahu Rara mau pergi bertemu suami orang?


"Kamu belakangan jadi sering keluar, Nak." Mama menoleh dari televisi yang dilihatnya. "Ada urusan apa, sih? Masih soal Sakura?"

__ADS_1


"Enggak, Ma. Katanya Sakura udah ke luar negeri jadi itu udah selesai." Rara setidaknya jujur soal itu. "Soal kerjaan. Belakangan kan orang mulai notice aku jadi pengen fokus aja ngonten terus endorse."


"Mama tuh enggak terlalu seneng kamu begituan habis kasusnya Sakura, Rara."


Kalau dilanjutkan akan panjang perdebatannya. Nampaknya memang sudah wajar terjadi orang tua tidak memahami keinginan sebenar dari anaknya. Bukan berarti Mama buruk tapi Rara harap suatu saat Mama mengerti.


"Aku udah ditungguin. Duluan yah, Ma."


Rara pergi menggunakan taksi online menuju kediaman Abimanyu. Begitu taksi berhenti di depan gerbang hitam raksasa kediaman itu, Rara pun turun.


Tapi baru beberapa saat kakinya memijak aspal, tiba-tiba sebuah tarikan kasar menyentak tasnya.


Rara tersentak kaget namun juga spontan melindungi tasnya itu.


"Eh, eh! Apaan, Mas?!" teriaknya pada jambret pemotor itu. "LEPASIN TAS SAYA!"


Supir taksi bergegas turun untuk membantu tapi dihentikan saat jambret itu menodongkan pisau.


"Lepas!" bentak dia pada Rara. "Lepas atau gue gorok!"


"Mbak, lepasin aja, Mbak!" pinta supir taksi seketika. Merasa nyawa harus lebih diutamakan daripada tas.


Rara jelas masih waras jadi ia melepaskan tasnya walau hatinya tidak rela. Ada banyak barang-barang berharga di sana, terutama dompetnya. Kalau semua barang itu hilang, bisa saja ia menyusahkan Mama dan Papa.


Rara menoleh ke arah suara tembakan berasal. Tepatnya di tembok pagar kediaman Abimanyu, seorang pria memegang senjata jarak jauh.


Pintu gerbang tahu-tahu terbuka dan Abimanyu melangkah keluar. Beberapa orang berlari ke tempat jambret itu jatuh namun para jambret itu pun ikut berlarian meninggalkan motor.


Yang melegakan Rara melihat tasnya juga ditinggalkan.


"Tolong anggep aja Bapak enggak liat apa-apa," kata Abimanyu pada supir taksi. "Di sini emang rawan jambret."


Supir taksi yang sempat melongo melihat sniper pun mengangguk-angguk. "Gitu yah, Mas. Legal kan, Mas?"


"Iya, Pak."


"Yaudah kalo gitu, yang penting Mbaknya enggak pa-pa. Hati-hati, Mbak."


"Iya, Pak, makasih." Rara mengangguk sopan.


Bapak itu pun pamit, membawa taksinya pergi setelah Abimanyu memberinya uang. Rara lupa kalau ia belum bayar sebab tasnya keburu diambil.

__ADS_1


Baru setelah itu Abimanyu melihat Rara.


"Ada luka?" tanya dia singkat.


Rara menggeleng. "Emang di sini rawan jambret? Kenapa kamu enggak bilang?"


Abimanyu berlalu. "Cuma orang gila yang mau bikin ulah di sini."


Eh? Tapi tadi katanya ....


"Bos." Tomoya mendekat Abimanyu dengan tas Rara di tangannya. Bukan menyerahkan benda itu pada pemiliknya, Tomoya justru menyerahkan sesuatu pada Abimanyu.


Sebuah kancing jaket bergambar serigala.


Melihat benda itu, Abimanyu langsung bergumam, "Ini disengaja."


Rara di belakangnya tentu mendengar. Menarik tasnya sendiri dari Tomoya dan memeluk benda itu. "Maksud kamu apa?" tanyanya ragu.


Jangan bilang perbuatan Sakura? Dia berhenti bertindak bodoh jadi sekarang dia bertindak cerdas di belakang layar?


"Kalo kamu mikir ini Sakura, kamu salah." Abimanyu menoleh. "Ini kemungkinan bukan karena kamu tapi saya."


"Apa?"


"Saya udah bilang sama kamu kan kerjaan saya apa. Ngurus narkoba, jual-beli manusia. Kalo mau gampang ngerti saya mafia." Lalu dia membuang muka untuk berkata, "Malu-maluin sih dipanggil sama gelar norak begitu."


Ini bukan waktunya memikirkan norak atau apa pun! Rara melotot tak sabaran gara-gara dia bicara terlalu sedikit.


"Maksudnya apa? Kalo masalah kamu ya kenapa saya yang kena? Terus apa hubungannya sama kerjaan kamu mafia atau apa pun itu yang norak?!"


Abimanyu melipat tangan. Memandangi Rara teliti. "Kamu jangan-jangan spy?"


"KAMU MAU SAYA TABOK PAKE TAS?!"


"Oke, kayaknya bukan." Abimanyu berbalik cuek. Tidak ada mata-mata yang bertingkah terlalu emosional begini.


Tapi ini serius. Simbol singa ini adalah simbol divisi Samuel sementara Samuel dan Abimanyu tidak pernah berkonflik. Dengan kata lain ini cuma jebakan yang membingungkan tapi juga sekaligus pesan.


Pesan untuk Abimanyu bahwa dia tahu ada hubungan khusus antara dirinya dan Rara.


"Atau buat mastiin dia penting atau enggak," gumam Abimanyu sendiri. "Tapi pertanyaannya ... tau dari mana?"

__ADS_1


*


__ADS_2