
Abimanyu berjalan tergesa-gesa menuju kamar Rara di kediaman utama. Sebelum mencapai kamar saja Abimanyu sudah mendengarkan suara tangisan anaknya yang terdengar mulai jelas.
Hari ini tepat satu setengah bulan usia Nabila tapi jantung Abimanyu dibuat tak beraturan oleh kabar anaknya demam tinggi.
Saat ia masuk, Rara tampak sudah menangis sambil memeluk putrinya. Takut sekaligus tidak tega melihat bayi renta itu diselimuti oleh demam yang menurutnya tidak wajar.
"Bi."
Abimanyu langsung mengambil anaknya, mendekap dia dan merasakan langsung memang sepanas itu badannya. Dia menangis kencang seolah ingin berkata dia tersiksa.
"Aku yang salah, hiks." Rara menangis tak beraturan. "Tadi Baby badannya anget tapi tetep aku mandiin. Aku kira enggak pa-pa, hiks."
Abimanyu mendekatkan keningnya pada wajah Nabila, berharap panas di badan kecil itu pindah saja ke badannya.
"Kenapa kamu, Nak?" bisik Abimanyu kasihan. "Papa di sini. Sakitnya pindah ke Papa yah? Biar Papa aja yang sakit."
Bibir kecil Nabila bergerak-gerak melengkung ke bawah. Ekspresi sedih di wajah bayinya hampir membuat Abimanyu ikut menangis.
__ADS_1
Bayi sekecil ini, rasanya digigit nyamuk seekor saja dia bakal terluka parah. Abimanyu benar-benar tidak tega.
"Kamu jangan nangis ah." Juwita mendatangi Rara untuk menenangkannya. "Enggak pa-pa anakmu, Rara. Percaya sama Ibu, enggak pa-pa."
Wajar sih Rara menangis. Dia ibu baru yang walau sudah dibekali pengetahuan, namanya perasaan ibu, takut terjadi sesuatu pada anaknya yang masih tidak berdaya.
"Bi, kamu coba duduk di kursi goyang. Biasanya kalo Bila nangis, digoyang-goyangin dia lumayan tenang," kata Juwita kemudian.
Abimanyu menurut. Pergi ke kursi goyang sambil terus mendekap anaknya. Dia masih terlihat tersiksa, tapi tangisannya pelan-pelan reda sebelum akhirnya dia menutup mata, terlelap beristirahat.
Rose menggandakan waktu kunjungan Abimanyu jadi empat jam hingga pria itu bisa terus bersama anaknya lebih lama dari yang biasa.
"Now hush little baby don't you cry, everything's gonna be alright," senandung Abimanyu di telinganya. Stiffin that upper lip up little lady i told ya, Daddy’s here to hold ya, through the night."
"And if you ask me to, daddy's gonna buy you a mockingbird, I'ma give you the world. I'ma buy diamond ring for you, I'ma sing for you, I'll do anything for you to see you smile."
Entah karena keadaan Nabila memang sudah membaik atau karena kesungguhan Abimanyu dan Rara dalam berharap di hati mereka, kondisi Nabila perlahan-lahan menbaik. Setidaknya dia tidak menangis kencang lagi.
__ADS_1
Tapi ... batas waktu Abimanyu sudah tiba.
Abimanyu harus pergi.
"Kamu bawa aja Rara sama Nabila," ucap Juwita, yang sontak mengejutkan Abimanyu. "Aku udah telfon Rose tadi, minta izin kamu nginep sebenernya. Tapi Rose bilang kamu bawa aja Nabila ke sana."
"Enggak pa-pa?"
"Ya mau gimana lagi kan? Nabila kayaknya butuh kamu dulu. Nanti kalo udah sembuh, baru pulang lagi ke sini, yah? Takutnya nanti kalo kamu pergi, Nabila nangis-nangis kan bikin cemas juga."
Saran itu tak banyak Abimanyu bantah karena ia memang tidak akan tenang sampai anaknya benar-benar sembuh.
"Kamu siap-siap, Ranaya."
"Iya."
Abimanyu memejam, mendekap erat tubuh kecil putrinya yang masih terasa hangat.
__ADS_1
Kalau Abimanyu peluk dia semalaman, apa seluruh sakitnya akan pindah? Karena kalau iya, Abimanyu sedikitpun tidak keberatan.
*