Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
71. Selingkuhan Baru?


__ADS_3

Lima hari setelah itu, Rara memboyong timnya untuk liburan ke Jogja. Mereka menginap di tempat yang telah disewa khusus untuk mereka, bersenang-senang untuk menghibur diri dan merayakan keberhasilan usaha mereka selama ini.


Jujur, itu tidak mudah. Di awal-awal Rara membangun, ia nyaris menangis siang malam. Sangat banyak orang merendahkannya, terutama karena saat itu berita Abimanyu punya anak, berita Rara adalah pelakor, dan berita kematian Sakura yang datang tiba-tiba membuat media goncang. Rara bahkan pernah dicaci-maki habis-habisan oleh seseorang yang saat itu kebetulan sangat ia butuhkan. Rara menangis di meja rapat tapi harus tetap berbicara dan meminta orang itu tetap membantunya.


Tapi semua itu berlalu sekarang. Walau empat tahun termasuk waktu yang sangat singkat, tapi Rara sudah sangat terbiasa mengurus segalanya sekarang.


"Kak Rara, aku mau itu." Yunia menunjuk kebab yang sudah matang tapi tak bisa dia jangkau karena banyaknya orang di sekitar pemanggang.


"Itu? Bentar yah." Rara mengambilkan kebab juga beberapa makanan lain untuk Yunia. "Nih, makan pelan-pelan yah."


"Makasih."


"Sama-sama, Sayang."


Yunia mau beranjak pergi ke tempat Juwita dan Adji sedang duduk santai, tapi gadis kecil itu tak sengaja melihat sesuatu yang membuatnya langsung kembali.


"Kak Rara."


"Iya, Yuni?"


"Kakak tembus."


"Hah?" Rara sejenak tidak paham apa maksudnya tapi ketika Yunia menunjuk roknya, Rara langsung mengintip, terkejut mendapati rok putih itu ternodai oleh darah merah. "Aduh aduh, kok gini yah?"


"Bentar, Kak, aku ambilin jaketnya Kak Banyu buat nutupin."


Rara menunggu Yunia datang mengambil jaket Banyu karena Rara kebetulan tidak memakai outer. Dari kejauhan terlihat Banyu langsung beranjak, menghampiri Rara bersama jaketnya.


"Perlu gue anterin?" tanya pria itu, ingat kalau tiap kali Rara haid, biasanya dia bakal kesakitan.


Itu sudah rutin terjadi sejak Rara juga giat bekerja. Kata dokter itu karena Rara terlalu stres.


"Boleh, sekalian nanti balik kamu bantuin aku bawain hadiah buat anak-anak."


Banyu menyerahkan jaketnya dan setelah Rara menutup bagian belakangnya dengan itu, mereka langsung beranjak pergi. Rara masuk ke kamarnya sementara Banyu menunggu di luar. Tapi tak lama kemudian Rara malah keluar.


"Banyu," panggil dia. "Abis."


"Hah?"


"Pembalutnya abis." Rara menutup pintu kamarnya lagi. "Aku mau beli di depan dulu. Kamu balik aja."


"Enggak, gue temenin." Banyu mana mungkin membiarkan kakak iparnya berjalan sendirian sementara lokasi tempat mereka ini agak jauh dari keramaian.

__ADS_1


"Hadeh, aku kalo ke mana-mana kenapa malah jadi selalu sama kamu sih?" gerutu Rara tapi setengah bercanda. "Sesekali aku tuh mau juga kayak Nayla gitu. Beli pembalut aja ditemenin Cetta."


"Halah, taikucing."


"Lagian kamu tuh buruan kek cari istri. Masa Cetta udah nikah tiga tahun kamu bawa pacar aja enggak mau." Rara mencibir. "Koleksi yang kamu suka transferin uang enggak dihitung yah."


"Nyenyenye." Banyu malah mengejek. "Berisik amat. Suami lo tuh ke mana. Enggak usah sok nyuruh gue nikah!"


"Suami aku mah ada, orangnya doang enggak ada."


"Sama aje, bego!"


"Heh! Kutendang yah kamu kalo ngomong kasar gitu!"


Banyu mendengkus tapi diam karena tahu bakal ditendang sungguhan. Sepanjang perjalanan ke tempat belanja, mereka berdua berulang kali saling mengejek nasib kesendirian masing-masing.


Aksi cibir-mencibir itu baru berhenti ketika mereka menyebrang jalan, mendekati supermarket yang tampak ramai malam ini. Walau tujuan Rara datang cuma pembalut, perempuan itu menarik stroller buat belanja hal lain juga.


Banyu cuma diam, mengikut di belakangnya.


Mereka menyusuri semua rak dan mengambil berbagai macam hal. stroller roller penuh, Rara langsung mendorongnya menuju kasir. Tapi ....


"Ah!"


Seseorang dari samping rak mendadak bergeser hingga roller Rara menabrak tubuhnya. Perempuan itu terlempar ke lantai, membuat Rara tercengang.


"M-maaf, Mbak!" Rara buru-buru mendekati perempuan itu. "Maaf. Maaf banget. Saya enggak sengaja. Saya minta maaf."


Perempuan itu mengerang sakit. Tapi ketika dia menoleh, baik Rara dan Banyu terpaku di tempat.


Ya Allah Yang Maha Kuasa, apa barusan bidadari jatuh dari kayangan?


Itu yang Rara pikirkan, apalagi Banyu.


Cantik, njir! Pria itu sampai berkedip-kedip ratusan kali buat memastikan penglihatannya.


Enggak, enggak, enggak. Enggak mungkin ini. Dusta ini dusta. Lagi mimpi gue sekarang. Mana ada cewek secantik ini di dunia!


"Kamu mendorong benda berat itu," kata si Cantik, "jadi seharusnya hati-hati. Seseorang bisa mati kalau tertabrak."


Rara cengo. Pertama karena orang ini berbahasa Inggris dengan aksen British kental, juga karena dia mengatakan sesuatu yang agak aneh.


Kecuali beratnya satu ton, kayaknya tertabrak stroller tidak sampai membuat seseorang mati.

__ADS_1


"Maaf." Rara kembali berucap hal sama, namun dengan bahasa Inggris karena mungkin dia tidak mengerti. "Saya enggak sengaja. Maaf."


"Aku juga tahu kamu tidak sengaja. Kalau sengaja itu berarti kamu gila." Perempuan itu membalas agak ketus. "Sudahlah. Cepat bantu aku berdiri."


Sebelum Rara sadar, tangan Banyu sudah duluan menggapai perempuan itu. Ekspresi syahdu yang dia pasang membuat Rara menatap datar bocah sialan itu.


Dasar!


"Ada yang sakit, Nona?" tanya Banyu dengan aksen British pula.


"Tidak." Perempuan itu menjawab seolah dia tidak peduli Banyu memujanya. "Aku tidak sakit karena barusan cuma terlempar sedikit," ucap perempuan itu sarkas.


"Begitu, yah? Kalau begitu aku antar kamu ke rumah sakit, yah? Takut-takut ada cidera tulang. Bahaya."


Rara tepuk jidat. Habis sudah. Banyu benar-benar terbius kecantikannya.


Memang sih cantik. Cantik parah. Rara sanksi ia pernah bertemu perempuan secantik ini. Kayaknya kalau dia dipanggil paling cantik di dunia, itu bukan dusta apalagi karangan.


"Aku benci rumah sakit." Perempuan itu menarik tangannya dari Banyu. "Sudah cepat pergi. Aku tidak bisa lewat karena barang kalian itu."


Apa yang Banyu lakukan? Dengan kakinya dia mendorong mundur stroller Rara, tanpa sedikitpun mengalihkan mata dari si Cantik.


"Silakan, Nona," kata dia, seolah-olah stroller Rara adalah rakyat jelata yang boleh ditendang karena menghalangi jalan seorang putri Raja.


Rara menyesal sudah membawa dia. Harusnya tadi membawa Cetta saja, yang lebih manusiawi dan tahu adab.


"Rose."


Tiba-tiba sebuah suara terdengar, lembut dan tenang namun sukses membuat Rara tercenung.


Suara itu, mana mungkin ia lupa. Suara yang ia ulang berkali-kali di kepalanya setiap malam saat Rara sendirian di kamar tidurnya.


Abimanyu.


Kenapa dia—


"Abi, kemari dan gendong aku."


Rara semakin terguncang.


Wanita itu menoleh pada si Cantik yang ternyata bernama Rose, yakin bahwa itu tadi dia yang bicara memanggil Abimanyu. Kemari dan gendong aku, katanya?


Jadi dia datang ke sini bersama Abimanyu?

__ADS_1


Jangan bilang dia ... selingkuhan Abimanyu ... lagi?


*


__ADS_2