
Abimanyu melangkah masuk ke kediamannya setelah itu. Walau biasanya memang pria itu pulang tanpa ekspresi, para pelayan yang melihatnya tahu bahwa ada kemarahan di wajah Abimanyu yang tanpa ekspresi itu. Apalagi sejak tadi mereka sudah mendengar keributan dari dalam kamar Sakura, orang tuanya datang membicarakan perceraian dan perselingkuhan Abimanyu.
"Siapin makanan," kata Abimanyu seraya melepas luaran pakaiannya. "Panggil Sakura sama orang tuanya kalau udah selesai."
"Baik, Pak."
Abimanyu pun mandi seperti biasa. Mengganti bajunya dengan kaus santai dan celana kain sederhana. Ketika turun, di meja makan sudah duduk orang tua Sakura bersama Sakura yang bampaknga menunggu.
"Abimanyu!" bentak ibu mertuanya persis setelah Abimanyu memijak lantai di bawah tangga. "Kamu pikir Mama bakal diam terus sama kelakuan kamu?! Kalian mau nyiksa anak Mama sampe gimana sebenarnya?! Apa yang dia enggak kasih ke kamu?!"
"Saya enggak minta," balas Abimanyu acuh tak acuh.
Menarik kursinya untuk duduk lalu memberi isyarat agar pelayan datang membawakan minuman sambil menunggu menu utama selesai dimasak.
"Ini udah enggak lucu, Abimanyu," kata Mama Mertuanya lagi. "Perbuatan kamu ke anak Mama udah keterlaluan. Kalian ini menikah, bukan main drama. Bisa-bisanya kamu bawa-bawa media buat jatuhin istri kamu!"
"Kalau gitu silakan mundur sendiri." Abimanyu menerima minumannya sendiri sementara tamunya tidak diberi. "Silakan urus surat cerainya. Saya sukarela tanda tangan."
"Bi." Sakura lagi-lagi memohon. "Bi, udah dong, please. Aku udah capek."
Mama Mertuanya menatap berang. "Itu bukan fitnah, kan? Mama tau Sakura enggak mungkin bohong! Kamu punya hubungan aneh sama Juwita makanya Sakura curiga sama kalian!"
Abimanyu menautkan tangannya di atas meja dan diam-diam menahan itu saling mengepal. Sejujurnya ia sedang emosi dan kalau dipikir lagi, Abimanyu bisa melenyapkan mereka semua ini tanpa suara.
Aliansi, tempat Abimanyu berafiliasi sekarang adalah organisasi ilegal terbesar di Asia. Memalsukan kematian sebuah keluarga adalah hal yang semudah membalik telapak tangan. Apalagi mereka secara langsung menyusahkan Abimanyu, salah satu eksekutif dari Aliansi.
Yah, mungkin singkat kata Abimanyu adalah mafia dan seorang mafia punya kuasa membunuh siapa saja. Tapi Abimanyu terus menahannya.
Ia berusaha terus menahannya dan sepertinya mereka tidak memikirkan itu sama sekali.
"Keluarga." Abimanyu menatap mereka tanpa emosi di wajahnya. "Sejak sebelum ada kalian, saya udah ngerasa satu-satunya keluarga saya itu cuma Papa saya, Almarhumah Mama saya, Juwita, saudara-saudara saya. Orang selain mereka, walaupun statusnya keluarga, saya liat enggak punya tingkah sebagai keluarga."
Emosi dingin itu bukan bergejolak di wajah Abimanyu melainkan di sekelilingnya.
__ADS_1
"Kalian jangan pikir saya nganggep kalian keluarga."
"ABIMANYU!" teriak Mama Mertuanya, tak terima akan ancaman itu.
Tapi hanya sesaat setelah itu mereka diam membeku. Puluhan orang tiba-tiba mengelilingi meja makan, bersama dengan senjata mesin dan pistol yang mereka pegang.
Abimanyu mengambil salah satu pistol anak buahnya, mengarahkan pada gelas yang seketika pecah akibat lesatan peluru yang meletus.
"Di negara ini ada aturan yang bilang nyawa manusia itu berharga." Abimanyu meletakkan pistol di dekat gelas air minum baru yang diletakkan pelayan. "Tapi di Aliansi yang paling penting itu perintah atasan. Kalau saya bilang tembak, mau kalian manusia, mau kalian kucing, mau kalian ikan, tembak ya tembak. Mati ya mati. Jadi sekali lagi saya dengerin kalian teriak buat sesuatu yang bukan urusan saya, jangan salahin saya beneran ada yang mati."
Ketakutan memang selalu jadi jalan keluar tercepat. Abimanyu tidak akan memaafkan siapa pun yang cari gara-gara dengan Juwita lagi.
Wanita itu sudah cukup susah sejak dulu, jadi sekarang tugas dia hanya menikmati hidupnya.
"Kalau masalah kalian itu soal anak kalian enggak bahagia sama saya," Abimanyu beranjak, "bawa aja dia pulang. Saya enggak butuh dia di sini. Kalau kalian butuh ganti rugi, saya punya cukup uang buat disumbangin."
*
"Ke mana?"
Melapor ke mana? Semua orang pintar di benua ini tahu mana yang lebih berkuasa dalam hukum, Aliansi atau kepolisian. Lapor saja kalau dia mau.
Toh yang memimpin negara juga atasan Abimanyu. Justru karena itulah Abimanyu bertindak tanpa rasa takut.
"Abimanyu." Olivia melipat tangan. "Lo pura-pura enggak sadar atau emang enggak mau sadar? Lo tuh terlalu ngabisin waktu buat cinta sebelah pihak."
Abimanyu pura-pura tidak dengar.
"Lo kira bisa begini sampe kapan, Abimanyu? Ngabisin hidup lo buat cinta sama nyokap tiri lo tapi sadar diri lo enggak bisa milikin jadi lo mundur. Terus lo mau gini aja terus? Pasrah sama keadaan?"
"Enggak usah ceramahin gue, Olivia."
"Terus lo mau gue apain, anjing? Gue liatin lo kelewat batas sama kelakuan lo?"
__ADS_1
"Terus apa sih?" Abimanyu akhirnya berpaling, melihat wajah wanita itu. "Terus maksudnya gue cari perempuan lain yang bikin gue move on, gitu?"
"Berenti jadiin perasaan lo ke Juwita tuh alesan lo kacau kayak gini. Kalo lo masuk neraka, Abimanyu, lo juga bakal nyebutin nama Juwita? Karena Juwita, demi Juwita, buat Juwita lo jadi kayak gini?"
Abimanyu beranjak, menyambar jaketnya begitu saja daripada ia harus mendengar ceramah Olivia yang mungkin akan memanjang sampai ke ujung dunia itu.
*
Meskipun Abimanyu melarikan diri dari ceramah Olivia, pikirannya tidak mau berhenti mengingat hal itu. Pria itu mengeluarkan rokok dari sakunya sembari memandangi gemerlap kota dari pinggiran bukit malam ini.
Dalam keheningan itu Abimanyu tak bisa melepaskan bayangan Juwita.
Perasaan ini sepenuhnya kesalahan Abimanyu. Ketika Juwita memperlakukannya seperti anak dan sahabat, Abimanyu justru memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari itu. Tapi Abimanyu tidak menyesali perasaannya. Faktanya Abimanyu justru betah memelihara perasaan ini.
Jika ada satu hal yang ia sesali ... itu adalah membiarkan perasaan ini berembus. Seharusnya dulu Abimanyu tidak mengutarakannya. Seharusnya dulu Abimanyu menyimpannya rapat-rapat dan bukan mengatakannya.
Dengam begitu Juwita pasti akan baik-baik saja.
"Juwita." Abimanyu merindukannya.
Lima tahun ini ia merindukannya. Ibu, sahabat sekaligus sesuatu yang sangat terlarang baginya. Abimanyu bahkan bisa membayangkan apa yang dia katakan.
"Kamu kenapa, Bocahku?" Lalu dia akan mengacak-acak rambut Abimanyu seperti dia melakukannya pada Cetta. "Cerita sama aku, dong. Aku kan kepo orangnya."
Abimanyu meringkuk, berusaha menyembunyikan fakta bahwa air matanya jatuh. Jika ada yang tahu seorang eksekutif Aliansi sampai menangis cuma demi wanita begini, mereka pasti tidak akan berhenti tertawa. Tapi cuma dia dan Mama wanita yang bisa membuat Abimanyu menangis.
"Juwita," rintih Abimanyu menahan sesak.
Tap tap tap
Abimanyu tersentak mendengar langkah kaki di belakangnya. Secara spontan pria itu berpaling, menahan napas oleh sosok perempuan yang berdiri di sana.
*
__ADS_1