
Olivia memasangkan selimut ke tubuh Abimanyu yang kembali terlelap setelah lama diam. Mereka sudah bersama bertahun-tahun, karena itu Olivia hafal Abimanyu akan lebih banyak tidur jika dia banyak pikiran.
Tatapan Olivia sejenak terpaku pada wajah Abimanyu. Tangannya terulur, menyingkirkan anak-anak rambut yang berjatuhan di keningnya.
Kadang, Olivia lupa sudah bertahun lamanya ia mengiringi langkah pria ini. Tapi Olivia tahu itu sudah terlalu lama hingga ia sudah sangat sadar bahwa dia keberadaan yang diluar genggaman sekalipun berada dalam lingkaran hidupnya.
"Kalo gue giniin pas lo bangun, pasti lo kesel." Olivia mengusap-usap kening Abimanyu. "Tapi kalo Rara, malah lo yang minta."
Mungkin satu-satunya alasan kenapa Olivia menjadi perempuan yang bertahan di sisi Abimanyu ... adalah karena Olivia tidak pernah dicintai olehnya. Olivia tidak pernah membuat Abimanyu takut jika ia terluka. Setidaknya, tidak sebesar ketakutan dia atas Juwita dan Rara.
"Gue yang paling ngerti perasaan Rara dari siapa pun, Abimanyu." Olivia menarik tangannya dari pria itu. "Gue yang paling tau rasanya pengen lo ada tapi lo enggak pernah ada."
Olivia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Tanpa suara wanita itu kelaur dari kamar Rose, membiarkan mereka berdua istirahat karena besok mungkin mereka harus melakukan perjalanan panjang.
Tapi sebelum itu ... Olivia harus pergi menemui Rara.
*
"Minta yang lain."
Rara sama sekali tidak terkejut tengah malam begini Olivia diam-diam memintanya bertemu. Segala sesuatu tentang Abimanyu pasti diketahui Olivia. Termasuk soal permintaan Rara soal anak.
"Gue enggak butuh yang lain," jawab Rara datar. "Mau istana, mau gunung emas, gue enggak mau."
Olivia menghela napas. Dia menarik sebatang rokok dari kotak rokok mahalnya, menyalakan pemantik api dan membakar ujung rokok itu. Beberapa detik setelahnya asap langsung menghiasi udara di sekitar wajah Olivia.
"Pernah gue pikir lo cocok buat Abimanyu," katanya.
"Jadi maksudnya sekarang udah enggak?"
"Lo udah enggak bisa ngerti lagi soal dia."
Rara diam-diam mengepal tangannya. "Abimanyu bilang dia enggak minta dingertiin."
"Karena lo udah enggak bisa ngerti. Buat apa lo minta orang yang enggak ngerti buat ngerti?"
".... Ini hak gue, Olivia." Rara memejam, berusaha mengendalikan dirinya. "Abimanyu mau ninggalin gue dan sebagai gantinya gue ngertiin dia, gue boleh minta apa pun. Sekarang itu juga mau lo halangin?"
"Lo mau adu penderitaan?" balas Olivia tenang, namun sempat membuat Rara tersekat. "Lo mau adu sengsara? Fine, gue ladenin. Pasang kuping baik-baik."
__ADS_1
"...."
"Gue nemenin Abimanyu jauh, jauh banget sebelum lo ada di hidup dia. Dari sejak sebelum ada Sakura, dari sejak sebelum dia beneran jadi gila, gue selalu nemenin dia. Dia dateng ke gue, ngelampiasin perasaan dia ke Juwita lewat gue, terus pergi lagi main-main sama orang lain. Begitu sakit hati, dia balik lagi ke gue, minta gue hibur dia, terus dia pergi lagi, bodo amat soal gue."
"...."
"Begitu dia mau nikah buat nutupin perasaan dia ke Juwita, lo pikir dia milih gue? Enggak. Dia nyari cewek lain yang menurut dia mirip Juwita, tapi begitu selesai dia nikahin dia ngerasa itu enggak mirip dan balik lagi ke gue."
"...."
"Dia pergi dari rumah, dia berusaha berubah karena ngerasa bersalah sama Juwita, dia ninggalin semuanya dari masa lalu dia kecuali apa? Kecuali gue. Dia bawa gue ke hidup dia yang amburadul, bikin gue tetep di sana ngeliat semuanya sampe mau enggak mau gue juga harus ikut ngerasain."
"...."
"Pernah sekali dia milih gue? Pernah sekali aja, sekali aja, dia ngerasa harusnya dia sama gue aja? Lo pikir pernah?"
"...."
"Enggak pernah." Olivia tertawa kecil saat mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. Dia tertawa namun badannya justru terlihat gemetar seolah-olah menahan tangis.
"Lo baru empat tahun, itupun dinikahin, itupun dikasih hati, itupun dibaikin sama keluarganya, itupun dijagain, itupun masih dipikirin, itupun enggak pernah dijadiin pelampiasan, itupun dipilih seakan-akan lo spesial banget, itupun bikin dia mimpiin lo berkali-kali, itupun waktu dia miskin dia masih nyisain harta buat lo, itupun dijamin sama perlindungan kelas negara—dan lo masih ngeluh? Masih ngerasa paling menderita?"
"...."
Rara menggigit lidahnya kuat-kuat. Ia sedikitpun tidak bisa membalas Olivia. Karena ucapan dia dibenarkan oleh hatinya. Namun Rara justru masih ingin egois.
"Bukan cuma lo yang punya perasaan. Di dunianya Abimayu, di dunia orang yang lo mau itu, semua enggak sesimple dia mau sama lo jadi dia berusaha sama lo. Abimanyu, kalo berani macem-macem dikit aja, semua orang yang dia sayang termasuk elo bakal dibunuh-bunuhin kayak kecoa. Makanya dia enggak berani macem-macem, tapi elo, dengan semua tuduhan lo ke dia, tumpukan penderitaan egois lo, masih berani minta sesuatu? Lo tau lo lebih ampas dari Dian yang nuntut uang?"
Napas Rara memburu, tapi pada akhirnya ia berhasil menggigit lidah dan tidak membalas Olivia.
Mungkin Rara sebenarnya takut jika Olivia semakin banyak bicara, ia justru akan semakin terpojok. Rara cuma ingin berkata, "Abimanyu yang mutusin semuanya, Olivia."
Olivia tampak agak memicing, walau kemudian dia mengangguk. "Fine, kalo lo masih egois. Itu hak lo pribadi."
"...."
"Tapi gue kasih peringatan. Anak lo ... siap-siap ngeliat anak lo nyesel udah lahir. Kalau umur gue nanti sampe ke waktu anak lo nyesel, gue bakal bilang ke dia 'jangan nyalahin papamu, tapi salahin mamamu yang cuma mikirin perasaannya sendiri, kalo mau minta tanggung jawab, minta ke dia karena papamu udah ngelakuin semuanya'."
Rara menahan napas.
__ADS_1
"Besarin anak itu bukan sekadar ngasih dia makan sama kasih sayang," gumam Olivia saat beranjak. "Itu juga soal mikirin masa depan dia gimana. Lo belom jadi mama tapi gue bisa bilang : lo orang tua terburuk di dunia."
*
"Harus banget lo ngomong begitu?" kata seseorang yang membuat langkah Olivia terhenti.
Perempuan itu menoleh ke belakang, menemukan Banyu tengah bersandar di salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Olivia.
Seperti dia menguping semuanya tadi.
"Gue enggak suka ngomongin siapa yang paling menderita. Semua orang punya penderitaan masing-masing, mau lo, Rara atau Abimanyu." Banyu berjalan mendekat. Berhenti di depannya. "Tapi emang harus banget lo nge-judge Rara bakal buruk kalo dia punya anak?"
"...."
"Dia udah ngelakuin yang dia bisa. Emang dia enggak ngerti. Siapa selain lo yang bisa ngerti hidup Abimanyu, Liv? Cuma lo yang dia ijinin ngeliatin hidup dia, jelas lo yang paling ngerti. Tapi seenggaknya Rara udah berusaha."
".... Emang." Olivia mendongak. Padahal langit gelap, tapi Olivia memasang kacamata hitam hanya untuk menutupi kenyataan dia menangis. "Gue yang paling tau sakitnya makanya ... gue mau dia berenti."
"...."
"Dia masih bisa ngubah sesuatu di hidupnya, beda sama gue, beda sama Abimanyu. Tapi kalo dia punya anak, detik itu juga semuanya bakal telat."
Banyu sempat terdiam. Cukup lama terdiam memandangi kekosongan malam penginapan mereka.
Dan begitu yakin dengan apa yang ia pikirkan, Banyu berucap, "Bakal gue jagain."
"...."
"Rara ... bakal gue jagain. Dia enggak bakal ngeliat neraka yang lo bilang."
Olivia menoleh. ".... Kayak lo jagain Kisa diem-diem?"
Banyu tersentak. "Tau dari mana—"
"Terserah lo mau apa. Lo mau jagain, lo mau biarin, terserah lo."
Mulai dari sekarang, terserah mereka saja.
Olivia sudah mengatakan apa yang harus ia katakan.
__ADS_1
*
mana nih yang dukung olivia sahabatan sama rara? apakah masih harus?