
Mungkin ucapan Rara saat itu benar. Bahwa Banyu adalah anak yang terabaikan.
Ayahnya adalah seorang pebisnis besar yang punya koneksi kuat dengan petinggi negara, lalu kakak pertamanya masuk dan menjadi bagian dari Aliansi, garda terdepan pertahanan negara yang tidak terdaftar secara resmi. Banyu hanya selalu berada dalam bayangan hingga tidak ada orang yang memperhatikannya secara teliti.
"Sayangnya, Kisa," Banyu menghela napas, "mungkin ngecewain tapi gue ini lebih pinter dari Abimanyu."
"...."
"Oh, juga gue lupa bilang," Banyu melempar secarik kertas seukuran kartu nama pada Kisa, "gue anak magang di Badan Intelijen dan Pertahanan Negara, organisasi resmi yang dibikin Pak Mahardika dulu waktu masih jadi Presiden. So yah, lo bisa manggil Abimanyu itu preman pasar, militer jadi-jadian, sementara gue yang asli."
Kisa terlihat sangat pucat sekarang. Dia nampaknya cuma berpikir kalau Abimanyu dilemahkan, maka dia setidaknya punya celah.
Tapi sayang sekali, yang kerjanya meneruskan bisnis Papa itu Cetta. Abimanyu dan Banyu memilih untuk masuk ke organisasi khusus perlindungan demi menjaga keluarga mereka lewat cara yang mereka bisa lakukan.
"Sekarang, Juwita Jadi-Jadian," Banyu menarik kursi, duduk memandangi gadis itu, "gimana kalo lo ngasih tau Sakura sebenernya di mana?"
*
Abimanyu mencintai Juwita dengan cara yang gila. Bahkan pernah terlintas di benak Abimanyu untuk merebut paksa istri orang tuanya itu, tak peduli bagaimana dunia akan berteriak mencelanya.
Abimanyu hanya peduli pada fakta ia memiliki Juwita. Kalau harus membuang ini, ataupun harus mengorbankan itu, Abimanyu merasa ia akan rela asal Juwita dalam pelukannya.
Tapi ....
Kenapa saat gadis berwajah Juwita itu pergi, meninggalkan kalimat yang mengesankan dia kecewa, bersama wajah Juwita seolah dia terluka ... kenapa Abimanyu tidak merasa bersalah?
Ada di mana debaran menakutkan yang membuat Abimanyu bahkan terbayang akan malam panas dengan ibu tirinya sendiri? Kenapa Abimanyu sedikitpun tidak mau mengejar perempuan itu, padahal dia memiliki hal yang sangat ingin Abimanyu miliki sejak dulu?
"Selamat pagi, Pak—udah menjelang siang, sih."
Abimanyu mengerutkan bibirnya saat melihat Rara datang dengan senyum cerah. Saat itu juga, pertanyaan kembali memenuhi Abimanyu.
Kenapa ... perasaannya lebih terangsang pada makhluk manis ini? Kenapa tahta tak terbantahkan Juwita di hatinya bisa digantikan tanpa alasan?
Tidak. Pasti ada alasan. Alasan yang Abimanyu tidak ketahui.
"Saya kira Bapak udah mandi. Atau mau saya mandiin lagi, Pak?"
Abimanyu tersenyum. "Rara," panggilnya lembut. "Kamu ... bukan pembantu, kan?"
Sejak awal dia tidak memancarkan aura itu. Dia tidak terasa seperti pembantu profesional ataupun pembantu ecek-ecek. Dia bergerak sangat bebas, tidak merasa takut salah atau takut ditegur seolah-olah tempat ini adalah rumahnya sendiri.
Tapi siapa dia Abimanyu belum bisa mengingatnya.
"Kamu sebenernya siapa?"
__ADS_1
Rara sempat tercenung mendengar hal itu. Namun sesaat setelahnya, Rara mengulas senyum teduh. "Tolong inget sendiri," jawabnya lembut. "Kamu pasti inget sendiri."
Jawaban dia yang menggantung itu sedikitpun tidak menyebalkan bagi Abimanyu. Ia justru mengulurkan tangan ke wajah Rara, mengusap lembut pipinya.
"Kamu manis," bisik Abimanyu. "Jangan senyum kayak gini kecuali sama aku, oke?"
Rara menyengir. "Oke, Pak."
"Abimanyu. Udah aku bilang kemarin." Abimanyu mencubit pipi Rara yang terasa kenyal baginya. "Atau sekalian kamu panggil aku Mas. Mas Abi. Jangan Banyu yang kamu panggil mas, dia enggak pantes."
"Gak. Aku enggak mau."
"Loh? Kenapa?" Abimanyu mencubit pipinya lebih keras. "Buruan panggil," perintahnya gemas.
Tapi Rara dengan pipi tertarik tetap berkata, "Gak!"
"Kalo enggak nanti aku cium. Sampe enggak napas."
"Dih, kalo kamu macem-macem sama aku, entar kuaduin sama Tante Juwita!"
Tentu saja itu hanya sekadar candaan Rara. Tapi persis setelah Abimanyu mendengarnya, pria itu tiba-tiba berlutut, mengerang keras memegangi kepalanya.
"ARGH!"
Rara yang semula tertawa kontan saja terkejut. Matanya melebar sementara jantungnya serasa diremas. Ketakutan menghampiri Rara melihat suaminya terlihat sangat kesakitan.
Abimanyu meringkuk dan terus mengerang sakit. Kepalanya serasa ingin pecah. Seolah-olah isi kepalanya diacak-acak paksa, Abimanyu tak mampu menahan sakitnya dari dalam.
"Kalau saya berani nyakitin kamu secara sadar tanpa alasan jelas, kamu boleh pergi ke Juwita dan bilang ke dia: Tante, anak sialan Tante mending mati aja. Saya yakin Juwita yang bakal ngirim misil buat ledakin saya."
Abimanyu yakin ia tak pernah mengatakan hal semacam itu pada Sakura. Mana mungkin pernah. Pernikahan mereka tidak pernah semanis itu.
"Jangan takut."
"Jatuh cinta sama saya bukan dosa."
"Kamu boleh nganggep saya punya kamu seutuhnya."
Siapa? Kepada siapa ia bicara selembut itu?
*
Rara berusaha keras menahan air matanya saat menggenggam tangan Abimanyu. Setelah mengerang sakit beberapa menit, dia jatuh tak sadarkan diri.
Tak lama setelah itu Banyu datang dan dokter kiriman Aliansi juga datang memeriksa Abimanyu.
__ADS_1
"Enggak ada masalah serius," ucap dokter muda itu. "Karena memang ada benturan keras di kepalanya, normal dia ngerasa sakit beberapa kali."
"Masih dampak perang kemarin?" tanya Banyu.
"Itu sih yang tau cuma Abimanyu sendiri, tapi dari tanda-tandanya mungkin trauma perangnya enggak sedalam itu. Memang murni karena dia punya luka jadi ya kadang sakit."
"Tadi dia tiba-tiba sakit waktu kita ngobrol." Rara merasa harus memberitahu dokter karena siapa tahu itu ada hubungannya. "Persis waktu saya nyebutin Tante Juwita."
"Itu yang jadi masalah, yah." Dokter menghela napas. "Cuci otak Abimanyu itu cuma hipnotis singkat jangka pendek. Sebenernya itu enggak terlalu bahaya. Tapi masalahnya dia dicuci otak persis waktu dia luka pasca perang."
"Buat sekarang kita enggak boleh nyebutin Juwita, gitu?" timpal Banyu lagi.
"Enggak." Dokter menggeleng. "Seperti biasa aja. Justru ngebiarin dia larut dan terbiasa sama kondisinya, kemungkinan justru Abimanyu beneran lupa sama apa yang sekarang dia lupain."
Dokter menepuk punggung Rara, tersenyum cerah padanya.
"Jangan khawatir, yah. Dia kan Eksekutif Aliansi. Enggak mungkin selemah itu."
Rara menahan bibirnya yang gemetar. Berusaha mengangguk karena tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar pada keadaan.
Banyu pergi bersama dokter wanita itu, memberi Rara waktu bersama Abimanyu.
"Sayang." Rara menggigit bibirnya. Meremas tangan Abimanyu kuat-kuat, berharap di alam bawah sadarnya dia mendengar. "Kamu kan janji bakal pulang," rintih Rara padanya. "Buruan pulang."
Gerakan tangan mengejutkan Rara. Abimanyu tiba-tiba balas menggenggamnya, tapi sedikitpun tak bergerak setelah itu.
Rara sempat terpaku. Namun sesaat kemudian wanita itu tersenyum pasrah.
"Dasar," rutuk Rara. "Kalo Eksekutif malah enak-enak tidur di sini, yang jagain negara siapa, hah? Kamu mau dipecat?"
Benar. Rara tidak perlu menangis seolah-olah harapannya sudah habis. Butuh proses itu bukan berarti gagal. Kalau belum bisa hari ini, besok juga bisa. Jika besok belum bisa, lusa mungkin saja bisa.
Satu-satunya yang Rara butuhkan adalah kesabaran tanpa batas.
Hanya itu.
*
hmmmm, banyu beneran jodoh sama kisa enggak yah? jodohnya banyu akan diklaim sendiri oleh banyu kedepan.
spoiler chapter MARI LIHAT NANTI :
"Jodoh gue itu, woi! Jodohin, ya Allah! Plis, plis, plis!"
"Secantik apa sih?" Cetta jadi penasaran.
__ADS_1
"Enggak usah lo liat dah. Kesian Nayla nanti." Banyu menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa henti. "Punya suami gue tikung sekarang juga. Enggak bisa. Punya gue itu. Maksa gue! Jodoh gue pokoknya!"