Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
9. Kita Cerai


__ADS_3

Kasus perselingkuhan memang selalu cepat panas. Tidak heran jika hanya dalam waktu beberapa hari, semua orang yang tidak punya hubungan dan urusan sudah angkat bicara juga mengenai kasus ini.


Prediksi Abimanyu bukan hanya mengenai bagaimana cara melibatkan Rara sebagai pihak tidak bersalah bergelar orang ketiga ataupun menyelamatkan nama Juwita yang dituduh menjadi ketiga lainnya, tapi Abimanyu juga sudah memprediksi reaksi Sakura.


"Aku nyerah." Wanita itu datang dengan wajah pucat, terlihat kurang makan dan sudah lelah menangis menghancurkan kamarnya. "Aku nyerah, Bi, jadi tarik semuanya. Aku bakal nurut sama kamu."


Sakura selalu seperti itu. Ketika dia merasa bahwa Abimanyu akan membuangnya, dia akan datang berlutut, bahkan bersujud, menyerahkan segalanya agar Abimanyu sudi memungut dia lagi.


Dia adalah wujud dari tulus dan bodohnya wanita dalam mencintai. Ketika tahu pria yang dia cintai tidak mencintainya, alih-alih mundur, Sakura menggunakan alasan cinta untuk bertahan dan menelan lukanya bulat-bulat.


Abimanyu akan menghargai dia andai hanya sampai di sana. Tapi sayangnya tidak. Setelah menelan lukanya bulat-bulat, Sakura pasti mencari kambing hitam.


"Bi, semua orang ngetawain aku." Sakura menangis frustrasi. "Aku salah. Maafin aku. Tolong jangan lanjutin lagi."


"Setelah koar-koar jadi pihak paling tersakiti," Abimanyu berucap santai sambil tangannya mengiris daging di piring, "kamu kira berenti di sini bagus buat kamu?"


"Aku enggak peduli." Sakura menyambar lengan Abimanyu. "Aku enggak peduli! Siapa mereka tau soal aku?! Please, Sayang, jangan kayak gini."


Walau suka berbuat bodoh, Sakura memang sangat pintar. Dia bahkan sudah tahu Abimanyu mau melakukan apa. Abimanyu mendengkus geli saat menyadari alasan Sakura berbuat begini.


"Sayangnya surat pengadilan udah keluar."


Alasan Sakura memilih memohon karena dia tahu kali ini perceraian sesungguhnya akan datang.


"Abimanyu!"


"Kita cerai."


"AKU ENGGAK MAU!"


Abimanyu mengunyah lamat-lamat daging di mulutnya, berbanding terbalik dengan Sakura yang histeris. Setelah menelan makanannya barulah Abimanyu melihat Sakura.


"Minta maaf sama Juwita."


Sakura langsung diam.


"Kalo kamu minta maaf sama Juwita soal kejadian lima tahun lalu, semuanya berenti di sini."


Abimanyu tidak terkejut ketika Sakura justru menjawab, "Selalu Juwita yang kamu pikirin!"

__ADS_1


Tentu saja. Bagaimana Abimanyu tidak memikirkan wanita yang ia cintai melebihi dirinya sendiri? Wanita yang bisa membuat Abimanyu bertindak bodoh tapi juga alasan Abimanyu memilih bertindak cerdas. Wanita itu tidak sekelas dengan wanita yang terus menangis meneriakkan penyalahan pada orang lain.


"AKU ISTRI KAMU! KAMU YANG MINTA AKU JADI ISTRI KAMU! KAMU YANG JEBAK AKU NIKAH SAMA KAMU!"


Itu lagi.


Memang dia pikir Abimanyu itu bodoh? Dengan kecantikan Sakura juga kesuksesannya di sosial media, menjadi janda pun bukan sebuah masalah besar. Bahkan kalau dia mau, dia bisa menuntut cerai dengan berkata Abimanyu adalah pria kasar dan Abimanyu pasti akan diam saja, sebab ia tak peduli dengan pandangan orang lain.


Tapi Sakura yang ngotot bersama. Dia bukan 'terjebak' tapi tidak terima pergi dari jebakan ini sebab itu akan membuktikan dia tidak terpilih.


"KENAPA HARUS SELALU JUWITA YANG KAMU LIAT?!"


Sekarang dia kumat lagi.


"APA BAGUSNYA PEREMPUAN MURAHAN YANG NIKAH SAMA KAKEK-KAKEK DEMI UANG PAPA KAMU?! APA BAGUSNYA DIA DIBANDING AKU?!"


Ketenangan Abimanyu mendadak terusik. Matanya melirik tajam pada Sakura yang berani mengatai ibu tirinya.


"Bagusnya Juwita?" Abimanyu menggeram. "Dia enggak bikin stres kayak perempuan gila yang hobi teriak-teriak seakan dia selalu korban."


"SIAPA PUN DI POSISI AKU BAKAL STRES NGADEPIN KAMU, ABIMANYU!"


"Siapa pun yang tau bakal begini enggak maksa tetep di sini kayak lo, brengsek." Abimanyu beranjak. Nafsu makanya hilang karena wanita stres ini. "Gue kasih kesempatan sekali lagi, Sakura. Pergi ke Juwita, minta maaf baik-baik. Kalo enggak, omongan lo barusan bakal bikin masalah jadi makin besar."


*


"Kita udah terlanjur kena masalah, Ma."


Justru harus ada masalah agar ada juga popularitas. Itulah lucunya orang-orang. Mereka senang melihat kepelikan hidup orang lain agar bisa berkomentar dan Rara harus memanfaatkan itu.


Walau orang tuanya tampak sangat khawatir, Rara tetap pergi ke studio. Ini adalah Podcast klarifikasi tapi dibalik layar ini bertujuan untuk menarik perhatian orang-orang pada Rara.


Mereka pun melakukan rekaman, dimulai dengan basa-basi dan pertanyaan ringan lalu kemudian pertanyaan paling penting akhirnya dikeluarkan.


"Bener enggak sih kalau lo tuh selingkuhan suaminya Sakura?"


"Bukan." Rara menjawab tegas karena memang kenyataannya demikian. "Selingkuhan kan bisa dibilang kalau ada hubungan di belakang tapi enggak ada."


"Tapi bukannya kamu beberapa kali ketemu sama Abimanyu secara pribadi?"

__ADS_1


"Itu fitnah. Kalau konteksnya pertemuan pribadi buat ngobrol-ngobrol. Aku sama suaminya Sakura enggak pernah ketemu lebih dari lima menit."


"Tapi ada nih bukti yang bilang kalau Abimanyu sempet dateng ke rumah kamu malem-malem."


"Ketemu orang tua, iya."


"Buat apa?"


"Minta maaf." Rara berucap tenang. "Dia bilang karena urusan pribadinya kami sekeluarga jadi diseret-seret makanya Abimanyu datang minta maaf sama keluarga aku. Dia juga cerita sedikit soal fitnah Sakura."


Ini tanpa persetujuan Abimanyu namun Rara menganggapnya perlu untuk diucapkan.


"Fitnah soal apa tuh?"


"Abimanyu selingkuh sama Mama tirinya." Rara berucap seolah-olah ia miris akan hal itu. "Terlepas dari yang lain, ini menurut aku fitnah paling nyakitin buat siapa pun. Yang aku denger dari Abimanyu waktu dia ke rumah itu, lima tahun dia enggak pulang ke rumahnya karena Sakura nganggep ibu tiri suaminya itu selingkuhan dia. Bahkan sampe ngeluarin fitnah kalau anak ibu tirinya, saudara tiri Abimanyu, itu anak Abimanyu sama ibu tirinya. Aku enggak tau sih Sakura yang salah atau Abimanyu beneran selingkuh sama mama tirinya, tapi kalau itu salah, emang ada fitnah yang lebih buruk lagi dari itu?"


Rara cukup puas dengan penampilannya sekarang. Ia tahu ada risiko dari pernyataan ini.


Secara langsung ia berteriak pada semua orang mengatakan kalau Sakura berbuat keji pada suaminya hingga suaminya diam-diam lari ke pelukan orang lain. Dengan begini orang bukan fokus pada perselingkuhan Abimanyu melainkan fokus pada kesalahan Sakura yang membuat perselingkuhan itu terdengar 'masuk akal'.


*


"Lo yakin biarin dia ngomong gitu?"


Olivia mempertanyakan pendapat Abimanyu setelah mereka sama-sama melihat hasil rekaman Podcast Rara.


"Isu soal dia jadi selingkuhan emang redam, plus sekarang orang mulai nganggep Sakura yang bermasalah. Tapi satu sisi, masalah tuduhan Sakura yang sebenernya kenyataan itu jadi nyebar. Gimana kalau nyokap tiri lo enggak seneng sama ini?"


"Enggak ada bukti," jawab Abimanyu cuek.


Pria menyalakan rokok di sela bibirnya. Mengembuskan asap itu ke udara malam puncak hotel. "Perasaan gue ke Juwita itu yang tau cuma lo, bokap gue, Banyu, Cetta, sama Sakura sendiri. Kalau dia mau bales ini pake bukti, dia enggak punya. Nanya ke keluarga bokap gue, bahkan yang enggak suka sama Juwita pun pasti bakal bilang 'Abimanyu emang udah enggak pernah pulang'. Mereka enggak bisa komentar soal 'Abimanyu sama Juwita emang pernah selingkuh'."


Olivia menyandarkan punggungnya pada kursi santai dan berdecak. "Pinter juga Rara baca situasi. Lo milih dia karena ini?"


"Bukan."


"Terus?"


"Kalah dari orang yang lebih rendah dari lo," Abimanyu tersenyum, "rasanya paling enggak enak, kan?"

__ADS_1


Tapi kalau Rara pintar membaca situasi, Abimanyu justru berterima kasih. Dengan begitu Abimanyu tidak perlu repot-repot mengajarinya lagi.


*


__ADS_2