
Ketika Abimanyu muncul bersama Rara dan Abirama, yang terkejut bukanlah Juwita ataupun Adji atau Cetta. Yang terkejut hanyalah Nayla dan anggota tim Rara. Mereka diberitahu bahwa Rara terpaksa harus pergi menemui suaminya yang kebetulan sedang ada di kota.
Ini pertama kali tim Rara bertemu dengan suami bos mereka. Meski tahu bagaimana wajah Abimanyu, beberapa dari mereka masih saja terpesona dengan ketegasan di wajah pria itu. Nayla, istri Cetta, sempat menoleh pada Adji lalu menatap Abimanyu lalu pada Adji dan Abimanyu, hanya untuk memastikan mereka punya kemiripan dari sisi ketenangan.
Entah kenapa Abimanyu terasa seperti Adji dalam versi lebih muda.
"Aku pikir kita ketemunya di rumah aja nanti," kata Juwita seraya tersenyum manis pada Abimanyu. "Makin besar kamu, Cahku."
"Abang!"
Yang terjadi selanjutnya hanyalah penyambutan keluarga pada umumnya. Lalu sekalian Abimanyu memperkenalkan diri pada tim Rara, untuk mempertegas sekali lagi bahwa Rara tidak pernah ditinggalkan oleh suaminya demi wanita lain sebagaimana rumor yang tersebar di masyarakat.
Namun setelah semuanya, sesuatu di belakang itu tidak bisa disembunyikan. Terutama ketika Abimanyu membiarkan Abirama pergi bersama Juwita dan kini Abimanyu hanya duduk bersama Adji juga Cetta.
"Jadi, kamu udah mau ngambil Rara?" tanya Adji langsung pada intinya.
Abimanyu memejam sesaat. "Enggak. Aku enggak ada niat bawa dia sama aku."
Keputusan Abimanyu belum berubah.
Bohong kalau Abimanyu tidak merasakan kerinduan besar. Bohong kalau Abimanyu tidak tersiksa dengan jarak di antara mereka. Nyatanya ia sangat merindukan Rara sampai-sampai Abimanyu ingin berhenti dari segalanya dan hanya membaringkan dirinya di pelukan Rara.
Tapi dunia tidak sebaik itu.
"Gitu." Adji hanya menjawab singkat, tidak lebih.
Sebagai sesama laki-laki, terlebih dengan tanggung jawab besar di tangan mereka, Adji sudah tidak punya hal untuk dikatakan pada anak pertamanya. Abimanyu sudah melewati banyak hal dan sudah bisa menentukan keputusan.
Mau benar, mau salah, dia sudah bisa menanggung semuanya sendirian dan sudah bukan tempat Adji untuk ikut campur lagi.
"Itu yang sama Bang Banyu, siapa?" tanya Cetta setelahnya. "Selingkuhan Abang?"
"Kamu kira Abang apaan?" Abimanyu mendengkus.
"Itu keponakannya Mahardika, kan?" Adji ikut menimpali. "Kalo dia sama kamu berarti ...."
Ya, perempuan itu tidak sedang baik-baik saja. Dia anak dari adik Mahesa Mahardika yang ibaratnya sudah di ujung kematian. Meskipun dia perempuan lemah yang sempoyongan ke mana-mana, perempuan itu salah satu orang yang akan mengontrol negara ini di masa depan.
Walau tidak seluruhnya karena dia, bisa dibilang dia adalah salah satu alasan kenapa Abimanyu tidak bisa bersama Rara lagi.
"Begitu Mahardika enggak ada, bukan cuma politik yang kacau. Ekonomi, militer, mungkin juga hubungan kerjasama antar negara terancam putus. Itu mungkin udah enggak bisa disebut perang lagi, tapi kiamat," ujar Abimanyu. "Aku enggak punya waktu buat mastiin Ranaya baik-baik aja."
__ADS_1
Adji tidak menjawab, tidak juga menyangkal. Anak menantunya pastilah sangat menderita karena keputusan Abimanyu yang terkesan sepihak ini, tapi laki-laki kadang-kadang dipaksa berbuat tega unruk masa depan.
"Pa, maaf." Abimanyu menatap Adji sungguh-sungguh. "Bisa tolong jagain dia juga?"
"Rara belum mau cerai?" tanya Cetta.
"Belum. Dia masih ngira kalau nunggu sebentar lagi Abang pasti pulang."
Dia selalu berpikir demikian tapi itu mungkin tidak akan pernah terjadi.
*
Rara lebih banyak diam dari yang biasanya. Terlihat jelas ada sesuatu yang dipikirkan wanita itu sampai-sampai ketika seluruh timnya bersenang-senang dengan game, Rara justru hanya mojok ditemani segelas jerus peras manis.
Tatapan Rara sesekali beralih ke sudut lain, di mana Rose sedang duduk dikipasi oleh pelayan. Juwita dan Adji duduk di dekatnya, dari tadi memperlakukan dia seperti seorang tuan putri sungguhan sampai Rara yakin status Rose pasti tidak main-main di negara ini.
Lain halnya dengan Banyu, dia dari tadi sibuk memotret Rose dan mendadak jadi terlihat sangat bodoh. Dia tidak sendirian, cowok-cowok lain dari tim Rara juga ikutan walau Banyu berulang kali mengusir mereka, penuh percaya diri mengklaim kalau Rose hanya miliknya. Lalu Nayla dan Cetta bersama anak-anak Juwita sedang sibuk bersama Abirama.
Semua orang tampak bersenang-senang, kecuali Rara.
"Ayam bakar kamu udah dingin," kata Abimanyu yang muncul di belakang sofanya. "Makan."
Rara menoleh. "Emang penting?"
"Kurus atau gendut, emang kamu bakal tau?" gumam Rara. "Toh, kamu mau pergi lagi."
"...."
"Aku enggak bakal cerai. Mau kamu gimanain, enggak bakal aku tanda tangan. Pergi aja sana. Selingkuh sama siapa juga serah kamu."
"...."
"Maaf, aku egois." Suara Rara semakin kecil dan terdengar semakin lemah. "Kalau yang bikin perasaan kamu baik itu jauh dari aku, yaudah sana."
Abimanyu menghela napas panjang. Duduk di samping Rara dan mengambil gelas minuman di tangan perempuan itu, untuk diletakkan di atas meja.
"Di dunia ini," ucap Abimanyu padanya, "enggak ada sesuatu yang bisa gambarin perasaan aku ke kamu, Ranaya."
Rara tertegun.
"Dari dulu, aku selalu yakin kalau enggak ada di dunia ini yang bisa gantiin posisi Juwita. Aku udah terlalu sayang, terlalu gila sama Juwita sampe-sampe status dia sebagai istri Papa pun enggak bikin aku berenti."
__ADS_1
Abimanyu menunduk.
"Tapi, ternyata di dunia ada kamu. Ada kamu, di sudut yang aku enggak pernah sangka-sangka, orang yang bikin aku ngerasain banyak hal yanh belum pernah aku rasain dari siapa pun."
Abimanyu menarik napas panjang. Menoleh ke sebelahnya, pada Rara yang tampak masih terpaku kosong mendengar pengakuan itu.
Telapak tangan Abimanyu mendarat di pipinya, mengusap-usap kecil kulit halus perempuan itu, yang tak pernah berhenti membuat Abimanyu merasa nyaman.
"Kamu enggak perlu ngerti. Sedikitpun enggak perlu kamu ngerti sebesar apa aku ngelakuin semuanya buat kamu. Kamu bebas manggil aku siapa. Badjingan, sialan, suami enggak guna, terserah kamu."
"...."
"Mastiin kamu aman dari hidup aku yang penuh duri itu jauh lebih penting daripada sekedar gelar badjingan di belakang nama aku."
Abimanyu tersenyum kecil.
"Karena kamu ... satu-satunya potongan puzzle yang cocok buat aku, kan?"
Rara pelan-pelan tampak memerah. Matanya yang putih bersih mendadak terlihat merah, menciptakan genangan dan akhirnya jatuh membentuk garis lurus di kedua pipinya.
Wanita itu menggigit bibirnya, tampak berusaha keras untuk tidak terisak walau pada akhirnya sudah menangis.
Tangisan itu sudah cukup menyobek perasaan Abimanyu. Pria itu cuma bisa merangkul Rara, membiarkan dia bersandar sebentar, paling tidak ketika Abimanyu masih bisa duduk di sebelajnya seperti sekarang.
"Ranaya," bisik Abimanyu. "Aku bakal ninggalin kamu, sejauh mungkin."
"...."
"Tapi kamu harus tau, enggak peduli aku di mana, aku bakal selalu, selalu, selalu sayang sama kamu."
".... Aku ngerti." Rara memejam. Berusaha menahan suaranya yang ingin pecah bersama tangisan, menarik napas dalam-dalam agar hati nya yang gelisah bisa lebih tenang.
"Aku ngerti, Bi," ucap Rara lagi. "Tapi, buat terakhir aja, aku mau minta sesuatu. Janji kalau kamu bakal ngabulin."
Abimanyu sempat diam, namun karena Rara berkata dia akan mengerti berarti seharusnya permintaan dia pun tidak melanggar ucapannya sendiri.
"Oke, aku janji," katanya. "Kamu mau apa?"
*
yak, hujatan untuk abi kayaknya masih akan berlanjut. author no comment aja karena penjelasan tindakan abimanyu baru akan muncul beberapa chapter kedepan.
__ADS_1
alasan kenapa dia bilang 'semuanya' demi rara.