Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
61. Tidak Mau Berpisah


__ADS_3

Banyu sudah berulang kali melihat Abimanyu pergi setelah membuat Juwita menangis. Bahkan kalau Abimanyu tidak bermaksud begitu, pada kenyataannya dia bakal memilih lari dari tempat kejadian setelah dia berbuat salah.


Makanya itu mengejutkan Rara berhasil membawa Abimanyu pulang hanya beberapa jam setelah itu.


Banyu mau tidak mau mengakui bahwa Rara adalah sesuatu yang berbeda dalam hidup Abimanyu. Dia mempengaruhi banyak perubahan Abimanyu yang pernah rusak parah.


"Itu anak lo?" tanya Banyu saat melihat Abimanyu turun sambil menggendong seorang anak yang tengah tidur nyenyak. "Udah pasti?"


"Olivia lagi ngurus tes DNA." Abimanyu tersenyum mengusap punggung anak itu. "Tapi keliatannya anak gue, kan? Cakep kan?"


Banyu diam-diam terkejut melihat Abimanyu tersenyum seperti itu. Walau ia putuskan tidak mempermasalahkan.


"Halah, anak gue nanti lebih cakep!"


"Nikah dulu baru ngomong anak," ucap Abimanyu cuek, melewati Banyu begitu saja tanpa peduli adiknya kesal.


Banyu melihat Rara turun dari mobil juga sambil mengangkat panggilan dari seseorang.


"Iya, Ma, ini aku sama suami aku, kok. Iya, nanti kita pulang kalo udah baikan yah Abi."


"...."


"Eh? Mama mau ke sini? Enggak usah, Ma, nanti aja aku pulang. Enggak, bukan gitu kok. Cuma nanti aja. Aku emang mau nginep kok di sana. Kan udah janji, gantinya nginep sama Tante Juwita sebulan aku tinggal juga sama Mama sebulan."


Banyu mengamati Rara yang tampaknya kesulitan menghadapi orang tuanya. Banyu memang dengar kalau Rara itu anak kesayangan. Apalagi kondisi Abimanyu itu dirahasiakan. Entah soal dia pergi bertugas demi negara, apalagi soal dia punya anak. Kalau sampai orang tua Rara tahu ... kayaknya dia bakal dipaksa cerai.


Sejenak Abimanyu melirik perempuan asing yang menyeret koper di sana. Dia tampaknya langsung menyuruh orang buat membantunya dan dari bentuk tubuh dia Banyu sudah bisa menebak dia selingkuhan Abimanyu kemarin-kemarin.


"Nama lo?"


Wanita itu terkejut tiba-tiba ditanya. Tapi segera menjawab, "Dian." Matanya mengamati Banyu dan tersenyum lebar. "Kamu Banyu, yah? Abimanyu sering cerita soal kamu dulu."


"Bullshiit amat. Ngapain itu Bangsat cerita soal gue?" Banyu mendengkus. "Kecuali dia bilang punya adek kampret, hm?"


"Eh?"


"Gue sih enggak peduli mau lo dateng ngarepin duit abang gue doang." Banyu menunduk. "Badan lo bagus. Paling enggak emang bikin puas kalo dinikmatin. Tapi ... kalo lo nyusahin sampe bikin keluarga gue susah, jangan pikir minta maaf bakal cukup."


"Banyu." Suara Rara menghentikan sesi ancaman kecil itu. "Kamu ngapain di sana? Ayok masuk."


Banyu mengedipkan sebelah mata pada Dian sebelum dia berbalik menuju Rara. Mereka masuk beriringan sembari Banyu mendengarkan keluhan kakak iparnya soal orang tua dia yang marah-marah anak semata wayang mereka tidak kunjung pulang.

__ADS_1


Sedangkan Dian yang melihatnya cuma mengepal tangan.


Keluarga sialan ini. Mereka semua meremehkan rencana Dian muncul sekarang!


*


"Mama nyuruh pulang secepatnya, Bi." Rara terpaksa harus memberitahu ini. "Waktu sebelum kamu tugas, kita janji sama Mama bakal nginep juga sebulan di rumah."


Abimanyu menoleh dari Abirama. "Harus secepatnya?"


Rara menghela napas. Abimanyu sepertinya belum bisa ingat bagaimana Mama sangat keras padanya. Tadi bahkan Mama mengancam kalau Abimanyu memonopoli Rara sendiri, Mama bakal datang buat memukul Abimanyu dengan sapu.


"Atau aku pulang aja sendiri?" Rara mengulurkan tangan pada Rama, mengusap tangan kecilnya yang terasa sangat lembut. "Lagian kamu kan baru sama anak kamu. Kita juga enggak tau Dian bakal ngapain kalo kamu pergi. Nanti kamu nyusulnya sesekali aja."


"Enggak." Abimanyu bahkan menggeleng berulang kali. "Kalo kamu pergi, yang nemenin aku tidur siapa?"


"Idih, manja banget alesan kamu." Rara menyentuh wajah Abimanyu, mengusapnya lembut. "Mama itu overprotektif. Walaupun harusnya Mama tau aku udah nikah dan enggak bisa lagi jadi anak ayamnya, Mama tetep ngerasa aku harus ada. Jadi boleh yah?"


"Gak."


"Bi."


"Tapi Abirama?"


Abimanyu menoleh pada anaknya. "Dia masih tiga bulan," gumamnya mengamati anak itu. "Masih mustahil dipisahin dari mamanya. Mau enggak mau harus Dian yang ngerawat dia. Tapi aku bakal nyuruh orang jagain Dian dua puluh empat jam."


Rara langsung mengangguk. Sejujurnya ia juga berat berpisah dari Abimanyu padahal mereka baru bertemu.


*


Begitu Abimanyu dan Rara tiba di rumah, yang menyambut mereka pertama kali adalah wajah cemberut Mama.


"Ma, kan aku udah pulang."


"Pulang, pulang! Izinnya sebulan doang malah keterusan!" Mama melotot pada Abimanyu. "Awas yah kamu enggak pulangin anak Mama!"


Rara menepuk keningnya pasrah, sementara Papa malah sibuk tertawa. Abimanyu cuma tersenyum kecil, meletakkan makanan yang mereka bawa sebagai buah tangan.


"Kamu katanya habis kecelakaan, Bi. Gimana? Udah baikan?" tanya Papa pada menantunya.


"Belum tuh sebenernya." Rara yang menjawab. Lalu ia menyibak sedikit poni Abimanyu untuk memperlihatkan bekas luka di sana. "Nih, barusan banget perbannya dibuka."

__ADS_1


"Kamu enggak ikut luka juga kan, Nak?" Mama malah langsung mengecek Rara.


"Enggak, Ma. Aku enggak ikut waktu suami aku kecelakaan."


"Kalo gitu habis makan kamu langsung istirahat," kata Papa pada Abimanyu.


"Iya, Pa."


Mereka duduk di meja makan bersama dan menikmati masakan Mama setelah sekian lama. Di tengah pembicaraan hangat, tiba-tiba Mama berkata, "Ra, kamu udah denger enggak katanya Nak Mahen ilang?"


Rara menahan napas. "Siapa?"


"Mahen, Ra, anaknya Tante Tia. Udah beberapa minggu katanya enggak ada kabar. Tiba-tiba gitu. Polisi katanya masih nyari. Tante Tia stres banget. Apalagi Mahen anak cowok satu-satunya."


Mama langsung menggenggam tangan Rara erat.


"Kamu hati-hati yah. Orang dewasa kayak Mahen aja bisa diculik, apalagi kamu. Hati-hati pokoknya. Kalo enggak sama Abimanyu kamu mesti dianter sama orang terpercaya. Kalo perlu kamu telfon Papa sama Mama."


Rara sejenak hanya termenung. Abimanyu memang pernah bilang bahwa Mahen tergabung dalam organisasi Anti-Mahardika. Itu sebuah organisasi yang terbilang sangat rahasia dan hanya diketahui sejumlah petinggi negara dan tentu saja Aliansi-nya Abimanyu. Kalau Mahen dikatakan hilang tanpa sebab, berarti pria itu gugur di medan perang kemarin?


Kasihan Tante Tia. Dia pasti tidak mengerti bagaimana bisa anaknya hilang ditelan bumi.


"Bi, aku anter ke atas, yuk. Kamu kan disuruh tidur cepet sama dokter."


Abimanyu beranjak dari kursinya, mengikuti Rara naik ke kamar wanita itu.


"Kamu inget sama kamar ini?"


Abimanyu menggeleng. "Emang ada yang kita laluin di sini?"


Rara menyengir. "Enggak banyak sih. Soalnya malem pertama kita juga di rumah kamu."


Pria itu tersenyum. Duduk di kasur Rara dan langsung mengisyaratkannya untuk naik ke pangkuan dia.


"Sebelum kamu pergi kemarin," Rara secara alami meloloskan pakaian Abimanyu, "kamu bilang mau ngomong sesuatu soal kita. Kamu juga lupa?"


".... Agak." Abimanyu memejam, menerima dengan pasrah saat bibir Rara mengecup rahangnya. "Tapi aku dari kemarin ngerasa harus ngasih tau sesuatu ke kamu."


Rara sangat berharap untuk itu Abimanyu mengingatnya. Karena Rara sudah menunggunya lebih dari tiga puluh hari dengan sabar.


*

__ADS_1


__ADS_2