
...VOTE, LIKE DAN KOMENTAR JANGAN LUPA 🙏...
...SELAMAT MEMBACA 🐊...
"Gue akan turunin lo di halte deket sekolah, karena gue harus jemput cewek gue dulu."
"Lo taukan si Siska yang satu kelas sama gue kan, ketua ekstra Pramuka yang sekarang jadi gebetan baru gue." Lanjut ucap Gesa pada Aira saat mereka berdua kini tengah perjalanan menuju sekolah.
Aira menjawab dengan nurut seperti biasa, "Iya kak."
Gesa sengaja menurunkan Aira di halte dekat sekolah, bukan karena malu atau apa tapi yang jelas gebetan Gesa yang banyak membuatnya tidak bisa terikat hubungan serius dengan siapapun untuk saat ini.
Aira juga sadar diri dimana letak dirinya dan Gesa. Dirinya yang cupu bahkan kelewat menurut dengan siapapun masih kalah jauh ataupun bersanding dengan Gesa yang notabenya kapten basket sekaligus pangeran SMA Pertiwi.
"Buat panggilan sayang-sayang kemarin lo lupain aja. Gue cuma iseng kemarin dan gue harap lo nggak bawa perasaan sama gue apalagi jatuh cinta sama gue."
"Kalo lo sampai jatuh cinta sama gue.. Cinta lo akan sia-sia karena gue nggak akan jatuh cinta sama cewek modelan lo." Ketus Gesa kemudian.
Aira mencoba untuk tegar dan kuat dengan perkataan Gesa yang selalu menyakiti hatinya, ia cuma berharap bisa melakukan semua ini sampai akhir dimana waktu satu tahun ke depan.
Gesa menatap jari manis Aira yang tersemat cincin mahal pernikahan mereka berdua.
"Lepas cincin lo.. Gue aja yang pake cincin, lo jangan!"
Aira menganggukkan kepalanya lalu melepas cincinnya begitu saja.
"Gue pergi dulu.. Nanti pulang sekolah nggak usah nunggu gue. Gue mau nge-date dulu sama Siska."
"Bekal kak Gesa ini gimana?" Tanya Aira dengan menunjuk kotak bekal yang ia bawa pagi ini.
"Bawa aja. Karena di sekolah maupun di rumah jabatan lo masih sama yaitu babu gue."
"Cuma status lo aja yang naik jadi istri kontrak gue selama 1 tahun ke depan."
Aira hanya bisa diam dan mendengarkan semua ucapan Gesa yang selalu saja ketus serta menyakiti hatinya. Ya, bagi Aira itu sudah biasa.
Berjalan dengan punggung lesunya karena Gesa sejak pagi sudah ketus padanya tanpa ia tahu apa salahnya.
"Aku taruh dimana ya cincinnya? Nanti kalo aku taruh di tas pasti sering lupa dan lama-lama akan hilang. Dan kak Gesa pasti marah-marah lagi sama aku." Gumam Aira dengan berjalan di atas trotoar menuju gerbang sekolah.
Mata Aira tak sengaja melihat kalung yang ada dilehernya tanpa liontin, dengan cepat ia melepaskannya begitu saja lalu menambahkan cincin pernikahannya bersama Gesa sebagai bandul liontin yang cantik.
BRUK!!
"Eh maaf gue nggak sengaja." Ucap seorang cowok yang tampan dan tinggi karena tak sengaja menabrak Aira.
"Ah ya gapapa." Jawab Aira dengan menganggukkan kepalanya.
"Lo sekolah disini kan? Kebetulan gue anak pindahan dari Bogor dan gue nggak tahu kelaa gue yang mana, bisa minta tolong buat anterin nggak?"
Aira menatap cowok lalu tersenyum untuk mengiyakannya, "Boleh kok.. Kelas berapa dan di kelas mana?" Tanya Aira to the point.
"Kelas 11 IPA 2."
"Kayaknya aku nggak perlu antar kamu deh." Ucap Aira saat tahu cowok tersebut ternyata satu kelas dengannya.
Cowok tersebut mengerutkan keningnya karena bingung. "Kenapa? Kelas gue jauh ya sama kelas lo? Atau gue minta bantuan guru aja kali ya. Btw, ruang guru dimana?"
Aira tertawa ucapan cowok tersebut yang semakin membuat cowok tersebut bingung sendiri.
"Kita satu kelas. Jadi nggak perlu kan aku antar kamu ke kelas kamu?" Ucap Aira dengan mengerlingkan matanya.
"Nama gue Dika, Dika Kurniawan. Nama lo siapa?"
Aira membalas uluran tangan Dika, "Nama aku Aira, Aira De- eh Aira Kleantha." Balas Aira yang hampir saja menyebut dirinya dengan marga Gesa.
"Semoga kita menjadi teman baik Ra."
Dika dan Aira menjadi pusat perhatian ketika mereka memasuki kelas secara bersamaan, apalagia Dika yang tampan dan postur tubuh yang tinggi membuat semua cewek mengidolakannya.
"Lo sama siapa Ra? Ganteng juga." Ketus salah satu teman Aira.
Aira memang sudah tidak di bully lagi di dalam kelas. Namun, tetap saja Aira di kucilkan satu kelas begitu saja ketika tidak ada PR dan jika ada PR semua teman satu kelasnya akan bertanya untuk mencotek jawaban Aira.
"Ini katanya murid baru tadi nggak sengaja ketemu di depan." Jawab Aira.
__ADS_1
Teman-teman cewek yang satu kelas dengan Aira hanya memutar bola matanya malas seolah tak percaya.
"Si cupu udah berubah penampilan guys dan sekarang berani centil." Ujar salah satu teman Aira.
Seperti biasa Aira tak begitu menanggapi bahkan memikirkannya. Niatnya hanya sekolah dan menuntut ilmu disini dan ia tidak mau mencari masalah dengan menanggapi semua bullyan teman-temannya.
"Lo gapapa? Dia jelek-jelekin lo heh." Bisik Dika pelan yang berdiri di belakang Aira.
"Udah biasa kali Dik." Jawab Air dengan tersenyum kecil seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh kamu mau duduk dimana?" Lanjut Aira bertanya pada Dika.
Dika mengamati seluruh ruangan satu persatu dan memang semua cewek dikelas Aira sangat ingin duduk bersamanya, cowok baru yang tampan.
"Lo duduk dimana dan sama siapa?" Tanya Dika kemudian dengan mata yang masih menatap bangku satu persatu.
"Nomor dua dari belakang sebelah sana dan sendirian." Jawab Aira dengan menunjuk bangkunya yang berada di belakang.
Entah ada masalah apa, yang jelas Aira memang dikucilkan bahkan di bully dari hari pertama masuk sekolah di kelas 10 dan itu berjalan sampai saat ini. Beruntung saja ia dekat dengan Gesa, hingga masalah bully dia hilang namun tidak dengan pengucilannya.
"Yaudah gue sama lo aja, gapapakan?" Tanya Dika lagi.
Aira menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju bangku di ikuti oleh Dika yang berada di belakangnya.
Sedangkan siswa yang lain seperti biasa sibuk menggunjingkan Aira yang tidak-tidak dan itu tak membuatnya heran lagi.. Karena itu semua sudah menjadi makanan Aira sehari-hari.
...🔥🔥🔥...
Gesa melihat Aira yang datang bersama cowok lain memasuki kantin seolah tak terima dan segera berdiri dari duduknya.
"Lo mau kemana?" Tanya Andre dengan mencekal lengan Gesa.
"Ke Aira lah! Nggak terima gue.. Dia sekarang udah jadi istri gue dan dengan beraninya dia deket sama cowok lain." Geram Gesa dengan menatap Aira yang tak jauh dari pandangannya.
Semenjak Gesa cerita dengan jujur masalah pernikahannya dengan Aira pada Andre dan Jefri. Entah fikiran darimana yang jelas Andre dan Jefri tidak terima jika Gesa mengorbankan perasaan Aira seperti Gesa memainkan perasaan cewek diluaran sana.
Aira yang baik dan polos memang tidak pantas jika disandingkan pada Gesa yang playboy kelas atas.
Aira terlalu sempurna untuk Gesa sedangkan Gesa sangat brengsek untuk Aira! Itulah pandangan Andre dan Jefri selama ini.
"Itu cowok siapa sih? Dia nggak tau apa kalo Aira udah terikat sama gue.. Berani banget deketin istri gue." Gerutu Gesa yang membuat Jefri mengedipkan matanya memberi kode pada Andre.
"Lo suka beneran sama Aira?" Tanya Jefri cepat.
Gesa dengan mantap menggelengkan kepalanya.
"Dia anak baru setau gue dari ibu kantin tadi." Jelas Andre mengenai Dika, murid baru di kelas Aira.
"Sekarang gini deh Ges logikanya, kalo lo nggak mau lihat Aira sama cowok lain setidaknya lo ngaca. Lo masih deket nggak sama gebetan-gebetan lo?"
"Lo bilang Aira istri lo kan? Tapi yang tahu dia istri lo cuma kita bertiga, Aira dan orangtua lo.. Siswa lain mana tahu."
"Dan untuk ucapan lo yang bilang Aira berani deket sama cowok lain dan juga terikat sama lo.. Itu bukan kesalahan Aira karena lo yang suruh si Aira buat jadi babu lo bukan istri lo."
"Bukannya lo sendiri yang bilang sama Aira bahwa dia itu babu lo kalo nggak ada mama papa lo dan kalo ada mama papa lo baru dia akting jadi istri lo.. Kalo gue salah tolong jelasin salah gue dimana?" Lanjut Andre kemudian.
"Ucapan Andre sesuai dengan cerita lo bro, tapi ini versi rangkuman." Sahut Jefri dengan meminum es tehnya.
Gesa mengusap wajahnya kasar karena yang dikatakan oleh Andre dan Jefri adalah semua kebenaran yang berasal dari bibirnya sendiri.
Aira memang tidak pernah melarang dirinya baik itu hal baik dan hal buruk yang akan Gesa lalukan, Aira hanya mampu melihat tanpa menegur maupun bertanya.
Jika Aira bertanya ataupu berani menegur Gesa, yang ada dirinya hanya di caci maki bahkan dihina secara mental lagi oleh Gesa.
Dan Aira tidak mau jika mentalnya terganggu lagi, apalagi dirinya juga merasakan sakit di beberapa organ dalam tubuhnya.
Cukup melihat Gesa yang tertawa dan pulang ke rumah dengan memakan masakannya itu sudah lebih cukup untuk Aira.
"Tapi dia milik gue! Dia istri gue!"
"Dia nggak akan berani selingkuhin lo gue berani jamin." Jawab Andre.
Jefri tersenyum pelan menatap Aira yang sedang tertawa bersama Dika, "Gue nggak pernah lihat cewek yang jadi korban bully setiap hari bahkan dikucilkan sekarang tertawa gitu aja tanpa beban." Gumam Jefri lalu menatap Gesa yang di ikuti oleh Andre juga.
"Katanya lo suaminya, lo pernah nggak bikin di ketawa waktu dirumah?" Tanya Andre.
__ADS_1
"Dia cantik dan baik Ges, jernih seperti air sama kayak namanya Aira." Sahut Jefri.
Tak menghiraukan ucapan kedua sahabatnya, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Gue ke toilet." Ketus Gesa dan pergi begitu saja meninggalkan Andre dan Jefri.
"Biar mampus dan terketuk hatinya, dikira mainin cewek mulu baik apa." Gerutu Andre yang melihat langkah Gesa semakin menjauh.
"Lo mau kemana?" Tanya Andre tiba-tiba yang melihat Jefri berdiri dari duduknya.
"Gue ada rapat osis bro, lupa gue." Jawab Jefri dan berlari begitu saja meninggalkan Andre.
"Fiks gue harus nyalonin diri buat jadi anggota osis nih biar bisa berduaan sama di Jep." Gerutu Andre dengan bergidik ngeri.
...🔥🔥🔥...
"Lo pulang sama siapa?" Ketus Gesa dengan melipat kedua tangannya saat melihat Aira tengah menutup pintu.
Aira segera mengusap dadanya saking kagetnya saat tahu bahwa Gesa sudah pulang dan sekarang tengah menatap dirinya dengan pandangan dingin seperti biasa.
"PULANG SAMA SIAPA GUE TANYA?!" Bentak Gesa pada Aira yang membuatnya dengan berani mendongakkan kepalanya menatap Gesa.
"S-Sendiri kak." Jawab Aira takut-takut.
Gesa tersenyum sinis menatap Aira, "Tumben lo berani natap gue."
Mendengar ucapan Gesa, dengan cepat Aira menundukkan kepalanya lagi seolah sepatu lebih menarik daripada Gesa.
"Kenapa nggak dianterin sama pacar lo yang kata anak-anak lain sangat ganteng tapi masih gantengan gue."
"Dia bukan pacar aku kak, dia temen baru aku di kelas yang sama kayak aku." Jawab Aira.
"Terus kenapa bisa sama lo? Kenapa nggak sama temen-temen lo yang lain? Mau caper? Iya?"
"Udah cupu sok suhu lagi." Lanjut Gesa yang lagi-lagi menyakiti menyakiti perasaan bahkan mental Aira.
Aira mencoba tenang dan menerima semua cacian Gesa dengan menarik nafasnya dalam untuk mengurangi rasa sesaknya di dalam dada.
"Tadi kebetulan waktu jalan dari halte dia minta tolong ke aku buat anterin nyari kelasnya yang baru karena ia baru pindah dan kebetulan dia di kelas yang sama kayak aku."
"Yang dikenal dia pertama kali sekolah aku kak, jadi di kantin tadi dia ikut aku karena belum kenal temen-temen yang lain." Jelas Aira kemudian.
"Bangga ya sekarang dikenal cowok ganteng di sekolah? Lo istri gue saat ini kalo lo lupa." Sarkas Gesa.
Aira menganggukkan kepalanya, "Iya kak aku faham kok dan aku sadar bahwa aku istri kak Gesa. Aku juga nggak bangga dikenal cowok seganteng Dika.. Yang jelas dimata aku jika semua makhluk Tuhan berarti dia sama."
"Munafik!" Umpat Gesa pada Aira lalu pergi begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya.
Aira yang menahan rasa sakit di bagian dadanya sejak jalan kaki waktu pulang tadi dengan cepat mengusap lalu menekan kuat-kuat bagian dadanya.
"Jangan sekarang ya Tuhan." Gumam Aira yang merasakan rasa sakit yang amat sangat.
"Gue nggak suka bahkan benci sama cewek lemah.. Dan jangan harap gue mau bantuin lo." Ketus Gesa dari lantai dua yang melihat Aira tengah kesakitan di bagian dadanya.
"Iya kak, aku gapapa kok." Jawab Aira dengan mendongakkan kepalanya menatap Gesa.
Gesa memalingkan pandangannya dan berjalan memasuki kamarnya.
Melihat Gesa yang sudah masuk ke dalam kamar, Aira segera berlari menuju kamarnya lalu membuka laci dan meminum obatnya dengan cepat.
"Obat mau habis, sedangkan aku nggak punya uang. Kalo beli pake uang kak Gesa pasti kak Gesa curiga apalagi kalo ketahuan.. Pasti aku salah lagi." Gumam Aira dengan mengamati botol obat yang ada di genggamannya.
"Aku harus cari pekerjaan part time nih biar bisa beli obat dan nggak boleh ketahuan sama kak Gesa.. Besok pulang sekolah mulai cari deh." Lanjut Aira menuju kamar mandi dan berbicara sendiri dengan riangnya seolah ringan tanpa beban.
Padahal kenyataan yang ada ia dikucilkan, dibully, dicaci maki setiap hari oleh teman-temannya dan ditambah lagi oleh Gesa.
Ya, Aira mempunyai penyakit jantung dan itu sudah lama sekali mungkin saat dirinya masih kecil. Mempunyai mental yang kuat bahkan tidak akan menangis membuat dadanya terkadang merasa sakit dan Aira masih mampu menahannya untuk sekarang.
Aira akan bertahan sampai lelah dan akan berusaha sekuat tenaga agar ia lulus dengan nilai yang bagus lalu menujukkan pada Geral suatu hari nanti, sang kakak tersayangnya.
Terlalu lelah karena jalan kaki bahkan berlari penyebab mengapa Aira bisa merasakan rasa sakit di dadanya hari ini apalagi di hadapan Gesa.
Bukan karena tidak mau naik taksi atau kendaraan umum, tapi uang yang Aira pegang saat ini adalah milik Gesa. Dan ia tidak akan menggunakan milik Gesa tanpa perintahnya.
Aira juga menolak untuk pulang bersama Dika, karena ia sadar bahwa seorang istri sungguh tidak pantas untuk pulang bersama dengan cowok lain.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
...SEE YOU NEXT PART, BRO 🐊...