
...IKUTI INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
"Halo.. Mama datang ini, kenapa nggak ada yang menyambut mama?" Ucap Sofia bersamaan dengan membuka pintu rumah Gesa.
Gesa yang awalnya ingin mencium Aira dengan posisi tubuh tepat di atas Aira dengan cepat bangun begitu saja karena kedatangan sang mama.
"Astaga!!"
"Di kamar Ges di kamar." Lanjut Sofia mengomel bersamaan dengan membalikkan badannya.
"Mama ganggu ih."
"Harusnya ketok pintu dulu atau pencet bel apa gimana gitu? Main masuk aja."
Aira sendiri dengan cepat menetralkan jantungnya yang berdegup kencang ditambah rasa malu yang bukan main karena ketahuan sang mama mertua.
"Mama udah makan?" Tanya Aira kemudian untuk mengalihkan kejadian beberapa menit lalu.
Sofia menganggukkan kepalanya, "Udah kok nak, mama udah makan."
"Kebetulan tadi mama ada acara arisan gitu sama temen-temen mama terus lewat jalanan sini yaudah mama mampir." Jelas Sofia kemudian.
"Mama mau minum apa?"
"Biar bikin sendiri aja mama, kamu nggak boleh masuk dapur."
"Dapur licin.. Lagian juga mama bukan orang lain." Sahut Gesa lagi.
Aira tersenyum pelan menatap Gesa lalu kembali lagi menatap Sofia, "Mau minum apa ma?"
Sofia tersenyum kecil lalu menatap Gesa dengan memincingkan matanya, "Udah seposesif ini ternyata."
"Tumben banget bertingkah kayak gitu."
"Aku cuma nggak mau istri sama anak aku kenapa-kenapa ma.. Udah itu aja."
"Dulu aja nggak mau sama Aira terus pake bilang terpaksa nggak mau eh giliran sekarang malah nggak mau jauh."
"Karma itu karma.. Rasakan sendiri sensasinya." Lanjut Sofia kemudian mengejek Gesa.
Gesa mengendikkan bahunya pelan dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Ya kan itu dulu ma, sekarang mah beda lagi urusannya."
"Aku bikinin minum dulu ya ma." Pamit Aira tiba-tiba dengan membungkukkan sedikit badannya lalu berjalan menuju dapur.
"Sayang.. Nggak boleh ke dap-"
"Mama mau bicara sama kamu." Sahut Sofia cepat yang membuat Gesa mengurungkan niatnya untuk mengejar Aira.
"Bicara apa sih ma? Palingan juga nggak penting-penting amat."
"Aira yang penting nggak ke dapur itu dulu."
"Di dapur ada asisten rumah tangga kamu jadi biarin Aira bebas sebebas-bebasnya beraktivitas asal nggak angkat beban berat sama stres."
Gesa kembali duduk tepat di depan sang mama mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Mama mau bicara apa sama Gesa?" Tanya Gesa kemudian langsung ke intinya tanpa basa-basi.
Sofia dengan cepat mengeluarkan beberapa lembar dokumen daria dalam tasnya lalu meletakkan tepat di atas meja.
"Mama nggak tau itu apa tapi yang mama baca itu adalah salinan kontrak."
"Mama nggak sengaja baca ternyata isinya adalah kontrak pernikahan dengan nama kamu dan Aira."
Sofia kemudian memincingkan matanya heran menatap Gesa, "Mama nggak tau apa kekurangan Aira hingga kamu berani main perjanjian kekanak-kanakan kayak gini."
"Tapi bisa mama pastikan kamu tanpa Aira akan gila." Sarkas Sofia kemudian.
Gesa menghela nafasnya pelan mendengar nasihat sang mama yang lebih ke arah marah-marah perihal hubungan pernikahannya dengan Aira hanya sebatas kontrak.
"Itu dulu ma."
"Lagian juga kontrak aslinya udah aku bakar di depan Aira dan Aira juga setuju nikah seumur hidup sama aku."
"Siapa juga sih ma yang mau ninggalin Aira apalagi dalam keadaan hamil besar? Nggak ada ma."
"Dan aku nggak segila itu buat lakuin semuanya."
Sofia menganggukkan kepalanya sebagai arti percaya dan tidaknya.
"Mama nyusul Aira dulu." Pamit Sofia kemudian lalu pergi menuju dapur.
Gesa mengambil kertas tersebut lalu mulai membacanya.
"Segila ini gue dulu dan karmanya sekarang gue bucin abis sama Aira." Gumamnya.
...🔥🔥🔥...
"Yang sayang."
Aira yang sedang asyik membaca novel di pangkuannya dengan cepat mendongakkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding.
"Boleh.. Jangan pulang kemaleman ya."
"Aku nggak bisa tidur kalo kamu belum pulang." Lanjut Aira kemudian.
Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya lalu mengecup singkat kening Aira.
Cup
"Kalo ada apa-apa kamu langsung telfon aku dan kamu nggak boleh keluar tanpa pamit dulu sama aku."
Aira menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum, "Kalo minta sesuatu dibeliin nggak?"
"Tentu sayang. Kamu mau nitip apa?"
Aira mengusap pelan dagunya seolah berfikir dan hal tersebut tidak luput dari pandangan Gesa.
"Nggak nitip apa-apa deh kayaknya."
"Udah buruan berangkat.. Semakin cepat pergi juga semakin cepat pulangnya." Suruh Aira kemudian.
Gesa berjalan menuju garasi dan mulai mengeluarkan motor besarnya.
Menggunakan mobil yang mahal dan mewah hanya untuk Gesa jika ia bepergian dengan Aira, selebihnya ia hanya nyaman dengan menaiki motor karena berkendara sendiri.
"Andre nggak ada? Biasanya dimana ada lo disini juga ada Andre." Tanya Gesa pada Jefri begitu sampai di tongkrongan.
"Dari kemarin gue susah banget hubungin Andre, sibuk mungkin." Sahut Indro cepat.
__ADS_1
Sadar akan Andre yang bahkan tidak muncul di obrolan grup bahkan sangat ramai kemarin sampai hari ini.
Gesa dengan cepat mengeluarkan ponsel mahalnya lalu memanggil nomor Andre tanpa babibu lagi.
"Gimana Ges?" Tanya Andre begitu sambungan panggilannya terangkat di ponsel Gesa.
"Lo dimana?"
"Lo ada masalah?" Lanjut Gesa bertanya pada Andre.
Dilain tempat, Andre tengah menatap Intan yang masih setia menutup matanya karena alergi parah oleh kacang.
Dan sialnya penyebab alergi tersebut adalah Andre.
"Kenapa lo nggak bilang sih kalo lo alergi sama kacang?"
"Kalo lo bilang pasti lo nggak akan kayak gini." Lanjut Andre berbicara sendiri dengan tangan yang menggengam erat jemari Intan.
"Permisi.. Dengan keluarga pasien atas nama Intan Ayodya?"
Andre dengan cepat menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti perawat tersebut.
Bahkan Andre masih tetap menggunakan marganya di belakang nama Intan tanpa melihat rumah sakit ini ternama atau tidak.
BRUKK!!
"Astaga maaf-maaf saya tidak senga-"
"Andre!! Ya Tuhan.. Kamu baik-baik aja nak, mama khawatir banget sama kamu." Lanjut ibu-ibu lansia yang ternyata mama Andre.
Mama Andre dengan cepat datang ke rumah sakit begitu mendapat laporan bahwa ada nama Ayodya anaknya yang masuk rumah sakit.
"Mama ngapain kesini?"
"Loh, kamu baik-baik aja terus yang sakit siapa?"
"Kamu nggak jatuh atau luka kan sayang? Atau kamu sakit apa bilang sama mama?"
Andre memalingkan wajahnya menatap sang dokter dengan malu, "Maafin mama saya yang berisik ya dokter, saya mau bicara dulu sama mama saya bisa?"
"Iya silahkan."
Andre dengan cepat menarik pelan lengan sang mama dan memasuki dimana tempat Intan di rawat.
Mama Andre memelototkan matanya melihat Intan yang terbaring lemah serta bibir yang pucat di atas ranjang rumah sakit.
"Ya Tuhan calon menantuku, ini kenapa kok bisa kayak gini?"
Andre menghela nafasnya pelan, "Dia Intan mama dan bukan calon menantu mama. Intan cuma temen aku."
"Secara tidak langsung dengan kamu menggunakan nama Ayodya di belakang nama Intan, itu udah termasuk kamu memasukkan Intan ke keluarga kita Ndre."
"Tapi ma, nggak git-"
"Mama benci basa-basi.. Salah kamu sendiri kasih nama ke anak orang mana cewek lagi. Mama kan lagi seleksi akhir-akhir ini."
Andre mengerutkan keningnya bingung, "Seleksi apa ma? Jangan aneh-aneh deh."
"Seleksi menantu buat jadi istri kamu."
"Mampus!! Mending Intan aja kalo jadi istri daripada yang lain." Gumam Andre cepat.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1