AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
14 | KEBENCIAN


__ADS_3

...VOTE, LIKE DAN KOMENTAR JANGAN LUPA 🙏...


...SELAMAT MEMBACA 🐊...


"Nggak sarapan dulu kak? Kebetulan aku masak makanan favorit kak Gesa." Tanya Aira saat Gesa berlari menuruni tangga dan bersiap menuju ke sekolah.


Gesa sama sekali tak menghiraukan Aira dan fokus melangkah cepat menuju garasi.


"Aku bawain bekal ya kak, biar bisa dimakan di kelas waktu istirahat." Tawar Aira lagi.


Gesa menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menatap Aira.


"Gue udah dibawain bekal sama gebetan-gebetan gue, jadi stop peduli sama gue." Ketus Gesa yang membuat Aira tak berani menatapnya.


"Lo berangkat sendiri. Gue berangkat sama Siska hari ini."


"Dan waktu pulang nanti gue ada meeting di perusahaan papa, jadi lo langsung pulang aja dan rumah jangan dikunci." Lanjut Gesa lalu pergi begitu saja.


Aira hanya bisa menghembuskan nafas lelahnya seperti biasa. Gesa bahkan tidak mau makan masakannya lagi walaupun beberapa waktu lalu sempat makan dengan alasan rasa yang hancur dan terpaksa makan karena lapar.


Padahal menurut Aira, masakannya terbilang sangat enak dan pas di lidahnya karena memang dari kecil ia sudah pandai masalah urusan dapur.


"Gimana mau stop peduli orang kamu sekarang adalah suami aku kak, kalo aku stop peduli yang ada aku makin dosa sama kamu." Gumam Aira dengan berjalan menuju dapur untuk mengambil kotak bekalnya.


"Udah masak banyak-banyak dan kak Gesa nggak mau makan masakan aku, apa aku bawa aja ya ke sekolah buat Dika juga."


Tanpa memikirkan apapun lagi, Aira dengan cepat memasukkan semua masakannya pada dua kotak makan yang satu untuk dirinya dan satunya untuk Dika, sahabat barunya di sekolah yang mau berteman dengannya dengan tulus tanpa malu.


Aira melihat jam tangannya yang menunjukkan jam dimana ia harus berangkat. Dengan cepat ia berjalan cepat diatas trotoar dengan seorang diri dengan dua kotak makan di tangannya.


"Ra, yuk gue tebengin daripada jalan kaki." Tawar Dika yang tiba-tiba saja berhenti dan melepas helm full face'nya.


"Eh kamu Dik.. Nggak usah deh lagian juga nggak ada 10 menit juga sampai." Tolak Aira karena ia sadar dengan statusnya saat ini adalah istri Gesa.


Dika menghela nafasnya melihat Aira yang lagi-lagi menolak bantuannya. Ia juga tidak habis fikir dengan Aira yang santai-santai saja saat dikucilkan bahkan dihujat oleh hampir semua cewek SMA Pertiwi.


"Ini buat kamu Dik, aku tadi masak banyak.. Dan maaf nggak bisa terima tebengan kamu, aku duluan ya." Pamit Aira setelah menyerahkan kotak makan pada Dika.


"Tapi Ra, gue udah mak-"


"Astaga emang bener-bener cewek baik tau nggak." Gumam Dika kemudian dengan memakai kembali helm'nya.


Aira berhenti begitu saja saat tas belakangnya ditarik oleh seseorang.


"Gue mau bekal lo!" Ketus Gesa dengan mengambil kotak makan yang berada di tangan Aira.


Mata Aira menatap Siska yang berada di samping Gesa dengan pandangan yang entah seolah tak bisa menjelaskan apapun alias kosong.


"Sayang.. Kan aku udah bekalin kamu sama makanan yang lebih higienis, masak iya kamu mau makan makanan dari gadis cupu macam dia." Ucap Siska sombong dengan melingkarkan tangannya di lengan Gesa.


"Yang pasti sih yang aku makan pasti punya kamu sayang.. Punya dia nanti gampang aku buang juga bisa." Jawab Gesa dengan menatap Aira sinis.


Aira hanya menundukkan kepalanya tak lupa dengan meremas jari-jarinya seperti biasa saat ia merasa takut ataupun deg-degan.


"RA.. TUNGGU GUE." Teriak Dika dan berlari menuju Aira tepatnya dimana Siska dan juga Gesa berdiri.


"Lo kalo jalan cepet amat sih, nggak capek apa lari-larian berangkat sekolah.. Mana gue tebengin dari kemarin nolak mulu." Lanjut Dika kemudian yang tak luput dari pandangan Gesa dan Siska yang ada di depannya.


"Si cupu sekarang ada temen nih, ganteng lagi.. Kok mau-maunya ya temenin sama si udik ini." Ucap Siska tak tanggung-tanggung pada Aira.


Sedangkan Gesa sendiri hanya menatap Aira dan Dika bergantian tanpa mengeluarkan kata apapun.

__ADS_1


"Murah tetep murah!" Bisik Gesa di telinga Aira saat berjalan di sampingnya dan tak lupa menabrakkan bahunya dengan sengaja.


...🔥🔥🔥...


"Lo kenapa Ra? Bengong mulu.. Masih mikirin si kakak kelas tadi?" Tanya Dika dengan mengusap bahu Aira.


Kebetulan hari ini ada jam kosong dan Aira hanya menenggelamkan wajahnya di meja bertumpu dengan lengannya seperti biasa.


"Aku gapapa kok Dik." Jawab Aira canggung karena tangan Dika tiba-tiba ada di bahunya.


"Eh maaf-maaf Ra, gue nggak sengaja." Ucap Dika dengan menarik tangannya dari bahu Aira.


"Mungkin lo ada masalah atau mau cerita gitu dan lo nggak ada temen buat cerita, lo boleh kok cerita sama gue.. Kita temen Ra mulai gue masuk disini." Lanjut Dika tulus dan ingin menjadi teman Aira.


Aira dengan ragu menatap Dika dan bermaksud ingin menceritakan keluh kesahnya selama ini bersama Gesa.


Namun, Aira masih memiliki prinsip jika seorang istri tidak baik mengumbar aib suami, apalagi di depan cowok lain.


Aira menarik nafasnya dalam-dalam, "Aku butuh kerjaan part time Dik, kamu ada info nggak dimana gitu." Ucap Aira memutuskan untuk menceritakan masalah kerja dan mengurungkan niatnya untuk mengumbar aib rumah tangganya bersama Gesa saat ini.


"Kenapa tiba-tiba lo nyari kerja? Orangtua lo ngijinin?" Tanya Dika yang membuat Aira diam sesaat.


"Aku udah sendirian Dik, makanya aku cari kerja buat kehidupan selanjutnya dan penuhi kebutuhan aku yang lain." Jawab Aira tenang dan tersenyum tipis menatap Dika.


"Lo hebat Ra. Gue bangga punya temen kayak lo.. Maaf ya kalo gue tadi bahas orangtua lo."


Aira menganggukkan kepalanya, "Ada nggak kira-kira, mungkin kamu pernah tau dimana gitu ada yang buka lowongan kerja part time." Tanya Aira lagi.


"Kebetulan banget Ra abang gue buka coffeshop deket gang sebelah, nanti pulang sekolah kita kesana aja gimana? Baru buka beberapa hari ini kok karena ya baru pindah kitanya."


Aira menatap Dika dengan mata berbinarnya, "Boleh deh Dik, nanti pulang sekolah kita kesana ya.. Semoga aja aku masih ada lowongan." Ucap Aira dengan riangnya.


"Setau gue masih deh Ra, baru kemarin juga gue tau ada papan cari pekerja part time." Jawab Dika.


"Kakak pertama gue Ra."


"Gue anak terakhir dari tiga bersaudara." Lanjut Dika kemudian dengan menyuapkan nasi yang dibawakan Aira untuknya.


"Btw, masakan lo enak.. Makasih ya Ra."


Aira menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis menatap Dika.


Bagi Aira, Dika merupakan teman baru yang sangat tulus dan tidak memandang apapun seperti anak-anak lain. Bahkan Dika juga tak segan-segan mulai berani membela dirinya jika ada yang jahat padanya.


Dika yang tampan dan mempunyai sikap yang sama dengan Aira yaitu sederhana membuatnya sering dipandang remeh jika berduaan dengan Dika.


Namun, Aira juga sadar harus menjaga batasan jika bergaul dengan Dika. Selain dirinya yang berstatus istri Gesa, Dika juga sedang mempunyai ikatan dengan kekasihnya.


Teriakan dan sorakan cewek-cewek di kelasnya membuat Aira yang awalnya sedang membaca buku mendongakkan kepalanya lalu menatap pintu begitu saja.


Afigesa Deanova Putra!


Cowok tampan, badan tegap dan aura mostwantednya menguar begitu saja saat berjalan menuju bangku dimana tempat Aira duduk.


"Kita butuh bicara.. Sekarang!" Ucap Gesa dingin dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Aira tak menjawab namun segera berdiri dari duduknya. Namun, tangannya dicekal begitu saja oleh Dika.


"Lo mau kemana? Ngikutin perintah dia? Siapa dia yang harus lo ikutin gitu aja." Ucap Dika menatap Aira.


"Dia babu gue.. Jadi, udah sepantasnya dia nurut sama gue. Lepasin tangan babu gue!" Ketus Gesa.

__ADS_1


"Udah gapapa Dik, gue tinggal dulu ya." Pamit Aira kemudian berjalan mengikuti Gesa menuju rooftop sekolah yang selalu sepi karena rooftop sekolah merupakan tempat kekuasaan Gesa, Andre dan Jefri selaku most wanted SMA Pertiwi.


...🔥🔥🔥...


"Lo jadi cewek kenapa murah banget sih, heran gue sama lo." Ketus Gesa tiba-tiba saat mereka berdua telah sampai di rooftop.


Aira segera mendongakkan kepalanya menatap Gesa, "Maksud kak Gesa aku murah gimana? Aku nggak jual diri aku kak."


"Sasimo tau nggak! Sana sini mau."


"Sasimo sama siapa kak? Dika?" Tanya Aira kemudian.


Gesa memunculkan smirknya begitu saja, "Bahkan dengan beraninya lo sebut nama cowok lain di depan gue, lo mikir nggak sih sekarang status lo itu apa dan siapa." Sarkas Gesa dengan menatap Aira marah.


Aira memijat kepalanya yang tiba-tiba saja pening. Gesa selalu semena-mena padanya dan mengatur semua pergaulannya bahkan selalu dan selalu menyinggung harga dirinya dengan mengolok-olok serta menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata kasar setiap hari.


"Iya kak aku minta maaf kalo aku salah."


"Aku juga sadar kok kalo status aku sekarang istri kak Gesa, sekali lagi maaf kak." Lanjut Aira meminta maaf dengan tulus.


Gesa mengusap wajahnya dengan kasar, "Gue tau lo tadi bawa bekal buat si Dika-Dika itu kan? Lo naksir sama dia atau lo lagi ngemis-ngemis cinta dia?"


"Gue jijik sama cewek cupu sok suhu, murah dan sasimo macam lo.. Sampai kapan pun gue nggak akan pernah suka sama lo."


"Kita cuma sebatas kontrak dan gue berharap kontrak kita segera selesai." Lanjut Gesa menggebu-gebu marah terhadap Aira.


Mendengar ucapan Gesa yang sangat menohok hatinya, Aira hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tangan yang seperti biasa meremas rok untuk menguatkan mental bahkan hatinya.


"Kenapa harus lo sih Ra yang gue nikahin? Kenapa mama gue bisa suka sama lo sedangkan gue aja ngerasa lo itu nggak pantes buat gue."


"Kalo aja nggak karena aksi perjodohan mama, mungkin gue nggak akan pernah di posisi ini dan kenal lo apalagi terikat pernikahan kek gini."


"Gue benci lo Ra dan sampai kapanpun gue nggak akan menjatuhkan hati gue buat lo. Dan mulai sekarang jangan peduliin gue apalagi berani atur gue dan gebetan-gebetan gue."


"Lo cuma istri kontrak, pembantu gue dirumah dan istri pajangan buat klien-klien meeting gue beserta papa." Ucap Gesa panjang lebar lalu pergi begitu saja meninggalkan Aira.


Setelah kepergian Gesa, Aira tanpa sadar meneteskan air matanya lalu mengusapnya dengan cepat.


"Cuma satu tahun Ra, pasti bisa!"


"Semangat Ra.. Semangat!! Harus semangat cari kerja dan semangat buat mental dan hati tetap kuat selama satu tahun kedepan."


Gumam Aira kemudian dengan tersenyum tulus mendongakkan kepalanya menatap langit.


"Bantu Aira buat kuat ya Yah.. Semoga ayah selalu tersenyum di surga."


"Tunggu Aira di surga ya Yah." Lanjut Aira kemudian lalu berjalan gontai menuju kelas.


"Lo gapapa kan Ra? Lo diapain sama si kakak kelas tengil itu?" Tanya Dika saat Aira kembali ke kelas dengan langkah lesunya.


Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu tersenyum ceria menatap Dika untuk menutupi semua kesakitannya selama ini.


"Aku gapapa tuh, cuma bahas masalah pelajaran aja kok.. Kak Gesa mau pinjam buku ke aku ya wajar lah kelas 12 mungkin ujiannya pelajaran kelas 11 keluar kali." Bohong Aira.


Bahkan Aira selalu menutupi kesedihan dan kesakitannya seorang diri seolah ia selalu baik-baik saja dan lupa ia jug selalu menaburkan kebaikan serta kehangatan baginorang yang ada di sekitarnya.


Selalu tersenyum merupakan hal terbaik bagi Aira untuk menutupi semua luka yang pernah ada. Rasa sakit dari penyakitnya, dari Gesa bahkan dari orang-orang di sekitarnya membuat Aira tak akan putus asa begitu saja.


Karena ia yakin suatu saat ia akan bertemu dengan orang baik menurut takdirnya yang berada di tangan sang Tuhan.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


...SEE YOU NEXT PART, BRO 🐊...


__ADS_2