AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
74 | MARGA AYODYA


__ADS_3

...IKUTI INSTAGRAM :...


...@finarsky__...


...FOLLBACK? DM!...


...🔥🔥🔥...


"Keadaan kakaknya baik-baik aja dan nyeri perut memang biasa untuk perempuan datang bulan. Anda tidak perlu khawatir." Ucap sang bidan pada Andre dengan sedikit menahan tawanya.


Sedangkan Intan sendiri dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemas hanya menatap Andre greget dan ingin menghabisinya sekarang juga.


"Lo kenapa bawa gue ke bidan dodol.." Greget Intan kemudian.


Andre yang merasa tidak bersalah tiba-tiba duduk di atas ranjang tepat di samping Intan.


"Ya mana gue tau.. Pokoknya gue punya niatan bawa lo ke dokter eh kliniknya jauh banget yaudah gue bawa kesini aja."


PLAK!!


Intan memukul keras bahu Andre, "Tapi ya nggak bidan juga anjing!!" Umpatnya dengan kasar pada Andre.


"Pasti tu bidan ngira kita ya nggak-nggak."


"Nggak-nggak gimana maksud lo?" Sahut Andre cepat.


Tanpa menjawab sahutan Andre, Intan dengan perlahan menuruni ranjang dengan hati-hati walaupun perutnya masih sedikit nyeri.


"Ini obatnya untuk mengurangi rasa sakit perut anda, nyonya Ayodya." Ucap bidan tersebut yang membuat mata Intan melotot seketika.


"Tapi nama saya buk-"


"Terimakasih bu bidan. Kalo begitu kami permisi dulu." Sela Andre cepat dengan menerima obat tersebut lalu memapah Intan keluar.


"Nama gue bukan Ayodya.. Kok bisa-bisanya pake ganti-ganti nama pasien segala."


"Nggak terima gue!" Lanjut Intan kesal.


Andre hanya diam dan membukakan pintu mobil lalu mempersilahkan Intan masuk.


"Lo harus makan dulu sebelum minum obat. Mau makan apa?"


"Kita kembali ke pesta juga nggak mungkin karena ini udah malem banget. Yang lain mungkin prepare pulang." Lanjut Andre.


"Gue bisa makan di rumah.. Anterin gue pulang aja."


Andre menggelengkan kepalanya, "Lo harus makan dulu baru gue anterin pulang."


"Gue makan di rumah aja."


"Yaudah bungkus makanan apa biar lo makan di rumah?" Tanya Andre lagi karena ia sudah tidak mau berdebat dengan Intan apalagi keadaan Intan yang masih lemas serta menahan nyeri di perutnya.


"Terserah deh terserah." Jawab Intan pasrah lalu dengan sedikit berbaring dan mata yang terpejam menahan sakit.


"Pizza mau?"


"Burger?"


"Nasi goreng?"


"Atau apa gitu?" Lanjut Andre bertanya pada Intan karena ia benar-benar tidak tahu apa yang ingin di makan Intan malam ini.


"Terserah lo." Jawabnya cepat.

__ADS_1


Andre menghela nafasnya pelan lalu mulai melajukan mobilnya dan berakhir memasuki kawasan restoran bintang lima yang super duper mewah.


"Kita ngapain disini?" Tanya Intan kemudian.


"Beliin lo makan." Jawab Andre cepat bersamaan dengan melepas sabuk pengamannya.


"Gue nggak mau makan disini."


"Tadi katanya terserah, sekarang nggak mau."


Intan menghela nafasnya menatap Andre, "Ya emang terserah tapi gue nggak mau disini."


Tanpa sepatah katapun dan tanpa bantahan, Andre dengan cepat memasang kembali sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya begitu saja.


"Mie ayam enak kali ya.." Gumam Intan yang membuat Andre memalingkan matanya sekilas menatap Intan.


"Oke kita cari mie ayam." Jawabnya kemudian.


Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhir mereka berdua tepatnya Andre dan Intan telah sampai di salah satu warung mie ayam.


"Bisa jalan sendiri?" Tanya Andre memastikan sebelum keluar dari mobil.


"Gue nggak selemah itu kali."


"Tapi lo lemes banget.. Ngomong aja kayak nggak makan satu minggu." Ejek Andre.


"Nanti kalo gue teriak-teriak lo bakalan kaget." Sewot Intan.


Andre tertawa mendengar nada sewot dari Intan, "Teriak di bawah gue dan gue nggak akan kaget."


Intan mengepalkan tangannya seolah bersiap meninju Andre, "Sekali lagi lo mesum sama gue, muka lo gur bejek-bejek sampe lo mampus!" Ancamnya kemudian penuh peringatan.


...🔥🔥🔥...


"Gue suka yang original." Jawab Intan singkat.


Andre tiba-tiba menata Intan dalam diam dengan tangan yang hanya mengaduk-aduk mie ayam.


"Lo kenapa liatin gue? Gue emang cantik." Ucap Intan yang membuat Andre mengendikkan bahunya jijik.


"Biasa aja."


"Kalo biasa aja sekarang makan mie lo dan nggak usah lihat-lihat gue." Sewot Intan lagi.


Andre menghela nafasnya pelan dan mulai memakan mie ayamnya serta mulai berfikiran dan bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kok gue jadi lembek begini sih musuh si Intan? Dan kenapa gue dari tadi nurut banget?"


Tidak menanggapi pikirannya dan setelah selesai dengan acara memakan mie ayam, Andre dengan cepat berdiri dari duduknya.


"Di rumah lo ada berapa orang?" Tanya Andre tiba-tiba pada Intan.


"Lo mau ngapain nanya orang rumah?" Jawab Intan balik bertanya pada Andre.


"Ini di bungkusin sekalian dan biar gue sekalian bayarnya."


Intan menggelengkan kepalanya, "Nggak usah repot-repot dan nggak usah di bungkusin. Mereka jam segini pasti udah tidur."


"Cukup jawab gue ada berapa orang di rumah lo?"


"Sepuluh." Jawab Intan cepat tanpa pikir panjang yang diangguki kepala begitu saja oleh Andre.


"Gila tu anak ema-"

__ADS_1


DRTTT..


DRTTT...


DRRRTTT..


Getaran ponsel Andre yang berada di meja membuat Intan tidak melanjutkan gerutuannya.


"Ibu Ayodya? Kok Ayodya? Siapa Ayodya?" Ucap Intan mulai berbicara sendiri.


Melihat Andre yang masih sibuk dengan si penjual mie ayam dan Intan tidak bermaksud lancang atau apapun, namun ponsel Andre bergetar dan tidak mau berhenti.


"Penting banget kali ya sampai berkali-kali panggilnya."


"Apa gue angkat aja kali ya."


"Tapi nanti kesannya lancang dan gue nggak selancang itu."


"Tapi kalo penting terus butuh bantuan gimana?"


Beberapa pertanyaan mulai muncul dan belum berakhir juga getaran di ponsel milik Andre.


Dengan berani Intan menggeser tombol hijau lalu mulai menempelkan ponsel Andre di telinga.


Andre yang baru saja selesai dan sadar akan ponselnya yang ada di telinga Intan ditambah dengan kagetnya Intan membuat dirinya menahan senyumnya.


Dengan cepat Andre mengisyaratkan Intan untuk mengaktifkan pengeras suara.


^^^"Kamu dimana? Udah jam berapa ini kok belum pulang pulang?" ^^^


"Habis ini pulang ma." Jawab Andre yang menggunakan panggilan ma sontak saja membuat mata Intan membulat sempurna karena kaget.


"Kamu dimana?" Tanya sang mama bersamaan dengan mengalihkan panggilan ke panggilan video.


Andre mengusap wajahnya kasar dan mau tidak mau menerima panggilan tersebut, "Lagi di warung mir ayam ma."


"Loh itu siapa di samping kamu? Kok kayak ada anak cewek?"


Andre kemudian menatap Intan dengan tatapan memohon seolah berbicara pada Intan untuk bersedia kenalan dengan sang mama.


Intan dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menolak mentah-mentah jika harus berkenalan dengan mama Andre. Apalagi dirinya juga bukan siapa-siapa Andre.


Tidak menunggu jawaban Intan, Andre dengan cepat mengalihkan kameranya tepat di depan wajah Intan.


"Pacar Andre ma.. Namanya Intan dan kapan-kapan akan Andre bawa pulang."


"Yaudah ma.. Ini Andre mau anter Intan pulang dulu." Lanjut Andre lalu mematikan panggilannya sepihak.


Intan melipat kedua tangannya di depan dada dan mata yang menatap Andre dengan ganas seolah ingin menerkam habis.


"Gue nggak akan marah sama lo cuma karena kebohongan lo sama nyokap lo.. Lagian juga itu urusan lo sama nyokap lo."


"Yang gue mau tanyain sama lo cuma nama Ayodya. Siapa Ayodya?"


"Tadi di bidan juga gue di panggil Ayodya.. Sekarang nama mama lo juga Ayodya? Apa-apaan ini?"


Andre menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Algerian Andre Ayodya itu nama gue dan Ayodya itu marga keluarga gue.. Bisa simpulin sendirikan kenapa tadi bidan bisa panggil lo Ayodya?"


"Karena bidan tadi beranggapan kalo lo istri gue ditambah lo pake marga gue." Jelas Andre kemudian lalu berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menuju mobil.


Sedangkan Intan sendiri masih melongo tidak percaya dengan penjelasan Andre.


"Sekarang gue yakin kalo Andre bener-bener gila!"

__ADS_1


...🔥🔥🔥...


__ADS_2