AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
26 | KESAL


__ADS_3

...IG : FRISKYA___...


"Lo beneran udah nggak perjaka Ges?" Tanya Andre tiba-tiba yang membuat Gesa menyemburkan es tehnya begitu saja.


Bel istirahat sekolah telah berbunyi, dimana posisi Gesa dan kedua sahabatnya berada di kantin dan memutuskan untuk berganti meja dengan alasan Gesa mengawasi Aira dari jauh.


Itulah mau Aira, padahal Gesa sendiri ingin berdekatan dengannya apalagi memancing emosi Aira adalah tujuannya yang sekarang sudah menjadi kewajibannya.


"Ditanya malah sembur-sembur, waras lo Ges?" Sahut Jefri dengan menepuk pelan bahu Gesa.


Gesa meletakkan gelasnya diatas meja lalu menatap Jefri dan Andre yang ada di sampingnya, "Ya pertanyaan lo berdua mesum tau nggak?! Kaget kan gue."


"Yakan nanya apa salahnya sih?"


"Ho-oh apa salahnya coba? Lagian juga si Aira juga istri lo ya sah-sah aja kalo kelonan berdua." Sahut Jefri dengan santainya menimpali ucapan Andre.


"Ya tapi lo berdua jangan keras-keras bicaranya, dodol. Yang ada malah gue sama Aira nanti yang dihakimin satu sekolah."


Andre yang tengah asyik memakan gorengannya menatap Gesa lalu tersenyum sinis, "Lo lupa bokap gue hakim?"


"Lo juga lupa bokap gue juga pengacara?" Sahut Jefri.


Gesa menghela nafas lelah menghadapi kedua sahabatnya tersebut.


"Lo berdua emang cocok ya, selain adu mulut bokap lo berdua juga ahli dalam ahli memutuskan dan membebaskan masalah."


Jefri mengendikkan bahunya pelan, "Maka dari itu gue dari tadi berani bicara keras.".


"Biar lo sama Aira di hakimin satu sekolah, lo sewa bokap gue sama bokap Njep dan hal itu secara nggak langsung lo sama bokap lo sebagai perantara Tuhan buat kasih rejeki ke keluarga gue dan keluarga Njep." Lanjut Andre dengan ringannya.


"Mata lo!! Ada-ada ide gilanya." Umpat Gesa.


Gesa menatap sang istri yang kini tengah makan mie ayam di depannya dan itu membuat Gesa gemas sendiri untuk mendekatinya.


Tapi janjinya pada Aira untuk tidak berdekatan di area sekolah dengan alasan malu dan potongan waktu jatah membuat Gesa mengangguk setuju tanpa sadar.


Entah apa yang membuat Gesa jadi seperti ini, nurut sama Aira bahkan tunduk dengan aturan Aira. Tapi yang jelas Gesa belum bisa menjatuhkan perasaannya untuk Aira.


Bahkan Gesa yakin, Aira tidak akan bisa jatuh cinta padanya karena sudah jelas sikap Gesa yang playboy dan pemain wanita cukup untuk Aira meragukan dirinya.


"Katanya nggak boleh makan mie dan gue dibekalin kayak gini eh dianya makan mie.. Mana sama si anak baru songong lagi." Gerutu Gesa dengan mengaduk-aduk bekalnya yang dibawakan oleh Aira.


Aira memang sangat teliti dalam memperhatikan makanan Gesa bahkan minuman serta kebutuhan lainnya. Karena Aira tau bahwa anak atlet apalagi basket harus menjaga kesehatannya dan Aira berani melarang keras Gesa untuk tidak makan mie.


Dan sialnya dengan ancaman jatah ranjang, Gesa takluk dan nurut begitu saja..


Andre menarik tepak bekal milik Gesa, "Kalo lo nggak mai makan sini gue aja yang makan, mana masakan istri lo selalu enak lagi." Lanjutnya kemudian.


"Gue juga mau! Anggap aja latihan dibekalin istri sama menghemat uang saku." Sahut Jefri yang mendapat tatapan tajam dari Gesa.

__ADS_1


"Aira istri gue!! Pake ngaku-ngaku segala lo berdua." Kesal Gesa lalu berdiri dari duduknya.


"Mau kemana? Bekal lo ini gimana?" Tanya Andre bingung.


Gesa memutar bola matanya malas dengan berkacak pinggang menatap Andre dan Jefri bergantian, "Udah nggak nafsu makan bekal dari Aira. Makan aja lo berdua itung-itung gue sedekah."


"Gue mau makan Aira!! Bye.. Jangan berani-berani lo berdua ikutin gue." Lanjut Gesa dengan berjalan mundur menjauh dari Andre dan Jefri.


"Tumben amat pemberian Aira disedekahin sama kita, biasanya juga pelitnya kek malaikat pencabut nyawa." Gumam Andre dengan menyedokkan makanan ke mulutnya.


"Si bucin mulai bergerak aktif Ndre, biarin aja. Gue lebih suka si Gesa tunduk sama Aira daripada main cewek sana-sini kek gigolo."


...🔥🔥🔥...


"Kak Ges, aku pulangnya sama Dika ya hari ini? Soalnya aku harus kerja dulu di kedai kopi milik kakaknya." Ijin Aira pelan dengan meremas tangannya pelan karena takut Gesa akan marah padanya.


Tepatnya di rooftop, Aira nekat menarik Gesa untuk meminta ijin bahwa dirinya akan pulang bersama Dika dan bekerja seperti biasa di kedai kopi.


"HAH?!"


"Bilang apa sayangku?!"


"Mau pulang barengan sama Dika?!"


"NGGAK!! OGAH!! ENAK AJA MAU PULANG SAMA DIA."


Omel Gesa dengan berjalan mondar-mandir di depan Aira lalu mengusap wajahnya kasar menatap Aira.


"Aaa jangan senyum please.. Bisa gila gue lama-lama kali lo senyum kek gitu, astaga Ra!! Lo kenapa gemesin banget sih ih." Erang Gesa dengan mengepalkan tanganya mengurungkan niat untuk tidak menarik pipi Aira dengan gemas.


"Stop senyum!" Lanjut Gesa memberi peringatan pada Aira.


Tidak takut oleh gertakan pada Gesa, Aira malah melebarkan senyumnya dan menatap Gesa dengan pandangan hangatnya seperti biasa.


Gesa membelakangi Aira dan memukul dadanya pelan, "Jantungan beneran gue lihat bini gue senyum, mana manis banget ya Tuhan.. Serasa mau gue cium habis tu bibir." Gumamnya lalu mengusap wajahnya kasar.


"NGGAK BOLEH.. NGGAK BOLEH PULANG SAMA SI SONGONG, HARUS SAMA GUE." Ucap Gesa kemudian menunjuk Aira dengan jari telunjuknya.


"Tapi kak Ges, ak-"


"Nggak boleh kerja!! Minta apapun akan gue kasih asal nggak boleh kerja."


"Kak Gesa nggak bisa gitu dong.. Disana kerjanya nggak berat dan lumayan juga gajinya." Jelas Aira bermaksud membujuk Gesa.


"Ya lo nggak kerja pun gue bisa cukupin semua kebutuhan lo, apapun sayang apapun."


Aira yang mendengar kata sayang keluar dari bibir Gesa merasakan pipinya mulai memerah lalu menutup wajahnya begitu saja dengan kedua tangannya karena malu.


Gesa tersenyum geli menatap Aira lalu berjalan mendekat ke arahnya dan menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Nggak boleh kerja ya nggak boleh! Gue suami lo dan lo istri gue.. Jadi lo harus inget bahwa seorang istri harus nurut sama seorang suami."


"Mau lo masuk neraka gara-gara berani bantah perintah gue dan langgar larangan gue?" Lanjut Gesa.


Aira menggelengkan kepalanya pelan di dekapan Gesa, "Kak Gesa udah kayak Tuhan aja. Aku harus mematuhi semua perintah dan menjauhi larangannya."


"Jalan lo ke surga gue yang bawa karena gue imam lo dan lo makmum gue, jadi mau nggak mau lo harus nurut sama gue." Tegas Gesa kemudian bersamaan melepas Aira dari pelukannya dan berusaha melepaskan tangan Aira yang menutupi wajah merahnya.


"Jangan lihat aku kak, pasti pipiku merah." Larang Aira polos dengan berusaha menundukkan kepalanya karena kedua tangannya yang dicekal erat oleh Gesa.


"Kenapa pipinya merah gini sayangku?" Goda Gesa semakin menjadi-jadi.


Aira hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha membungkukkan badannya semaksimal mungkin agar


Gesa tidak bisa melihat wajah merahnya.


"Aku mau kerja kak, mau beli sesuatu yang aku inginkan."


Gesa melepaskan tangan Air begitu saja lalu mengeluarkan dompet dari sakunya dan menyerahkan pada Aira begitu saja.


"Beli apapun semau lo dan ini dompet gue.. Ada cash di dalem situ nggak tau ada berapa soalnya belum tarik tunai dan terakhir gue buat beli bensin kemarin."


"Ada kartu kredit, debit sama blackcard juga no limit.. Habisin berapun lo mau gapapa asal lo nggak boleh kerja."


"Dan gue tegasin sekali lagi sama lo, nggak boleh kerja!" Peringat Gesa.


"Kak Ges, aku nggak mau domp-"


"Pilih tetep kerja dan gue hancurin itu kedai atau pulang sama gue?" Tawar Gesa kemudian yang membuat mata Aira melotot tidak percaya.


Aira bingung dengan penawaran Gesa, jika ia tidak kerja harus beli pakai uang apa untuk obat sakitnya.. Dan jika tetap kerja, Gesa akan menghancurkan semuanya dan oranglain akan susah karena dirinya juga.


"Untuk saat ini emang belum sakit tapi gimana kalo tiba-tiba sakit lagi? Obatnya juga hilang gitu saja dari kemarin.. Gapapa deh hari ini gak kerja dulu nanti bilang ke Dika biar disampein sama kakaknya."


"Jadi gimana? Pulang sama gue atau tetep kerja di tempat si songong?"


Aira menghela nafasnya pelan, "Iya nanti pulang sama kak Gesa." Putus Aira lalu menarik lengan Gesa turun dari rooftop.


"Nanti kalo udah di bawah kak Gesa harus lepasin tangan aku oke?" Bisik Aira pada Gesa bersamaan dengan menuruni tangga.


Gesa mengecup pipi Aira singkat, "Nggak lihat nih siapa yang gandeng-gandeng tangan gue?" Goda Gesa yang membuat Aira melepaskan tangannya dengan cepat.


"Kesel sama kak Gesa." Gerutu Aira dan berlari cepat meninggalkan Gesa begitu saja.


Gesa yang melihat tingkah Aira hanya tersenyum geli lalu mengusap wajahnya kasar.


"Istri gue bener-bener bikin gila ya Tuhan.. Klepek-klepek mode on nih gue." Gumamnya kemudian.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


...IG : FRISKYA___...


__ADS_2