AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
34 | GITAR SPANYOL


__ADS_3

...IG : FRISKYA___...


"Gue mau bicara sama lo.. Gesa Deanova." Ucap Gesa to the point dengan menjabat tangan Revan, kakak Dika yang mempunyai kedai kopi dimana tempat Air bekerja.


Gesa memberi kebebasan Aira hari ini untuk bekerja namun masih dalam jangkauan matany. Tapi jika urusannya dan Revan sudah selesai dan ia ingin pulang maka Aira mau tidak mau serta atas ijin Revan mau tidak, Aira harus tetap pulang.


"Kemarin ada yang kesini nyari gue, katanya namanya Gesa tapi orangnya beda sama lo." Ucap Revan dengan mempersilahkan Gesa duduk.


Gesa mengendikkan bahunya, "Anak buah gue dan lo lihat dia.." Tunjuk Gesa menggunakan dagu mengarah pada Aira yang sibuk melayani pelanggan.


"Oh itu, dia Aira.. Gadis yang cantik dan manis." Jawab Revan tanpa ragu memuji Aira di depan Gesa.


"Dia emang gadis cantik dan manis. Tapi yang lo puji cantik dan manis itu istri gue.. Gue nggak terima lo memperkerjakan istri gue gitu aja." Sahut Gesa dengan menggeram marah menatap Revan.


Gesa melemparkan ponselnya diatas meja yang menampilkan wallpaper pernikahan dirinya dengan Aira, sebagai bukti untuk Revan jika Revan tidak percaya pada ucapannya.


Dan ternyata memang benar, Revan menggelengkan kepalanya karena rasa tidak percaya dengan ucapan yang baru saja Gesa katakan mengenai pernikahannya dengan Aira.


"Percaya atau nggak tapi Aira emang istri gue." Ucap Gesa dengan tegas bersamaan dengan mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin pernikahannya dengan Aira.


"Lo berdua udah nikah beneran? Di usia segini?"


Gesa menganggukkan kepalanya, "Gue cinta mati sama Aira ya jalan satu-satunya gue beli dia pakai mahar." Bohong Gesa mengungkap semuanya perihal pernikahan mereka.


Gesa saat ini memang suka dengan Aira, namun tidak dengan rasa cinta. Ia masih bingung dan bimbang dengan perasaannya.


Ingin Aira selalu untuknya dan Aira adalah miliknya.. Sampai kapanpun hanya miliknya. Itulah keyakinan yang Gesa pegang saat ini.


"Kok bisa masih sekolah udah nikah aja." Gumam Revan dengan mengusap pelan dagunya.


"Ahh ya.. Uang merubah segalanya. Gue harap hubungan kalian langgeng dan ngomong-ngomong kenapa nyari gue?" Lanjut Revan kemudian.


"Gue mau beli kedai ini berapapun lo kasih harga, gue akan terima-terima aja." Jawab Gesa to the point dengan menghembuskan asap rokoknya.


Revan memincingkan matanya menatap Gesa seolah curiga dan bertanya-tanya apa tujuan Gesa membeli kedai kopi kecil miliknya yang bahkan baru saja buka.


"Mau beliin Aira karena sebentar lagi dia ulangtahun." Lanjut Gesa kemudian.


"Tapi gue nggak berniat jual kedai ini dan juga kedai ini baru aja launching masak iya gue tutup gitu aja."


Ide menabjubkan muncul tiba-tiba di otak cerdas sekaligus jeniusnya. "Lo nggak akan tutup ini kedai tapi lo akan gue kasih bangunan yang tempatnya lebih ramai dan strategis dan juga lebih besar dari ini.. Gue berani jamin tempat lo yang baru akan ramai." Jelas Gesa.


Revan tersenyum kecil mendengar semua penjelasan Gesa, "Tau apa lo tentang bisnis? Dan apa jaminan lo? Kalo nggak rame gimana dan kalo bangkrut gitu aja gimana?" Ucap Revan sengaja mengejek Gesa.


Gesa mengeluarkan kartu namanya dari dompet yang ada di sakunya lalu melemparkannya di meja begitu saja.


"Gue owner sekaligus presiden direktur utama di Deanova Grup dan lo pasti taulah bisnis yang gue pegang sekarang bentukannya gimana?"


"Dan gue tipe orang yang bernegosiasi selalu tanpa basa-basi dengan orang-orang tertentu.. Contohnya lo."


Gesa berdiri dari duduknya, "Gue mau kedai ini dan akan gue ganti dengan yang lebih dari ini serta jaminan kesuksesan juga melebihi ini.. Kalo ya besok dateng ke perusahaan gue dan cari gue." Ucapnya kemudian dan berjalan pergi begitu saja menuju dimana tempat Aira berdiri.


Cup


Gesa mengecup bibir Aira tanpa ragu di tempat umum, "Kita pulang sekarang sayang.. Gue udah ijin sama bos lo buat cuti beberapa hari buat bulan madu." Bisik Gesa yang membuat Aira kaget dengan memelototkan matanya.


"Kak Gesa emang gila!" Omel Aira bersamaan dengan melepas celemek yang menempel di tubuhnya.


"Ini kegilaan aku sayang.. Dan kamu belum tau kegilaan aku yang lain-lain." Jawab Gesa dengan tersenyum manis menunjukkan gigi berkawatnya.


...🔥🔥🔥...


"Tadi ngomongin apa sama bos aku?" Tanya Aira tiba-tiba yang membuat Gesa menghentikan acara makannya.


Mereka berdua tepatnya Aira dan Gesa tengah berada di meja makan karena rencana Gesa makan malam diluar harus batal dengan alasan Aira yang udah masak banyak.


Hemat.. Itulah prinsip Aira.


Sedangkan Gesa, uangnya tidak akan habis jika hanya untuk menyenangkan Aira kesana-kemari. Dan sialnya, Gesa mengalah begitu saja dengan Aira dan malam ini sangat penurut terhadapnya.


"Bos lo yang mana? Revan?" Tanya Gesa.


Aira yang menuangkan air putih di gelas Gesa menganggukkan kepalanya, "Bos aku ya cuma kak Revan, emang siapa lagi?" Gumam Aira pelan.


Tidak menanggapi ucapan Aira, Gesa melanjutkan acara makannya dengan mata yang fokus menatap tab mahal di sebelahnya yang berisi grafik-grafik yang membingungkan untuk otak Aira.

__ADS_1


"Makan dulu, nanti dilanjut lagi lihat tabnya." Suruh Aira yang tidak dihiraukan oleh Gesa.


Gesa meraih gelas yang ada di depannya lalu meneguk air putihnya, "Kalo semuanya nggak di lihat bisa hilang semua dananya."


"Yaudah lah hilang ya hilang aja." Jawab Aira dengan ringannya.


"Mau hidup miskin sama gue? Nggak takut hidup nggak kaya macam sekarang?" Tanya Gesa kemudian dan ingin tahu bagaimana jawaban sekaligus respon Aira.


"Mau kok kak, hidup nggak semuanya tentang kekayaan." Jawab Aira dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Gesa mengerutkan alisnya menatap Aira, "Kenapa mau? Alasannya?"


"Kan kak Gesa bilang hidup miskin sama kak Gesa dan tanpa harta sama kak Gesa, ya aku mau.. Asal sama kak Gesa."


"Kita bisa cari uang dan rejeki dimanapun tapi support system lebih segalanya. Menurut aku, aku bisa melakukan apapun dengan ada seseorang yang dukung aku dan kalo kita miskin kita harus saling mendukung buat melakukan apapun." Jelas Aira yang membuat Gesa tersenyum kecil tanpa sadar.


"Bikin baby yuk Ra."


UHUK!!


Aira tersedak makannya begitu saja saat mendengar ajakan Gesa yang selalu vulgar tanpa filter.


"Minum nih." Ucap Gesa lagi dengan menyodorkan gelasnya pada Aira.


"Kak Gesa kenapa sih selalu ajak aku gituan mulu, heran deh.. Nggak capek apa?" Omel Aira dengan mengusap-usap bibirnya.


Gesa tertawa pelan mendengar pertanyaan Aira, "Gimana mau capek orang lo aja seksi mulu."


"Seksi darimananya? Dari hongkong iya."


Gesa menatap penampilan Aira malam ini, memakai daster tipis dan kulit putih bersih menjadi perpaduan yang cocok di matanya.


"Spanyol Ra Spanyol.. Tubuh lo kayak gitar Spanyol sumpah."


"Gimana gue nggak betah sama lo orang tiap hari disuguhin tubuh bak gitar Spanyol mulu apalagi daster lo yang bikin gue arghhh.. Udahlah." Lanjut Gesa dengan mengusap wajahnya kasar.


Sadar akan tatapan Gesa yang fokus menatap dadanya, Aira segera menutupi area dada dengan kedua tangannya.


"Kak Gesa ngapain lihatin dada aku?" Tuduh Aira dengan memincingkan mata menatap Gesa.


Gesa berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dimana Aira tengah duduk, "Minum susu dari sumbernya." Jawab Gesa singkat dan duduk di meja tepat di depan Aira.


"Apaan sih kak? Nggak mau! Jatah bulanan aja masih utuh kok main di tambahin lagi." Jawab Aira dengan memundurkan duduknya namun tangannya masih berada di atas dadanya.


Gesa menghela nafasnya pelan lalu mengusap wajahnya, "Bisa-bisanya punya istri dijatah puluhan juta perbulan nggak di buat beli apa-apa."


"Dikira gue kerja buat janda kembang kali."


"Mana tiap bulan cuma bayar biaya admin doang.. Astaga istri gue." Lanjut Gesa bergumam dan tanpa berfikir panjang lagi, ia mendekata ke arah Aira lalu mengangkat tubuhnya begitu saja.


KYAAA!!


"KAK GESA MAU NGAPAIN?" Teriak Aira panik dengan berusaha turun dari gendongan Gesa yang mulai berjalan menaiki tangga.


"Sumpah kak ini nggak lucu ya."


"Turunin aku atau kita akan jatuh berdua." Ancam Aira dengan melompat-lompatkan badannya di gendongan Gesa.


Gesa menggelengkan kepalanya lalu mengecupi bibir Aira tanpa henti karena gemas.


"Punya anak cowok dikasih nama Gavi ganteng nggak sih Ra? Mau deh punya anak cowok dari rahim lo."


"Belum dikasih sama Tuhan kak, belum rejekinya.. Jadi, kak Gesa turunin aku." Jawab Aira dengan ringannya.


Gesa mengangakat kakinya untuk membuka pintu lalu masuk perlahan menuju kamar, "Maka dari itu Ra, biar cepet dikasih kita harus usaha."


"Kak Ges, aku akan marah beneran sama kak Gesa kalo kak Gesa ma-"


BRAKK!!


Gesa menendang pintu kamar keras agar tertutup dan tidak lupa menguncinya lalu membanting tubuh Aira yang kecil di ranjang kingsize empuk miliknya begitu juga Aira.


Menaiki tubuh Aira tanpa ragu lalu mengecup pelan leher Aira, "Besok harus belanja gue anter! Habisin uang gue." Bisik Gesa yang membuat Aira meremang.


"Kalo tetep nggak mau belanja, gue siap gempur lo tiap hari bahkan tiap jam.. Kalo perlu sampai tenaga lo habis dan bibir lo nggak bisa lagi teriak-teriak nama gue."

__ADS_1


"Belanja nggak?" Lanjut Gesa yang mendapat anggukan kepala dari dari Aira dengan memejamkan matanya karena takut pada mata Gesa yang tajam seperti mata elang.


"Jawab Ra?!"


"I-Iya kak Gesa.. Besok belanja." Jawab Aira yang mendapat senyuman serta kecupan kecil dilehernya dari Gesa.


"Good girl.."


...🔥🔥🔥...


Gesa menjatuhkan lengannya di ranjang bermaksud memeluk Aira yang ada di sebelahnya. Namun, tidak ada siapapun dan ranjang yang terasa dingin membuat ia bangun dengan cepat.


"Kemana Rara kok nggak ada?" Gumam Gesa pelan dengan mengusap mata kantuknya.


Gesa menyalakan lampu tidur di atas nakas dan meraih ponsel mahalnya untuk melihat sekarang pukul berapa.


"Jam dua dini hari dan kemana istri gue?" Ucap Gesa pelan bertanya-tanya bersamaan dengan berdiri dan memakai celana pendeknya tanpa kaos alias bertelanjang dada.


Mereka berdua memang melakukan hubungan suami istri dan entah selesai jam berapa, yang jelas mereka berdua ketiduran dan sekarang Gesa tengah bingung di jam dua dini hari kemana istrinya pergi.


"SAYANG." Teriak Gesa dengan berjalan menuruni tangga.


"YANG.."


"RA, LO DIMANA SIH?"


Melihat lampu dapur yang menyala, Gesa segera berlari menuju dapur dan menemukan Aira yang terduduk di meja dengan ice cream di tangannya.


Cup


Gesa mengecup singkat bibir Aira, "Jam segini makan ice cream?" Tanyanya kemudian.


Aira menganggukkan kepalanya pelan, "Haus kak tapi nggak tau juga maunya ice cream bukan air putih.. Untung aja ada stok ice cream tadi sore yang kak Gesa beli." Jelasnya dengan asyik memakan ice creamnya tanpa menghiraukan Gesa.


"Seenak itukah ice creamnya? Padahal itu ice cream sisa." Tanya Gesa lagi dengan mengusap bibir Aira yang kotor karena lahap memakan ice creamnya.


"Enak kak."


"Yaudah gue minta, satu sendok aja."


Mendengar ucapan Gesa, Aira segera menyembunyikan ice cream di balik punggungnya, "Nggak mau, ini milik aku kak.. Jangan minta." Sewot Aira kemudian.


"Dikit aja satu sendok."


"Nggak mau kak, aku pelit kali ini."


"Maafin ya kak.. Aku juga bingung kenapa pingin pelit gitu aja sama kak Gesa." Lanjut Aira dengan mata berkaca-kaca dan menundukkan kepalanya.


Tangan Gesa mengusap lembut rambut Aira lalu mengecupnya, "Yaudah dimakan lagi ice creamnya sayang.. Nggak usah sedih gitu, besok gue beliin lagi. Semau lo dan lo yang pilih sendiri." Rayu Gesa pada Aira.


"Janji ya kak, nggak boleh bohong kali ini."


Gesa menganggukkan kepalanya, "Janji.. Uang gue nggak akan habis cuma buat beli ice cream doang."


"Tapi kak Ges, besok ak-


"Ra, kemana??" Tanya Gesa cepat saat Aira tidak melanjutkan ucapannya dan turun dari meja begitu saja lalu berlari menuju cucian piring di dapur.


HOEKKK..


HOOEKKKK...


"Masuk angin nih pasti. Lagian jam segini ngapain juga makan ice cream?" Omel Gesa dengan memijit pelan tengkuk Aira dan mengumpulkan rambut panjangnya.


Aira hanya diam dan tidak menanggapi omelan Gesa, badannya berasa lelah, lemas dan tanpa tenaga begitu saja.


"Ayo ke kamar kak." Gumam Aira pelan dan entah keberanian darimana ia memeluk Gesa erat dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Gesa.


Gesa merasakan nafas Aira yang hangat di lehernya. Tidak tega melihat sang istri yang lemas seperti ini, Gesa segera mengangkat tubuh lemas Aira berjalan menaiki tangga menuju kamar.


"Bahkan dengan beraninya lo keluar kamar tanpa daleman dan cuma kimono doang.. Astaga istri seksi sekaligus polos gue." Gumam Gesa pelan setelah melihat pakaian Aira yang berserakan diatas karpet bulu.


Gesa menidurkan Aira di ranjang dengan hati-hati dan tidak lupa mengecup keningnya.


Merasakan harum tubuh Gesa yang akan menjauh dari tubuh lemasnya, Aira dengan cepat menarik lengan Gesa yang membuat sang pemilik lengan tidak seimbang dan terjatuh begitu saja di atas Aira.

__ADS_1


"Mau dikelonin kak Gesa, malam ini aja."


...🔥🔥🔥...


__ADS_2