AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
96 | PERJALANAN BISNIS


__ADS_3

"Aku berangkat dulu ya sayang."


"Kamu baik-baik di rumah mama dan kalo ada apa-apa langsung hubungi aku."


"Pokoknya kamu jangan lahiran dulu sebelum aku pulang." Lanjut Gesa kemudian yang membuat Aira tertawa kecil.


Aira mengusap perutnya, "Gimana mau lahiran orang ini masih tujuh bulan.. Kamu harus pulang waktu acara pesta ya."


"Aku tunggu."


Gesa tersenyum lembut lalu mengusap pipi Aira dengan sayang.


"Ini kamu mau berangkat ke rumah mama barengan sama aku ke bandara atau kamu sama sopir aja?" Tanya Gesa.


Aira sudah memiliki janji dengan teman lamanya dan ia sengaja tidak memberitahu Gesa karena jika Gesa tahu pasti Gesa tidak akan berangkat dan memilih untuk menemaninya.


Gesa sampai sekarang belum percaya jika semua teman Aira itu tulus berteman hingga ia berani seposesif itu pada Aira.


"Aku biar dianter sopir aja deh nanti aku mampir ke kios buah beliin titipan mama." Bohong Aira.


Gesa menganggukkan kepalanya percaya lalu mengecup kening Aira dengan sayang.


"Kamu hati-hati ya kalo udah sampai disana hubungi aku segera."


"Oke sayang laksanakan." Ucap Gesa cepat dan berjalan menuju mobil.


Aira segera memasuki rumah kembali untuk mengambil ponsel dan slingbag yang sudah ia siapkan.


"Deva udah nunggu lama mungkin ya?" Gumamnya pada diri sendiri.


Deva adalah satu-satunya sahabat Aira dulu yang lama pindah hingga kini mengunjungi kota dan ingin bertemu dirinya.


"Jadi sekarang nona berangkatnya?"


Aira menganggukkan kepalanya, "Iya pak sekarang."


Sopir tersebut tampak diam mengamati penampilan Aira dan matanya fokus menatap alas kaki yang digunakan Aira sedikit tinggi dan runcing.

__ADS_1


"Maaf nona, apakah tidak sebaiknya nona memakai flatshoes saja.. Nona lagi hamil, nanti takutnya kenapa-napa kalo jalan apalagi alas kaki yang nona gunakan sedikit tinggi dan runcing."


"Tuan muda bisa marah kalo tau nantinya." Lanjut sopir tersebut mengingatkan.


Aira tersenyum kecil, "Nggak akan marah pak, orangnya nggak disini."


Sopir tersebut memberi isyarat dengan menatap anak buah Gesa yang banyak memenuhi halaman rumah.


"Mungkin bukan saya yang melapor ke tuan muda, nona.. Tapi mereka." Ucap sopir tersebut.


Aira menepuk pelan keningnya karena ia benar-benar lupa jika Gesa tidak akan melepaskan pengawasan terhadap dirinya barang sedikit pun.


"Jangan heran jika tuan muda lebih pintar dan lebih teliti dari anda nona."


Aira mengambil kembali flatshoes yang ia lepas tadi dengan bergumam, "Emang tuan muda si paling-paling.."


...🔥🔥🔥...


"Kita ke restoran yang kemarin ya pak, waktu saya sama mas Gesa." Ucap Aira pada sopir begitu mereka dalam perjalanan menuju rumah Sofia.


Aira hari ini ingin bertemu Deva yang merupakan sahabat baiknya.


Aira sendiri masih takut-takut karena ini adalah kali pertamanya ia berbohong pada Gesa apalagi tidak memberitahunya jika ia bertemu dengan sahabatnya.


"Nggak bilang gapapa kali ya? Kan aku perginya sama sopir juga."


"Tapi udah janji kemana-mana harus bilang biar nggak khawatir." Gumam Aira pelan.


Aira menyalakan ponselnya untuk melihat jam, "Mas Gesa mungkin masih di pesawat juga.. Nggak papa deh ya pamitnya nanti kalo udah pulang ketemu sama Deva."


"Kenapa tampak gelisah nona?" Tanya pak sopir yang tidak sengaja menatap Aira dari kaca.


Aira tersenyum kecil, "Nggak ada apa-apa kok pak."


"Perutnya sakit atau gimana?"


"Nggak pak, alhamdulilah gapapa." Jawab Aira cepat.

__ADS_1


Aira merapikan rambut panjangnya dan menatap pak sopir dengan tatapan tidak terbaca. Hingga sang empu sadar akan tatapan sang majikan padanya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Emm.."


"Gini pak, jangan bilang ke mas Gesa ya kalo kita berdua mampir restoran buat ketemu sama teman saya."


"Temen saya cewek kok pak bukan cowok." Lanjut Aira cepat.


Pak sopir tersenyum pelan lalu menganggukkan kepalanya, "Baik nona."


"Anda belum pamit nona?"


Aira menggelengkan kepala dengan menunjukkan gigi putihnya meringis, "Belum pak."


"Bapak pasti tau lah gimana mas Gesa kalo saya keluar sama temen-temen saya pasti nggak di bolehin dan pasti dengan tegasnya ngotot nggak jadi perjalanan bisnis."


"Padahal kan juga rapatnya perusahaan itu penting." Lanjut Aira bermaksud menyuarakan hatinya.


"Istri dan anak memang prioritas utama dari pekerjaan apapun nona."


"Dan tuan muda Gesa setau saya baru kali ini rela meninggalkan apapun demi istri dan anaknya.. Itu termasuk kepala rumah tangga yang sangat baik nona."


Mendengar ucapan pak sopir mendadak Aira merasa bersalah sendiri, apalagi ditambah kehamilannya yang membuat perasaan yang ada di dirinya semakin sensitif saja.


Merasa bersalah dengan apa yang dilakukan, Aira dengan cepat mencari nomor Deva di kontak ponselnya.


"Kita ketemu di rumah mama mertua aku aja ya Dev, aku tunggu disana." Ucapnya dengan orang yang berada di seberang panggilan.


"Kita langsung ke rumah mama aja pak."


"Baik nona." Ucap pak sopir cepat dengan tersenyum kecil.


Begitulah aksi pak sopir untuk membatalkan niat kebohongan yang akan dilakukan oleh nona mudanya.


Bukan bermaksud apa atau gimana, tapi yang jelas pak sopir keluarga Deanova berharap hubungan Aira dan Gesa tetap baik-baik saja.

__ADS_1


Pak sopir sendiri yang menemani Gesa dari kecil bahkan ia juga tahu bagaiman Gesa menjadi hangat, kejam bahkan pernah menghabisi nyawa seseorang hanya untuk orang-orang yang di cintainya.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2