AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
54 | MAU KAK GESA


__ADS_3

...FOLLOW INSTAGRAM :...


...@npaaaaa___...


...🔥🔥🔥...


Pagi yang cerah dimana Aira sudah menyiapkan kebutuhan Gesa serta dirinya yang sudah rapi untuk pergi ke suatu tempat untuk bertemu Novita, sang bunda.


Untuk menghindari pertanyaan dan kecurigaan Gesa, Aira sengaja bangun lebih awal sebelum Gesa tahu bahwa Novita mulai mencampuri urusan rumah tangganya.


Aira mengambil secarik kertas di laci nakas dan menulis sesuatu disana yang intinya berpamitan pergi kepada Gesa.


"Kita ketemu oma yang sayang tapi nggak dianter dulu sama papa." Bisik Aira pelan dengan tangan yang mengusap perutnya pelan lalu menatap Gesa.


"Aku usahakan kita tetap bersama kak sampai aku melahirkan anak kita.. Aku janji akan urus perceraian kita setelah anak kita lahir nanti." Lanjutnya kemudian.


Dengan menggunakan sepatu flat shoesnya, Aira dengan hati-hati menuruni tangga dan masih berwaspada juga kepada anak buah Gesa.


Gesa memang selalu memantau Aira lewat pengawalan yang ia berikan. Entah itu pengawalan Aira bersama Gesa maupun Aira pergi tanpa Gesa.


Yang Aira takutkan cuma satu, dimana Novita akan memaksa dan menghalalkan segala cara untuk memisahkannya dari Gesa.


"Untung aja hari ini hari Minggu, jadi kak Gesa pasti bangunnya siang." Gumamnya bersamaan dengan berlari kecil menuju pintu pagar.


"Permisi.. Nyonya mau kemana pagi-pagi begini?"


"Ada yang bisa saya bantu?" Lanjut salah satu penjaga rumah saat tahu Aira akan membuka pagar.


Aira yang sudah senang karena berhasil keluar dari rumah mendadak tremor sendiri saat tiba-tiba ketahuan oleh salah satu penjaga rumahnya.


"N-Nggak ada yang perlu dibantu saya bisa sendiri. kebetulan juga saya sudah pesan taksi."


"Mau kemana nyonya pagi-pagi begini? Kenapa nggak saya antar aja.. Saya ambil mobil dulu ya."


"Ehh nggak perlu. Itu taksinya sudah datang." Jawab Aira cepat yang kebetulan bersamaan dengan taksi yang sudah Aira pesan.


"Nanti kalo mas Gesa tanya jawab aja saya ke pasar."


"Emang belum pamit ya nyonya?"


"Tadinya mau pamit tapi mas Gesa masih tidur. Tapi udah saya tinggalin catatan kok kalo saya pergi."


Pengawal tersebut tanpa curiga menganggukkan kepalanya cepat, "Hati-hati ya nyonya.. Kalo ada apa-apa langsung hubungi kami aja."


Aira tersenyum ramah lalu berjalan memasuki taksi dan tetap bertekad bertemu Novita sendirian kali ini tanpa sepengetahuan Gesa sekalipun.


"Maaf neng ini kita tujuannya kemana ya?" Tanya sopir taksi pada Aira.


Aira yang awalnya diam melamun memikirkan rumah tangganya bersama Gesa mendadak kaget lalu menghela nafasnya pelan.


"Taman kota ya pak."


"Baik neng."


Aira sangat bimbang kali ini dan memilih tidak membicarakannya pada Gesa. Padahal Gesa selalu meminta Aira bahwa jika ada apa-apa ataupun minta apapun harus bilang padanya.


Berbeda dengan fikirannya, dimana Aira yang tahu bahwa cintanya pada Ges hanya sementara dan tidak akan mendapat balasannya apapun darinya.


Maka mau tidak mau, Aira harus bisa menghadapi masalahnya bersama Novita yaitu sang bunda yang hanya memanfaatkan dirinya untuk maraup keuntungan yang besar.


"Kamu akan tetap menjadi perisai mama sayang."


"Apapun akan mama lakukan buat kamu asal kamu tetap baik-baik saja.. Dan mama yakin, kehidupan kamu akan baik-baik saja kalo kamu ikut papa."

__ADS_1


"Hari ini kita ketemu oma ya sayang dan bilang sama oma kalo kamu nggak akan ninggalin papa sebelum kamu keluar dari perut mama." Lanjut Aira dengan tangan yang mengusap perutnya lembut lalu mengusap air matanya kasar.


...🔥🔥🔥...


"Yang.."


"Sayang.."


"Sayang.."


Panggilan Gesa dengan menepuk ranjang di sebelahnya lalu terduduk cepat saat sadar bahwa Aira tidak ada disampingnya.


Gesa segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa memikirkan apapun.


Yang Gesa tahu bahwa setiap pagi rutinitas Aira adalah di lantai bawah bersama asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan untuknya.


"Tumben banget nggak bangunin gue pagi-pagi begini." Gumam Gesa pelan setelah selesai membersihkan dirinya dengan mengusap rambutnya yang basah dan berjalan menuju nakas.


Mata Gesa memincing cepat saat tahu ada kertas disana dan ia dengan cepat mengambil kertas tersebut lalu membacanya.


Tidak menunggu apapun lagi Gesa dengan cepat berlari turun dan memanggil semua anak buahnya.


"Siapa yang lihat istri gue pagi ini?" Tanya Gesa tegas dan kelihatan marah besar.


"Panggil asisten rumah tangga semuanya!!" Teriaknya keras.


"Nggak mungkin diantara kalian semua yang nggak lihat istri gue pagi."


"Permisi bos.. Saya pagi melihat bu bos keluar naik taksi." Sahut salah satu anak buah Gesa tepatnya orang yang membuka pagar untuk Aira di pagi hari.


Mata Gesa memincing menatap anak buahnya tersebut, "Kemana pamitnya? Kenapa lo ijjinin dan kenapa lo nggak bilang sama gue?!"


"Maaf bos Ges, tapi bu bos bilangnya sudah pamit lewat surat karena bos Gesa masih tidur."


"Gue harus cek dimana Aira sekarang.. Nggak mungkin pergi ke pasar tanpa ijin sama gue dan gue tau itu." Gumam Gesa bersamaan dengan membuka laptopnya untuk mencari lokasi Aira sekarang.


Beberapa waktu lalu memang Gesa sengaja menukar liontin kalung Aira dengan liontin yang sudah Gesa desain khusus berisi GPS.


"Gue nggak sebodoh itu Ra dan gue yakin pasti lo hari ini ketemu sama bunda lo yang brengsek itu.. Bunda yang nggak pantes lo sebut ibu sekalipun."


Gesa memang sudah tahu bagaimana karakter Novita serta Geral yang selalu saja membuat Aira takut bahkan harus tunduk mengikuti kemauannya.


"Kita lihat aja kali ini.. Gue yang akan bikin Aira menjauh dari manusia hina dan gila harta seperti Novita dan Geral." Geram Gesa kemudian dengan mengepalkan tangannya setelah titik merah muncul di layar laptop mahalnya.


Dimana titik merah tersebut adalah lokasi Aira menemui Novita.


...🔥🔥🔥...


"Siapkan mobil sekarang juga dan bawa ini ke dalamnya!" Perintah Gesa pada anak buahnya bersamaan dengan menyerahkan koper besar dan berat berwarna hitam.


Gesa sudah memikirkan matang-matang dan yakin bahwa Novita meminta bertemu dengan Aira hanya ingin menghancurkan rumah tangganya.


Novita tidak berhak untuk itu!


Itulah alasan Gesa.


Novita hanya ibu angkat Aira dan Novita suka bertingkah semena-mena terhadap Aira, Gesa benci hal tersebut.


Dilain tempat Aira tengah duduk bersama Novita. "Bunda mau kamu minta uang sama Gesa.. Kuras habis hartanya lalu tinggalin dia."


"Bunda nggak bisa kayak gitu. Mas Gesa suami Aira dan sekarang Aira juga lagi mengandung anak mas Gesa."


"Gesa itu nggak akan pernah cinta ataupun sayang sama kamu.. Dia hanya memanfaatkan kamu dan kamu harus sadar itu."

__ADS_1


"Demi apapun bun, Aira bener-bener nggak butuh uang mas Gesa sepeser pun." Jawab Aira cepat dengan mengusap air matanya.


Keadaan dimana Novita yang semakin hari menambah beban pikiran Aira ditambah dengan perasaan cinta pada Gesa yang bertambah berkembang membuat dirinya hampir gila sendiri.


"Aira bisa kasih bunda uang setiap bulannya kalo emang itu yang bunda mau tapi untuk berpisah sama mas Gesa sekarang.. Maaf Aira nggak bisa bund."


"Aira seorang ibu dan istri sekarang jadi Aira harus tetap menghormati mas Gesa dan mencintai mas Gesa dengan tulus."


"Mau bagaimana perasaan mas Gesa pada Aira hari ini, besok maupun seterusnya itu urusan mas Gesa." Jelas Aira yang menahan rasa sakit di relung hatinya.


Memang bukan urusan Aira jika Gesa tidak membalas perasaannya untuk saat ini. Namun, Aira berharap Gesa tetap mencintai anaknya dan merawatnya dengan ikhlas jika Aira sudah pergi dari kehidupannya.


"KAMU MULAI BERANI YA BANTAH BUNDA?!!" Teriak marah Novita bersamaan dengan posisi berdiri.


Aira menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya kasar, "Aira nggak berani sama bunda.. Maafin Aira bun kalo Aira bantah bunda."


"Pokoknya bunda mau kamu secepatnya kuras habis harta si Gesa lalu ceraikan dia."


"Bunda bener-bener nggak sudi punya menantu seperti dia!!"


Novita melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh dan sombong. "Bunda udah atur semuanya."


Aira memincingkan matanya bingung. "Atur gimana maksud bunda?" Tanyanya cepat.


"Bunda udah atur semuanya. Setelah kamu kuras habis harta Gesa si sombong anak tunggal itu, kamu harus ceraikan dia lalu gugurin bayi nggak berguna yanga ada di perut kamu itu."


"Dan bunda akan jodohkan kamu sama juragan sawit kaya raya kenalan bunda."


Mata Aira melotot seketika mendengar penjelasan sang bunda yang menurutnya sangat kelewatan.


Aira mengusap air matanya dengan kasar, "Aira nggak akan mau gugurin bayi yang sekarang Aira kandung bun dan Aira nggak akan cerai dengan mas Gesa kalo bayi Aira belum lahir." Jawab Aira cepat dengan menahan isak tangisnya lalu meraih tas kecilnya dan bermaksud pergi dari tempat tersebut.


"Bunda nggak akan biarin kamu pergi kali ini dan bunda akan bawa kamu pulang." Cegah Novita dengan menarik kasar pergelangan tangan Aira.


"Aira nggak mau bunda.. Aira nggak mau."


"Bisa lepaskan istri saya yang cantik ini, nyonya?" Ucap Gesa tiba-tiba dengan wajah yang memerah karena marah namun ia mampu menahan emosinya.


Gesa dengan cepat meraih tangan Aira dengan kasar lalu mengecupinya lembut tanpa malu di depan Novita dan memasukkan Aira ke dalam dekapan hangatnya.


"Udah gapapa sayangku jangan nangis lagi oke? Gue disini." Bisik Gesa pelan dengan mengecup kening Aira lembut.


Gesa menatap Novita dengan pandangan jijik, "Anda ibu macam apa nyonya? Bisa-bisanya memaksa istri saya untuk menggugurkan bayi yang dia kandung?"


"Saya tahu anda bukan ibu kandung Aira.. Jadi saya tidak bisa lagi menghormati anda!"


Gesa melempar koper besar ke atas kursi taman tanpa ragu, "Jumlah uang untuk mengganti semua perawatan dari Aira kecil hingga besar.. Lebih dari cukup!!"


"Dan saya minta jangan ganggu Aira lagi serta rumah tangga kami berdua." Tegas Gesa lagi dan lagi.


"Anak muda macam kamu tau apa?!!"


Gesa tersenyum tipis menatap Novita, "Kalo sekali lagi saya tau bahwa anda dan putra anda, Geral mengusik Aira maupun keluarga saya.. Kita lihat permainan apa yang akan saya mainkan terhadap anda nyonya."


Tidak menghiraukan Novita yang menggerutu kecil, Gesa dengan cepat menuntun Aira menuju mobil.


"Kita ke dokter sekarang! Gue nggak mau anak kita kenapa-napa." Tegas Gesa kemudian.


Aira tanpa sadar menganggukkan kepalanya dan tetap memeluk erat lengan Gesa.


"Aira mau kak Gesa terus yanh jadi suami Aira, ya Tuhan."


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


__ADS_2