
...IG : FRISKYA___...
"Maaf ya Ra, kedai ini bukan milik gue lagi. Tapi lo masih bisa kok kerja disini." Ucap Revan meminta maaf pada Aira.
Aira dan Dika yang baru saja datang dan memasuki area dapur mendadak bingung dengan semuanya yang ada dimana Revan yang sudah siap dengan kardus-kardus yang berisi semua rekapan-rekapan kedai selama ini.
"Maksudnya ini gimana kak?" Tanya Dika kemudian.
"Alhamdulilah gue ada rezeki lebih dan gue bisa buka kedai baru yang lebih besar dan tempatnya juga strategis."
"Gue duluan ya, pacar gue udah nunggu soalnya." Lanjut Revan lalu pergi begitu saja meninggalkan Dika dan Aira.
Dika dan Aira saling berpandangan karena bingung dengan siapa ia harus minta gaji serta dengan siapa harus berdiskusi masalah kedai lainnya jika bukan Revan lagi sebagai bosnya.
"Permisi nona Aira?" Sapa salah satu pria paruh baya yang menggunakan kemeja rapi.
"Iya, saya Aira." Jawab Aira dengan ramah dan menerima jabatan pria paruh baya tersebut.
"Perkenalkan nama saya Jordi bisa dipanggil Joe. Saya disini sebagai kepala kedai yang baru dan kebetulan bos saya atau bisa dibilang yang beli kedai ini belum pulang dari perjalanan bisnisnya."
"Jadi untuk sementara waktu saya yang pegang dengan saya nurut aja sama nona Aira dan mas Dika baiknya gimana." Lanjut Joe menjelaskan semuanya.
Aira menunjuk dirinya sendiri, "Nurut sama saya pak? Seriusan?" Tanya Aira kaget karena dirinya dan Dika yang baru saja bekerja beberapa minggu sudah memegang semuanya.
"Lo urus aja sih Ra.. Lo taukan gue disini ngga ada niatan kerja dari awal cuma duduk-duduk doang." Sahut Dika dengan mengusap wajahnya kasar.
"Gue mau minta penjelasan sama abang gue.. Lo disini bentar ya." Lanjut Dika dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Aira.
Aira menghela nafasnya pelan lalu menatap Joe dan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang saya boleh lihat laporan kedai kopi ini nona Aira?" Tanya Joe yang diangguki kepala oleh Aira.
Aira berjalan menuju dimana tempat laporan tersebut diikuti oleh Joe yang ada di belakangnya. "Panggil Aira aja pak, jangan nona. Saya bukan orang terhormat yang harus di hormati banget." Ucap Aira dengan tersenyum ramah.
Mengingat Joe harus menjaga rahasianya perihal pemilik kedai adalah Gesa dan Gesa adalah suami Aira, Joe memutuskan untuk bungkam dan menganggukkan kepalanya patuh.
"Rencana awalnya saya dan kak Revan mau membuat resep baru berupa roti tapi sekarang kak Revan sudah pindah, mungkin akan dibatalkan lagi." Ucap Aira tiba-tiba dengan rasa kecewa.
Joe tersenyum mendengar ucapan Aira yang polos dan sesuai dengan apa yang ia dengar dari Gesa beberapa waktu lalu.
"Kan saya sudah bilang sama nona, bahwa-"
"Aira pak Joe bukan nona." Sahut Aira cepat saat Joe kembali memanggil dirinya dengan embel-embel nona.
"Maaf nona, saya terbiasa memanggil nona dengan gadis cantik." Jawab Joe lalu tertawa begitu saja yang membuat Aira ikut tertawa dan tersipu malu.
"Tapi tenang saja nona Aira, saya sudah berkeluarga dan saya tidak akan bermacam-macam kepada nona."
Aira menganggukkan kepalanya, "Saya percaya kalo pak Joe orang baik, semoga keluarganya sehat selalu dan lancar rejekinya."
"Amiin non terimakasih untuk doanya.. Mari kita lanjutkan resep apa yang akan nona keluarkan untuk kedai ini, nanti akan saya hubungi bapak owner gimana pendapat beliau."
...🔥🔥🔥...
"Di depan ada plakat buka lowongan kerja ya? Boleh dong kalo gue daftar."
"Dan untuk masalah kita beberapa waktu lalu maaf ya, gue nggak bermaksud kayak gitu sama Gesa." Ucap Nayla.
__ADS_1
Nayla mantan Gesa alias cinta pertama Gesa, mendadak melamar pekerjaan dimana tempat Aira bekerja saat ini. Berkedok baik yang aslinya hanya ingin menghancurkan rumah tangga Gesa dengan Aira dengan harapan agar dirinya bisa bersama Gesa dan hidup berlimpah harta.
"Mungkin kak Nayla bisa duduk disini nanti aku panggilkan pak Joe sebagai manager kedai ini." Ucap Air kemudian mempersilahkan Nayla duduk.
"Gue cuma mau Gesa.. Dan jalan satu-satunya buat dapetin Gesa lagi cuma hancurin rumah tangga kalian berdua sekaligus gue harus cari perhatian lebih dari Gesa lewat lo, Aira Deanova." Gumam Nayla dengan tersenyum sinis setelah kepergian Aira.
Joe berjalan mendekat ke arah Nayla yang diikuti oleh Aira dibelakangnya.
"Pak Joe, ini kak Nayla yang mau bekerja di kedai kita ini.. Kak Nayla juga udah siapin berkas-berkasnya."
"Oke non, nanti saya akan lihat dulu kelengkapan berkasnya." Ucap Joe dengan meraih kelengkapan berkas Nayla.
Aira membungkukkan badannya, "Saya permisi dulu pak Joe." Pamitnya kemudian dan kembali melayani pelanggan.
Sedangkan Joe sendiri masih hafal dengan wajah Nayla, dimana gadis yang pernah membuat Gesa hampir gila karena gadis yang merupakan cinta pertamanya meninggalkan begitu saja demi cowok lain.
"Ada yang bisa dibantu? Maaf saya manajer baru disini." Tanya Joe mencoba seramah mungkin.
Dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada, Nayla berlagak sombong di depan Joe.
"Saya mau melamar kerja disini dan saya punya skill kok buat jadi pelayan doang." Ucapnya yang membuat Joe menggelengkan kepalanya dan tersenyum remeh.
"Maaf ya mbak, tapi bos saya itu lagi cari pegawai yang niat bekerja dan serius bukan seperti anda yang hanya bergaya-gaya saja."
"Tapi saya emang udah niat bekerja disini dan saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
"Tapi mbak, disin-"
"Terima ajalah pak Joe. Lagian juga kita emang butuh pegawai baru." Sahut Aira yang tiba-tiba datang dari arah dapur memotong ucapan Joe begitu saja.
Joe mengulurkan tangannya, "Selamat bergabung di kedai kami.. Saya harap anda bisa membuktikan bahwa anda benar-benar bisa dipercaya dalam bekerja." Ucapnya yang disambut anggukkan kepala oleh Nayla tapi mengabaikan uluran tangan Joe.
Aira menatap Joe lalu menganggukkan kepalanya pelan seolah berkata tidak apa-apa dan Joe lalu pamit kembali menuju dapur.
"Mulai kapan ya gue bisa kerja disini, soalnya gue mau ketemu sama Gesa." Ucap Nayla tanpa sungkan di depan Aira.
Aira memincingkan matanya, "Kok bawa-bawa kak Gesa segala." Gumam Aira pelan namun masih terdengar jelas di telinga Nayla.
"Ya karena tujuan gue masuk kedai ini cuma ketemu Gesa. Dimana ada lo pasti ada Gesa dan gue nggak peduli sama hubungan suami istri lo yang bohong atau nyata, yang jelas gue cuma mau balikan sama Gesa lagi."
"Inget ya cewek murah, gue adalah cinta pertamanya Gesa dan Gesa nggak akan pernah lupain gue gitu aja." Lanjut Nayla lalu mendorong bahu Aira kasar dan pergi begitu saja.
...🔥🔥🔥...
Cup
"Udah pulang sayang?" Tanya Gesa setelah mengecup kening Aira begitu memasuki kedai.
Aira yang sedang memakai jaketnya mendadak kaget lalu mendorong Gesa begitu saja dan dengan cepat menutup hidungnya.
"Kak Gesa pake parfum apa sih? Kok baunya gini-gini."
Gesa tampak bingung sendiri dengan tingkah Aira, ia mengendusi kaos yang tengah ia pakai, "Parfum biasanya sayang nggak ganti."
Aira memundurkan langkahnya, "Kak Gesa jangan deket-deket sama aku, parfum kak Gesa bikin aku mau muntah tau nggak."
"Ya terus pulangnya gimana? Naik mobil sekarang nggak naik motor."
__ADS_1
Aira memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja pening dengan sedikit menawan nafasnya agar aroma Gesa yang membuatnya hampir mual tidak menyengat begitu saja.
"Sumpah bau kak Gesa bikin aku mau muntah, nggak kayak biasanya." Ucap Aira saat Gesa berusaha menarik lengan Aira.
Gesa yang bingung harus apa hanya mengusap wajahnya kasar karena tingkah Aira tidak seperti biasanya.
"Terus gue harus gimana? Kita pulang sendiri-sendiri gitu." Lanjut Gesa kemudian.
Aira yang tidak dapat menahan mualnya lagi tanpa menjawab pertanyaan Gesa, ia segera berlari menuju dapur dan memuntahkan semuanya yang ia makan hari ini.
"Lo kenapa sih? Ke dokter yuk." Panik Gesa dengan memijat pelan tengkuk Aira dan mengumpulkan rambutnya.
Aira menggelengkan kepalanya pelan lalu mendadak lemas memeluk Gesa dan menempatkan wajahnya tepat di leher Gesa.
"Katanya gue bau dan bikin mual, ini kenapa malah nyium-nyium." Gumam Gesa dengan membawa Aira menuju kursi pelanggan.
"Nanti kalo mual tinggal muntah lagi." Jawab Aira dengan rengekan manja dan semakin memgeratkan pelukannya.
Gesa menghela nafasnya dan bingung dengan tingkah Aira akhir-akhir ini. Dengan cepat Gesa mengeluarkan ponsel mahalnya lalu menghubungi anak buahnya untuk membawa mobil karena takut Aira kenapa-napa jika pulang naik motor.
"Lo sebenarnya kenapa sih? Kenapa akhir-akhir ini mual mulu."
"Jarang makan juga.. Kenapa?"
Mendengar pertanyaan Gesa, Aira yang berada di pelukan Gesa hanya menggelengkan kepalanya pelan karena ia juga bingung dengan perubahan yang ada padanya.
Tapi yang jelas ia ingin memeluk Gesa saat ini dan tidak mau ditinggal oleh Gesa.
"Mobil udah dateng.. Yuk ke mobil dan kita ke dokter." Ajak Gesa tiba-tiba saat melihat mobil mahalnya telah datang di depan kedai.
"Nggak mau ke dokter maunya pulang terus tidur." Gumam Aira pelan dengan mata terpejamnya.
Gesa mengusap lembut punggung Aira dan tidak lupa mengecup keningnya dengan sayang.
"Oke kita pulang.. Biar dokter nanti yang ke rumah."
"Nggak mau dok-"
"Kalo tetep nggak mau diperiksa sama dokter yaudah gue pulang sendiri." Sarkas Gesa cepat dengan berusaha melepaskan tangan Aira dari tubuhnya.
Aira yang bertekad kuat tidak mau berpisah dengan Gesa terus saja mengeratkan tangannya di leher Gesa, "Iya-iya mau diperiksa sama dokter tapi pulangnya sama kak Gesa.. Sama peluk kak Gesa."
Gesa tersenyum kecil mendengar Aira yang ingin memeluknya, batin Gesa berbicara sangat langka sekali jika Aira mau berdekatan terus dengannya apalagi memeluknya dan selalu menerima ciuman darinya tanpa protes dan debat.
"Kak Gesa ngapain lepas kaos segala, ih mesum." Gumam Aira pelan saat keduanya telah memasuki mobil dengan tingkah Gesa yang tiba-tiba melepas kaosnya begitu saja.
"Nggak mesum sayang."
Cup
Jawab Gesa yang diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Aira. "Katanya kalo nyium bau gue bawaannya mau mual, yaudah gue lepas aja daripada lo nahan mual-mual dan jauh-jauh dari gue kayak gitu."
Aira tersenyum manis dan mendekatkan tubuhnya lagi memeluk erat lengan Gesa. "Gatau kenapa tiba-tiba cinta sama kak Gesa." Gumam Aira kemudian yang entah Gesa dengan atau tidak.
...🔥🔥🔥...
...IG : FRISKYA___...
__ADS_1