AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
39 | JATAH


__ADS_3

...IG : FRISKYA___...


...🔥🔥🔥...


"Besok gue ada bimbingan belajar pagi dan kayaknya gue nggak bisa barengan sama lo." Ucap Gesa tiba-tiba yang membuat Aira mendongakkan kepalanya.


Mereka berdua tengah berada di teras supermarket karena Aira yang tiba-tiba saja ingin makan ice cream di tempatnya langsung dan mau tidak mau di jam 9 malam Gesa menurutinya.


"Iya kak." Jawab Aira singkat lalu memfokuskan kembali matanya pada ice cream di depannya.


Melihat Aira yang lahap memakan ice cream, bahkan itu sudah kemasan kelima membuat Gesa tersenyum sendiri tanpa sadar.


Tingkah Aira yang sekarang tengah hamil muda benar-benar membuat Gesa tunduk bahkan rela menjadi apapun demi menuruti ibu hamil alias istri cantik yang ada di depannya.


"Surat pengunduran diri aku dari sekolah diurus kak?"


"Kalo belum biar aku aja. Aku udah tahu langkah-langkahnya kok.. Kemarin aku tanya bu Mirna." Lanjut Aira yang membuat Gesa tersadar dari lamunannya.


"Ehh udah kok, udah semuanya."


Ara menganggukkan kepalanya pelan, "Kapan ujian kak Gesa dimulai dan mau lanjut kuliah dimana?" Tanyanya lagi.


"Mungkin satu bulan lagi dan gue belum ada tujuan kemana harus kuliah sekaligus ambil jurusan apa."


"Yang jelas kerja sih banting tulang dulu buat lo sama calon baby kita." Lanjut Gesa.


Aira yang mendengar kata buat lo dan calon baby kita mendadak menghentikan makan ice creamnya lalu mulai mengibasi pipinya yang memerah akibat ucapan Gesa.


"Kenapa pipi lo merah?" Tanya Gesa bermaksud menggoda dengan menoel pelan dagu Aira.


Aira memalingkan pandangannya dan mencoba menatap hal lain pokoknya selain Gesa yang ada di depannya. "Merah karena kedinginan kak, maklum aja aku makan lima cup ini." Bohong Aira dengan memunculkan senyum manisnya.


"Iya percaya merah karena kedinginan bukan karena omongan gue."


"Ih apa sih kak? Selalu deh kayak gitu." Ucap Aira dengan memukul lengan Gesa tiba-tiba.


"Aduh.. Sakit banget Ra."


"Mana ini kemarin terkilir lagi waktu turnamen, ah elah sakit banget." Lanjut Gesa mengaduh karena pukulan Aira.


Aira yang panik segera berdiri dari duduknya lalu dengan cepat duduk di sebelah Gesa dan mengusap lengannya lembut.


"Mana yang sakit?"


"Kenapa nggak bilang dari kemarin sih kak?" Lanjut Aira dengan membantu Gesa melepaskan jaketnya.


"Tangan lo mau ngapain?" Tanya Gesa kemudian karena bingung dengan tingkah Aira yang ingin melepas jaketnya.


Tidak menjawab pertanyaan Gesa, Aira masih saja fokus untuk melepaskan jaket denim Gesa karena penasaran akan luka yang ada di lengannya.


"Sayang.. Ini supermarket. Ya kali gue harus nengokin dedek bayi disini."


"Astaga mesum deh pikirannya, yakali kita melakukan hal tidak-tidak disini kak.. Aku cuma mau lihat luka kak Gesa aja." Jawab Aira dengan menahan greget pada Gesa.


Gesa hanya tertawa mendengar gerutuan Aira sekaligus sifat yang mulai kesal dan greget padanya.


"Kali aja lo mau suasana yang berbeda gitu waktu kita ehem."


Aira menghela nafasnya pelan, "Ehem apalagi? Suasana berbeda juga nggak di tempat umum juga kak, aku gila apa desah-desah di depan umum kayak gini."


"Udah sini dulu lepas jaketnya." Lanjut Aira kemudian.


Gesa menggelengkan kepalanya dan berdiri cepat dari duduknya, "Dirumah aja yuk, sekalian lo obatin.. Malu disini." Ucapnya kemudian.


"Malu kenapa sih kak? Orang kak Gesa juga pake kaos."


Gesa tetap menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju mobil dengan tangan yang menggenggam erat jemari Aira.


"Nggak beli apa-apa lagi kan? Atau mau sesuatu?" Tanya Gesa tiba-tiba saat mereka berdua di tengah perjalanan pulang.


"Nggak deh kak, mau pulang aja.. Obatin lengan kak Gesa aja."


Gesa menganggukkan kepalanya pelan dan tangan kirinya tiba-tiba berada di perut Aira lalu mengusapnya lembut.


"Jagoan papa kalo repotin papa nggak tanggung-tanggung ya." Ucap Gesa kemudian yang membuat Aira tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


"Maaf ya kak kalo aku ngerepotin kak Gesa mulu."


Gesa memalingkan sejenak pandangannya menatap Aira, "Semua cowok akan suka dan nggak ngerasa direpotin sama sekali dengan orang yang dicintainya Ra."


Mendengar jawaban Gesa, Aira dengan cepat menatap Gesa dengan pandangan heran, kaget dan tidak percaya.


"Orang yang dicintainya?"


"Beneran kak Gesa mulai cinta sama aku?"


"Atau cuma perumpamaan aja?"


Batin Aira semakin bertanya-tanya apakah benar dengan semua yang Gesa ucapkan padanya kali ini. Jika memang benar, Aira tidak bisa membayangkan akan sebahagia apa dirinya.


...🔥🔥🔥...


"Nggak ada luka sama sekali perasaan." Gumam Aira saat melihat lengan Gesa.


Mereka berdua tepatnya Gesa dan Aira sekarang berada di dalam kamar dengan posisi Gesa menidurkan kepalanya di paha milik Aira.


"Sengaja bohong biar dimanja sama ayang."


Aira tertawa begitu saja mendengar gombalan Gesa. Memang Gesa selalu bisa membuat Aira tertawa sekaligus sedih dalam waktu bersamaan.


Sadar akan perasaan suka, sayang sekaligus cinta pada Gesa yang kini menjabat sebagai suaminya, membuat Aira semakin sadar diri bahwa siapa dirinya dan dari kasta ekonomi mana dirinya berasal.


Jalan satu-satunya adalah menunggu. Menunggu Gesa menceraikan dirinya saat bayi mereka telah lahir selanjutnya Aira akan tetap memendam perasaan cintanya pada Gesa seorang diri.


"Jagoan papa, lagi apa di dalam?"


"Papa jengukin boleh?" Lanjut Gesa kemudian dengan mengecupi perut Aira dengan gemas.


Tidak memikirkan apapun lagi, tangan Aira dengan berani mulai mengusap lembut rambut tebal milik Gesa. "Udah panjang rambutnya, waktunya di potong nggak sih kak?" Tanya Aira.


Gesa menganggukkan kepalanya, "Besok rencananya sama lo tapi nggak tau besok lo mau atau nggak."


Mata Gesa menatap wajah cantik Aira dari bawah tepat saat ini ia tiduran di paha Aira.


"Cantik.." Gumam Gesa tanpa sadar.


Cup


Tangan Gesa menoel-noel pipi Aira yang kini berada di bawahnya lalu mengecupi bibir seksi Aira tanpa henti. "Lo pake pelet apaan sih Ra?"


"Sumpah demi apapun, lo bikin candu dan bikin gue menggila."


"Jujur aja, gue nggak pernah puas sama lo.. Maunya lagi dan lagi. Gitu mulu heran sendiri gue."


Ocehan Gesa yang hanya ditanggapi Aira dengan tertawa dan pipi yang memerah malu, apalagi di tambah Gesa yang kini melepas kaosnya mampu membuat Aira panas dan ketar-ketir sendiri.


"A-Aku masih hamil muda kak, kita nggak boleh sering-sering bercinta kayak gini." Ucap Aira bermaksud memperingatkan Gesa.


"Kalo gue sering tumpahin benih di rahim lo pasti anak kita lebih mirip ke gue dan gue mau kayak gitu."


Aira menghela nafasnya dan berusaha mendorong lengan Gesa agar menjauh dari tubuhnya, "Itu teori darimana kak, bayi semuanya juga akan mirip sama kedua orangtuanya.. Dan nggak mungkin kalo mirip sama papanya doang."


"Kenapa dorong-dorong gue? Gue bau lagi? Bikin lo mual?" Tanya Gesa beruntun setelah Aira berhasil membuat Gesa menjauh dari tubuhnya.


Aira berdiri dengan cepat lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak kok.. Kak Gesa wangi dan segar malam ini. Jadi takut kalo nanti malem betah dikelonin." Jawab Aira tanpa malu lagi lalu berjalan begitu saja menuju walk in closet.


"Sayang.. Mau kemana?" Tanya Gesa lagi.


"Ganti baju. Kan kita mau tidur."


Gesa mengusap wajahnya kasar lalu berdiri bermaksud mengejar Aira yang tengah berdiri di ambang pintu walk in closet.


"Mau nego boleh?" Tanya Gesa tiba-tiba pada Aira.


Aira yang ragu dengan penawaran Gesa kali ini dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu walk in closet dengan cepat.


"GUE GANTIIN BAJU MAU??" Teriak Gesa yang sadar bahwa ruang ganti telah terkunci dalam dari dan pelakunya adalah Aira.


"NGGAK KAK.. NGGAK USAH REPOT-REPOT." Jawab Aira dengan terkikik pelan di dalam walk in closet.


Aira sangat tahu bahwa Gesa kini telah sampai di puncak nafsunya. Namun demi sang baby dan entah mengapa tubuh Aira saat ini sangat capek, membuatnya harus menghindari Gesa sebisa mungkin karena takut di terkam begitu saja.

__ADS_1


"My Rara.. Mau ditidurin lagi kayak kemarin sama lo." Gumam Gesa dengan nada lemas dan terduduk di depan pintu walk in closet.


Aira hanya menahan tawanya mendengar suara lemas Gesa kali ini, terlihat lucu dan menggemaskan. Tidak mengerikan seperti biasanya.


...🔥🔥🔥...


"Kak Gesa bangun, udah pagi ini waktunya ke sekolah." Ucap Aira dengan berjalan menuju jendela lalu membuka tirai tebal hingga cahaya matahari berhasil masuk ke dalam kamarnya.


Mata Gesa yang terasa bahwa sinar matahari telah muncul, dengan cepat meraih bantal di sampingnya lalu menutup penuh wajahnya.


Tidur dengan celana pendek yang ketat ditambah dengan bertelanjang dada mampu membuat Aira menahan nafasnya saat menyingkap selimut tebal yang digunakan Gesa.


"Jam berapa?" Tanya Gesa dengan suara berat khas bangun tidur.


"Jam enam pagi. Yuk bangun, ke sekolah."


"Lima menit lagi sayang." Rengek Gesa seperti anak kecil bahkan tidak peduli lagi bahwa selimutnya sudah terbuka dan terlipat rapi di bawahnya.


"Kemarin nggak bisa tidur."


"Gesa junior bangun, tanpa pelayanan dari istri."


"Baru aja tidur tadi pagi jam empat, sekarang udah di bangunin."


Ocehan Gesa yang membuat Aira diam-diam tertawa apalagi suara Gesa yang merengek namun terkesan manja dan bernada berat mampu membuat Aira gemas sendiri.


"Harus bangun kak, sekolah loh jadwalnya."


Gesa menggelengkan kepalanya tapi tidak dengan matanya, tertutup rapat dan masih menikmati tidurnya tanpa peduli jam.


"Mau libur sama kayak lo, nanti seharian gue mau jengukin baby." Gumamnya kemudian.


"*Seharian? Jengukin baby?"


"Kak Gesa emang bener-bener gila.. Astaga."


"Pokoknya harus sekolah!! Kalo nggak sekolah, mau jadi apa badan aku seharian nanti*."


Aira menepuk pelan lengan Gesa, "Bangun kak, udah jam enam pagi dan sekolah masuk jam tujuh.. Ayo bangun."


Tidak mendapat tanggapan dari Gesa, Aira dengan cepat menyiapkan semua kebutuhan suaminya pagi ini. Mulai dari seragam, baju latihan hingga sepatu dan kaos kaki lengkap sudah diatas sofa.


"Air hangatnya udah siap kak Gesa.. Sarapannya juga udah."


"Bangun yuk, sekolah." Lanjut Aira dengan menarik lengan Gesa agar bangun dan pergi ke sekolah pagi ini.


"Mau tidur aja Ra, ngantuk banget."


"Ya tapi ini jamnya sekolah, kak Gesa yang ganteng." Jawab Aira dengan gemas.


Tidak mau banyak bicara lagi, Gesa dengan cepat menarik tangannya yang membuat Aira terjatuh begitu saja di perutnya.


"Untung aja diperut gue udah gue sediain bantal, kalo nggak kasian dong jagoan gue kejedot sama perut keras gue."


Aira memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Gesa, "Percaya yang perutnya kotak-kotak." Ucapnya kemudian lalu mencoba bangun dari tubuh Gesa.


Melihat Aira yang akan berdiri dari dari tubuhnya, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira lalu membantingkan begitu saja di ranjang besar nan empuk.


"Nggak akan gue biarin pagi ini lo kabur dari gue, sayangku."


"N-Nggak mau kak, kak Gesa harus sekolah dan aku harus masak sama bersih-bersih rumah." Jawab Aira gugup karena posisinya kali ini sangat intim sekali.


Tangan Aira tanpa sadar mengusap lembut perut Gesa hingga ke bawah dan sampai di pusat inti tubuh Gesa.


"Ini kenapa bisa menonjol gini kak?" Tanya Aira seperti biasa dengan nada polos dan tidak berdosa.


Sedangkan Gesa, berusaha mati-matian untuk menahab nafsunya di pagi hari dan hanya Aira yang mampu meruntuhkan di setiap pertahananannya.


Melepas celana pendeknya lalu membuangnya begitu saja serta melepas semua pakaian Aira pagi ini tanpa izin dari sang empu, Gesa dengan cepat memancing nafsu sang istri agar mau melayaninya.


"Nggak peduli sekolah atau nggak hari ini tapi yang jelas tubuh lo bikin gue gila bahkan tergila-gila."


"Gue akan bikin lo mohon-mohon dan sebut nama gue di setiap pelepasan yang gue kasih pagi ini."


Bisikan Gesa yang semakin membuat Aira memejamkan matanya menikmati sentuhan Gesa di setiap inci tubuhnya membuat ia lupa segalanya dan hanya Gesa.. Afigesa Deanova Putra!

__ADS_1


Mereka berdua berakhir berkeringat bersama dengan melakukan hubungan intim entah berapa lama. Namun yang jelas, Gesa berhasil membuat Aira memohon untuk memuaskan dirinya.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2