AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
38 | DITINGGAL


__ADS_3

...IG : FRISKYA___...


"GES.."


"GESA.."


Aira yang mendengar teriakan dari teman Gesa, segera membuka pintu dan mempersilahkan Andre dan Jefri untuk masuk.


"Gesa mana Ra?" Tanya Jefri.


"Mungkin masih mandi, baru pulang dari kantor soalnya."


"Kak Andre sama kak Jefri mau minum apa?" Lanjut tanya Aira pada keduanya.


Andre dan Jefri saling berpandangan lalu menganggukkan kepalanya secara bersamaan yang membuat Aira bingung sendiri.


"Disini minumnya ada apa aja Ra?" Tanya Andre iseng seperti biasa.


Sedangkan Jefri mengusap dagunya, "Camilannya juga ada nggak Ra?"


Andre dan Jefri memang akrab dengan Gesa, namun tidak dengan Aira yang selalu canggung jika bertemu dengan keduanya.


"Aku bikinin minum dulu ya kak." Pamit Aira kemudian pergi begitu saja menuju dapur.


Andre dan Jefri mengamati lebih detail dan teliti setiap sudut dan perabotan yang ada di dalam rumah mewah milik Gesa dan Aira tampak mahal dan tentu saja sangat kelas keluarga Deanova.


"Gue nanti kalo udah nikah harus kayak Gesa sih.. Mandiri, mapan mana si Gesa tampan juga lagi." Gumam Andre yang membuat Jefri menghela nafasnya pelan.


"Nantinya itu kapan dan lo mau nikahin cewek lo yang mana?"


"Yang mana maksud lo apaan Njep?" Tanya Andre tidak terima dengan memelototkan matanya.


"Perasaan cewek lo banyak Ndre.. Ya wajarlah kalo gue tanya yang mana. Orang kata mama lo aja gang sebelah lo embat."


Andre memang playboy dan punya gebetan dimana-mana sama dengan Gesa. Namun, gebetan Gesa lebih banyak daripada Andre dan semua gebetan Andre paling banyak usianya lebih tua darinya.


"Janda aja lo embat.. Heran gue sama lo." Ejek Jefri kemudian.


"Kayak lo nggak pernah mabuk cinta aja." Jawab Andre dengan ringannya dan mulai menyalakan rokok begitu saja.


Jefri memang berbeda dengan Andre dan Gesa yang suka ganti gebetan setiap minggu, ia lebih fokus dalam pendidikannya hingga sekarang ia mampu menjabat sebagai ketua osis di SMA Pertiwi.


Tidak percaya dengan cinta.. Cinta akan membawa luka!


Itulah yang ada dipikiran Jefri hingga ia tidak mau mempunyai ikatan yang lebih dari teman pada teman-teman ceweknya.


"Main cinta nggak guna." Jawab Jefri seadanya.


Melihat Aira yang berjalan dari arah dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk, Andre dengan cepat memposisikan duduknya dengan baik dan tetap melanjutkan rokoknya begitu saja.


"Kak Gesa belum turun?" Tanya Aira basa-basi.


Andre dan Jefri menggelengkan kepalanya pelan yang hanya di balas anggukan kepala oleh Aira tanpa ia mengerti.


"Maaf ya kak, adanya cuma in-"


"Mereka berdua nggak perlu dikasih apa-apa kalo kesini." Sahut Gesa tiba-tiba dengan berjalan menuruni tangga dan penampilan yang santainya.


Cup


"Kita berdua ada disini Ges, masak iya lo main mesra-mesra sama bini lo di depan kita." Sewot Andre yang melihat Gesa mencium kening Aira dengan lembut dan tiba-tiba di depan Andre dan Jefri.


"Buang rokok lo, nggak mau gue ada perokok yang masuk ke rumah ini." Ketus Gesa menatap Andre.

__ADS_1


Andre menghela nafasnya lalu mematikan rokoknya begitu saja. "Sejak kapan lo masalahin rokok? Bukannya lo sendiri perokok Ges?" Ucapnya kemudian dengan menautkan alisnya karena bingung.


Gesa memang tidak merokok di dekat Aira dengan alasan sang bayi yang ada di perutnya dan untuk sekarang Gesa berniat merahasiakan kehamilan Aira di depan Andre dan Jefri.


Bukannya Gesa tidak percaya dengan keduanya. Namun, ia hanya takut jika kedua sahabatnya bermulut ember dan berita jika Aira tengah hamil akan menyebar di seluruh penjuru sekolah.


"Lo ngapain berdua kesini?" Tanya Gesa cepat bermaksud mengalihkan pertanyaan awal yang dilontarkan oleh Andre.


"Mau ngajak lo keluar, ke tongkrongan biasa."


Mendengar jawaban Andre, Gesa dengan cepat memalingkan pandangannya menatap Aira bermaksud untuk meminta izin padanya.


Tidak memberi jawaban apapun pada Gesa, Aira dengan cepat berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar.


Hormon hamil muda sang istri semakin membuat Gesa gila sendiri dan harus ekstra sabar menghadapinya.


"Mampus.." Gumam Gesa kemudian dengan mengusap wajahnya kasar.


"Lo berdua lihat kan istri gue gimana? Udah ah lo berdua duluan aja. Gue besok atau lusa atau nggak minggu depan."


Andre dan Jefri menghela nafasnya pelan lalu berdiri demgan cepat, "Bucin banget sekarang.. Nyesel gue jauh-jauh nyamperin lo." Sewot Andre dengan menampilkan wajah dramanya sok kecewa.


"Ho-oh gue juga nyesel.. Mana es jeruk doang. Yaudah Ndre cabut aja." Sahut Jefri lalu menarik lengan Andre dan berjalan menuju pintu.


"LO BERDUA AWAS AJA BESOK!!"


...🔥🔥🔥...


"Jangan marah-marah kayak gitu, gue nggak jadi ikutan pergi sama Andre dan juga Jefri." Ucap Gesa dengan duduk di ranjang tepatnya di depan Aira yang tengah fokus membaca novelnya.


Hormon kehamilan Aira yang berubah-ubah semakin membuat Gesa sadar bahwa ini adalah salahnya. Salah yang membawa rezeki adalah dengan menghamili.


Tidak mendapat jawaban dari Aira, Gesa dengan cepat mengambil novel yang Aira baca tanpa izin.


"Gue ajak lo bicara dari tadi dan lo malah abaikan gue gitu aja. Lo kira novel lo lebih berharga dari gue?" Jawab Gesa tidak terima dengan meninggikan suaranya yang berhasil membuat mata Aira berkaca-kaca dan dengan cepat menundukkan kepalanya.


Sadar akan kesalahannya, Gesa segera meletakkan novel tersebut diatas nakas lalu memasukkan kepala Aira ke dala dekapannya.


Cup


"Gue minta maaf.. Gue nggak ada maksud buat bentak lo apalagi meninggikan suara gue ke lo, tapi tolong jawab gue kalo gue lagi bicara sama lo."


"Gue nggak suka diabaikan, apalagi diabaikan sama lo." Lanjut Gesa mengungkapkan kejujurannya.


Tidak tahu dengan perasaannya saat ini, entah hanya sekedar tidak mau kehilangan dengan pengakuan Aira adalah miliknya atau cinta yang telah tubuh karena kebiasaan mereka yang hidup bersama-sama sejak mereka menikah.


Namun yang jelas untuk saat ini, Gesa akan lebih ekstra menjaga Aira yang menjabat sebagai istrinya dan calon buah hati mereka berdua.


"Aku mau tanya sama kak Gesa." Ucap Aira tiba-tiba bersamaan dengan melepaskan pelukannya.


"Tanya aja."


Aira menarik nafasnya dalam lalu membuangnya begitu saja untuk menetralkan detak jantungnya yang takut-takut saat mengatakan sesuatu pada Gesa hari ini.


"Kalo aku belum melahirkan dab kontrak pernikahan kita udah selesai gimana kak?"


Gesa yang mendengar pertanyaan Aira hanya diam dan tidak tahu harus bagaimana menjelaskan mengenai semuanya.


Semuanya dimana ia yang tidak mau melepaskan Aira dengan alasan kepemilikan dan bukan cinta seperti apa yang Aira harapkan saat ini.


Tidak menjawab pertanyaan yang diberikan Aira, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam walk in closet.


Aira yang melihat tingkah Gesa hanya menghela nafasnya pelan dan tangan yang mulai mengusap perutnya dengan lembut. "Kalo udah keluar ikut papa aja ya sayang.. Karena cuma sama papa kamu, kamu nggak akan hidup susah." Gumam Aira pelan dengan menahan air matanya.

__ADS_1


Aira mengusap air matanya kasar saat Gesa keluar dari walk in closet dengan pakaian celana pendek dan kaos serta jaket yang membuatnya semakin tampan.


"Ini jaket lo.. Gue mau ajak lo keluar karena gue laper dan nggak nafsu makan dirumah." Ucap Gesa dengan memberikan jaket Aira.


Tidak banyak bicara dan takut jika Gesa akan marah, dengan cepat Aira menerima jaketnya lalu mengikuti Gesa berjalan menuju garasi.


"Naik mobil aja.. Nggak usah protes karena ada baby." Ketus Gesa yang mendapat anggukan kepala dari Aira.


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, tidak seperti biasa dimana Gesa yang selalu menggoda Aira. Namun tidak dengan malam ini, terasa dingin dan asing.


...🔥🔥🔥...


"Kamu kesini juga Ges? Tumben.. Jadi keinget dulu kita sering kesini berdua." Ucap Nayla saat Gesa datang di angkringan pinggir jalan bersama dengan Aira.


Nayla sengaja mengungkit masalalunya dengan Gesa di depan Aira. Dengan tujuan utama, merebut Gesa kembali dan membuat Gesa tergila-gila padanya.


Berita pernikahan Gesa dengan Aira sebagai istri sah sekaligus kehamilannya tidak dihiraukan oleh Nayla, yang ia pikirkan hanya merebut Gesa dari Aira.


Mendengar ucapan Nayla yang membahas masalalunya dengan Gesa ditambah dengan tempat yang dimana sudah menjadi langganan mereka, membuat hati Aira tiba-tiba nyeri sendiri dan segera duduk begitu saja di trotoar.


"Mau makan apa?" Tanya Gesa dengan cuek.


"Selera kak Gesa aja, aku nurut.. Lagian kan kak Gesa juga sering kesini, pasti tau yang enak yang mana." Jawab Aira dengan tenang namun sengaja menyindir masalalu Gesa dengan Nayla.


Gesa mengusap wajahnya kasar lalu berjalan menuju sang penjual dengan niatan memesan hingga tiba-tiba Nayla menghalangi jalannya. "Lo mau ngapain?" Ketus Gesa dengan Nayla.


"Minta tolong anterin gue pulang.. Mama gue kambuh lagi dan gue nggak tahu harus minta tolong sama siapa." Mohon Nayla dengan memeluk dada bidang Gesa tepat di depan Aira.


Melihat Nayla yang menangis dan menyangkut masalah ibunya, Gesa menjadi luluh tiba-tiba begitu saja.


"Gue akan anterin lo dan gue harus pamit ke Aira dulu." Ucap Gesa kemudian dan berjalan menuju dimana Aira duduk.


Aira yang tahu Gesa pasti akan memilih untuk mengantar Nayla dan ia juga tidak mau terjadi apa apa dengan ibu Nayla, maka untuk saat ini ia harus ikhlas jika Gesa mengantarkan Nayla pulang.


"Ini ongkos buat lo pulang dan naik taksi aja." Suruh Gesa dengan menyodorkan uang beberapa ratus ribu pada Aira.


Dengan perasaan kecewa yang amat sangat, Aira mengambil uang tersebut dan menganggukkan kepalanya.


"Kak Gesa hati-hati ya." Ucapnya kemudian namun tidak mendapat jawaban apapun dari Gesa yang berjalan menjauh menuju mobilnya bersama dengan Nayla.


Menatap warung angkringan yang semakin ramai dengan para cowok, Aira dengan cepat mengambil slingbagnya dan berjalan menjauh dari warung tersebut untuk mencari taksi.


"Pada akhir aku sendirian lagi sama dedek bayi.. Semoga kamu sehat selalu ya nak, maafin mama." Gumam Aira kecil dengan tangan yang mengusap perut ratanya dengan lembut.


Berjalan menyusuri jalan dengan mata yang berkaca-kaca membuat Aira tanpa sadar kini berada di jalanan yang gelap dan sepi.


"Cuma satu sama kak Gesa.. Nggak boleh ada perasaan suka, sayang maupun cinta sama kak Gesa."


"Inget Ra.. Saingan kamu bukan cewek sembarang. Saingan kamu cinta pertama kak Gesa."


"Nggak mungkin kalo udah nggak cinta nganterin pulang gitu aja."


Gumam Aira untuk menghibur hatinya yang sakit melihat tingkah Gesa bersama dengan Nayla.


BRUM..


BRUMM..


"Aira.. Lo ngapain disini? Pake jalan kaki lagi."


"Ayo nebeng ke gue, gue anterin lo selamat sampai rumah." Lanjut seorang cowok yang tiba-tiba menghentikan mobil mewahnya di samping Aira.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


__ADS_2