AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
06 | KIMONO


__ADS_3

...**JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR 🙏...


...SELAMAT MEMBACA 🐊**...


"Dev.." Panggil Aira saat melihat satu-satunya sahabat yang mau menerimanya.


Deva yang baru datang ke rumah Deva segera memeluk Aira dengan erat dan tak lupa mengusap lembut punggungnya.


"Ternyata waktu bunda lo di rumah kemarin cuma sebentar doang Ra?" Tanya Deva.


Aira menganggukkan kepalanya di bahu Deva. "Aku juga nggak tahu Dev kenapa semua orang ninggalin aku, kata kak Geral aku bukan adik kandungnya.. Aku cuma anak pungut."


"Kata bunda aku juga nggak ada hubungan darah sama keluarga ini."


"Aku takut Dev, jujur aku takut sendirian untuk saat ini." Lanjut Aira menumpahkan semua kesedihannya pada Deva.


"Maafin gue Ra.. Gue nggak bisa bantu lo apalagi nemenin lo, karena gue mau pindah ke luar kota sama orangtua gue dan gue kesini karena gue mau pamitan sama lo." Ucap Deva dengan menyesal.


Aira dengan cepat melepaskan pelukannya dari badan Deva. "Mau kemana Dev? Kenapa tiba-tiba pindah?" Tanya Aira kemudian.


"Karena orangtua gue ada bisnis disana Ra dan gue mau nggak mau harus ikut." Jawab Deva dengan menghembuskan nafas lesunya.


Aira terdiam sejenak menatap Deva lalu memeluknya erat. "Hati-hati ya Dev kalo disana.. Kita tetap sahabat kan? Aku harap kamu nggak lupain aku Dev." Ucap Aira.


Deva menganggukkan kepalanya. "Gue nggak akan lupain lo dan kita akan video call setiap hari.. Lo harus jaga diri lo baik-baik, jangan mudah percaya sama orang dan jangan pernah tersenyum sama cowok."


"Senyum lo itu dapat membuat cowok tertarik sama lo, lo tahu itu?"


"Kalo diajak kemana-mana sama cowok jangan mau apalagi cowok yang lo belum kenal."


"Lo faham maksud gue kan Ra?" Lanjut Deva kemudian.


Aira menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti semua nasihat yang dikatakan oleh Deva, satu-satunya sahabat yang selalu ada untuknya.


"Jangan pernah punya hubungan sama Gesa."


"Dia nggak baik buat lo dan kalau pun lo ada perasaan sama Gesa, gue harap lo bisa buang-buang perasaan lo jauh-jauh dari sekarang."


"Dia buaya Ra. Demi apapun dia itu buaya! Udah banyak cewek diluaran sana yang menjadi korban pelampiasan dia masalah perasaan."


Aira tersenyum lembut menatap Deva. "Iya-iya Dev, aku akan inget semua nasihat kamu tentang semuanya.. Aku nggak akan mudah lagi untuk percaya sama orang, aku nggak akan senyum sama sembarang orang dan aku nggak akan suka sama kak Gesa."


"Tenang aja.." Lanjut Aira dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu hati-hati ya, kalo udah sampai sana kamu harus hubungin aku."


Deva memeluk Aira dengan erat karena jujur saja Aira adalah sahabat terbaik untuk Deva..


Bagi Deva, Aira yang cupu dan kutu buku membuat dirinya nyaman dan sangat menyayangi sosok gadis lugu seperti Aira.


Untuk saat ini pun Deva tidak ingin meninggalkan Aira sendirian. Apalagi Aira sekarang tengah memikul beban yang berat dan mampu membuatnya putus asa.


"Maafin gue yang nggak bisa bantu lo, bahkan nemenin lo aja gue nggak bisa." Ucap sedih Deva di pelukan Aira.


"Udah Dev, aku gapapa kok.. Pokoknya kamu nanti kalo udah sampai sana hubungin aku ya."


Deva melepaskan pelukannya. "Gue pergi dulu ya Ra. Lo harus jaga diri lo baik-baik dan inget pesan gue.. Kalo suka sama Gesa buang rasa suka itu."


"Gue pergi dulu Aira cantik, nanti malam kita video call ya.."


"Bye." Lanjut Deva lalu pergi begitu saja dari rumah Aira.


Kini hidup Aira hanya sendiri, tanpa sang bunda, sang ayah dan sang kakak serta sahabat satu-satunya kini telah pergi jauh juga.


"Bunda yang pergi entah kemana, papa yang pergi ke langit dan kak Geral yang tega ninggalin aku sendirian."


"Aku harus apa ya Tuhan?"


"Ditambah dengan kak Gesa yang.."


Ucap Aira terjeda karena air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja.


Aira mengusap air matanya kasar. "Aira gaboleh nangis! Ya, Aira kuat dan Aira bisa." Ucap Aira bermaksud untuk membangkitkan semangatnya lagi.


Aira memalingkan wajahnya dan tak sengaja matanya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang dan hari ini bertepatan dengan hari Minggu.


Dengan cepat Aira berlari menuju kamar lalu mengambil tas kecilnya dan bersiap untuk mencari pekerjaan.


"Aku harus mencari pekerjaan mulai hari ini, kalo aku nggak kerja aku nggak akan bisa makan tanpa uang." Gumam Aira dengan berjalan menuruni tangga.


...🔥🔥🔥...


"Sayang rencana kamu nanti mau kuliah dimana?" Tanya Sandra, salah satu gebetan Gesa yang ia bawa hari ini untuk menemaninya makan siang.

__ADS_1


Tepatnya di cafe Pride dimana Gesa dan Sandra sedang makan siang bersama.


"Gatau nanti." Jawab Gesa seadanya dengan mengepulkan asap rokoknya.


Gesa selalu menanggapi semua gebetannya dengan dingin, yang ia butuhkan hanya teman untuk menemani dirinya yang terbilang gabut bukan bertanya-tanya masalah kehidupan pribadinya.


"Rokok nggak baik tau buat kesehatan kamu."


"Ya terus gue harus berhenti ngerokok gitu?" Tanya Gesa dengan memincingkan matanya.


Sandra dengan berani mengusap lembut jemari Gesa yang berada di atas meja. "Iya sayang. Aku nggak mau kamu sakit." Ucap Sandra kemudian.


"Hubungan kita cuma sebatas bahan gabut Sand, jadi please jaga batasan lo." Ketus Gesa dengan menarik kasar tangannya.


Sandra memang salah satu gebetan Gesa, namun Sandra sendiri menganggap Gesa lebih dari gebetan ataupun sebatas bahan gabut yang dimaksud oleh Gesa.


"Aku mau kita lebih dari gebetan Ges, aku mau kita terikat seenggaknya pacaran lah."


Gesa yang mendengar ucapan Sandra dengan cepat memincingkan matanya menatap Sandra.


"Lo udah sepakat kan kalo gue cuma anggap lo gebetan doang? Sebatas gabut.. Gabut Sand gabut."


"Gue nggak mau terikat sama siapapun apalagi dengan status pacaran. Ogah gue!"


"Tapi kenapa Ges? Aku kurang pantas buat kamu?" Tanya Sandra.


Gesa menggelengkan kepala dengan cepat. "Gak ada yang namanya serius dalam pacaran Sand.. Hubungan serius cuma ada di dalam pernikahan, terikat seumur hidup."


"Aku tahu gebetan kamu bukan aku doang. Aku setuju buat jadi gebetan kamu karena aku emang suka sama kamu Ges, aku juga cinta sama kamu."


"Kamu akan nikahin semua gebetan kamu Ges? Kan kamu bilang hubungan serius cuma dalam pernikahan doang."


Gesa mengendikkan bahunya. "Maybe.. Tapi gue masih usaha buat ada niat punya istri cuma satu dan calon istri gue pun bukan salah satu dari gebetan gue." Jawab Gesa dengan ringannya.


"Kamu bener-bener bangsat Ges." Umpat Sandra karena sudah greget sendiri saat jawaban Gesa keluar begitu saja.


"Yes i'm." Jawab Gesa dengan senyum tanpa bersalah.


"Kalo bukan bangsat itu bukan gue orangnya dan nyatanya lo mau-mau aja tuh jadi salah satu gebetan gue." Ejek Gesa kemudian.


Sandra berdiri dari duduknya dan bersiap menampar Gesa dengan tangannya. Namun, Gesa berhasil mencengkeram tangan Sandra begitu saja.


"Sebelum gue cari gebetan, gue juga lihat-lihat orangnya asal lo tahu aja dan gue udah dapet informasi tentang lo banyak banget malah."


Gesa memunculkan senyum devilnya menatap Sandra. "Lo nggak mungkin cinta sama gue di posisi lo yang punya pacar.. Cewek macam apaan punya pacar tapi mau di ajak jalan sama cowok lain? Sasimo tau nggak!"


"So, gue disini sebagai pembeli.. Bukankah pepatah dari dulu mengatakan pembeli adalah Raja? Gue rajanya dan gue bebas atur siapapun sesuai dengan kendali gue." Lanjut Gesa kemudian dengan menghempaskan tangan Sandra dengan kasar dan pergi begitu saja.


"Gue bersumpah Ges, suatu hari nanti harga diri lo akan hancur sama yang namanya wanita, lo akan nangis-nangis bahkan mohon-mohon buat wanita lo kembali ke pelukan lo." Gumam Sandra setelah kepergian Gesa.


...🔥🔥🔥...


"Lo ngapain disini? Ngemis?" Tanya Gesa dengan kata-kata pedasnya seperti biasa setelah menuruni mobil mewahnya.


Sepulang dari cafe Pride, dengan tidak sengaja mata Gesa melihat sosok Aira yang tengah duduk di pinggir jalan dengan mengusap kakinya yang penuh pasir.


"Ah kak Gesa.. Ini kak nggak sengaja tadi jatuh waktu jalan." Jawab Aira dengan mendongakkan kepalanya lalu menundukkan kepalanya lagi.


"Ceroboh." Gerutu Gesa dengan berjongkok dan membantu Aira untuk membersihkan kakinya.


"Mau kemana siang-siang gini, lo nggak takut kulit lo hitam atau terbakar secara lo kan cewek."


Aira menggelengkan kepalanya. "Nggak lah kak, nggak semua cewek takut sama gituan, buktinya aku."


"Mau cari kerja." Lanjut Aira kemudian.


Gesa yang mendengar jawaban Aira masalah pekerjaan mendadak mengerutkan keningnya.


"What? Kerja?" Tanya Gesa untuk meyakinkan pendengarannya.


Aira menganggukkan kepalanya. "Iya kak kerja.. Kak Gesa nggak usah khawatir, selama aku kerja dan sekolah aku tetap akan melakukan apapun yang kak Gesa suruh. Aku janji."


"Buat apa kerja segala? Sekolah lo gimana?" Tanya Gesa.


"Buat cari uang terus buat makan, sekolah ya tetap jalan nanti kerjanya waktu pulang sekolah.. Kerja part time."


"Nggak gue ijinin!" Sarkas Gesa cepat.


"Kalo nggak kerja aku nggak makan kak, nanti bayar uang sekolah juga gimana? Kak Gesa tenang aja deh, aku akan tetap laksanakan perintah-perintah kak Gesa kok."


Gesa mememunculkan senyum devilnya menatap Aira. "Kerja aja di gue dan akan gue gaji juga setiap bulan." Tawar Gesa pada Aira.


Aira yang awalnya menunduk mengusap lututnya seketika mendongak menatap Gesa yang menawarkan pekerjaan untuknya.

__ADS_1


"Masuk mobil,. Nanti gue jelasin di rumah." Suruh Gesa pada Aira.


Aira menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar karena akan mendapat pekerjaan, namun lututnya yang kaku akibat jatuh membuat dirinya tak bisa berdiri.


"Ssshhhh.." Desis Aira saat dirinya berusaha berdiri.


Tanpa bicara apapun lagi Gesa dengan cepat mengangkat badan Aira yang membuat Aira segera mengalungkan tangannya di leher Gesa.


"Kalo nggak bisa berdiri karena sakit itu bilang bukan malah berusaha dan bikin sakit diri sendiri." Ketus Gesa yang membuat Aira bungkam.


"Aku bisa pasang sabuk pengaman sendiri kak." Ucap Aira saat Gesa berusaha memasangkan sabuk pengaman untuknya.


"Kak aku bisa pasang sendiri."


"Beneran kak aku bis-"


Cup


"Diem!" Ketus Gesa setelah mengecup bibir Aira dengan tujuan membungkan bibir cerewetnya.


Aira yang mendapat kecupan tiba-tiba dari Gesa hanya bisa diam mematung menatap jalan di depannya.


"Baru aja gue kecup udah bungkam seribu bahasa. Gimana kalo gue cium bahkan tubuh gue naik di atas tubuh lo."


"Kak jangan mesum deh." Ucap Aira tiba-tiba dengan menahan malunya lalu membenarkan kacamata bulatnya.


Gesa yang berhasil membuat Aira salah tingkah hanya tertawa begitu saja lalu mulai melajukan mobil mewahnya menuju kediaman Deanova.


"Kak Ges, boleh numpang ke kamar mandi dulu nggak sebelum kita bicara masalah kerja?" Tanya Aira dengan takut-takut saat mobil Gesa berhenti di garasi rumahnya.


Gesa menoleh menatap Aira sejenak. "Kamar mandi kamar gue aja." Ketus Gesa.


"Tapi kak, kok di kam-"


"Kamar mandi kamar gue atau nggak sama sekali?" Tawar Gesa.


Aira menganggukkan kepalanya cepat daripada ia harus menahan buang air kecilnya.


"Aku bisa jalan sendiri kak." Ucap Aira saat Gesa membuka jok mobil tepatnya tempat duduk Aira.


"Kalo lo jalan ke kamar gue dalam keadaan kaki lo yang kek gini, gue jamin se-abad baru sampai." Jawab Gesa bersamaan dengan tubuh Aira yang sudah berada di gendongan Gesa.


"Kok sepi kak, mama sama papa kak Gesa kemana?" Tanya Aira begitu mereka berdua memasuki rumah mewah milik Gesa.


"Papa ke luar kota, kalo mama arisan.. Maybe." Jawab Gesa singkat dengan menaiki tangga menuju kamarnya.


"RARA.. Kenapa lo lama banget di kamar mandi? Lo nggak butuh pekerjaan atau gimana sih?" Panggil Gesa yang sudah menunggu Aira selama hampir 15 menit yang berada di kamar mandi.


"Kak Ges, bajuku basah karena kran air tiba-tiba lepas gitu aja.. Aku harus gimana?" Tanya Aira takut-takut dengan memunculkan kepalanya saja di balik pintu kamar mandi.


Gesa mengusap wajahnya kasar. "Kenapa nggak bilang dari tadi, terus lo sekarang pake baju apaan?"


"Kimono yang di kamar mandi milik kak Gesa." Jawab Aira pelan.


"Yaudah kesini, ngapain masih disitu." Ketus Gesa.


Dengan langkah ragunya, Aira melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana tempat Gesa duduk sekarang.


"Jalan aja lama banget kek keong." Umpat Gesa dengan menarik tangan Aira.


BRUK!!


Dimana Aira yang jatuh di ranjang dan tepat bawah tubuh Gesa.


Mata Gesa memandang bibir mungil berwarna kemerahan pink milik Aira, seolah Gesa ingin menghabisinya sekarang juga.


Kepala Gesa dengan berani mulai mendekat ke wajah Aira, sedangkan Aira sendiri dengan tangan yang masih berpengangan di lengan Gesa dan mata yang mulai tertutup begitu saja.


"Ges, mama mau kam-"


"GESA BELUM SAH.." Teriak Sofia kemudian saat melihat apa yang akan dilakukan Gesa pada Aira yang berada di bawahnya.


"Shitt.." Umpat Gesa lalu bangkit begitu saja dari tubuh Aira.


"Apa sih ma? Mama ganggu mulu deh."


"Mama nggak mau tahu, pokoknya minggu depan kalian berdua harus nikah.. Mama nggak mau nunda-nunda lagi."


Sofia menatap Gesa garang. "Ditahan dulu sampai minggu depan. Awas aja kalo kamu berani sentuh Aira sebelum sah.. Mama akan sunat kamu lagi sampai habis."


"Aira, ayo ikut mama kita ke kamar mama." Lanjut Sofia lalu menarik tangan Aira menuju kamarnya.


"Hampir aja gue dapetin bibirnya yang manis, kenapa mama dateng sih.."

__ADS_1


...🔥🔥🔥...


...SEE YOU NEXT PART, BRO 🐊...


__ADS_2