
"Mulai sekarang kemana pun lo pergi gue harus ikut! Nggak ada kata nggak! Dan gue nggak suka penolakan." Ucap Gesa tiba-tiba setelah mendudukan Aira begitu saja diatas ranjang.
Pulang dari rumah sakit Gesa menggedong Aira begitu saja dengan alasan Aira yang tidak boleh kelelahan dan masih banyak alasan lain yang menurut Aira sangat berlebihan.
"Tapi kak ngapain juga harus diikutin mulu?"
"Harus Ra!! Pokoknya harus!"
"Besok gue akan bilang mama buat cari pembantu dan mulai sekarang semua makanan dari sarapan, makan siang dan makan malam lo nggak boleh masak dan masuk ke dapur."
"Kecuali nyiapin baju-baju gue itu masuk tugas lo. Tapi nggak buat cuci dan setrika baju."
Aira hanya memijat kepalanya pelan karena bingung dan pusing sendiri dengan omelan Gesa yang tiba-tiba sangat perhatian apalagi perhatiannya tergolong berlebihan.
"Kak Ges.."
"Sekarang waktunya makan. Mau makan apa? Gue beliin bentar ya lo dirumah aja." Ucap Gesa dengan mengusap lembut pipi Aira lembut.
"Masak sendiri aja yuk kak, itung-itung hemat." Jawab Aira dengan menatap Gesa lembut.
Gesa terdiam begitu saja saat melihat mata tenang milik Aira yang seolah menariknya untuk tenggelam disana.
"Nggak boleh sayang."
"Lo nggak boleh kelelahan apalagi masuk ke dapur karena dapur area licin pasti nanti akan terjadi apa-apa sama lo." Lanjut Gesa memberi peringatan pada Aira.
"Kak.." Rengek Aira dengan mengusap lembut jemari Gesa dan menampilkan puppy eyesnya menatap Gesa.
Gesa mengusap wajahnya kasar lalu meraup wajah Aira dengan cepat dan mengecup bibirnya tiba-tiba.
"Oke kita ke dapur sekarang masaka sama-sama biar cepat selesai dan lo nggak boleh berdiri harus duduk di pantri."
Aira menghela nafasnya, "Ya terus masaknya gimana kak Gesa ganteng kalo aku di dapur cuma duduk doang."
"Kak Gesa aneh." Lanjut Aira.
Tidak menghiraukan ucapan Aira, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongannya seperti koala.
"Nanti lo yang arah-arahin gue dan gue yang akan masak."
"Emang bisa?" Tanya Aira dengan mengerutkan keningnya keheranan menatap Gesa.
"Jujur ya Ra gue emang cowok asli dan akan melakukan apapun buat lo mulai hari ini."
"Tapi maaf, gue emang nggak pernah melakukan pekerjaan dapur sekalipun nggak pernah.. Dan kebetulan cuma lo doang yang buat gue kayak gini." Lanjut Gesa lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung.
"Ajarin masak ya dan jangan ketawain gue." Ucap Gesa kemudian dengan tersenyum malu-malu menatap Aira.
Aira menutup mulutnya tidak percaya bahwa Gesa akan mengatakan hal tersebut padanya. Dimana Aira menganggap bahwa Gesa berani berkorban untuk dirinya walaupun itu adalah hal kecil.
"Jangan ejek gue!" Ketus Gesa dengan bibir manyunnya lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
Aira tertawa bergitu saja melihat tingkah Gesa yang seperti anak kecil sedang marah pada orangtuanya.
"Nggak ada yang ejek kamu kak, aku cuma mau senyum dan kebetulan aja kelewat tertawa." Jelas Aira dengan menahan tawanya.
"Kalo ketawa ya ketawa aja, nanti kalo di tahan pasti kentut." Sewot Gesa yang membuat Aira menarik kaos Gesa begitu saja lalu memeluknya.
"Kenapa kenceng banget detakan disini, lagi jatuh cinta kak?" Tanya Aira polos dengan telinga yang masih menempel memeluk dada bidang Gesa.
"N-Nggak! Kata siapa?!" Jawab Gesa panik karena memang terlihat gugup saat menjawab pertanyaan Aira.
"Udah deh Ra, yuk masak aja gue udah laper.. Terus habis makan nasi gue makan lo." Lanjut Gesa kemudian dengan melepaskan Aira dari pelukannya.
Aira menepuk pelan lengan Gesa dengan tersenyum malu dan pipi berwarna merah seperti kepiting rebus.
"Mau deh Ra jatuh cinta sama lo, boleh ya?" Tanya Gesa tiba-tiba yang membuat Aira melotot tidak percaya menatapnya.
__ADS_1
"H-Hah?"
Gesa mengecup bibir Aira dengan cepat lalu memainkan pipi merahnya dan menoel-noelnya tanpa henti bahkan menggigitnya gemas.
"Sakit kak jangan di gigit." Rengek Aira dengan mengusap-usap pipi merahnya.
"Gemesin sih.. Bikin gue betah dirumah terus kelonin lo." Jawab Gesa singkat yang membuat Aira semakin melayang tinggi.
Aira bersiap turun dari pantri namun dicegah cepat oleh Gesa, "Nggak boleh turun kok bandel sih sayang." Ucap Gesa kemudian.
"Aku bawa perasaan beneran loh kak nanti kalo setiap hari kak Gesa panggil aku sayang mulu."
"Dan kalo kak Gesa ngikutin aku mulu di semua tempat apalagi sekolah, yang ada tambah banyak yang musuhin aku kak." Lanjut Aira kemudian meraih tangan Gesa, "Please kak, aku mohon sama kak Gesa.. Aku bisa kok jaga diri aku sendiri lagian juga kita satu sekolah. Nanti yang ada pernikahan kontrak kita bocor ke semuanya." Jelas Aira.
Gesa menatap mata Aira lekat-lekat dan ada rasa yang kurang ia suka saat Aira menyebut pernikahan mereka hanya kontrak belaka, namun memang itu kesepakatan awal yang dibuat oleh Gesa sendiri.
"Lo udah ada temen di kelas selain si murid baru itu?"
Aira menganggukkan kepalanya dan berbohong lagi. Semua teman satu kelas Aira hanya membutuhkannya dan menyapanya saat ada tugas saja, untuk hal lain Aira tidak pernah disapa lagi bahkan ditemani oleh satu kelas kecuali Dika.
"Anak-anak lain baik kok kak sama aku, nggak kayak dulu lagi." Jawab Aira dengan tersenyum riang.
Gesa mengusap lembut kepala Aira, "Kalo ada yang bikin lo kayak kemarin lagi di sekolah atau bully lo bilang ke gue ya.. Dan kalo lo ngerasain sakit di tubuh lo bagian manapun lo juga harus bilang ke gue."
"Siap my hubby." Jawab Aira yang membuat Gesa tertawa dan muncullah ketampanan bak dewa yang menurut Aira sangat sempurna.
...🔥🔥🔥...
"Jersey basket kak Gesa yang baru udah aku setrika, ini jerseynya sekalian ini juga bekalnya." Ucap Aira dengan menyodorkan kotak makan dan jersey basket milik Gesa.
Gesa hari ini akan mengikuti turnamen basket yang diikuti oleh SMA Pertiwi, jadi secara tidak langsung Gesa sebagai kapten mau tidak mau harus ikut sebelum penyerahan kapten basket diserahkan pada adik tingkatnya.
"Lo nggak ikut kesana?"
Aira menggelengkan kepalanya karena ia harus bekerja di kedai kopi milik kakaknya Dika untuk membeli obat dan kebutuhan yang lainnya.
"Nanti aku bawa perasaan beneran loh kak kalo di gombalin mulu setiap hari kayak gini." Jawab Aira.
Gesa tersenyum kecil dan menoel-noel pipi Aira, "Pipi lo kok merah sih?" Goda Gesa pada Aira.
Aira dengan cepat menepis tangan Gesa lalu menutup semua wajahnya dengan telapak tangannya karena malu sekaligus kupu-kupu berasa memenuhi perutnya.
"Pipi lo tembem banget sih pingin gue makan aja." Ucap Gesa dengan menggigit kecil pipi Aira tanpa ragu lalu menciumnya gemas.
"Udah ah jangan gombal mulu. Kak Gesa cepet berangkat dan hati-hati di jalan."
"Doain menang ya? Biasanya doa istri manjur kata papa."
Aira menganggukkan kepalanya, "Aku selalu doain kak Gesa agar selalu bahagia dan jadi juara disetiap hal apapun."
"Jangan lupa berdoa dan di makan bekalnya." Lanjut Aira kemudian.
Gesa meraih kunci motornya di atas meja dan menatap Aira dengan curiga namun ia juga tidak bisa memaksa Aira untuk ikut dengannya.
"Gue berangkat dan jangan keluar rumah tanpa ijin gue atau tanpa gue!"
"Awas aja kalo berani keluar tanpa gue, lo akan tau marahnya gue dan lo harus terima hukuman dari gue." Ancam Gesa pada Aira.
Aira menautkan jarinya yang berkeringat karena deg-degan juga dengan ancaman Gesa tapi bagaimana pun ia harus bekerja untuk membeli obatnya dan kebutuhan lain.
Gesa berjalan menuju garasi dengan mengeluarkan ponsel mahalnya, "Awasi istri gue dan kalo pergi jangan di cegah."
"Ikutin dan foto kegiatannya." Lanjut Gesa yang memerintahkan pengawalnya untuk mematai istrinya.
Mengeluarkan kantong plastik hitam di tengah jalan dan tepat di depan tempat sampah, Gesa membuang semuanya.
Membuang semua obat yang Aira konsumsi selama ini tanpa terkecuali namun tidak dengan obat penyubur rahim berupa vitamin yang Gesa berikan sesuai resep dokter kandungan kenalan sang mama.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
Setelah pertandingan selesai, Gesa ingin cepat pulang dan membawa Aira ke dokter baik Aira mau atau tidak Gesa akan tetap memaksanya.
Gesa mengambil ponsel mahalnya yang ada di ranselnya dan tanpa ragu segera mencari kontak anak buahnya.
"Aira keluar hari ini?" Tanya Gesa to the point panggilannya terhubung dengan anak buahnya.
"Saya sudah mengirim foto dimana posisi nyonya muda bos, silahkan anda cek."
Gesa mematikan panggilannya sepihak dan dengan cepat melihat semua aktivitas Aira hari ini tanpa dirinya.
"Ngopi dulu yuk, tempat biasa." Ucap Andre tiba-tiba yang datang dari belakang Gesa.
Tidak menjawab ajakan Andre, mata Gesa masih fokus melihat semua aktivitas Aira yang menggunakan seragam pelayan di salah satu kedai kopi.
Gesa menggeram marah dengan apa yang dilakukan Aira disana dan memalingkan wajahnya menatap Andre.
"Ada kedai kopi baru katanya enak dan tempatnya nggak jauh dari sekolah kita. Kesana aja yuk." Ajak Gesa pada Andre.
"Boleh deh.. Tapi lo duluan aja nanti kalo udah sampai sana lo sharelock gue."
"Gue nunggu Jep dulu masih ada urusan sama panitia." Lanjut Andre yang diangguki kepala oleh Gesa.
Gesa dengan cepat meraih tasnya dan piala kemenangan hari ini yang dilemparkan ke arah Andre begitu saja.
"Tolong bawa ya Ndre, gue bawa motor. Kalo gue masukin tas takut pecah." Ucap Gesa kemudian dan berlari menuju parkiran.
Gesa akan memberi pelajaran pada Aira kali ini dan Aira tidak akan pernah bisa melanggar aturannya lagi. Ini semua Gesa lakukan hanya untuk Aira.
Jujur saja Gesa sangat takut kehilangan Aira, entah apa yang membuatnya seperti ini tapi yang jelas Aira adalah milik Gesa dan seterusnya akan seperti itu.
"Boleh minta tanda tangan lo nggak?" Tanya seorang cewek tiba-tiba yang membuat Gesa mengurungkan niatnya untuk memakai helm.
Gesa menatap cewek tersebut mulai dari atas hingga bawah.
"Murah.. Seragam sekolah tapi dadanya kelihatan, enakan juga dada Aira." Batin Gesa menyerukan pendapatnya.
"Gue bukan artis." Ketus Gesa.
Gesa mulai berubah ketus pada setiap cewek yang mendekatinya, berbeda dengan Gesa yang dulu dimana gebetan dimana-mana dan semuanya seksi tapi sayang murahan.
Bagi Gesa yang mahal untuk sekarang dan beruntung ia miliki hanya Aira, Aira Deanova.. Istri sekaligus calon ibu dari anak-anaknya kelak!
"Tapi gue cuma minta tanda tangan lo, karena gue emang ngidolain lo banget."
Gesa menganggukkan kepalanya pelan dengan menautkan kedua alisnya, "Sure.." Jawabnya kemudian dengan meraih note beserta bolpoin milik cewek tersebut.
"Lo punya pacar?" Tanya cewek tersebut yang membuat Gesa keheranan sendiri.
Gesa menggelengkan kepalanya, "No! Gue nggak punya pacar."
Cewek yang Gesa yakini bernama Viola tersebut tersenyum genit menatap Gesa, "Sekalian whatsapp lo tulis ya, kali aja kita bisa lebih dari temen." Ucap Viola malu-malu.
"Oke." Jawab Gesa dengan menuliskan nomor whatsappnya dengan lancar di note tersebut.
"Makasih ya. Gue duluan dan nanti gue hubungin lo." Ucap Viola lalu pergi dengan wajah sumringah menuju gerbang sekolah.
Gesa mengusap wajahnya kasar lalu memakai helm full facenya dan segera melajukan motor besarnya untuk menjemput istri kecilnya.
"Gue emang nggak punya pacar tapi gue punya istri.. Mana pake minta nomor lagi, untung aja nomor Aira gue hafalin buat jaga-jaga kayak gini eh kejadian beneran yang kayak gini."
"My Rara bikin gue gila dan baper mu ah elah."
"Gatau kenapa selain wanita spesial buat gue, dia adalah rumah gue dimana tempat gue selalu pulang buat ngelihat senyum manisnya." Gumam Gesa kemudian dengan senyum tipis menghiasi wajahnya di balik helm mahalnya.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1