
"Mama ngapain suruh aku sama Aira kesini?"
"Kenapa nggak mama aja yang dateng ke rumah?" Lanjut Gesa.
Sofia mengabaikan Gesa begitu saja lalu memeluk hangat Aira yang berdiri tepat di samping putra tunggalnya.
"Gimana kabar kamu sayang?"
"Alhamdulilah kabar aku baik ma, mama gimana kabarnya?"
Sofia tersenyum tipis, "Mama sehat sayang."
Tangan Sofia dengan cepat mengusap perut Aira, "Calon cucu oma sehat sayang?"
Aira tersenyum tipis bersamaan dengan menganggukkan kepalanya, "Sehat mama."
Gesa menggeram kesal lalu duduk begitu saja dengan menarik pinggang Aira pelan agar duduk tepat di sampingnya.
"Posesif amat.. Mama nggak akan terkam atau makan istri kamu juga Ges."
"Mama sih, kalo ada Aira lupa sama aku.. Yang anaknya mama itu siapa coba?"
"Mama bosen sama kamu mending sama menantu mama yang cantik aja." Jawab Firda cepat dengan menoel dagu Aira pelan lalu tertawa kecil.
Gesa hanya menghela nafasnya dan diperasaan lain ia juga senang melihat ibu serta istrinya memiliki hubungan baik.
"Mama suruh kalian berdua kesini karena mama mau tunjukin sesuatu."
Sofia meletakkan dua brosur tepat diatas atas yang membuat Gesa memincingkan matanya heran.
"Brosur apa ma?" Tanya Gesa.
"Kamu baca dulu deh."
"Mama mau bikin pesta 7 bulanan buat istri kamu dan mama mau pestanya meriah gitu.. Mama akan undang semua temen arisan mama." Lanjut Sofia kemudian.
Gesa menatap Aira dengan pandangan tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
"Tapi mama, apa nggak berlebihan kalo cuma 7 bulanan dibikin pesta yang besar?" Tanya Aira pelan pada Sofia.
Sofia menggelengkan kepalanya cepat.
Alasan Sofia sendiri ingin mengadakan pesta 7 bulan kehamilan Aira adalah akibat kesombongan salah satu teman arisannya serta mengejek dirinya yang mempunyai menantu jelek.
"Tidak sayang dan menurut mama itu harus dirayakan dengan pesta."
"Tapi ma aku nggak ada waktu buat nyiapin semuanya."
"Mama tau sendirikan gimana kerjaan aku akhir-akhir ini dan kalo mama mau Aira yang nyiapin semuanya, jelas tidak aku kasih ijin."
"Mending Aira di rumah aja." Lanjut Gesa.
Sofia tersenyum tipis, "Kalo mama yang nyiapin gimana?"
"Pestanya juga di rumah sini aja."
Aira dan Gesa hanya menghela nafasnya pelan dan saling bertatapan seolah memutuskan bagaimana dengan keputusan akhir mereka berdua.
__ADS_1
"Ya? Kalian berdua mau ya bikin pesta besar.. Pokoknya mama yang bakalan nyiapin."
"Gimana sayang? Kamu mau?" Tanya Gesa pada Aira.
Aira sendiri masih bingung harus mrnjawab apa toh baginya kehamilannya yang akan menginjak 7 bulan tidak perlu dirayakan sebesar pesta apalagi mengundang ibu-ibu sosialita.
"Aku pikir-pikir dulu deh ma dan hari ini aku sama Aira tidur disini gapapa kan ya?" Putus Gesa kemudian yang tidak mendapat jawaban dari Aira.
Sofia menghembuskan nafasnya pelan dan sangat berharapa jika Gesa dan Aira mau menuruti permintaanya.
"Iya deh kalian berdua pikir-pikir dulu.. Mama harap kalian berdua mau."
...🔥🔥🔥...
"Tumben ngajak tidur disini?" Tanya Aira begitu mereka sampai di kamar Gesa.
Kamar yang telah lama tidak Gesa tempati namun tetap bersih dan rapi seperti biasanya.
Gesa memang selalu mengajak Aira pulang jika bermain ke rumah Sofia dengan alasan rumah sendiri lebih nyaman dan enaknya emang melakukan hal apapun di rumah milik sendiri.
Gesa menghela nafasnya pelan lalu merebahkan badannya begitu saja dengan mata yang menatap langit-langit kamar.
"Nggak tau juga kenapa aku pingin disini."
"Lagian juga ini udah malem banget aku males mengemudi terus aku juga nggak mau kamu kelelahan."
Aira hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban mengerti atas ucapan Gesa bersamaan dengan meletakkan slingbagnya di atas meja.
"Kamu mau mandi sekarang? Aku siapin air hangat ya." Tawar Aira kemudian.
"Nanti aja deh mandinya atau nggak sekalian besok." Ucap Gesa tepat di telinga Aira.
"Jorok ihh nggak mandi." Gurau Aira dengan tangan yang menutup hidungnya.
"Kamu pernah nggak mandi selama 5 hari dan aku masih mau sama kamu. Masak iya, aku baru nggak mandi hari ini kamu udah nggak mau sama aku." Gumam Gesa.
Aira tertawa kecil, "Siapa yang bilang nggak mau? Kalo nggak mau aku udah berontak turun dari badan kamu dari tadi."
"Yaudah turun aja."
"Oke aku turun." Sewot Aira yang berusaha keluar dari dekapan Gesa.
Cup
"Tidak semudah itu sayangku." Ucap Gesa dengan tersenyum manis setelah mengecup singkat bibir Aira.
"Jadi gimana sayang keputusan kamu mengenai pesta yang dimaksud mama tadi?"
"Kamu mau atau nggak?"
Aira mengehembuskan nafasnya pelan, "Kalo aku pribadi sih mending nggak terlalu mewah karena ini cuma kehamilan 7 bulan dan nggak harus pesta mewah-mewah."
"Sederhana aja asal semua keluarga kumpul gitu maksud aku."
"Tapi kalo kamu mau kayak yang dibilang mama juga gapapa toh aku tinggal terima doang." Lanjut Aira dengan tertawa kecil.
"Kamu suka nggak sih sayang kalo ada pesta mewah yang dimaksud mama?"
__ADS_1
"Suka lah.. Suka banget malahan."
"Menantu mana coba yang nggak suka dikenalin ke temen-temen mertuanya? Apalagi kaum sosialita kayak mama."
"Tapi aku bilang mau sederhana itu biar kita nggak keluar uang banyak.. Masih banyak kebutuhan kita apalagi anak kita belum keluar dan kita juga butuh nabung."
Gesa tanpa sadar tersenyum tipis mendengar semua kalimat Aira yang memikirkan bagaimana kedepannya kelak.
"Kamu lupa siapa suami kamu dan berapa total kekayaannya?" Tanya Gesa dengan sombong dan menaikturunkan alisnya menggoda Aira.
"Nggak lupa tapi mungkin aja gara-gara pesta kekayaan kamu hilang setengah." Jawab Aira cepat dengan memutar bola matanya malas.
"Bahkan pesta 7 hari 7 malem cuma butuh seperempat dari kekayaan aku."
"Percaya si paling uangnya tidak berseri."
Gesa tertawa dengan mengecupi wajah Aira gemas, "Semuanya juga milik kamu."
"Nggak.. Aku nggak punya."
Aira yang merasakan ada yang menonjol tepat di bagian pahanya dengan cepat berontak untuk turun dari pangkuan Gesa.
"Kamu mau kemana sih? Heran deh."
"Kalo aku nggak boleh turun mending pindahin deh dompet kamu." Suruh Aira yang membuat Gesa tersenyum geli dan menaikturunkan alisnya bermaksud menggoda.
"Yakin sayang itu dompet?"
Wajah Aira dengan cepat memerah bersamaan dengan berontak untuk turun dari pangkuan Gesa.
"Jangan macem-macem malam ini, kita di rumah mama." Peringat Aira pada Gesa.
Gesa sendiri mulai menenggelamkan wajahnya di leher Aira dan tidak lupa mencium bahkan mulai meninggalkan bekas kemerahan disana.
"Satu macem sayang nggak mau macem-macem aku."
DRRTTTT..
DRRTTT..
"Arghhh ganggu!! Siapa sih nelfon malem-malem?!" Marah Gesa kemudian begitu ponsel yang ada di saku Aira bergetar.
"Aku angkat dulu bentar." Jawab Aira yang membuat Gesa meradang.
Tidak menjawab ucapan Aira, Gesa dengan cepat meraih ponsel tersebut lalu membuangnya entah kemana.
"Kamu gila?!!"
"Iya aku gila.. Menggilai kamu sayang." Jawab Gesa dengan tersenyum tanpa rasa bersalah.
Aira hanya menghela nafasnya pelan seperti biasa jika ia melihat kelakuan Gesa yang lagi-lagi seperti anak kecil.
"Belikan yang baru kalo ponsel aku rusak, buktikan kalo uang kamu tidak berseri." Sewot Aira kesal.
"Minta lebih dari ponsel juga oke aja."
...🔥🔥🔥...
__ADS_1