AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
53 | TANDA TANGAN


__ADS_3

...FOLLOW INSTAGRAM :...


...npaaaaa___...


...🔥🔥🔥...


"Gesa udah disini pa dan papa mau bicara masalah apa yang katanya penting kemarin?" Ucap Gesa begitu ia sampai di ruang kerja Deon.


Deon yang awalnya fokus membaca laporan yang ada, dengan cepat mendongakkan kepala saat tahu bahwa kini Gesa tengah ada di hadapannya.


"Kamu kesini sama siapa? Sendiri atau sama istri kamu?"


"Sendiri pa.. Aira dirumah." Jawab Gesa cepat bersamaan dengan duduk di sofa.


"Nayla dan ibu tiri Aira adalah musuh terbesar


kamu saat ini." Ucap Deon tanpa basa-basi dengan menyerahkan beberapa bukti berupa foto tepat di depan Gesa.


Mata Gesa melotot tidak percaya bahwa sang papa ternyata selalu mengawasinya bahkan melindungi dirinya beserta istri dan calon bayi yang ada di perut Aira.


"Papa dapat darimana?" Tanya Gesa cepat.


"Papa bukan orang bodoh Ges.. Dan papa nggak mau terjadi apa-apa pada anak tunggal papa sekaligus calon cucu papa."


"Beberapa waktu lalu papa buntutin semuanya dan ternyata benar."


Gesa memincingkan matanya, "Benar gimana maksud papa?"


"Ibu tiri Aira bernama Novita beberapa waktu lalu memang bertemu dengan Nayla."


"Entah membicarakan apa tapi yang jelas mereka berdua pasti saling bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangga kamu sama Aira." Jelas Deon kemudian.


Gesa tanpa sadar mengepalkan tangannya karena geram mendengar dimana Nayla yang selalu mencari perhatian padanya serta ibu tiri Aira yang selalu mengganggu pikiran sang istri.


"Novita juga kemarin ke rumah pa tapi kebetulan aku ada rapat kantor jadi aku nggak tahu."


Deon memincingkan matanya, "Ngomongin apa? Ngapain ibu tiri Aira datang lagi dan mencari anak angkatnya."


Gesa hanya mengendikkan bahunya pelan karena ia memang kurang tahu alasan Novita muncul kembali. Yang ia tahu hanya Novita meminta uang pada Aira dan menyuruh Aira untuk menceraikan dirinya dan itupun hanya sekilas.


"Setau aku Novita minta uang ke Aira dalam jumlah yang besar pa dan Novita juga suruh Aira buat bercerai sama aku."


"Kamu mau bercerai sama Aira?" Tanya Deon cepat yang membuat Gesa menggelengkan kepalanya.


Gesa tidak tahu mengenai hatinya yang bagaimana terhadap Aira. Tapi yang jelas, ia tidak mau jauh dari Aira apalagi ditinggal dan di pisahkan dari istrinya sekaligus calon buah hati mereka berdua.


"Nggak mau lah pa.. Aira segalanya tau!" Jawab Gesa cepat.


Deon menatap penasaran ke arah Gesa, "Udah cinta sama Aira? Atau cuma mau anak kamu doang."


"Cinta nggaknya Gesa sama Aira saat ini, itu bukan urusan papa. Sekarang Gesa udah jadi kepala rumah tangga pa dan permasalahan cinta hanya Gesa serta Aira yang tahu."


Deon mengendikkan bahunya pelan, "Yayaya kamu benar jagoan.. Tapi nggak bisa terus-menerus kamu jerat Aira dengan keegoisan kamu."


"Usia Aira masih di bawah kamu dan kamu tahu perjalanan hidupnya masih panjang walaupun tidak sepanjang kamu."


"Pikirkan Aira yang rela keluar pendidikan hanya demi anak kamu." Lanjut Deon kemudian lalu menepuk pelan bahu Gesa dan melangkah pergi keluar dari ruang kerjanya.


Sedangkan Gesa hanya terdiam memikirkan ucapan sang papa lalu mengusap wajahnya kasar.


"Gue nggak akan lepasin Aira.. Aira dunia gue mulai sekarang dan semuanya akan gue berikan pada Aira asal dia tetap sama gue." Gumamnya kemudian.


...🔥🔥🔥...


"Yang.."


"Yang.."


"Sayang.."


"Sayang.. Lo denger nggak sih gue panggil lo? Jarak kita nggak ada lima meter ini." Omel Gesa kemudian saat memanggil Aira yang tidak jauh darinya.


Aira yang awalnya fokus pada makannya dengan cepat mendongakkan kepala menatap Gesa.


Bingung dengan tatapan Gesa yang tidak menunjukkan apapun dan hal tersebut semakin membuat Aira diam tanpa kata.

__ADS_1


"Gue panggil lo dari tadi kenapa nggak jawab?"


"Dan kenapa makanan lo masih penuh? Nggak selera makan atau gimana?"


Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak kok kak. Makanannya enak dan menurut aku juga udah pas bumbunya."


"Terus kenapa dari tadi cuma di tusuk-tusuk doang makanannya? Mau makan sesuatu?"


"Nggak kak, ini juga aku makan." Jawab Aira dengan memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.


Sikap Aira setelah di datangi oleh Novita beberapa waktu lalu sangat berpengaruh pada rumah tangganya bersama Gesa.


Dimana ia harus berperang dengan pikirannya untuk tetap melanjutkan pernikahan kontraknya yang kurang beberapa bulan bersama Gesa atau pergi lebih cepat dengan menuruti perkataan sang bunda.


"Ada yang lo sembunyiin dari gue?" Tanya Gesa tiba-tiba yang membuat Aira semakin gugup.


Gesa tahu bahkan sudah hafal dengan raut wajah Aira jika menyembunyikan sesuatu darinya. Dan hal tersebut sedang terjadi sekarang.


"Mau cerita atau gue akan cari tau sendiri?"


"Nggak ada masalah apapun kak dan nggak ada yang aku sembunyikan dari kak Gesa."


Gesa yang sudah tahu bahwa Novita berhasil merasuki pikiran Aira akhir-akhir ini dengan cepat tersenyum sinis. "Jadi nggak mau cerita apapun sama gue, sayang? Gue suami lo untuk saat ini."


"Bukannya nggak mau kak tapi emang bener-bener nggak ada apa-apa."


Gesa menghela nafasnya pelan mendengar jawaban Aira yang lagi-lagi tidak mau jujur padanya.


Sedangkan Gesa sendiri sudah tau semuanya. Perihal ancaman Novita pada Aira untuk meninggalkannya.


"Kalo ada apa-apa sama mau minta apapun jangan di sembunyikan atau di tahan ya.. Gue nggak mau calon anak gue nanti ileran."


Aira tersenyum kecil mendengar ucapan Gesa dengan tangan yang mengusap lembut jemarinya yang ada di atas meja.


"Sekarang habisin makanannya dan habis ini ke kamar, ada yang mau gue omongin sama lo dan itu penting banget." Lanjut Gesa yang dijawab Aira dengan menganggukkan kepalanya.


"Apapun yang terjadi gue nggak mau lo jauh dari gue Ra.. Kemana pun lo pergi, lo harus tetap dalam jangkauan gue."


...🔥🔥🔥...


Setelah membantu asisten rumah tangga untuk membersihkan meja makan, Aira dengan cepat bergegas menuju kamar.


Tepat dimana Gesa yang menyuruhnya untuk segera datang dengan Aira yang masih berkeukeh untuk membantu asisten rumah tangganya dulu untuk membersihkan semuanya.


"Udah berapa kali gue bilang kalo lo nggak boleh bantu bersih-bersih dapur lagi."


"Bersih-bersih dapur pasti pakai sabun terus nanti kalo lo kepleset dan jagoan gue kenapa-napa gimana?"


"Mau gantiin gitu?" Lanjut Gesa dengan menoel-noel pipi Aira gemas.


"Selalu pipi sasarannya ih.." Rengek Aira dengan menepis pelan tangan Gesa.


Gesa tertawa kecil melihat Aira yang sudah berani manja padanya serta tidak tanggung-tanggung lagi untuk mengekspresikan sesuai mood yang ada.


"Kasihan bibi kak nggak ada yang bantuin, nanti capek."


"Justru capeknya yang gue bayar Aira sayang."


"Ya tapikan kak-"


"Tapi apa sayang?" Jawab Gesa cepat sebelum Aira melanjutkan bicaranya.


"Lo mau terjadi sesuatu sama calon jagoan gue? Kalo kenapa-napa lo mau gantiin gitu?"


Aira menghela nafasnya pelan dengan tangan yang mengusap perutnya. "Gantiin gimana maksud kak Gesa? Nggak akan ada peristiwa terpeleset kak, aku orangnya hati-hati banget." Jawab Aira kemudian meyakinkan Gesa.


"Gantiin jagoan yang baru kalo sampai terjadi apa-apa sama calon jagoan gue yang ini?"


"Dikira gantiin bayi semudah gantiin masakan apa gimana kak." Gumam Aira pelan.


"Kalo terjadi apa-apa sama jagoan gue yang ini berarti lo harus mau mengandung lagi yang itu artinya hidup lo akan terjerat lebih lama lagi sama gue."


Gesa sengaja memancing Aira. Dimana ia yang sangat mengharapkan kehadiran Aira untuk kehidupan ke depannya ditambah rasa cinta dan sayang yang mulai tumbuh begitu saja.


Aira sendiri hanya bisa diam mendengar jawaban Gesa. Bertahan dengan Gesa hanya sebuah mimpi, itulah yang ada di fikiran Aira.

__ADS_1


Bagi Aira mendapat cinta serta sayang dari Gesa hanya halusinasi dari seorang pemimpi yang tidak pernah sadar diri sama seperti dirinya.


Melihat Aira yang tengah bengong melamun membuat Gesa menghela nafasnya pelan dan meraih map mewah yang ada di atas ranjang.


"Udah nggak usah dipikirin lagi."


Gesa mengusap lembut bahu Aira lalu mengajaknya duduk diatas ranjang. "Duduk sini sayangku." Gurau Gesa seperti biasa.


"Tanda tangan dokumen ini semuanya! Pokoknya yang ada nama lo harus tanda tangan diatasnya." Ucap Gesa kemudian.


Aira yang sempat bingung dengan isi perjanjian tersebut dengan cepat membaca terlebih dahulu sebelum menandatangani dokumen yang diberikan Gesa.


Tidak mau berlama-lama, Gesa menyerahkan bolpoin di tangan Aira. "Nggak usah di baca dengan seksama sayang.. Perjanjian ini ngga akan ngerugiin lo apalagi lo sekarang istri jadi harus nurut sama gue."


"Tapi kak, aku kan nggak tahu isinya apa dan aku harus baca sebelum tanda tangan."


"Kalo dokumen dari oranglain emang lo harus baca sayang tapi ini dokumen dari gue dan semuanya aman terkendali karena gue penyerah utamanya."


Aira yang tidak mau pusing lagi mendengar ocehan Gesa dengan cepat tanda tangan diatas kertas tersebut tanpa membaca.


Ia sudah bosan karena masalah yang ada, bundanya yang minta untuk menguras harta Gesa sampai habis atau membawa jagoannya pergi tanpa Gesa tau dalam waktu dekat ini.


Gesa tersenyum manis melihat Aira yang sangat lancar mendaratkan tanda tangan diatas kertas yang telah ia buat beberapa waktu lalu.


Tidak menunggu apapun lagi, Gesa meraih dokumen tersebut dan meletakkannya dengan kasar diatas nakas lalu mendorong pelan bahu Aira hingga sang empu terlentang diatas ranjang begitu saja.


"K-Kak Gesa mau ngapain?" Tanya Aira gugup dengan menahan dada bidang milik Gesa yang tengah di atasnya.


"Jatah sayang." Jawab Gesa pelan dengan mengecup lembut leher putih milik Aira.


"Nggak mau ah kak!"


"Kak Gesa curang.. Aku tadi aja baca dokumen sebelum tanda tangan nggak boleh dan sekarang kak Gesa mau seenaknya aja minta jatah sama aku." Lanjut Aira ngomel dengan berusaha mendorong pelan dada bidang Gesa.


"Nggak ada hubungannya dokumen sama jatah sayang."


Cup


"Perasaan gue kalo ngasih kepuasaan sama lo nggak pernah tanggung-tanggung juga."


"Selalu lembut dan bikin lo puas."


"Masak iya perkara dokumen doang jadi marah-marah terus jatah gue libur gitu aja." Ucap Gesa kemudian.


"Jatah kak Gesa nggak pernah aku kasih libur ya.. Kak Gesa aja selalu lupa waktu dan ngerasa libur mulu padahal nggak gitu." Sewot Aira cepat menanggapi Gesa.


Tidak kehilangan akal, Aira dengan berani mengusap lembut lengan Gesa. "Kalo mau jatah kali ini harus jawab jujur dulu gimana?" Tawrnya kemudian dengan tersenyum manis.


"Jujur apalagi coba? Gue udah nggak punya cewek lagi selain lo yang sekarang jadi istri gue."


"Bukan itu kak?"


Gesa memincingkan matanya, "Terus?"


"Isi dokumen tadi apa kak? Kenapa aku nggak boleh baca dulu dan harus segera tanda tangan?" Tanya Aira to the point.


"Bukan apa-apa sayang. Yuk ah jatahnya gue mulai sekarang." Jawab Gesa bodo amat dengan tangan yang mulai masuk ke dalam daster Aira.


"Jawab dulu!" Greget Aira dengan menepis pelan tangan Gesa.


"Kalo udah jujur jatahnya sepuas gue dan gue nggak mau nurut sama lo kali ini kalo urusan ranjang. Gimana?"


Aira menganggukkan kepala cepat karena jiwa ingin tahu perihal isi dokumen sudah memuncak.


"Isinya cuma dokumen kepemilikan saham, perumahan dan mas kawin lainnya yang gue berikan sama lo waktu kita akad."


"Maaf kalo telat.." Lanjut Gesa dengan mengecup bibir Aira yang masih bungkam tidak percaya dengan ucapan Gesa.


"Kak Gesa gila.. Asli kak Gesa gila." Gumam Aira kemudian.


Gesa tersenyum manis lalu menenggelamkan wajahnya di dada Aira seperti biasa.


"Gue lebih gila lagi kalo lo sampai pergi ninggalin gue, my Rara."


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


...MOHON MAAF LAHIR BATIN SEMUANYA 🙏...


__ADS_2