AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
61 | PESTA


__ADS_3

...FOLLOW INSTAGRAM AKU YAWW :)...


...@finarsky__...


...SELAMAT MEMBACA ✨...


"Sayang.." Panggil Gesa tiba-tiba bersamaan dengan membuka pintu kamar.


Aira yang masih telanjang bulat dengan cepat meraih selimut yang berada di atas ranjang untuk menutupi tubuhnya.


"Mohon diketuk pintunya kak kalo masuk."


"Untung aja yang masuk kak Gesa, kalo sampai yang lain bisa teriak kayak orang gila aku." Gumam Aira.


Gesa hanya tertawa kecil dengan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aira tengah berdiri saat ini.


"Jadi kamu berharapnya orang lain yang masuk dan melihat keseksian kamu? Gitu ya maksud kamu." Tanya Gesa tiba-tiba.


Mata Aira melotot mendengar ucapan Gesa dan tanpa sadar memukul lengan Gesa pelan.


Gesa mulai menggunakan panggilan aku kamu semenjak ia tahu bahwa cinta telah berlabuh pada Aira dan Aira menerima dirinya sepenuhnya beserta kekuarangannya.


Hal tersebut tanpa sadar membuat perasaan Aira bertambah bahagia hingga ia berjanji apapun yang akan terjadi kedepannya, ia akan tetap percaya pada Gesa dan selalu mendukungnya.


"Ya nggak gitu maksud aku kak." Jawab Aira sekenanya dengan mengambil kotak yang berisi dress mewah pemberian dari Gesa.


"Kenapa ditutupin segala sih." Gumam Gesa kemudian dengan gerakan cepat menarik selimut tebal yng menutupi tubuh telanjang Aira.


"KAK GESA!!" Teriak Aira keras dengan mata yang melotot kesal ke arah Gesa.


Gesa hanya menahan tawanya serta menatap tubuh telanjang Aira penuh nafsu. Apalagi ditambah perut buncit Aira yang semakin membuatnya tampak seksi membuat Gesa keringat dingin sendiri.


"Habisnya ngapain sih sayang pake di tutup segala? Bukannya aku udah lihat semuanya? Pake malu-malu lagi."


"Bukannya malu kak.. Tapi lebih mengedepankan kesopanan."


Gesa tertawa mendengar Aira yang mengutarakan masalah kesopanan padanya.


Dengan cepat Gesa menarik pinggang Aira lalu mendudukkan tepat di pahanya, "Lebih sopan lagi kalo kamu duduk seperti ini sayang."


"Kalo duduk kayak gini yang ada kita nggak akan berangkat-berangkat kak." Ucap Aira bersamaan dengan menatap ke arah jam dinding.


"Ini udah hampir jam 7 malam kak dan aku belum bersiap sedikit pun." Lanjut Aira dengan posisi tubuh yang berusaha turun dari pangkuan Gesa.


"Kalo kita nggak kesana aja gimana sayang?"


"Lagian itu pesta Nayla dan hanya ulang tahun. Pestanya mungkin biasa aja dan norak."


Aira menggelengkan kepalanya cepat walaupun ia tengah sibuk memakai pakaiannya tepat di depan Gesa tanpa malu lagi.


Gesa sendiri hanya bisa menelan ludahnya kasar dan mencoba mengalihkan pandangan mata ke arah lain.


"Ulangtahun itu sebuah momen istimewa kak. Dan siapa yang tau, kalo nanti kak Gesa yang diarepin dateng waktu disana."


"Sampai-sampai dibeliin tuxedo yang sama lagi." Gumam Aira dengan dingin.


Gesa tersenyum kecil lalu berdiri dari duduknya dan berjalan tepat dimana kini Aira berdiri, "Bilang aja cemburu." Ucap Gesa dengan menaikkan turunkan alisnya bersamaan.


"Nggak ihh.. Kak Gesa kepedean."


"Gimana nggak kepedean coba orang kayak gini d kejar cewek mulu kemana-mana."


"Oh jadi ngerasa bangga bisa dikejar semua cewek?" Tanya Aira cepat.

__ADS_1


Gesa mencebikkan bibirnya lalu menganggukkan kepalanya, "Aku sih nggak bangga ya sayang dan aku juga nggak ngerasa ganteng."


"Tapi kalo urusan duit sama cinta terus sayang sama istri.. Boleh di adu."


Cup


Gesa mengecup bahkan menggigit gemas pipi Aira setelah berbisik dengan lembut dan berlari begiti saja keluar dari kamar.


"10 MENIT NGGAK SELESAI DANDAN KITA NGGAK JADI PERGI SAYANG!!" Teriak Gesa kemudian yang membuat Aira sadar dan mulai bergegas untuk dandan secantik mungkin malam ini.


...🔥🔥🔥...


"Nggak suka pestanya."


"Nggak ada martabak disana."


"Gerah sama engap jadi satu."


Gerutuan Aira begitu memasuki mobil dengan tuntunan Gesa saat berjalan keluar dari pesta tersebut.


Pesta berjalan dengan baik dan sangat ramai, walaupun Aira harus menahan mati-matian untuk tidak menghabisi Nayla yang jelas-jelas berani menyentuh suaminya malam ini.


Sifat Aira berubah drastis lebih berani semenjak ada buah cintanya bersama Gesa yang kini tengah ada di dalam perut buncitnya.


"Kesel deh kak."


"Nggak ada martabak."


"Semua minumannya alkohol."


"Bau asap rokok sana-sini."


"Mana tadi yang bikin pesta genit lagi."


Gesa yang tengah fokus menyetir mobilnya hanya tersenyum kecil menahan tawanya.


"Kan aku tadi sebelum berangkat juga bilang gausah dateng aja gimana? Eh kamunya ngeyel sekarang ginikan kesel sendiri."


"Jadi menurut kak Gesa aku yang salah ya?" Tanya Aira pelan dengan menatap Gesa penuh salah dan mulai berkaca-kaca.


Gesa menghela nafasnya pelan dan lalu meminggirkan mobilnya.


"Sini peluk dulu. Duh, cintaku.."


Cup


"Kamu nggak salah sayang. Kamu nggak pernah salah." Ucap Gesa dengan mengusap kepala Aira pelan setelah mengecupnya.


"Tadi kak Gesa salahin aku." Jawab Aira cepat.


Gesa dengan gemas menggelengkan kepalanya, "Nggak tuh.. Kapan hayo?"


"Tadi kak Gesa bila-"


"Katanya ingin martabak. Yuk beli yuk! Nanti keburu malem takut tutup." Sahut Gesa cepat sebelum Aira bertambah marah dan emosi padanya.


Aira yang mendengar kata martabak dengan cepat melepaskan pelukan Gesa lalu menciumnya dengan cepat.


"Cinta kak Gesa banget deh."


Gesa yang tidak pernah mendapat perlakuan tersebut dari Aira, tiba-tiba pipinya memerah bak kepiting rebus akibat salah tingkah sendiri.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


"Maaf mas, tapi ini martabaknya yang terakhir sudah milik mas yang disana."


"Sudah habis mas.. Maaf ya." Lanjut ucap sang penjual tersebut.


Aira yang menunggu lama di dalam mobil dengan cepat keluar dan berjalan menuju gerobak martabak tersebut yang disana Gesa tengah berdiri.


"Bungkus satu aja masak nggak ada pak? Istri saya lagi hamil soalnya."


Memdengar ucapan Gesa, Aira mengusap lembut bahu Gesa yang membuat sang empu menolehkan kepalanya.


"Kok turun? Kan aku bilang kamu di mobil aja. Kamu itu kecapekan sayang."


Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Kita beli di tempat lain aja kak. Kan disini udah habis."


"Nggak sayang. Ini mau kamu dan kamu tadi bilang maunya martabak disini."


Gesa menatap penjual tersebut, "Satu aja masaka nggak ada pak?"


"Maaf mas tapi adonannya sudah habis dan tinggal satu ini."


"Pesenan saya sudah pak?" Ucap salah satu laki-laki yang tiba-tiba datang.


Tidak menunggu apapun lagi, Gesa dengan cepat menepuk bahu laki-laki tersebut dengan pelan yang membuat laki-laki tersebut memalingkan pandangannya.


"Mas.. Boleh nggak kalo pesanannya saya gantiin? Istri saya lagi ngidam soalnya."


"Loh pak Gesa.."


Gesa yang tampak bingung dengan panggilan pak padanya yang jelas itu adalah panggilan kantor mendadak menautkan kedua alisnya.


"Saya Jerico pak." Ucap Jeri dengan menjabat tangan Gesa dengan hormat dan sopan.


"Saya salah satu karyawan di perusahaan Deanova. Bagian cleaning servis."


Gesa menganggukkan kepalanya ragu dan mencoba percaya begitu saja.


"Silahkan pak.. Bapak saja yang ambil martabaknya saya nanti biar beli di tempat lain aja."


"Loh ini kamu gapapa beneran?" Tanya Gesa cepat untuk meyakinkan pendengarannya.


Jeri menganggukkan kepalanya mantap, "Iya pak gapapa.." Ucap Jeri dengan menatap Aira sopan dn menganggukkan kepala.


"Semoga dedek bayinya sehat-sehat ya bu."


Aira yang masih canggunh di panggil bu hanya menganggukkan kepalanya sopan.


"Kalp begitu saya permisi dulu pak." Pamit Jeri kemudian.


"Jeri sebentar.." Panggil Gesa dengan berlari kecil mengejar Jeri.


"Iya pak?"


"Kamu sekolah dulu lulusan apa kalo boleh tau? Martabaknya tadi udah dibayar belum?" Tanya Gesa to the point.


"Saya lulusan sarjana pak. Sarjana ekonomi dan kebetulan waktu ada lowongan di perusahaan bapak saja ikut eh keterima."


"Sudah saya bayar kok pak, tenang aja." Lanjut Jeri dengan senyum khasnya yang ramah.


Gesa mengeluarkan beberapa uang ratusan ribu dari dompetnya dan memberikan secara paksa pada Jeri.


"Ambil ini sebagai gantinya, kalo nggak diterima kamu saya pecat."


"Besok kamu temui sekretaris saya dan masuk ke ruangan saya.. Bilang aja udah janji."

__ADS_1


"Sebelumnya terimakasih banyak ya." Lanjut Gesa kemudian lalu pergi meninggalkan Jeri yang masih diam begitu saja di tempat.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2