
...FOLLOW INSTAGRAM UNTUK DAPET INFORMASI UPDATE :...
...@finarsky___...
...SELAMAT MEMBACA ✨...
"Gue nggak tahu harus berterimakasih sama siapa untuk sekarang. Tapi yang jelas, gue udah bersyukur dan akan habisin lo hari ini juga." Ucap Gesa dengan mengepalkan kedua telapak tangannya serta mata yang menyorot tajam bak mata elang pada Geral.
Geral tengah berada tepat di ruangan kosong milik Gesa dimana tempat tersebut sengaja ia gunakan untuk menghabisi musuh-musuhnya apalagi orang yang berani menyentuh orang tersayangnya termasuk Aira.
"Gue abang dari istri lo dan gue berhak atas dia karena dia adik gue!" Jawab Geral tidak terima bersamaan dengan berontak mencoba untuk melepaskan ikatan tali di seluruh tubuhnya.
Gesa tertawa sengit mendengar jawaban Geral, "Lo lupa perjanjian kita waktu kita taruhan? Lo jual Aira ke gue demi uang yang menurut gue nggak seberapa."
"LO LUPA HAH?!!"
BUGH
Pukul Gesa keras tepat di perut Geral setelah berteriak marah.
"Kenapa lo bisa muncul lagi di kehidupan istri gue?"
Gesa meraih rahang Geral dengan geram, "Kalo bukan karena Aira, mungkin lo sekarang udah mendekam di penjara dan kelaparan disana!!" Sengitnya kemudian.
"Lo harusnya mikir sebaik apa adik lo karena udah ngelindungin lo."
"Gue benci sama Aira! Gue benci sama adik angkat sok baik dan sok polos kayak Aira."
Geral menatap Gesa nyalang, "Semakin dia beranjak dewasa, keluarga gue hancur atas kedatangan dia."
"AIRA ISTRI LO PEMBAWA SIAL!! LO AKAN RASAKAN KESIALAN SAAT LO BERTAHAN SEUMUR HIDUP SAMA DIA!!"
BUGH!!
Gesa memukul keras rahang Geral yang membuat ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Rasanya gue ingin banget habisin lo dengan bunuh lo secara keji." Ucap Gesa dengan tersenyum sinis lalu mengusap tangannya yang terkepal.
"Tapi gue sadar kalo membunuh hewan itu dosa apalagi ada istri gue yang tengah hamil anak gue." Lanjut Gesa kemudian.
Gesa sudah mencari Geral sejak lama dan ingin menyelesaikan semuanya termasuk masalah Aira bersama dengan Novita.
Entah apa yang membuat Geral bersembunyi dari Gesa. Namun yang jelas, Gesa akan membuat Geral maupun Novita pergi jauh dari kehidupan istri cantiknya.
"Lo jugakan yang suruh Diki atau siapalah itu buat goda Aira dan ikutin Aira kemana-mana?"
Gesa meraih rahang Geral dengan keras, "Nggak lo nggak temen lo sama-sama bodoh tau nggak?!!"
"Lo cari masalah sama orang yang salah asal lo tahu.. Dan kalo bukan demi Aira, mungkin hidup lo sekarang udah membusuk di penjara!" Lanjut Gesa kemudian.
Geral menatap Gesa dengan pandanga kosong. "Gue benci sama adik sok baik macam Aira.. Gue dateng sam dia cuma mau uang dia."
BUGH
"LO ABANG YANG NGGAK TAU DIRI SEKALIGUS BRENGSEK TAU NGGAK?!!" Teriak Gesa sangat keras hingga menggema diseluruh ruangan setelah memukul perut Geral.
"Gue kasih lo dua pilihan.. Lo sekaligus ibu lo pergi dari kehidupan Aira atau lo sama ibu lo gue penjarain sekarang?" Tawar Gesa dengan menampilkan layar ponsel yang siap memanggil kontak polisi di ponsel mahalnya.
Geral tertawa di tengah rasa sakit akibat pukulan Gesa, "Lo masih kecil dan kalo lo mau masukin gue sama mama gue ke penjara atas kasus apa?" Tanyanya dengan suara tersengal-sengal.
"Gue emang masih kecil dan gue juga sadar gue masih anak sekolah."
"Tapi hebatnya, walaupun gue kecil gini gue udah bisa tuh buntingin adik angkat lo yang kata lo pembawa sial."
"Kebutuhan belanja adik lo yang menjabat sebagai istri gue nggak pernah kurang bahkan dia selalu berkecukupan.. Entah itu masalah lahir atau batin dia selalu cukup."
Gesa yang awalnya berbicara dengan memutari Geral, kini berdiri tepat di samping kursi yang tengah Geral duduki. "Gue tipe anak kecil bertanggungjawab! Bukan lo yang bajingan dan brengsek." Bisiknya kemudian.
Melihat jam yang sudah menunjukkan waktu semakin malam, Gesa menatap satu per satu anak buahnya.
"Terserah lo semua apain dia asal jangan sampai mati aja.. Kirim uang tunai 500 juta ke rumah dia dan pengirim atas nama Aira Deanova." Suruh Gesa kemudian pada anak buahnya.
__ADS_1
"Laksanakan bos.."
...🔥🔥🔥...
"Lo gila apa gimana sih Ges, ini udah jam 10 malam lebih dan bisa-bisanya lo yang udah nikah ngajakin kita ke kelab malam ginian."
"Bener-bener mati otak lo!" Lanjut Jefri kemudian.
Otak Gesa yang stres bukan main malam ini memutuskan untuk menghambur-hamburkan uangnya kembali seperti dulu sebelum ia menikah bersama Aira.
Entah apa yang membuatnya bisa segila ini. Namun yang jelas ia akan pulang jika otaknya sudah tenang dan tidak dalam keadaan emosi yang memuncak.
Andre yang duduk di samping Jefri menghembuskan asap rokoknya begitu saja, "Biarin aja.. Turutin aja yang dia mau toh kita dibayarin." Ucapnya ringan.
"Lo nggak mikirin bini lo yang mungkin di rumah sekarang nungguin lo? Gue mau kita pulang karena besok hari sekolah."
Gesa yang mendengar nasihat dari Jefri dengan cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis karena efek mabuk yang mulai melanda badannya.
"Aira nungguin gue.. Aira? Nungguin gue? Hal mustahil asal semua lo tahu."
"Pernikahan gue cuma kontrak dan gue nggak tahu harus gimana nanti ke depannya setelah anak gue lahir."
"Mungkin gue akan buang anak gue ke panti asuhan begitu rumah tangga gue selesai sama Aira."
BUGH!!
"Bangun lo Ges!! Ayo bangun.. Sini berantem sama gue!!" Marah Andre dengan memukul rahang Gesa tanpa henti.
Andre dan Jefri tidak habis fikir dengan pikiran Gesa yang sampai segitunya masalah anak. Apalagi dengan menitipkan seorang buah hati ke panti asuhan.
Itu sungguh perbuatan hina dan pengecut bagi Andre dan Jefri.
"Gue tahu ya Ges, kelakuan gue lebih bejat dan bajingan daripada lo.. Tapi gue nggak akan setega lo yang main buang anak ke panti asuhan apalagi itu darah daging lo."
Andre menarik kerah baju Gesa dengan kasar, "Kalo lo berani hamilin Aira berarti lo juga harus berani tanggung hidup dia maupun hidup anak lo sama Aira."
"Lo berani bikin Aira nangis lagi, gue akan rebut Aira dari lo.. Dan kalo lo sampai berani ceraiin Aira, gue yang akan nikahin dia dan rawat anak lo sama dia!!" Ancam Andre kemudian dengan penuh emosi bersamaan dengan mendorong tubuh Gesa kasar ke arah sofa.
Jefri mengusap wajahnya kasar dan tanpa memikirkan apapun lagi dengan cepat membopong tubuh lemas Gesa yang penuh memar akibat pukulan Andre keluar dari kelab.
"Gue nggak tahu lo punya masalah apa sekarang tapi yang jelas nggak semua masalah cara nyelesainnya dengan perceraian Ges."
"Gue sadar gue juga belum menikah dan bahkan istri hamil gue belum ngalamin.. Tapi coba deh lo pikir juga Aira."
Jefri mulai melajukan mobilnya menuju rumah Gesa, "Aira yang rela putus sekolah demi penuhin kontrak lo, Aira yang selalu sabar ngadepin ego lo yang kasar, Aira yang selalu nurut sama lo.. Coba deh lo renungin sekali aja."
"Dan lo bayangin kalo lo di posisi Aira.. Kalo Aira beneran lo ceraiin mungkin di juga akan marah saat lo bawa anaknya ke panti asuhan."
"Aira nggak ada hak lagi masalah anak kalo kita berdua selesai." Gumam Gesa dengan mata yang terpejam dan sedikit meringis menahan sakit akibat pukulan Andre.
"Emang nggak ada hak Ges.. Tapi Aira seorang ibu. Seorang ibu nggak akan rela kalo jauh dari anaknya apalagi anaknya masuk panti asuhan."
"Aira besar tanpa orang tua kata lo. Udah pasti Aira juga nggak akan biarin anaknya macam dirinya."
Gesa menghela nafasnya pelan memikirkan semuanya, keadaan yang sebelumnya belum terlintas di otaknya kini ia mulai mengalaminya.
Aira benar-benar bisa membuat Gesa takluk bahkan bertekuk lutut saat ini. Namun Gesa malu mengakuinya.
Dengan menjawab Jefri atas penolakan dirinya terhadap Aira, tidak membuat Gesa kalah malah ia semakin ingin bersama Aira.
"Walaupun Aira bawa anak gue dia nggak akan bisa kasih kebutuhan apapun tanpa gue." Sombong Gesa kemudian.
Jefri tersenyum tipis mendengar nada sombong yang keluar dari bibir Gesa.
"Aira ada lo ada aja dia masih mau maksa bekerja.. Apalagi tanpa lo dan demi menghidupi anak lo."
Jefri menatap Gesa sekilas, "Kita sebagai cowok, nggak akan berarti apa-apa kalo cewek kita mulai hidup mandiri, apapun nyari sendiri dan punya uang sendiri bro." Lanjut Jefri kemudian yang membuat Gesa diam seketika.
Tidak menjawab pernyataan Jefri dan tanpa ucapan terimakasih telah diantar sampai di rumah, Gesa dengan sempoyongan berjalan memasuki rumah di pukul dini hari.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1
"Kak Gesa kemana ya?" Ucap Aira pelan dengan beberapa kali menatap jam dinding.
Aira tampak khawatir dengan Gesa yang berangkat keluar tiba-tiba dan tidak berbicara apapun padanya.
Bukan satu atau dua kali Gesa seperti ini padanya dan Aira sadar akan hal tersebut.
Tidak mau ikut campur urusan Gesa yang mungkin akan membuatnya semakin jauh pada Gesa, sedangkan anak yang tengah ia kandung saja tidak mau jauh dari sang papa.
CEKLEK!!
"Kak Gesa.." Panggil Aira bersamaan dengan berjalan mendekat ke arahnya.
"Darimana aja kak? Udah mau pagi loh ini.." Lanjut Aira terjeda begitu aroma alkohol menguar begitu saja dari jaket denim Gesa.
"Kak Gesa minum ya." Tanyanya kemudian.
"Bukan urusan lo Ra." Jawab Gesa seadanya dengan menahan pening di kepalanya.
Gesa dengan cepat berjalan menuju kamar yang diikuti oleh Aira di belakangnya.
"Sekarang istirahat ya kak, sini aku bantu lepasin jaketnya." Ucap Aira sabar seperti biasanya dengan membantu Gesa melepaskan jaketnya.
"Ini semua gara-gara dia." Ucap Gesa yang mulai bergumam tidak jelaa karena mabuk berat.
Aira mengerutkan keningnya bingung. "Dia siapa kak?"
Tidak menjawab pertanyaan Aira, Gesa dengan cepat memasukkan kepalanya ke dalam kaos yang digunakan Aira malam ini.
"Bayi kita.. Dia sumber masalah bagi kita."
"Kalo nggak ada dia mungkin kita udah bisa urus surat cerai."
"Kita bisa pisah dan nggak ada kita-kita lagi."
"Rumah tangga kita hanya sampah Ra.. Gue benci rumah tangga kita." Gumam Gesa yang jujur saja membuat Aira sakit hati yang amat sangat.
Aira dengan cepat mengusap air matanya kasar lalu mengusap lembut rambut hitam Gesa, "Kita akan bercerai kak, tenang aja."
"Kalo kak Gesa mau besok aku yang urus gugatan cerainya.. Kak Gesa biar tinggal tanda tangan aja." Lanjut Aira dengan menahan isak tangisnya.
Sakit yang amat sangat kini telah melanda hati Aira. Mengira perlakuan Gesa yang selama ini mulai perhatian dan sayang padanya nyatanya hanya akting dan bermuka dua.
Tidak melanjutkan gumamannya, Gesa dengan cepat menarik tubuh Aira hingga mereka berdua terjatuh tepat di atas ranjang.
Gesa memeluk Aira erat bahkan mengecupi kening Aira dengan sayang dan lembut.
Sedangkan Aira sendiri hanya mampu menahan isak tangisnya dan memuaskan dirinya memeluk Gesa sebelum Gesa pergi meninggalkannya.
"Sialnya semuanya bohong Ra.. Semuanya bohong!!"
"Gue nggak mau cerai sama lo, gue mau ada kita selamanya dan hanya kita serta anak-anak kita."
"Rumah tangga kita sebuah berlian Ra.. Gue mau seumur hidup sama lo dan anak kita."
Gesa bergumam dengan meneteskan air matanya seolah memohon pada Aira agar tidak pergi darinya.
"Gue bohong kalo gue nggak cinta lo, gue bohong kalo gue nggak sayang sama lo, gue bohong kalo gue nggak bahagia sama lo."
"Gue bohong kalo gue nggak butuh lo.. Gue sayang lo Ra, cinta lo bahkan gue sangat-sangat butuh lo."
"Jangan buang gue Ra.. Jangan tinggalin gue sendirian yang tanpa tujuan ini." Lanjut Gesa memohon.
Aira yang mendengar semua pengakuan Gesa mendadak diam dengan meneteskan air matany penuh haru.
Tidak menyangka bahwa Gesa membalas perasaannya, membalas cintanya yang lama telah tumbuh dan tidak ingin dirinya pergi.
"I love you, Aira Deanova." Bisik Gesa sebagai penutup kantuknya tapat di telinga Aira dengan mendekap badannya erat serta hangat.
Aira mendongakkan kepala dan mengulurkan tangannya mengusap rahang Gesa yang memar, "I love you more, calon papa muda yang ganteng."
...🔥🔥🔥...
__ADS_1