
...FOLLOW INSTAGRAM :...
...@npaaaaa____...
...🔥🔥🔥...
"Gimana keadaan istri saya beserta kandungannya dok? Baik-baik saja bukan?" Tanya Gesa cepat saat dokter kandungan tersebut selesai memeriksa Aira.
Gesa memang memaksa Aira untuk segera ke dokter kandungan walaupun dengan ataupun tanpa persetujuan dari Aira.
"Alhamdulilah tuan Deanova, keadaan nyonya Deanova beserta bayinya baik-baik saja."
"Minta tolong untuk lebih diperhatikan lagi. Karena memang usia kehamilan yang muda seperti ini sangat rentan untuk keguguran."
"Dan pesan saya untuk anda nyonya Deanova, mohon untuk tidak banyak fikiran ya dan kalo bisa usahakan jangan angkat beban yang berat dulu." Lanjut dokter tersebut dengan menatap Aira.
Aira menganggukkan kepalanya lalu tanpa sadar menyenderkan kepalanya di lengan Gesa.
Gesa mengusap lembut rambut Aira lalu mengecup keningnya tanpa malu di depan dokter.
"Terimakasih ya dok.. Kalo begitu kita permisi dulu."
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, "Baik tuan Deanova.. Sebisa mungkin anda harus selalu siaga."
Seperti biasa dimana-mana mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian karena yang cowok tampan dan Aira yang cantik serta terlihat ramah.
Bukan rahasia umum lagi jika yang pergi ke tempat periksa kandungan tersebut hanya untuk orang kaya serta berkelas seperti contohnya saja Gesa beserta istrinya.
"Mau gue gendong aja?" Tawar Gesa yang tidak sengaja melihat Aira yang tiba-tiba saja memijat kepalanya karena pening.
Aira menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak usah kak Ges.. Ini juga mau sampai tempat parkir aku kuat kok jalan sendiri."
"Pasti ini peningnya karena belum sarapan, kita makan dulu ya."
"Makan di rumah aja." Jawab Aira pelan.
"Nggak keburu sayang.. Jarak rumah kita sama tempat kita sekarang jauh, nanti yang ada tambah molor lagi makannya."
Gesa mengusap lembut pipi Aira, "Mau makan apa? Kita cari sekarang."
Tanpa sengaja mata Aira mengarah pada penjual nasi pecel tepat di pinggir jalan yang ramai dan tampak berdesak-desakan.
Aira mengusap perutnya, "Mau makan disitu kak." Ucapnya kemudian.
Mata Gesa melotot tidak percaya mendengar pernyataan Aira dimana makan di pinggir jalan apalagi makanan kaki lima dan tempatnya yang berdesak-desakan itu bukan kelasnya.
"Sayang please.. Itu tempatnya rame banget dan pasti disana panas. Restoran aja ya."
Aira menggelengkan kepalanya, "Itu menunjukkan sebuah bukti kak kalo warung makan rame berarti makanannya enak."
"Tapi Ra, itu nggak higienis."
"Kalo kak Gesa nggak mau yaudah aku makan sendiri aja disana." Sahut Aira cepat dan berjalan begitu saja meninggalkan Gesa yang main diam di tempat.
"Yang.."
"Sayang.."
"Rara!!" Teriak Gesa yang tetap tidak dihiraukan oleh Aira.
Gesa mengusap wajahnya lalu dengan greget mulai berlari mengejar Aira menuju warung tersebut.
"Jangan lari-lari.. Lo nggak sendirian dan ada anak kita di perut lo." Geram Gesa dengan menarik lengan Aira.
Entah apa yang membuat hati Aira tiba-tiba menghangat begitu saja tapi yang jelas mendengar Gesa mengucapkan kata anak kita membuatnya terbang sekaligus senang bukan main.
Gesa yang seperti itu makin membuat Aira jatuh lagi dan lagi. Tidak tahu akan seperti apa nantinya dan hal apa yang akan kita temui di masa depan, Aira hanya pasrah dan mencoba menikmati hari-harinya bersama Gesa.
__ADS_1
"Kak Gesa lama mikirnya. Nanti yang ada malah antriannya semakin banyak."
Gesa menarik salah satu kursi yang kosong. "Duduk disini dan jangan kemana-mana.. Gue aja yang pesen dan kalo diajak bicara sama cowok selain gue jangan dijawab. Gue nggak suka!" Peringatnya kemudian.
Aira hanya menganggukkan kepalanya lalu mengusap perutnya dengan lembut, "Anak mama hari ini sarapannya jadi sama papa ya, senengkan? Ya pasti seneng dong. Kan papa Gesa ganteng." Gumamnya dengan tawa terkikik menatap Gesa yang tidak jauh dari hadapannya.
...🔥🔥🔥...
"I-Ini semua pesenan kak Gesa?" Tanya Aira dengan mata melotot begitu nasi pecel yang ada di depannya telah tiba.
Bagaimana tidak melotot orang ada ayam goreng dan lauk pauk lain yang berjejer tepat diatas meja.
"Aku cuma minta makan nasi pecel kak, ini kenapa lauknya banyak banget."
Gesa mengendikkan bahunya pelan, "Gue yang nggak pernah makan nasi pecel ya mana tau. Pokoknya gue bilang yang bapak jual itu yang lo mau."
"Astaga suka banget buang-buang duit ya Tuhan." Jawab Aira dengan kepala pening lalu menghembuskan nafasnya.
"Kalo nggak mau makan semuanya yaudah gapapa asal makan dan perutnya ke isi. Kasian baby ikut kelaperan."
Tidak menjawab pernyataan Gesa, Aira mulai memakan apa yang ia inginkan dan sudah ada di depan matanya.
"Makannya pelan-pelan sayang. Gue nggak akan minta dan semuanya ini buat lo."
Gesa menyodorkan sepiring nasi pecelnya pada Aira, "Kalo mau, makan juga punya gue."
"Nggak bisa bayangin kalo lo waktu lari tadi dan gue nggak ikut kesini nyusulin lo, pasti lo nggak bisa makan karena dompet lo ketinggalan di rumah." Lanjut Gesa bergumam dengan menatap Aira yang tengah asyik dengan makanannya.
"Mau cuci piring?"
Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Nyatanya kak Gesa ngikutin aku dan nurutin semua apa yang aku mau."
"Lagian juga dompet aku nggak ada uangnya.. Aku udah bawa uang di slingbag ini walaupun cukup buat naik taksi aja."
"Uang darimana?" Tanya Gesa dengan mata memincingnya.
"Sisa tabungan aku waktu aku masih sekolah ditambah gaji aku yang lumayan saat kerja di kedai kopi."
"Tapi kak, nanti at-"
"Selesai makan kita ke kedai dan gue akan bertemu langsung sama pemiliknya buat pecat lo."
Aira menghela nafasnya pelan, "Udah kenyang kak.. Aku mau pulang."
Melihat mood Aira yang hancur tiba-tiba karena masalah pekerjaan dengan cepat Gesa berinisiatif untuk menghiburnya.
"Dihabisin dulu makannya, sayang." Rayu Gesa.
Aira menggelengkan kepalanya cepat dan menjauhkan kepalanya begitu saja saat tangan Gesa ingin mengusapnya.
"Iya deh iya.. Nanti gue akan kasih lo pekerjaan tapi ngerjainnya di rumah. Gue akan gaji lo setiap bulan seperti apa yang lo inginkan."
Mata Aira berbinar senang dengan bibirnya yang tersenyum sumringah. "Beneran kak? Kakak nggak bohongkan? Kerja apa?"
"Bantuin kerjaan kantor dan bantuin gue apapun yang gue minta. Lo taukan sekolah sama kerja itu bebannya gimana?"
Aira menganggukkan kepalanya, "Yeayyy.. Terimakasih kak Gesa.. Kak Gesa emang best parah."
Cup
Cup
Girang Aira bersamaan dengan memeluk Gesa tepat di tempat umum dan mengecup bibir Gesa tanpa ragu.
Semua pasang mata yang ada di warung tersebut tampak iri dengan pasangan Gesa dan Aira.
"A-Aaa maafin aku kak Ges.. Nggak bermaksud cium." Lirih Aira dengan menundukkan kepalanya setelah mencium Gesa dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Sedangkan Gesa hanya diam. Diam karena kaget bahwa Aira mulai berani memeluknya bahkan mencium dirinya tanpa ragu.
"Kak Gesa jangan diem aja.. Jawab dong kak? Maafin Aira ya kak, Aira nggak sengaja." Mohon Aira kemudian dengan menggoyangkan lengan Gesa.
Gesa berdiri dari duduk dan melihat orang-orang di sekitarnya yang ramai dan masih ada juga yang tengah mengantri untuk menikmati nasi pecel di pagi hari.
Aira yang bingung dan merasa bersalah hanya menggenggam jemari besar milik Gesa dengan menundukkan kepalanya.
"BUAT SEMUANYA YANG ADA DISINI PAGI INI MAKANNYA GRATIS YA.. BUAT RASA SYUKUR SAYA KARENA DIKASIH ISTRI YANG CANTIK DAN TENGAH MENGANDUNG ANAK SAYA."
Mendengar pengumuman dari Gesa, semua pelanggan bersorak gembira dan tidak lupa untuk mengucapkan selamat untuknya dan Aira.
"Marahnya nggak karena dicium sayang. Tapi karena cium lo cuma dua kali.. Kalo lebih dari tiga kali dan berdurasi panjang mungkin gue nggak akan marah kayak tadi."
Cup
"Bumbu pecel emang dari kacang ya.. Baru tau gue dan itupun taunya dari ciuman ayang Rara." Lanjut Gesa setelah mengecup singkat bibir Aira.
...🔥🔥🔥...
"Uangnya pas ya pak? Coba bapak hitung dulu." Ucap Gesa yang tengah melakukan totalan dengan si penjual nasi pecel tersebut.
Aira sendiri masih asyik memakan sisa makanannya yang dibelikan Gesa untuknya pagi ini.
"Nggak tau mau bersyukur yang kayak gimana lagi, tapi yang jelas terimakasih banget ya Tuhan sudah menghadirkan sosok kak Gesa di kehidupan Aira walaupun ini hanya sementara." Gumam Aira kemudian.
Cup
"Makannya udah sayang?" Tanya Gesa lembut setelah mengecup kening Aira lalu mengusap rambutnya.
Aira yang belum pernah mendapat perlakuan seperti itu sebelumnya hanya bisa menahan nafas dan mencoba untuk menunduk guna menutupi pipinya yang merah.
"Mau dihabisin disini gue tungguin atau mau dibungkus di bawa pulang aja? Atau udah makannya?"
"Di bungkus aja kak, nanti di makan lagi di rumah."
Gesa menganggukkan kepalanya lalu memalingkan pandangannya menatap si bapak penjual pecel tersebut.
"Permisi pak, minta tolong ini di bungkus aja ya pak.. Mau di bawa pulang soalnya."
Gesa kembali menatap Aira yang masih menunduk di depannya.
"Gue emang nggak tampan tapi seenggaknya hargai gue dengan bicara natap gue bisa?" Ucap Gesa tiba-tiba tepat di depan Aira.
"Kenapa nunduk?"
"Ada yang salah sama penampilan gue sampai lo nggak mau lihat gue?" Ucapnya dengan melihat dan meneliti penampilannya.
Selalu tampan walaupun hanya dengan celana pendek dan hoodie hitam pagi ini.
Melihat Aira yang masih menunduk membuat Gesa panik sendiri dan segera berdiri dari duduknya untuk menuju tepat di samping Aira.
"Sayang kenapa? Sakit?"
"Apanya yang sakit? Perutnya ya?" Panik Gesa terus menanyai Aira.
Tidak menjawab pertanyaan dari Gesa, Aira dengan cepat memeluk leher Gesa erat-erat dengan menangis.
"Nggak sakit kak.. Cuma bawa perasaan aja. Kak Gesa sabar banget pagi ini, aku jadi suka dan pipi aku memerah."
Aira menjatuhkan tangan kanannya lalu mengusap tangan Gesa yang ada di perutnya.
"Dedek bayinya suka di pegang sama kak Gesa.. Jangan jahat-jahat lagi ya kak." Lanjut Aira kemudian.
Gesa yang mendengar hal tersebut mendadak tersenyum tipis lalu mengecup pelan rambut Aira.
"Mulai sekarang kalo ada apa-apa dan mau apapun bilang ya.. Jangan bikin gue khawatir." Pesan Gesa kemudian yang diangguki kepala oleh Aira.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
...SEE YOU NEXT PART, BRO 🤸...