AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
59 | LAHAN STADION


__ADS_3

...FOLLOW INSTAGRAM :...


...@finarsky__...


...BUAT DAPETIN INFO UPDATE :)...


...SELAMAT MEMBACA ✨...


"Ra.. M-Mau bicara penting bisa nggak?" Ucap Gesa tiba-tiba yang melihat Aira tengah melintad di depannya.


Gesa berniat mengajak Aira untuk menghadiri pesta yang akan diselenggarakan Nayla. Selain menunjukkan Aira adalah orang terpenting di hidupnya, tujuan Gesa adalah menbuat Nayla agar menjauh dari kehidupannl bahagianya.


Aira menganggukkan kepalanya, "Iya kak, mau bicara apa?" Jawabnya dengan nada yang lembut bahkan terdengar hangat.


Gesa menatap sofa yang ada di depannya untuk memberi kode pada Aira agar duduk disana.


Melihat Aira yang sudah duduk di depannya, Gesa dengan cepat bersimpuh tepat di lutut Aira yang membuat sang empu kaget.


"Kak Gesa.. Kak Gesa ngapain duduk disini? Ayo berdiri kak." Ucap Aira dengan membujuk Gesa agar berdiri.


Gesa menggelengkan kepalanya lalu matanya fokus menata Aira. "Maafin gue.. Beribu maaf gue lontarkan ikhlas untuk lo."


"Maaf karena perilaku gue akhir-akhir ini yang dingin sama lo."


"Maaf kalo gue kasar sama lo baik perilaku gue maupun omongan gue yang mungkin bikin lo sakit hati."


Gesa menggengam erat jemari Aira, "Gue mau kita selesai Ra.. Kontrak pernikahan kita selesai dan gue akan serius sama lo."


Aira mengerutkan keningnya karena bingung. "M-Maksud kak Gesa apa? Kak Gesa mau pernikahan kita selesai sebelum kontraknya selesai gitu ya?" Tanyanya kemudian.


Gesa menganggukkan kepalanya, "Kontrak kita selesai dan kita akan tetap suami istri tanpa kontrak."


"Pernikahan kita sah dimata negara dan agama.. Gue mau cuma ada kita berdua dan anak-anak kita." Lanjut Gesa kemudian yang membuat Aira meneteskan air matanya tanpa sadar.


Tidak menyangka dengan semua pengakuan Gesa hari ini. Gesa yang sadar bahkan setengah sadar kini telah memohon pada Aira.


"Tapi kenapa kak? Bukannya dari awal kak Gesa yang minta pernikahan kita cuma kontrak?"


"Dan mungkin 3 bulan dari sekarang aku akan melahirkan lalu kita pisah dengan kak Gesa sebagai hak asuh utama anak kita."


Gesa menggelengkan kepalanya cepat, "Gue butuh lo. Gue butuh lo dan gue nggak butuh orang lain selain lo."


"Gue udah yakin kalo gue jatuh cinta sama lo dan gue udah ambil keputusan bahwa sama lo, gue akan habisin sisa hidup gue."


Gesa menenggelamkan semua wajahnya di sela lutut Aira dan menangis serta memohon disana agar Aira tetap bersamanya.


"Maafin gue Ra.. Gue janji sama lo, gue akan nurut sama lo, hargai lo sebagai pasangan hidup gue, nafkahi lo dengan layak dan gue akan melimpahkan cinta dan sayang gue setiap hari buat lo."


Aira masih belum yakin dengan ucapan Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya yang membuat Gesa kaget.


"Jangan senang dulu Ra.. Kak Gesa mantan buaya dan nggak seharusnya kamu senang dulu dengan ucapan kak Gesa." Batin Aira berbicara.


"Aku mau ke belakang dulu kak, beresin baju-baju kak Gesa dulu." Pamit Aira kemudian dengan berjalan menuju belakang rumah bersamaan dengan mengusap matanya kasar.


"GUE TAU DAN SADAR KALO GUE ORANGNYA RUMIT RA.. JADI GUE AKAN NUNGGU LO." Teriak Gesa menggema di seluruh sudut rumah.


...🔥🔥🔥...


"Gue tau kalo lo nggak akan percaya sama gue gitu aja Ra karena masalalu gue."


"Gue akan berusaha yakinin lo agar tetap sama gue apapun caranya." Lanjut Gesa dengan menatap Aira yang ada di sampingnya.


Sebenarnya Aira sadar akan perlakuan Gesa yang berbeda akhir-akhir ini.

__ADS_1


Aira hanya ingin tahu seberapa perjuangan Gesa mempertahankan dirinya agar tetap bersama-sama hingga tua bersama.


"Perasaan drama yang lo tonton itu ngebosenin Ra, kenapa lo nggak natap gue sama sekali sih?" Gumam Gesa dengan menarik makanan ringan yang berada di pangkuan Aira.


Gesa sengaja membelikan makanan ringan yang sehat dan itupun sudah melewati saran dokter semenjak Aira hamil. Ia melakukan itu karena tahu jika Aira sering tidak mau makan dan dengan makanan ringan, bagi Gesa merupakan jalan pintas.


"Kak Gesa.. Itu punya aku." Ucap Aira tidak terima dengan menatap Gesa kesal.


"Tatap gue dulu. Mana matanya?" Goda Gesa kemudian.


Aira tetap tidak mau menatap Gesa dan kembali memalingkan wajahnya menatap layar televisi besar yang ada di depannya.


Gesa menghela nafasnya melihat tingkah Aira yang dikendalikan oleh mood hamilnya, "Huftt.. Iya-iya ini snacknya. Gue nggak akan minta." Ucapnya kemudian dengan meletakkan kembali snack tersebut di pangkuan Aira.


"Udah kenyang kak." Jawab Aira cepat bersamaan dengan meletakkan snack tersebut diatas meja.


"Iya deh gue bakalan pergi dan nggak deket-deket lo lagi.. Gue tau kalo lo sekarang mulai risih sama gue." Ucap Gesa tiba-tiba lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya.


Ujiam kelulusan semakin dekat tidak membuat Gesa bingung seperti lainnya. Dengan alasan yang memang Gesa adalah anak bandel namun tidak dengan otaknya yang bandel juga.


Tuhan menciptakan Gesa seolah sedang berbahagia dengan karunia wajah yang tampan, harta yang melipah serta otak yang cerdas.


Lahir dalam keluarga Deanova yang terpandang serta jabatan sebaga anak tunggal dan jangan lupakan juga kekayaan keluarga Deanova yang berdiri dimana-mana.


Aira mengusap perutnya pelan, "Nggak tau seserius apa papa kamu sama mama, tapi yang jelas untuk saat ini mama nggak boleh terlena sama perlakuan papa kamu." Gumamnya kemudian.


Masalalu Gesa masih tetap membuat Aira belum begitu yakin dengan semua ucapannya beberapa jam yang lalu.


Dan Aira juga masih takut jika ia beneran jatuh dengan Gesa yang notabenya hanya berpura-pura, ia tidak siap untuk merasakan sakit yang entah bagaimana rasanya.


"Aku harap kamu memilik kesabaran yang lebih kak Ges.. Cinta bukan untuk mainan."


Aira mengusap wajahnya kasar, "Apalagi hubungan kita sekarang sudah serius dan terikat tali suci pernikahan. Aku belum siap sakit lagi kak Ges."


...🔥🔥🔥...


TOK..


TOKK.. TOKKK..


TOKK..


"Ada yang bis-"


"Gesanya ada?" Tanya Nayla tanpa basa-basi begitu tahu jika Aira yang membukakan pintu rumah.


Aira tanpa sadar menganggukkan kepalanya dan masuk begitu saja tanpa sopan santun adab bertamu.


Gesa yang sedang mengusap rambut basahnya dengan handuknya yang masih terlilit di pinggangnya saja sukses membuat Nayla terpana.


"Siapa sayang?" Tanya Gesa yang belum sadar jika Nayla tengah datang ke rumahnya.


Aira tidak menjawab pertanyaan Gesa, melainkan langsung menunjuk Nayla dengan memalingkan pendangannya.


Gesa memutar bola matanya malas dengan cepat begitu tahu bahwa tamu yang datang ke rumahnya adalah Nayla.


"Damn it.. Hot banget astaga." Gumam Nayla kemudian dengan loncat-loncat dan menggigit jarinya.


Tidak mau menghiraukan Nayla, Gesa dengan cepat berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian.


"Mau minum apa kak?" Tanya Aira sopan.


Nayla duduk di sofa dengan sombong dan melipat kedua tangan di depan dada. "Terserah apa aja asal nggak lo racunin." Sewot Nayla kemudian.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Gesa yang tiba-tiba sudah berada di anak tangga bawah dan melihat Aira yang berjalan melewatinya.


"Ke dapur kak."


Gesa menautkan kedua alis tebalnya, "Ngapain?" Tanyanya kemudian.


"Yakan kak Nayla juga tamu kak, kita harus menjamu tamu sebaik mungkin. Ini aku mau ke dapur bikin minum."


Tidak menjawab pernyataan Aira, Gesa dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Aira dengan erat.


"Dia tamu nggak penting dan nggak akan lama di rumah kita."


"Tanya tujuan dia kesini ngapain dan suruh pulang aja."


Cup


Gesa mengecup rambut Aira dengan lembut, "Ganggu orang lagi di mabuk cinta aja." Gumam Gesa yang terdengar di telinga Aira hingga membuatnya tersenyum kecil.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Gesa tanpa basa-basi dan tanpa melepaskan lengannya di pinggang Aira.


Nayla berdiri dari duduknya lalu menyerahkan paperbag pada Gesa. "Ini ada tuxedo buat kamu.. Kamu pake di acara ulangtahun aku ya Ges biar samaan sama warna dress aku."


Tidak berfikir lama lagi dan ingin Nayla segera pergi dari rumahnya, Gesa mengambil paperbag tersebut tanpa ragu.


"Oke.. Kalo nggak ada yang di omongin lagi sekarang lo boleh pergi."


"Istri gue mau gue kasih jatah." Lanjut Gesa kemudian tanpa sungkan lalu mengangkat tubuh Aira dengan cepat berjalan menaiki tangga meninggalkan Nayla.


Gesa melemparkan paperbag yang ia terima dari Nayla tepat masuk ke dalam tempat sampah dan hal tersebut membuat Aira bingung sendiri.


"Kok dibuang kak?" Tanya Aira kemudian bersamaan dengan Gesa menurunkan dirinya tepat di atas ranjang.


"Yakan nggak ada gunanya.. Gue juga nggak peduli besok dia pake dress warna apa. Emang dia siapa gue?" Jawab Gesa dengan ringannya.


Gesa memeluk Aira dengan gemas di atas ranjang. "Besok ke butik ya, ambil jas sama dress lo."


"Gue udah pesen kemarin dan nggak tau pas atau nggak sama lo. Soalnya kan kita ketambahan baby disini." Lanjut Gesa dengan riangnya dan dengan cepat masuk ke dalam kaos yang digunakan Aira malam ini.


Tenggelam dengan keasyikan bersama calon anaknya dengan mengecupi perut Aira tanpa henti serta berbicara aneh-aneh tepat di depan perut buncit milik Aira.


Aira tersenyum manis dan tidak mampu menahan rasa senang serta harunya kali ini melihat perlakuan Gesa padanya.


"Jangan di gigit kak Ges perutnya." Peringat Aira kemudian dengan mengusap kepala Gesa dari luar kaosnya.


"Habisan gembul sih.. Baby cepet keluar yuk, main bola sama papa."


"Papa udah beli lahan nih buat bikin stadion." Lanjut Gesa yang berhasil membuat mata Aira melotot tidak percaya.


Aira memijat pelan kepalanya yang sedikit pening karena kaget, "Ya Tuhan seberapa banyak kah kekayaan suami hamba ini? Belum lahir aja udah dibeliin lahan. Apalagi kalo udah keluar." Batin Aira berbicara sendiri.


...🔥🔥🔥...


...AFIGESA DEANOVA PUTRA



...


...AIRA KLEANTHA ...



...🔥🔥🔥...

__ADS_1


__ADS_2