AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
47 | KOMPLEK SEBELAH


__ADS_3

...IG : npaaaaa____...


...🔥🔥🔥...


"SAYANG.. DOKUMEN KEMARIN DARI SAFIRA DIMANA?" Teriak Gesa dari lantai atas.


Aira yang tengah menjemur pakaian di halaman belakang dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan cepat menaiki tangga menuju ruang kerja Gesa.


"Kemarin siapa yang ninggalin di meja makan?" Tanya Aira balik setelah sampai di ruang kerja Gesa.


Gesa mengusap wajahnya kasar karena bingung jika dokumen penting tersebut harus hilang.


"Lupa kemarin." Jawab Gesa dengan ringannya dengan mencari map dokumen tersebut di tumpukan buku.


Aira menghela nafasnya pelan dan menuju rak dimana ia meletakkan map dokumen yang menurut Gesa sangat penting.


"Ini.." Ucap Aira dengan menyodorkan map tersebut pada Gesa.


Gesa bernafas lega lalu mengecup kening Aira pelan sebagai tanda terimakasihnya.


"Untung aja ketemu.. Kalo nggak bisa lama banget ngurusnya." Gumam Gesa bersamaan dengan duduk di kursi kerjanya dan membaca ulang dokumen-dokumen tersebut.


Melihat Gesa yang tengah sibuk dengan dokumen di tangannya, Aira berjalan begitu saja menuju pintu dan berencana melanjutkan pekerjaan rumahnya.


"Sayang mau kemana?" Tanya Gesa tiba-tiba yang membuat Aira menghentikan langkahnya.


"Ke bawah kak, pekerjaan rumah belum selesai dan semuanya gara-gara kak Gesa."


"Sini dulu sayang." Ucap Gesa dengan menarik lengan Aira lalu mendudukkan diatas pahanya.


"Posisi kita ini intim banget loh kak, nggak baik."


Cup


Cup


"Mau disayang-sayang sama lo." Ucap Gesa setelah mengecupi bibir Aira dengan gemas.


Aira yang salah tingkah dengan kelakuan Gesa dengan cepat memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Gesa.


"Berani peluk ya sekarang?" Goda Gesa pada Aira.


"Yakan aku istrinya."


Gesa tertawa mendengar jawaban Aira yang spontan dengan pipi memerah seperti kepiting rebus.


"Lusa asisten rumah tangga kita akan datang dan akan bantu-bantu lo urus semua pekerjaan rumah."


"Aku masih bisa bahkan mampu kak buatburus semuanya." Tolak Aira dengan bahasa yang halus dan masih tetap menghargai Gesa sebagai suaminya.


"Lo lagi hamil masak iya gue biarin aja istri gue udah bawa anak kemana-mana ditambah beban pekerjaan rumah yang nggak ada habisnya.. Pokoknya mau nggak mau harus tetep mau."


Aira menghela nafasnya lalu turun dengan cepat dari pangkuan Gesa. "Mau kemana?" Tanya Gesa kemudian.


"Nyiapin makan buat kak Gesa." Jawab Aira lalu berjalan menuju pintu.


"Jangan ngambek deh.. Ngambek sama suami nggak baik asal lo tahu."


Aira memutar bola matanya malas dan tidak menanggapi nasihat Gesa lalu pergi begitu saja menuju dapur.

__ADS_1


Untuk Gesa sendiri mulai mengeluarkan ponsel mahalnya, "Siapin semuanya yang mewah dan berkelas.. Gue nggak mau nama istri gue jelek gara-gara pestanya yang kurang berkelas."


Gesa memang menyiapkan pesta untuk Aira. Dimana kurang beberapa hari adalah hari ulangtahun Aira dan tentu saja Gesa harus menyiapkan semuanya.


Memberi Aira kejutan sekaligus harta yang ia punya tidak akan membuat dirinya miskin tujuh turunan sekalipun.


Itulah Gesa.. Semua yang ia punya kali ini akan diberikan penuh pada Aira sebagai permintaan maaf dirinya yang selalu jahat dan ketus serta tanda terimakasih dimana Aira yang bersedia mengandung jagoannya tanpa mengeluh.


"Aira Deanova.. Lo milik gue sampai kapan pun dan harus lo yang nemenin gue kemana pun." Gumam Gesa dengan menatap dokumen rahasia yang selama ini ia simpan baik-baik tanpa seorang pun yang tahu.


...🔥🔥🔥...


"Habis ini gue mau latihan basket sama anak-anak komplek sebelah." Ucap Gesa tiba-tiba.


Aira yang awalnya menuangkan minum untuk Gesa segera menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


"Habis ini Dika juga kesini kak."


"Mohon izinnya." Lanjut Aira yang meminta izin pada Gesa jika Dika akan ke rumah menemui dirinya.


Gesa meletakkan sendoknya dengan kasar, "Ngapain kesini?"


"Emang dia udah tau kalo gue suami lo?"


"Nggak boleh!! Nanti dikira tetangga lo main sama Dika di belakang gue.. Gue nggak suka."


Penolakan Gesa yang mentah-mentah membuat Aira menghela nafasnya kecil dan mulai berfikir memang benar apa yang dikatakan Gesa padanya.


"Kalo gitu habis kak Gesa berangkat ke komplek sebelah aku mau ke kedai aja.. Ngobrol disana sama Dika."


"Nggak boleh!!"


"Harus dirumah sayang nggak boleh keluar." Lanjut Gesa yang terus melarang Aira dengan alasan cemburu yang ia pendam sendiri seperti biasa.


Aira menggelengkan kepalanya, "Ponselnya rusak dibanting kak Gesa kemarin, mau beli uang tabungan aku nggak cukup."


"Nggak cukup dia bilang? Terus black card sama kartu lainnya yang gue kasih buat apaan astaga.. Istri gue emang bikin arghh."


"Gemesin banget pingin boboin." Lanjut batin Gesa yang tidak habis pikir dengan jawaban Aira perihal ponselnya yang rusak akibat ia lempar.


Gesa menyodorkan ponsel mahalnya pada Aira, "Disini ada nomor Dika dan bilang sama dia suruh datang ke lokasi lapangan basket komplek sebelah rumah kita."


Aira menerima ponsel Gesa dengan bingung dan memincingkan matanya seolah bertanya-tanya, "Bicaranya sama Dika di lapangan basket aja sambil lo nungguin gue latihan."


"Enak aja si Dika mau berduaan sama lo dan gue malah ngos-ngosan di lapangan." Gerutu Gesa dengan menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut Aira.


"Aku udah kirim pesen ke Dika dan sekarang aku mau ke atas buat siapin kebutuhan latihan kak Gesa sama ganti baju." Pamit Aira tanpa menunggu jawaban Gesa dan mulai berjalan cepat menaiki tangga.


"SAYANG PERHATIKAN JALANNYA." Peringat Gesa pada Aira karena takut sendiri jika terjadi sesuatu dengan Aira maupun jagoannya.


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Harus desain ulang kamar dibawah nih gue sekalian kamar buat jagoan." Gumamnya pelan saat mendengar Aira yang mulai menutup pintu kamar.


"Dia yang jalan naik tangga bisa-bisanya gue yang takut.. Perasaan khawatir gue kenapa berlebihan gini ya kalo sama Aira? Sama Nayla dulu gue nggak kayak gini deh."


...🔥🔥🔥...


"Tumben kesini bawa temen Ges?" Tanya salah satu temen cowok Gesa.


"Ayang bukan temen." Jawab Gesa cepat dengan melepas kaosnya dan berganti menjadi jersey.

__ADS_1


Danu, teman Gesa yang bertanya hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Gesa yang sudah terkenal si tukang main wanita sana-sini hingga gebetan dimana-mana.


Dilain tempat, Gesa menyuruh Aira untuk duduk di pinggir lapangan dengan membawa ponsel Gesa karena takut jika Dika tidak tahu tempatnya.


Melihat kelincahan Gesa dalam bermain basket mampu membuat Aira tersenyum kecil sekaligus bangga dengan sosok suaminya.


"Udah tampan, pinter mana badannya bagus banget lagi." Gumam Aira menganggumi sosok Gesa.


"Heh.." Ucap Dika yang tiba-tiba datang dengan menepuk pelan bahu Aira dari arah belakang membuat sang empu melonjak kaget.


"Ngagetin deh kamu Dik." Jawab Aira dengan mengusap dadanya pelan.


"Btw ya Ra, lo kenapa mau-mau aja sih nemenin itu si kakak kelas songong? Heran gue kenapa cewek-cewek bisa tunduk bertekuk lutut sama dia."


Aira menghela nafasnya pelan, "Aku nggak tunduk Dik cuma ngelaksanain kewajiban aja. Soalnya aku ada hutang sama kak Gesa."


"Kalo aja uang gue banyak Ra, pasti gue akan bantuin lo buat bayar hutang ke si Gesa." Sahut Dika dengan mengusap-usap dagunya.


Aira menatap Gesa yang berlarian kesana-kemari dengan peluh yang menetes di tengah lapangan dan hal tersebut tidak membuat dirinya jelek sama sekali melainkan tambah tampan dan gagah.


"Balas budi aku ke kak Gesa bukan sekedar kewajiban biasa Dik.. Tapi bertentangan dengan status yang sah dimana Tuhan ditambah dengan jagoan kak Gesa yang hadir di perut aku." Batin Aira dengan menatap Gesa lekat-lekat.


"Gue kesini cuma mau tanya dan minta penjelasan dari lo Ra masalah kenapa lo keluar dari sekolah."


"Dan bisa-bisanya lo nggak pamitan anak satu kelas.. Bukan satu jelas aja, gue aja kagak kok tambah satu kelas."


"Kenapa Ra? Jujur sama gue." Lanjut Dika yang terus nyerocos di samping Aira.


Aira menghela nafasnya pelan, "Aku udah putusin buat keluar dari sekolah Dik dan aku mau kerja aja di kedai.. Lumayan buat ditabung."


"Terus lo mau nggak dapet ijazah gitu?"


"Kalo itu sih mau Dik tapi keadaan dan otak aku yang nggak bisa mikir berat-berat secara bersamaan."


Aira menatap Dika, "Kita masih sahabat kali Dik dan kita juga bisa tiap hari ketemu di kedai.. Udahlah jangan bahas itu lagi."


Dika hanya menganggukkan kepalanya lalu melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya dimana menunjukkan pukul lima sore.


"Gue harus jemput pacar gue Ra.. Gue duluan ya dan kalo lo diapa-apain sama si tengil Gesa lo jangan ragu buat bilang sama gue."


"Aslinya gue mau bicara banyak sama lo tapi untuk sekarang nggak mungkin."


Aira tertawa mendengar ocehan Dika lalu menganggukkan kepalanya, "Hati-hati ya Dik dan salamin buat pacar kamu dari aku."


"Gue tandain muka lo kalo lo sampai nyakitin sahabat gue." Ucap Dika tegas dengan menatap Gesa yang baru mendekat ke arah Aira.


Gesa mengendikkan bahunya sombong lalu meraih botol minumnya serta handuk kecil yang berada di paha Aira. "Pulang sana lo!!"


Cup


Aira mendorong pelan perut Gesa, "Jangan cium-cium kak Ges.. Kita di lapangan dan kak Gesa bau." Omel Aira kemudian.


"Perasaan kalo keringetan di ranjang gue cium lo sama peluk-peluk lo aman-aman aja tuh."


Aira yang arah tahu pembicaraan Gesa kemana dengan cepat membereskan perlengkapan basket Gesa dan membawanya berjalan menuju pintu keluar.


"MAU KEMANA YANG?" Tanya Gesa dengan berlari mengejar Aira.


"PULANG!! KAK GESA BAU." Jawab Aira dan tidak kalah berteriak kencang seperti Gesa.

__ADS_1


Semua teman-teman Gesa hanya menganggukkan kepalanya heran dan tersenyum geli melihat Gesa yang baru kali ini seserius itu dengan wanita.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2