AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
41 | MISS RARA


__ADS_3

...BANTU PROMOSIKAN YA :)...


...IG : npaaaaa___...


...🔥🔥🔥...


"Lo mau kemana?" Tanya Gesa yang membuat Aira menghentikan langkahnya.


Kembali berbicara dengan Gesa bukan berarti Aira bisa melupakan semua perlakuan buruknya.


"Kerja kak.. Kebetulan udah di tunggu Dika di depan." Jawab Aira tenang dengan merapikan jaketnya.


Surat dari sekolah mengenai Aira yang mengundurkan diri telah keluar, dimana dirinya telah resmi keluar dari sekolah dan ia akan fokus bekerja di kedai kopi seperti biasa untuk menghilangkan rasa bosannya.


Berbeda dengan sikap mereka berdua saat awal. Kini terasa asing sejak Gesa tidur dengan wanita lain sedangkan Aira perlahan ingin membuang rasa cintanya untuk Gesa.


Aira sadar ia tidak bisa menembus hati Gesa, apalagi cinta pertama Gesa masih selalu ada di sisinya hingga sekarang dan berusaha merebut cintanya kembali.


Bukannya tidak mau mepertahankan rumah tangga ataupun cintanya untuk Gesa. Namun Aira berfikir semuanya hanya akan sia-sia..


Pernikahan mereka hanya sebatas kontrak dan tanpa cinta membuat Aira kembali sadar dengan posisinya saat ini, peristiwa kehamilan dirinya hanyalah bonus. Bonus dimana ia diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi ibu dari pria yang dicintainya saat ini.


"Makasih kemarin udah perhatian sama gue waktu gue mabuk." Ucap Gesa canggung dengan mengusap leher belakangnya.


Memutuskan untuk tidak saling ikut campur urusan satu sama lain dan tidak peduli itulah yang dilakukan keduanya.


Aira menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar begitu saja untuk bekerja bersama dengan Dika.


"Maafin gue Ra.. Gue ngaku gue salah." Gumam Gesa dengan mengusap wajahnya kasar.


Gesa mengeluarkan ponsel mahalnya lalu mencari kontak seseorang. "Awasi terus pergerakan istri gue dan laporkan apapun aktivitasnya hari ini."


"Bilang sama pak Joe perhatikan jam makan Aira dan apa yang Aira makan."


"Jangan biarkan ia lelah dan jangan sampai ia angkat beban berat." Lanjutnya kemudian mematikan panggilannya begitu saja.


Setelah mengikuti Aira lewat semua anak buahnya, Gesa dengan cepat mengambil kunci motornya dan pergi menuju rumah Nayla untuk mencari tahu semuanya.


Mencari tahu kebenaran masalah foto yang Gesa tidur dengan salah satu wanita dan ia tahu ini semua adalah ulah Nayla.


Gesa sangat benci dengan Nayla. Namun ia juga tidak bisa ingkar dengan hatinya bahwa kenyataan yang ada Nayla adalah cinta pertamanya dan rasa itu masih membekas hingga saat ini.


"Gue kangen Aira dan jagoan gue.. Tapi kenapa gue selalu respon Nayla gitu aja?"


"Arghhh.. Gesa lo kenapa sih?" Marahnya dengan mengusap rambutnya kasar.


Gesa turun dari motornya lalu berjalan cepat memasuki rumah Nayla.


"Gue tau ini semua rencana licik lo yang bikin gue bermasalah sama Aira, picik banget sih hidup lo masih aja urusin urusan rumah tangga gue." Marah Gesa tepat di depan Nayla yang tengah asyik duduk di sofa.


Memang keluarga Nayla adalah keluarga broken home, dimana ia hidup sendiri karena ibunya tengah melakukan pengobatan di luar negeri kali ini.


"Aku udah bilang sama kamu kalo aku nggak bisa buat kamu kembali sama aku ya oranglain nggak bisa milikin kamu termasuk istri kamu yang nggak cantik itu."


"Perasaan cinta kamu masih buat aku Ges, selamanya akan tetap kayak gitu." Lanjut Nayla dengan sombongnya.


"Gue akan buktikan ke Aira kalo gue udah berhenti main cewek dan gue nggak tidur sama sekali sama lo."


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Itu cuma akal-akalan lo aja dan foto itu hanya editan.. EDITAN!!" Marahnya kemudian.


"Kalo foto itu editan nggak mungkin kamu nidurin aku dan kita menghabiskan malam bersama, Gesa Deanova." Sahut Nayla dengan tersenyum mengejek ke arah Gesa.


"Lo anjing tau nggak?! Iblis.." Umpat Gesa lalu berjalan pergi menuju pintu dengan emosi yang masih menggebu-gebu.


...🔥🔥🔥...


"Ngapain kak Gesa disini?" Tanya Aira pada Gesa.


Gesa yang awalnya fokus menatap ponselnya dengan cepat mendongakkan kepalanya menatap Aira.


Tatapan dingin Aira semakin membuat Gesa terdiam dan merasa bersalah. Tidur dengan wanita lain itu bukan dirinya tapi kenyataannya memang Nayla yang sengaja menjebak Gesa agar ia kembali bersamanya.

__ADS_1


"Mau ngopi aja." Jawab Gesa singkat.


Aira menganggukkan kepalanya pelan dan pergi begitu saja menuju dapur kedai lalu menyuruh salah satu temannya untuk melayani Gesa.


Memandang Gesa lebih lama membuat Aira canggung sendiri apalagi berbicara banyak dengan Gesa semakin membuatnya jatuh dan jatuh lagi pada Gesa.


Aira tidak mau itu terjadi..


Dimana ia bertekad untuk menghilangkan semua perasaan cintanya yang mulai tumbuh untuk Gesa dan bertahan dengan adanya buah hati mereka sebelum perceraian mereka terjadi.


"Aira mana?" Tanya Gesa pada pelayan tersebut.


"Mungkin melayani pelanggan lain.. Ada yang ingin anda pesan?"


"Bahkan melayani gue sebagai pelanggan aja dia nggak mau, sebenci itukah Aira sama gue?"


Setelah memesan, Gesa kembali menatap gerak-gerik Aira. Dimana Aira yang cantik yang sekarang tengah menjabat sebagai istrinya sedang marah dan tampak dingin padanya.


"Gue tahu dan gue ngaku salah Ra."


"Gue tau gue brengsek dan nggak pantes buat dapat maaf dari lo."


Gesa menghela nafasnya pelan dengan mata yang masih fokus menatap Aira jauh di depannya. "Gue kangen lo Ra.. Sumpah demi apapun gue kangen lo." Gumamnya kemudian.


Mata Gesa melotot saat salah satu cowok memasuki kedai dan menarik tangan Aira untuk duduk bersamanya.


Seolah tidak terima melihat sang istri yang duduk dengan pria lain, Gesa dengan cepat berdiri lalu mendekat ke salah satu meja tepat di belakang Aira.


Mendengar semua obrolan mereka berdua yang tampak asyik membuat Gesa geram sendiri dan ingin menarik Aira pulang.


"Oh jadi itu yang namanya Doni. Gantengan juga gue kemana-mana." Gumam Gesa pelan dengan telinga yang masih fokus mendengar obrolan mereka berdua.


Semakin lama semakin asyik dan membahas kisah percintaan mereka yang dulu-dulu, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya dan berhenti tepat di depan Aira dan Doni.


"Kak Gesa ngapain berdiri disini?" Tanya Aira bingung.


Tidak menghiraukan pertanyaan Aira, Gesa menatap tajam ke arah Doni dengan mata elangnya. "Lo siapa pake ngajak-ngajak Aira duduk sama lo?" Tanya Gesa bernada tidak suka dan sarkas.


"Lo juga siapa main ngegas-ngegas sama gue."


"Permisi pak Joe, saya ingin berbicara empat mata dengan istri saya dan ijinkan saya memakai ruangan ini."


Mata Aira melotot tidak percaya mendengar ucapan Gesa apalagi kembali menggunakan kekuasaannya seperti biasa.


"Kak Ges, kak Gesa emang gi-"


"Silahkan.. Tidak apa-apa, kalo begitu saya akan keluar sebentar." Jawab Joe yang memotong acara ngomel-ngomel Aira pada Gesa.


Gesa dengan cepat menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Joe untuk keluar dan tidak lupa mengunci pintu.


"Itu yang namanya Doni?"


"Jelek dan gue nggak suka." Lanjut Gesa dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Nggak ada yang suruh kak Gesa buat suka sama Doni. Dan dia emang Doni temen aku."


"Temen apa temen?" Tanya Gesa dengan memincingkan matanya menatap Aira.


Aira menganggukkan kepalanya yakin, "Cuma temen dong nggak lebih."


"Nggak lebih tapi ketawanya asyik banget." Sindir Gesa lagi.


Aira menghela nafasnya pelan mendengar Gesa yang kembali mengatur semua urusannya, hingga membuatnya tidak bisa membuang perasaan cintanya pada Gesa.


"Setidaknya aku nggak tidur sama Doni."


SKAK!!


Gesa bungkam seketika mendengar ucapan Aira yang membuatnya mati kutu dan diam tanpa kata-kata lagi.


"Gue juga nggak pernah tidur sama siapapun." Ucap Gesa tiba-tiba bermaksud menyangkal semua bukti yang sempat Aira tunjukkan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Aira menghela nafasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya, "Iya aku percaya kak."


"Sekarang buka pintunya, aku mau keluar karena banyak pelanggan." Lanjutnya kemudian dan berjalan menuju pintu.


Gesa menarik lengan Aira, "Gue mau peluk lo, 10 menit aja nggak lebih.. Please, gue mohon sama lo gue mau peluk lo dan anak kita."


Melihat permohonan Gesa yang tulus membuat Aira tidak tega sendiri dan akhirnya tanpa ragu ia menganggukkan kepalanya.


Gesa tersenyum kecil lalu menarik kursi mempersilahkan Aira duduk dan berjongkok tepat di lutut Aira, menempelkan tangannya di perut Aira bahkan memasukkan kepalanya ke dalam kaos yang Aira gunakan hari ini.


"Papa kangen banget sama kamu, my baby." Lirih Gesa dengan mengecupi perut Aira.


Aira hanya bisa mengusap air matanya kasar memdengar ucapan Gesa, dimana momen yang Gesa lakukan saat ini untuknya hanya sementara dan akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan.


"Gue akan buktikan sama lo kalo gue nggak sebajingan maupun sebrengsek itu buat tidur sama cewek lain selain lo dan gue akan bawa bukti bahwa cuma sama lo.. Dan cuma lo." Ucap Gesa setelah puas mengecupi perut Aira.


Aira berdiri dari duduknya, "Nggak usah dibuktiin aku juga udah percaya kok kak. Kita hanya terikat kontrak dan itu nggak masalah buat aku."


"Kali aja emang kak Nayla cocok buat jadi ibu dari anak kita."


"NGGAK!!" Jawab Gesa cepat dan menolak mentah-mentah ide Aira.


"Kenapa kak? Emang kita cuma kontrak dan kontrak pernikahan kita akan berakhir dengan lahirnya anak kita."


"Kan kak Gesa sendiri yang bilang kalo bayi kita udah lahir, kak Gesa akan cari ibu sambung buat anak kita dan pernikahan kita selesai."


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Gue akan pertimbangin semuanya.. Kalo lo mau bertahan sama anak kita otomatis lo harus bertahan sama gue."


Tidak menanggapi ucapan Gesa, mata Aira melihat kunci pintu yang tergeletak di meja dengan cepat ia mengambilnya dan berlari menuju pintu.


"Bertahan nggak sama perasaan cinta itu sulit kak, apalagi nanti salah satu dari kita doang yang cinta.. Kasian nanti pasangan kita ke depannya." Ucap Aira kemudian dan keluar begitu saja.


...🔥🔥🔥...


"Pusing kepala gue.. Sumpah!!"


"Kenapa lagi heran gue marah-marah kerjaan lo." Jawab Andre dengan menghembuskan asap rokoknya.


Mereka bertiga tepat Gesa, Andre dan Jefri tengah berada diruang bermain milik Gesa yang kedap suara. Ruangan yang berisi game untuk kalangan cowok dengan harga yang tidak murah mulai dari playstation hingga billyard ada disana.


"Bisa cepet tua marah-marah mulu." Sahut Jefri.


Gesa mengusap wajahnya kasar dan tidak mau menanggapi kedua temannya, di pikirannya kini hanya Aira.


Dimana ia harus mencari bukti bahwa ia tidak sepicik itu dengan tidur dengan wanita lain apalagi itu Nayla, si mantan sok cantik yang gatelnya seperti ulat.


"Gue dijebak sama Nayla beberapa hari yang lalu. Dengan alasan mamanya yang sakit dan dia minta tolong ke gue buat anterin dia pulang."


"Lo mau?" Sahut Andre dengan memincingkan matanya.


Gesa menganggukkan kepalanya tanpa ragu, "Waktu itu gue sempet emosi sama Aira dan gue ajak Aira ke angkringan biasanya kita nongkrong dan ketemu Nayla disana."


"Jangan bilang lo ninggalin Aira demi si ular?" Tuduh Jefri pada Gesa.


"Kan gue udah bilang kalo waktu itu gue emosi sama Aira dan gue juga nggak tega lihat Nayla yang nangis di depan gue.. Akhirnya gue anter dia pulang ke rumahnya."


Andre dan Jefri saling berpandangan lalu menatap Gesa, "Tapi daripada ke mantan pacar yang terbukti murah atau bisa di bilang sana-sini mau.. Kalo gue jadi lo, apapun yang terjadi pilihan gue tetep Aira." Ucap Jefri yang mendapat anggukan kepala dari Andre tanda setuju.


"Karena dia istri lo."


"Apapun yang terjadi dan jelek maupun bagusnya kelakuan lo, cuma istri lo yang akan nutupin semuanya.. Bukan mantan lo."


"Mungkin kalo gue jadi Aira yang pasti mau nggak mau gue akan gugat cerai lo.. Karena tidur sama wanita lain itu adalah hal hina yang nggak bisa di maafkan lagi untuk seorang istri." Lanjut Andre.


"Dia lagi hamil anak gue!!" Sahut Gesa cepat saat Andre membahas perceraian antara hubungannya dan Aira.


"Kalo dia lagi hamil anak lo masak iya lo tega hampir setiap hari lo kasarin dia, ngomong lo yang selalu ketus sama dia.. Lo nggak mikir apa gimana sih Ges perasaan ibu hamil itu kayak apa? Apalagi hamil muda kayak Aira di usianya yang belum genap dua puluh tahun." Sahut Andre lagi-lagi.


Jefri tersenyum sinis menatap Gesa, "Gue aja yang belum nikah faham Ges, masak lo yang jenius nggak faham-faham."


"Kalo udah cinta sama Aira bilang sama dia jangan gengsi doang yang lo gedein.. Dan nggak usah lagi peduli sama Nayla, dia cuma benalu di tengah-tengah rumah tangga lo."

__ADS_1


Mendengar semua omelan kedua sahabatnya, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya, "Kalo lo berdua mau pulang.. Pulang aja! Gue mau ke Aira dan ngomong penting sama dia." Ucapnya kemudian dan berlari begitu saja munuju kamar dimana Aira berada.


...🔥🔥🔥...


__ADS_2