
...FOLLOW INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
🔥🔥🔥
Sudah beberapa hari ini Gesa selalu pulang terlambat karena masalah kantor hingga lupa bahwa ia kini telah menjadi suami sekaligus calon papa.
Gesa memasuki rumah yang tampak sepi dan hanya cahaya temaram lampu dimana jam yang menunjukkan pukul jam 11 malam.
Mata Gesa berhenti menatap sofa tepat di ruang tengah yang mana Aira tengah tertidur disana dan televisi yang masih menyala.
"Yah udah tidur.. Padahal tadi minta martabak manis." Gumam Gesa pelan dengan meletakkan martabak diatas meja dan melonggarkan dasinya yang mencekik selama seharian penuh.
Tangan Gesa mengusap pelan kening Aira yang membuat sang empu kaget hingga membuka matanya.
"Udah pulang?" Tanya Aira kemudian dengan berganti posisi menjadi duduk.
"Barusan sayang."
Cup
Gesa mengecup kening Aira lalu mengusap lembut pipinya.
"Kenapa tidur di sofa? Di kamar aja ya lain kali."
"Aku itu niatan nunggu kamu pulang eh malah ketiduran.. Maaf ya buka pintu sendiri sama bawa tas sendiri waktu masuk rumahnya." Jawab Aira dengan menundukkan kepalanya penuh sesal.
Aira memang selalu menerapkan hidup berdampingan dengan Gesa semenjak Gesa mengakui kehadiran dirinya yang berarti.
Dengan membantu Gesa dalam hal kecil sekalipun, itu sudah mampu membuktikan jika Aira dengan ikhlas dan membantu Gesa meringankan pekerjaannya.
"Gapapa kok sayang.. Mungkin kamu kecapekan juga." Ucap Gesa dengan mengelus pelan kepala Aira.
Gesa menunjuk martabak manis dengan dagunya yang ia letakkan di atas meja, "Katanya tadi sore mau martabak manis.. Aku beliin itu."
Aira mengambil kardus martabak manis tersebut lalu menatap jam dinding begitu saja.
"Emang ada yang buka jam segini?"
"Mana udah malem banget loh ini." Lanjut Aira bergumam dengan bergumam pelan.
"Tadi sempet muter-muter juga buat nyari penjualnya. Rencananya aku malah mau beli sore tapi nanti nggak anget yaudah aku beli barusan biar kamu selera makannya."
Aira tersenyum semanis mungkin menatap Gesa, "Manis sekali suamiku.. Terus ada yang jual martabak jam segini?"
"Tadi sih katanya udah habis waktu aku sampai disana. Udah pesanan semuanya."
Gesa mengendikkan bahunya pelan, "Terus ada satu orang yang nggak jadi gitu aja nggak tau kenapa dan mungkin itu rejeki anak kita, jadi aku deh yang gantiin beli."
__ADS_1
Mendengar cerita Gesa, Aira dengan cepat menatap Gesa dengan pandangan curiga.
Pembatalan pembelian martabak manis?
Itu sangat-sangat tidak mungkin jika Gesa tidak mengeluarkan uang banyak seperti yang sudah-sudah.
"Kenapa kamu natap aku kayak gitu?"
"Emang ceritanya gitu sayang." Lanjut Gesa kemudian.
Aira hanya menghela nafasnya pelan lalu memalingkan pandangan ke arah lain, "Agak meragukan sekali ya.. Nggak masuk akal aja di nalar aku."
"Ya kan yang tugasnya masukin ke kamu itu emang aku bukan kamu."
Mata Aira melotot begitu saja mendengar sahutan Gesa yang mengundang ambigu untuk otak cerdasnya.
PLAK!!
"Mesum banget astaga." Ucap Aira dengan memukul lengan Gesa.
Gesa kemudian tersenyum manis, "Cepat di buka martabaknya nanti keburu dingin kamu nggak mau lagi."
"Setelah makan martabak nanti kita istirahat."
Gesa berdiri dari duduknya, "Aku mau mandi dulu sayang."
"Ikut ke atas.. Aku siapin baju kamu sama air hangatnya." Sahut Aira cepat bersamaan dengan berdiri dan menarik lengan Gesa.
"Terus martabaknya gimana?"
"Suamiku yang ganteng.. Tolong bawain!" Suruh Aira kemudian lalu berjalan menaiki tangga yang di ikuti oleh Gesa.
"Laksanakan ibu dari dari anak-anakku." Jawab Gesa kemudian yang membuat Aira tertawa renyah begitu saja.
...🔥🔥🔥...
"Astaga!!" Kaget Aira begitu itu membalikkan badan bersamaan dengan Gesa yang keluar dari kamar mandi.
Posisi Gesa saat ini bertelanjang dada dengan handuk yang melilit pinggangnya hingga memperlihatkan betapa sempurna Tuhan menciptakan Gesa.
"Kenapa kaget gitu? Aku bukan hantu sayang." Sahut Gesa dengan mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk.
"Kenapa nggak bawa baju sekalian ke kamar mandi? Nggak dingin apa gimana sih cuma pake handuk doang." Oceh Aira kemudian.
"Lupa sayang lupa." Jawab Gesa lagi.
Aira mengambil baju yang telah ia siapkan di atas ranjang lalu memberikannya pada Gesa.
"Kenapa kamu malah lihat jendela?"
"Nggak mau natap aku? Aku ganteng banget loh sayang malam ini." Lanjut Gesa dengan percaya diri tingkat dewa.
__ADS_1
Aira mencoba menatap hal lain karena ia tidak mau ketahuan jika menatap Gesa lama mampu membuat pipinya memerah seperti kepiting rebus.
Apalagi di tambah pakaiaj Gesa yang hanya handuknm saja menempel pada tubuh kekarnya.
"Nggak kok.. Nggak natap jendela juga." Jawab Aira singkat dengan menatap Gesa singkat lalu menatap hal lain lagi."
Gesa menoel pelan dagu Aira, "Pantesan aja ngomel-ngomel suruh bawa baju sekalian ke kamar mandi dan bilang aku dingin apa nggak, ternyata ada alasannya." Godanya kemudian yang membuat Aira menautkan kedua alisnya cepat.
"Nggak kok.. Alasan apa coba? Jangan aneh-aneh deh mas Gesa yang ganteng."
"Alasannya pipinya memerah ih." Sahut Gesa cepat dengan menarik pelan kedua pipi Aira.
"Ih nggak ya.. Aku nggak kayak gitu."
"Aku cuma nggak pingin aja kamu masuk angin atau sakit kalo cuma pakai handuk aja apalagi kamar juga ac nya nyala."
"Yang bener sayang?" Goda Gesa dengan memajukan langkahnya perlahan-lahan ke depan hingga Aira mau tidak mau berjalan mundur.
"C-Cepet pakai baju nanti kedinginan bisa masuk angin." Suruh Aira kemudian dengan suara yang mulai gagap karena jantungnya yang sudah tidak aman.
BRUK!!
Aira jatuh dengan perlahan dan tangan Gesa sebagai tumpuan kali ini tepat di atas ranjang dengan posisi intim.
Ditambah Gesa yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang dan hal tersebut mampu membuat Aira diam tidak berkutik.
"Kamu nggak kangen sayang sama aku? Aku akhir-akhir ini nggak ada waktu buat kamu."
"Kamu nggak kangen?" Lanjut Gesa berbisik tepat di telinga Aira lalu menciumnya dengan lembut.
Tubuh Aira mendadak merinding begitu saja mendapat perlakuan tersebut dari Gesa.
"Mending kamu segera pakai baju terus kita tidur." Suruh Aira lagi dan memberanikan diri untuk menatap wajah tampan milik Gesa.
"Nanggung sayang.. Kalo nidurin kamu mah telanjang aja nggak pake baju itu kebiasaan aku."
"Nggak ya! Bukan itu maksud aku.. Pake baju terus tidur yang biasanya. Bukan mesum ih kamu." Jawab Aira dengan memukul pelan dada bidang Gesa.
"Kamu nggak dingin apa gimana sih? Tiduran juga diatas badan aku.. Kamu nggak takut apa gimana bayi kamu kejepit ini." Lanjut Aira dengan menatap perut buncitnya.
"Oh tentu tidak sayang karena badan aku bertumpu sama lengan aku dan untuk bayi, itu bayi kita. Kita buatnya sama-sama."
"Dan masalah kejepit atau nggak nya itu aku juga udah tau kalo dia, si baby.. Maunya di jenguk sama papanya karena posisi mama sama papanya yang udah kayak gini."
"Itu maunya kamu, bukan kamu."
"Udah sana ah, ganti baju terus tidur." Lanjut Aira menyuruh Gesa.
Gesa tersenyum kecil begitu saja lalu menarik handuk yang ia pakai dan melemparkannya jauh entah kemana.
"Kamu nggak kangen aku, tapi aku kangen kamu sama baby juga bilang kangen papanya."
__ADS_1
"Aku akan pelan-pelan kali ini sayang." Bisik Gesa kemudian.
...🔥🔥🔥...