
...IG : FRISKYA___...
"Hai Ges.." Sapa Nayla saat Gesa tengah menuruni jok motornya.
Saat ini tepat di depan kedai kopi milik kakaknya Dika, dimana Aira yang mendapat ijin dari Gesa dengan syarat sehabis pulang bekerja Aira harus mau ke dokter bersama Gesa.
Gesa sudah merencanakan semuanya dengan mulus dan rapi perihal penyakit jantung Aira bahkan Gesa juga diam-diam memantau apa dan tidaknya yang harus Aira hindari maupun Aira lakukan.
Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya, Gesa membalikkan badanya begitu saja.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Nayla lagi.
Gesa yang sudah jengah dengan Nayla, bahkan cinta telah pudar begitu saja saat Aira hadir dan mengisi hari-harinya.
"Oh, gue disini mau jemput seseorang sih.." Jawab Gesa dengan dinginnya.
Melihat Gesa yang akan melangkahkan kakinya memasuki kedai, Nayla dengan cepat menarik pergelangan Gesa begitu saja.
"Kenapa?" Tanya Gesa bersamaan dengan menghempaskan tangan Nayla yang menarik pergelangan tangannya.
"Aku mau bicara sama kamu, penting banget.. Masalah kita."
Gesa hanya menghembuskan nafasnya lalu memutar bola matanya malas menatap Nayla dengan wajah sok polosnya.
"Masalah kita? Yang mana?"
"Perasaan kita udah nggak ada masalah apa-apa lagi deh Nay semenjak hari dimana lo ninggalin gue." Lanjut Gesa bermaksud menyindir Nayla.
"Maaf Ges.. Maafin aku. Maafin atas semua kesalahan aku yang ninggalin kamu gitu aja."
Gesa tersenyum sinis menatap Nayla lalu memalingkan pandangannya dan mengusap dagunya pelan. "Gue udah maafin lo." Ucap Gesa kemudian.
Mata Nayla tampak berbinar mendengar jawaban Gesa, "Jadi kita bisa kan Ges kayak dulu lagi?" Tanya Nayla tiba-tiba pada Gesa.
"Gue maafin lo bukan berarti kita bisa kayak dulu lagi Nay. Dan maaf kalo gue dulu banyak salah sama lo sampai lo kebawa sama cowok lain gitu saja."
Nayla mencoba meraih pergelangan tangan Gesa, namun bertepatan dengan Aira yang keluar dari kedai kopi tersebut dengan merapikan bajunya.
"Ges, aku mohon sama kamu.. Kita kayak dulu lagi ya, aku janji nggak akan ninggalin kamu."
Tidak menanggapi ucapan Nayla, Gesa segera berjalan menuju dimana Aira tengah merapikan bajunya di tangga tepatnya di depan pintu.
"Sayang kita pulang sekarang ya." Ucap Gesa tiba-tiba setelah sampai di depan Aira dan tidak tanggung-tanggung menarik pinggangnya serta mengecup pelan bibirnya.
"H-Hah?"
"Yang berjalan kesini adalah mantan gue my Rara.. Minta balikan sama gue dan gue nggak mau, bantuin please." Mohon Gesa dengan berbisil di telinga Aira dan tidak lupa untuk mengecup pelan leher putihnya milik Aira.
Aira yang mendengar bisikan Gesa segera mengalihkan pandangan ke depan untuk menatap Nayla yang memang berjalan ke arah mereka berdua.
"Kita nggak bisa kayak dulu karena ada dia Ges?" Tanya Nayla sinis dengan menatap Aira.
Tangan Gesa mengusap-usap pinggang Aira seperti biasa dan itu sudah menjadi kebiasaannya mulai saat ini.
__ADS_1
"Dia lebih dari apapun untuk saat ini." Jawab Gesa lembut dengan menatap Aira dan tidak lupa untuk mengecup keningnya.
Tangan Gesa yang bebas dengan cepat ia tempelkan di perut milik Aira yang sedikit buncit karena lemak dan kebetulan untuk saat ini, Aira hanya mengenakan dress ketat dengan atasan jaket bermodel rajut.
Melihat kelakuan tangan Gesa yang tiba-tiba berada di perutnya, mata Aira melotot cepat di depan wajah Gesa.
Sedangkan untuk Gesa sendiri, hanya mengedipkan matanya dengan melirik Nayla yang tepat berdiri di depan mereka berdua.
"Sayang kita waktunya cek baby nggak sih? Yuk berangkat sekarang." Ucap Gesa dengan keras dan tangan yang mengusap perut Aira.
Gesa memang sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh Nayla. Mengetahui bahwa Gesa hanya memancing Nayla agar tidak mendekat pada keduanya mau tidak mau Aira menganggukkan kepalanya dan tersenyum selembut mungkin menatap Gesa.
"Oh jadi ini cewek murahan punya Gesa yang sekarang?!" Sarkas Nayla dengan menatap Aira sinis.
Mendengar ucapan Nayla yang menghina Aira, Gesa mendadak greget dan ingin menghabisi Nayla sekarang juga.
"Urusan aku kak kali ini, kak Gesa diem." Lirih Aira dengan menarik kaos Gesa.
Aira tersenyum manis dan tulus menatap Nayla lalu mengulurkan tangannya bermaksud sekedar saling sapa dengan salaman.
"Kenalin kak nama aku Aira, nama kakaknya ini siapa?"
"Sayang.." Tegur Gesa yang tidak habis pikir dengan kelakuan Aira yang malah mengajak kenalan mantan pacarnya.
Gesa yang melihat tidak ada respon dari Nayla segera menarik pinggang Aira erat-erat, "Gue duluan Nay, mau ke dokter kandungan soalnya." Sinis Gesa dan berjalan menuju motornya.
Nayla menatap Gesa dan Aira yang menjauh darinya dengan intens, "Cantikan juga gue kemana-mana." Gerutu Nayla bermaksud mengejek Aira.
...🔥🔥🔥...
Gesa memang berbohong dan menetapkan keinginannya untuk cek kandungan pada Aira walaupun Aira menolak sekalipun.
Namun alasan lain, bahwa Gesa akan diam-diam memantau check-up kesehatan jantung Aira dan harus sampai sembuh mulai hari ini.
"Kak Nayla dari wajahnya baik loh, dia nggak jahat tuh." Jawab Aira dengan ringannya dan tanpa sadar tangannya tengah menggandeng lengan Gesa.
Gesa hanya tersenyum kecil melihat tangan Aira yang menempel melingkah tepat di lengannya.
"Baik darimananya? Jangan sekali-kali kayak gitu lagi.. Baik ataupun jahatnya dia, si Nayla nggak baik buat lo ajak bergaul."
Aira mendongakkan kepalanya menatap Gesa, "Kenapa natap gue kayak gitu?"
"Nggak terima kalo gue bilang Nayla nggak baik lo ajak bergaul?"
"Jangan berani-berani belain dia ya?" Lanjut Gesa menuduh Aira.
Aira hanya menghela nafasnya pelan dan memalingkan pandangannya begitu saja. "Nggak mikirin kak Nayla. Tapi lagi mikirin tingkah kak Gesa yang sekarang." Gumam Aira pelan yang membuat Gesa menautkan alisnya.
"Gue kenapa lagi? Perasaan gue nggak jahat sama lo."
"Ngapain sih kak Gesa kita kesini? Ini rumah sakit dan aku nggak lagi sakit. Mana tadi kak Gesa usap-usap perut aku yang isinya lemak semua."
"Kak Gesa emang aneh." Lanjut Aira pelan.
__ADS_1
Gesa tertawa pelan mendengar gerutuan Aira yang selalu saja terlihat polos dan lucu dimatanya.
"I-Ini beneran kita ke dokter kandungan kak? Tapi aku nggak hamil.. Beneran sumpah."
"Kita pulang aja ya kak Ges.." Ajak Aira kemudian dengan menarik lengan Gesa.
"Bahkan 5 langkah lagi kita udah sampai Ra, ya kali kita pulang. Nggak ah! Gue mau lihat hasil benih gue." Jawab Gesa cepat dan mengeratkan pelukannya di pinggang Aira.
"Tapi kak Ges, ak-"
"Dengan ibu Aira Deanova?" Tanya salah satu perawat dengan tiba-tiba yang membuat ucapan Aira terpotong begitu saja.
"Ya.. Ini dengan istri saya." Jawab Gesa.
"Baik tuan Deanova, anda dan istri anda sudah ditunggu oleh dokter Ryan di dalam.. Mari saya antarkan masuk."
Gesa menganggukkan kepalanya dan berusaha menarik pinggang Aira untuk mengajaknya masuk, namun dengan keras kepala Aira tetap berdiri di tempatnya.
"Ayo masuk." Ajak Gesa pada Aira.
Aira menggelengkan kepalanya, "Nggak mau kak.. Aku nggak hamil dan aku mau pulang aja."
Entah apa yang membuat Aira jadi takut dan gugup seperti ini tapi yang jelas Aira hanya takut jika penyakitnya terbongkar dan kedepannya akan menyusahkan Gesa walaupun itu hanya berjalan satu kedepan.
"Di check doang perutnya. Nggak akan di tekan-tekan sama dokter."
Mata Aira berkaca-kaca dan memeluk Gesa dengan erat lalu menggelengkan kepalanya, "Mau pulang aja." Rengek Aira yang membuat Gesa gemas sendiri.
"Masuk dulu sayang.. Kasian dokternya udah nungguin dari tadi, masak iya kita pulang." Bujuk Gesa lagi.
"Oke deh sekarang gini, kalo mau masuk dan kita check perutnya ada baby atau nggak nanti lo minta apapun gue beliin.. Semuanya tanpa terkecuali." Lanjut Gesa yang membuat Aira mendongakkan kepalanya.
Dengan mata berbinar dan keinginan makan makanan kesukaannya apalagi dibelikan oleh Gesa langsung membuat Aira dengan cepat menarik lengan Gesa memasuki ruangan.
"Ayo masuk kak.. Tapi aku nanti minta makan di kedai pinggir jalan sebelah sekolah kita ya." Ucap Aira yang membuat Gesa bingung sendiri.
"Jangan makan-makanan warung pinggir jalan, lainnya aja."
"Kalo nggak mau yaudah ayo pul-"
"Anything for you, baby.. Gue beliin makanan di warung pinggir jalan kesukaan lo dan sepuas lo. Dan sekarang kita check-up dulu." Potong Gesa cepat dengan mengecup kening Aira dengan lembut dan tangan yang melingkar erat di pinggang Aira.
"Kak Gesa ganteng." Gumam Aira pelan dengan tertawa gemas.
Gesa menahan tawanya mendengar gumaman Aira, "Kalo nggak ganteng mana mungkin tiap malem panggil-panggil nama gue dengan posisi tubuh lo di bawah gue." Jawab Gesa yang mendapat cubitan pelan oleh Aira di perut kotak-kotaknya.
...🔥🔥🔥...
...IG : FRISKYA___...
__ADS_1