AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
16 | MALAM PERTAMA


__ADS_3

"Ges, mama mau cucu dong dari kamu? Kembar deh kalo bisa." Ucap Sofia saat Gesa dan Aira baru saja memasuki rumah orangtuanya.


Mereka berdua tepatnya Gesa dan Aira, memang hari ini tengah diundang oleh Sofia untuk menghadiri acara amal dan lelang yang diselenggarakan oleh kedua orangtua Gesa.


"Nanti malam kita harus pulang ma, kalo mama mau kita bikin cucu."


Aira tersedak minumnya begitu saja saat mendengar Gesa ucapan Gesa yang membuatnya ambigu dan berikiran kemana-mana.


"Loh kenapa harus pulang? Orang kamar kamu kedap suara kok." Goda Deon menatap Gesa dan Aira bergantian dengan menaikturunkan alisnya.


"Kamu nggak ngerasain pusing atau mual gitu Ra? Atau mungkin mau makan sesuatu yang aneh gitu?" Tanya Sofia pada Aira tiba-tiba.


Aira yang bingung akan sifat mama mertuanya apalagi dirinya tidak merasakan apapun yang di maksud sang mama segera menggelengkan kepalanya.


"Yah, berarti belum dong." Gumam Sofia mendadak kecewa.


"Kamu sih Ges bikinnya nggak setiap hari. Kalo bisa tuh bikin setiap hari bisa di bilang usahalah." Lanjut gerutu Sofia dengan menepuk bahu Gesa.


Gesa yang tak mengerti apa maksud dari ucapan sang mama hanya memincingkan matanya. "Maksud mama ini apa? Bikin apa?"


Sofia menghelas nafasnya, "Bikin baby Ges, bikin baby!"


"Kamu itu harusnya setiap malam sama Aira olahraga malam biar cepet jadi.. Bukan malah Aira yang kamu tinggal-tinggal mulu setiap malam."


Gesa menatap Aira seolah memberitahunya apa maksud dari ucapan sang mama memang benar adanya. Namun, Aira tetap saja menolak Gesa dengan alasan harus cinta dulu sebelum berhubungan intim.


Yang Gesa ingat hanya Aira adalah istrinya. Jadi, jika dirinya meminta jatah pada Aira, maka mau tidak mau Aira harus menurutinya karena untuk saat ini status Aira adalah istri dari Gesa.


"Mama ingin lo hamil dan lo tetap nolak gue? Udah berapa kali lo nolak gue Ra?" Bisik Gesa di telinga Aira.


"Pernikahan kita cuma satu tahun kak. Aku juga masih kelas 11 dan habis ini baru kelas 12."


"Jadi, lo lebih mentingin sekolah lo ketimbang anak-anak lo?" Geram Gesa.


Aira menagusap dadanya pelan karena kaget akan geraman Gesa, "Bukannya gitu kak.. Aku nggak mau aja nanti ujung-ujungnya anak kita yang jadi korban karena kericuhan rumah tangga kita."


"Kak Gesa nggak akan hidup selamanya sama aku dan pernikahan kita cuma kontrak satu tahun aja."


"Seandainya kita punya anak dan berpisah, kasian anak kita yang harus ikut siapa apalagi nanti kita akan sama-sama nikah dengan oranglain.. Jujur aja kak, aku nggak mau kalo anak aku nantinya jadi korban." Jelas Aira kemudian.


Bahkan untuk saat ini pun, Gesa belum bisa melupakan Nayla.. Mantan sekaligus cinta pertama Gesa. Namun, mulai sekarang Gesa akan berusaha mencintai Aira dan tidak akan pernah menceraikan Aira sampai kapanpun.


"Kita bisa memulai ulang kontrak kita." Ucap Gesa kemudian membuat Aira menolehkan kepalanya.


Dan..


Cup


Bibir Aira tidak sengaja mengecup bibir Gesa yang ternyata sangat dekat dengan wajahnya. Tidak ingin membuang kesempatan, Gesa dengan cepat menahan tengkuk Aira dan mencium bibirnya lembut.


"Sumpah demi apapun, gue mau lo! Gue mau lepas perjaka gue sama lo." Ucap Gesa menggebu-gebu dengan tangan yang meremas pinggang Aira dengan lembut.


Tangannya yang awalnya berada di rahang Aira, ditarik begitu saja oleh Gesa yang membuat Aira dengan cepat menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gesa karena malu. "Minta perlindungannya kak, aku beneran malu buat melihat tamu-tamu mama untuk saat ini." Bisik Aira pelan.


Gesa segera membawa Aira ke dalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu.


Aira mengibaskan tangannya tepat di depan wajahnya karena menahan malu sekaligus salah tingkah akibat ulah Gesa yang mencium dirinya tanpa izin apalagi di depan umum tepatnya di tengah-tengah ruangan dan banyak para tamu undangan untuk acara malam ini.


"Kenapa tangan lo gitu? Malu lo?" Tanya Gesa bersamaan dengan dirinya melepas jas mahalnya dan hanya menyisakan kemeja putih yang ia lipat sebatas siku.


"Malu kak.. Sumpah aku malu, aku belum pernah ciuman sama siapapun kecuali kak Gesa beberapa waktu lalu. Dan ini tadi malah kita berciuman di depan umum."


"Mau lagi?" Tawar Gesa kemudian dengan menaikturunkan alisnya.


"Mau apa kak?"


Gesa berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Aira, sedangkan untuk Aira sendiri mulai panik dan berjalan mundur perlahan untul menghindari Gesa.


Sialnya, tubuh Aira kini telah menempel sempurna di dinding dan di bawah kungkungan lengan kekar milik Gesa.


Gesa tersenyum manis menatap Aira yang memejamkan matanya dengan tangan yang berada di dada bidangnya.


Bibir tipis dan mungil serta warna pink yang menggoda mampu membuat Gesa gelap mata sendiri. Apalagi ditambah dengan dress Aira yang mempunyai belahan dada rendah juga menambah napsu Gesa semakin menjadi-jadi.


"I want you, please.." Mohon Gesa bersamaan dengan menarik pinggang Aira yang berakhir dengan menempelnya tubuh mereka berdua tanpa jarak lagi.


"K-Kak, ini benar-benar melewati batas kita. Dan kita nggak sepantasnya melakukan ini." Lirih Aira.


Tak menghiraukan ucapan Aira, Gesa dengan cepat menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aira lalu mengecupinya. Kaki Aira seperti jelly yakni lemas seketika saat Gesa terus saja mengecupi bahkan meninggalkan bekas kissmark di area leher putihnya. Aira yang takut dirinya jatuh dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Gesa.


"Kita nggak akan melewati batas apapun sayang, hubungan kita sah secara agama maupun negara." Bisik Gesa yang membuat Aira diam.


"Bukannya lo udah tau banyak masalah hukum pernikahan? Bukannya seorang istri akan dosa jika selalu menolak sang suami, Aira Deanova?" Lanjut Gesa dan tak berhenti menciumi leher Aira.


"Lo mau dosa gitu gara-gara nolak suami lo setiap hari? Kalo mau di cap semua orang kalo lo nggak berbakti sama seorang suami?"


Aira hanya diam mendengar semua ucapan Gesa, ia berusaha menahan bibirnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan ******* akibat rasa geli yang diberikan Gesa melalui kecupan hangatnya.


"Jawab gue Ra." Geram Gesa kemudian karena tak mendapat respon apapun dari Aira.


"Gue akan berikan perjaka gue buat lo. Hanya lo! Sekarang lo pilih gue lepas perjaka sama lo atau gue pergi sekarang dan cari cewek lain buat gue tidurin sekarang juga." Lanjut Gesa yang membuat Aira semakin bingung.


Bukannya Aira tak menyukai Gesa namun sikap Gesa yang kasar dan semena-mena padanya membuat dirinya enggan untuk melayani Gesa.


Lagipula menurut Aira sendiri, pernikahan kontrak mereka hanya berjalan satu tahun dan bagaimana jika Aira hamil dalam jangka waktu tersebut? Itulah yang Aira fikirkan saat ini.


Disisi lain, sebagai seorang istri Aira juga tidak mau Gesa meniduri wanita lain hanya karena istri sahnya yang tidak mau melayaninya bahkan selalu menolaknya.


"Tapi kalo aku hamil gimana kak?" Tanya Aira tanpa ragu dengan memberanikan diri menatap Gesa.


Tak menanggapi ucapan Aira bahkan rela memohon padanya, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira gaya seperti koala lalu menurunkannya di atas ranjang dengan hati-hati seolah Aira adalah barang berharga yang mudah pecah maupun hancur.


Gesa dengan cepat menaiki tubuh Aira, "I want you.. Dan gue janji akan bertanggungjawab apapun yang akan terjadi ke depannya." Ucap Gesa dengan mengusap lembut rahang Aira.


"Kalo sakit gimana kak?" Tanya Aira tiba-tiba yang membuat Gesa tersenyum bersamaan dengan melepas kancing kemejanya.

__ADS_1


Tangan Gesa meraih tangan Aira lalu menariknya begitu saja menuju perut sixpack milik Gesa. Jujur saja, Aira sangat takut bahkan tremor sendiri ketika tangannya sekarang mengusap-usap lembut perut Gesa dengan tuntunan tangannya.


"Lo suka?" Tanya Gesa kemudian.


Aira menganggukkan kepalanya dengan polos, "Suka.. Perut kak Gesa kotak-kotak kayak roti sobek." Jawab Aira penuh riang.


Gesa tertawa mendengar candaan Aira yang polos menurut dirinya, "Milik lo! Semua yang ada di badan gue mulai malam ini milik lo.. Dan semua yang ini sampai sini adalah milik gue." Lanjut Gesa dengan menunjuk rambut hingga ujung kaki Aira.


"Ready making baby with me, babe?" Tanya Gesa yang membuat Aira menghembuskan nafasnya pelan.


"Ya." Jawab Aira kemudian tanpa ragu dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalo sakit ataupun ngerasain apapun, gigit bahu gue kalo perlu cakar aja punggung gue pakai kuku-kuku lo buat pelampiasannya."


Aira menganggukkan kepalanya mengerti dan segera saja Gesa mulai melucuti dress mahal yang ia belikan tanpa ragu.


Tubuh Aira yang sedikit berisi dengan kulit bersih dan putih membuat Gesa semakin menggelapkan matanya karena nafsu yang memuncak.


"Lo milik gue! Hanya gue yang boleh sentuh lo dan hanya gue yang boleh hamilin lo." Bisik Gesa pada telinga Aira.


Sedangkan Aira sendiri hanya bisa menggeliatkan tubuhnya saat Gesa tak berhenti memainkan pusat kewanitaanya dengan jarinya.


"Katakan ya?!"


"Untuk apa kak?" Jawab Aira menggebu-gebu bahkan tangannya mulai mencakar-cakar di punggung Gesa.


"Jadi milik gue Ra, seutuhnya tanpa terkecuali."


Aira menganggukkan kepalanya yang membuat Gesa tersenyum kecil lalu ******* habis bibir Aira.


Mereka berdua tepatnya Gesa dan Aira malam ini dimana malam yang bersejarah bagi mereka berdua dimana mereka berdua melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya dengan Aira yang melepaskan kesuciannya pada Gesa dan Gesa yang melepaskan masa lajang alias keperjakaannya pada Aira.


...🔥🔥🔥...


Aira bangun dengan mata melotot tak percaya saat melihat seluruh badannya dibalik selimut putih yang hangat nan tebal dirinya tak menggunakan pakaian ataupun benang sehelai pun di tubuhnya.


Melihat Gesa yang masih tertidur nyenyak dengan posisi tengkurap dan selimut yang menutupi sebatas pinggangnya.


Tangan Gesa bahkan masih terasa nyaman-nyaman saja memeluk pinggang Aira yang ramping.


Aira mengusap wajahnya kasar karena baru sadar bahwa dirinya dan Gesa berhasil melewati malam pertama mereka yang seharusnya sudah mereka lakukan sejak lama.


"Kenapa kak Gesa ganteng juga kalo tidur anteng kayak gini." Gumam Aira saat melihat wajah Gesa yang masih tertidur pulas di sampingnya.


Drrttt..


Drttt..


Getaran ponsel Gesa yang ada di nakas membuat Aira sadar lalu mengalihkan pandangannya dan mengambil ponsel tersebut.


Tak ingin mencari masalah dengan Gesa, dengan cepat dan tanpa takut Aira menepuk pelan bahu Gesa yang tidak tertutup oleh selimut.


"Kak, ada panggilan dari Siska." Ucap Aira pelan.


Gesa tidak menjawab apapun ucapan Aira, ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Aira dan menenggelamkan wajahnya di paha Aira untuk mencari posisi yang paling nyaman agar Gesa bisa melanjutkan tidurnya.


"Biarin aja." Jawab Gesa dengan suara seraknya yang mampu membuat pipi Aira merah sendiri.


"Angkat dulu, nanti marahan lagi aku yang salah."


Beberapa waktu lalu memang Gesa sempat bertengkar dengan Siska dan Gesa menyalahkan Aira sebagai penyebabnya. Dan selalu seperti itu. Pelampiasan kemarahan Gesa selalu ditunjukkan pada Aira yang tidak mampu melawannya.


"Jangan ganggu gue tidur Ra, lagi capek." Gumam Gesa pelan.


Getaran ponsel Gesa yang terus-menerus membuat Aira mau tak mau menggeser tombol warna hijau dan tak lupa menyalakan pengeras suara tepat di depan wajah Gesa.


"Sayang kamu dimana? Nggak masuk sekolah hari ini?"


Gesa yang sadar akan suara Siska yang berasal dari ponselnya dengan cepat mendongakkan kepalanya lalu membuka matanya menatap Aira.


Aira hanya mengendikkan bahunya malu-malu dan memberikan ponsel Gesa yang terhubung dengan Siska.


Tak menjawab pertanyaan Siska yang berasal dari seberang ponsel, Gesa dengan cepat meraih rahang Aira dan mulai memainkan bibir Aira dengan gemas. Menggigitnya kecil hingga ******* bahkan air liur keduanya yang saling bertukar peran.


Bunyi ciuman Gesa pada Aira yang nyaring membuat Siska terus saja memanggil nama Gesa.


"Kamu lagi ngapain sih? Kok berisik banget disitu."


Aira yang mendengar pertanyaan Siska dengan cepat mendorong dada bidang Gesa agar menjauh darinya.


Cup


Gesa terus saja dengan bandelnya mengecup berkali-kali bibir Aira gemas seolah tidak ada rasa bosan dan hari esok untuk menciumi Aira, istri cantiknya.


"Nggak masuk hari ini.. Dan kita putus!" Ucap Gesa kemudian dengan mata yang menatap Aira penuh kelembutan.


"Maksud kamu apaan sih sayang? Kamu bercandakan? Aku nggak mau putus dari kamu."


"KITA PUTUS!!" Tegas Gesa.


Gesa menenggelamkan wajahnya lagi di leher Aira bahkan mulai mengecupi bekas-bekas karyanya tadi malam yang telah ia ukir secara indah dan seksi.


"Gue mau lo bantu gue putus dari Siska, sekarang!" Bisik Gesa tegas.


Mata Aira melotot tak percaya bahwa Gesa akan meminta bantuan model seperti itu. Namun di sisi lain Aira juga senang karena Gesa lebih memilih dirinya untuk saat daripada cewek lain.


"G-Gimana caranya kak?" Tanya Aira ragu-ragu.


"Cium rahang gue, leher gue sampai perut-perut gue kayak kemarin sesuai sama ajaran gue." Bisik Gesa tak lupa dengan mengecup telinga Aira.


Mata Aira melotot tak percaya mendengar ucapan Gesa yang vulgarnya seperti kemarin malam saat mereka melakukan hubungan suami istri bersama.


"Yaudah kalo nggak mau. Tapi ya itu, gue nggak bisa putus sama Sisk-"


BRUKK..

__ADS_1


Aira menerjang tubuh Gesa begitu saja hingga kini posisi mereka yang sangat intim dengan Aira yang terduduk di perut Gesa dan mencoba menampilkan senyum manisnya.


"Go baby." Suruh Gesa dengan menunjukkan ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan Siska.


Tak menjawab ucapan Gesa, Aira segera mengecup rahang Gesa hingga ke bawah yang membuat Gesa menggeram sendiri.


"Gue lagi bercinta sama istri gue." Ucap Gesa pada Siska dengan menahan geramannya.


"Istri siapa? Kamu jangan bohong ya.. Kamu lagi ngapain sih."


"Mau bercinta sama istri gue. Kita putus!" Jawab Gesa dengan ringannya dan tak lupa menahan kenikamatannya saat tangan Aira tak sengaja menyenggol kejantanannya yang tengah mengeras.


"Kamu keterlaluan ya Ges.. Aku akan sebarin ke seluruh warga sekolah kalo kamu sebenarnya udah nikah dan aku masih sakit hati sama kamu."


Tak peduli dengan ancaman Siska yang menurutnya sudah tidak penting lagi, dengan cepat Gesa mengangkat lengan Aira lalu membantingnya begitu saja lalu menaiki tubuh Aira tanpa ragu.


"Sayangku kenapa bikin candu." Ucap Gesa dan mengecupi pipi Aira bahkan menggigitnya dengan gemas.


Aira sendiri hanya bisa menahan senyumnya dengan tangan yang berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya di bawah kungkungan tubuh Gesa.


Ciuman Gesa tiba-tiba yang membuat Aira bungkam seketika. "Karena lo istri gue dan gue suami lo."


"Nggak ada yang boleh sentuh lo selain gue dan nggak ada yang boleh ngapa-ngapain lo selain gue."


Ges menggigit gemas leher Aira, "Mine." Tegas Gesa yang membuat Aira meremang begitu saja.


"Kemarin gue kasar?" Tanya Gesa.


Aira bingung harus menjawab apa tapi yang jelas malam pertamanya bersama Gesa sangat menyenangkan bahkan membuat Aira tidak takut lagi pada Gesa.


Aira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan hal tersebut sukses membuat Gesa tersenyum geli.


"Satu kali lagi ya Ra, please.." Mohon Gesa dengan tangan yang mengusap lembut pinggang Aira.


"Lo bikin candu."


"Kalaupun gue harus satu minggu penuh di dalam kamar asal sama lo gue mau banget.."


"Dan gue akan tinggalin semua cewek gue kalo lo rajin kasih gue jatah." Lanjut Gesa yang membuat mata Aira melotot tidak percaya.


"Serius kak? Kak Gesa nggak akan main cewek lagi?" Tanya Aira dengan mata berbinarnya.


Gesa menganggukkan kepala semangat tanpa ragu, "Apapun buat lo.. Dan gue akan berusaha terima lo di kehidupan gue selama jangka waktu satu ke depan." Jelas Gesa yang semakin membuat Aira terlihat senang.


"Yeayy.. Terimakasih kak." Girang Aira dan tanpa sadar ia mengalungkan tangannya di leher Gesa.


"Maaf kak Ges, nggak sengaja.." Ucap lirih Aira dengan melepaskan tangannya namun di cegah oleh Gesa.


"Yang mancing harus tanggung jawab Ra." Gumam Gesa menatap Aira nafsu.


Tanpa menunggu persetujuan dari Aira ataupun hal apapun lagi Gesa akan menghabisi Aira lagi siang ini, karena mereka bangun tepat jam 10 pagi akibat malam panjang yang mereka lalui bersama.


"Pagi yang indah dengan bercinta sama kamu, baby." Ucap Gesa dengan mencium bibir Aira ganas.


"Ini bukan pagi lagi kak. Tapi udah jam 10 dan aku malu sama mama nanti kalo keluar gimana?"


"Bodoamat.. Orang kita bikin baby juga udah sah kok, nggak mungkin juga mama sama papa akan ganggu kita. Udah aku kunci rapat pintu kamarnya."


"Pelan-pelan ya kak, sisa yang kemarin masih sakit." Mohon Aira menatap mata Gesa.


Gesa tersenyum geli menatap Aira. Entah karena apa yang jelas kali ini perasaan Gesa tertarik dengan Aira bahkan mulai berpusat pada Aira. Dirinya yang tidak pantas untuk Aira akan berusaha sebisa mungkin untuk selalu ada dan merangkul Aira apapun yang terjadi.


Berpisah dengan Aira setelah acara kontrak selesai untuk saat ini tidak terlintas sedikit pun di benak Gesa.


Yang ada di pikiran Gesa hanya bagaimana cara untuk menjerat Aira agar mau bertahan dengan dirinya yang brengsek dan bajingan..


"Katanya gue nggak kasar.. Tapi lo kemarin gigi bahu gue Ra pake cakar-cakar punggung gue lagi."


Aira mencoba tersenyum walaupun ia sebenarnya takut dengan Gesa karena menyakiti fisik Gesa yang terbilang sangat sempurna dimata Aira. "M-Maaf ya kak, habisnya kemarin waktu masuk pertama kali sakit banget.. Perih." Gumam Aira yang membuat Gesa menaikturunkan alisnya dan berniat menggoda Aira.


"Masuk pertama? Apanya yang masuk? Terus pertama apa maksud lo?" Goda Gesa yang berhasil membuat pipi Aira memerah.


Tak malu lagi dengan kelakuan Gesa, Aira segera memeluk tubuh Gesa yang berada di atasnya untuk menutupi wajah merahnya akibat godaan Gesa.


"Gue tanya sama lo, masuk pertama apaan? Yang masuk apanya terus masuk dimana?" Goda Gesa semakin menjadi-jadi.


"Kak.." Rengek Aira tanpa sadar yang membuat Gesa gemas lalu mengecup kening Aira dengan lembut.


Bahkan Aira kaget dengan perlakuan Gesa yang menanggapi rengekan manja ala dirinya apalagi Gesa membalas dengan kecupan lembut di keningnya.


"Mandi bersama?" Tawar Gesa dengan mengangkat Aira yang telanjang bulat ke dalam gendongannya.


Melihat Aira yang berusah menutupi keintiman tubuhnya, membuat Gesa dengan cepat memincingkan matanya.


"Kenapa di tutupin?"


"Malu kak." Cicit Aira pelan.


"Bahkan gue udah *****-***** semua tubuh lo, kita menyatu bersama dengan gue masuk ke tubuh lo.. Lagian juga lo nggak lihat nih semua badan lo merah-merah hasil mahakarya gue."


"Kita juga mendesah bersama dengan lo yang selalu sebut-sebut nama gu-"


"Kak Gesa.. Udah ah jangan di bahas lagi, aku masih polos di nodai mulu." Potong Aira cepat yang membuat Gesa tidak bisa menahan tawanya.


"Polos darimananya Ra? Sejak kemarin malem lo udah nggak polos lagi tuh.. Apaan mengerang, menjerit bahkan mendesah dan sebut nama gue itu disebut polos maksud lo?"


"Kalo kak Gesa masih bahas yang kemarin mendingan kita mandi sendiri-sendiri aja." Jawab Aira bersamaan dengan dirinya yang turun dari westafel namun dicegah cepat oleh Gesa.


"No!! Sayang please.. Satu kali lagi di kamar mandi."


"I want making love with you, in here.. Now." Lanjut Gesa dengan memeluk pinggang Aira erat.


"Kita mau mandi kak." Ucap Aira mengingatkan niat Gesa mengajaknya mandi bersama.


"Mandi keringat bersama di kamar mandi sayang." Bisik Gesa lembut dan semuanya berujung dengan percintaan mereka yang entah sudah berapa kali mereka lakukan dari kemarin malam hingga pagi ini.

__ADS_1


...🔥🔥🔥...


__ADS_2