
...IG : FRISKYA___...
"Dibayar berapa sih sama si Gesa sampai begitu deketnya." Ujar Gita dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Aira hari ini berangkat sekolah sendirian tanpa Gesa. Karena Gesa mendadak ada pergantian pemain di turnamen basket dan harus berangkat pagi.
Siska yang berjalan berlawanan arah di depan Aira dengan cepat menghentikan langkahnya untuk menghadang Aira yang diikuti oleh anak buahnya.
"Lo beneran pacaran sama Gesa? Gesa lo pelet apaan?" Sarkas Siska kemudian.
Gita yang mendengar ucapan Siska segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aira dan Siska.
"Tau tuh.. Heran gue kenapa Gesa jadi tunduk gini sih sama si cupu." Sahut Gita kemudian.
Aira meyakini dirinya sudah berubah dan harus berubah. Ia bertekad kuat untuk berubah dan bersifat sesuai dengan penampilannya.
Itulah pesan Gesa!
Gesa selalu mendorong Aira untuk optimis dan tidak takut akan apapun asal dirinya tidak merasa membuat kesalahan maupun bersalah.
Aira menghela nafasnya pelan dan memberanikan diri mendongakkan kepala untuk menatap Siska dan Gita n
bergantian. "Maaf kak, ini udah jam masuk kelas.. Aku takut telat." Ucapnya kemudian.
Gita mendorong bahu Aira kasar, "Lo mulai berani ya sama kita-kita?"
"Bukan masalah berani atau nggak berani kak. Tapi aku emang nggak pernah takut sama kalian berdua." Jawab Aira dengan ringannya dan mencoba untuk menetralkan jantungnya yang berdetak kencang karena baru pertama kali ini ia berani membantah kakak kelas.
"Nggak cantik aja belagu." Ketus Siska dengan menarik rambut Aira keras.
Tidak ingin terjadi keributan di pagi hari apalagi ini di area sekolah, Aira tidak mau membalas Siska. Yang ia lakukan hanya berusaha melepaskan tangan Siska yang tengah menarik keras rambut panjangnya.
"INI KENAPA SIH?!!" Teriak Dika yang baru saja datang dan menarik Aira.
Kedatangan dan teriakan Dika secara bersamaan semakin membuat tempat sekitar menjadi ramai dan penuh dengan omongan-omongan yang kurang mengenakkan untuk masuk ke dalam telinga.
Semua membicarakan hubungan Aira dan Gesa yang semakin hari bukan semakin lenyap namun semakin meningkat dalam berita pergosipan sekolah.
Banyak yang menjelekkan Aira dan tidak tanggung-tanggung untuk menghina Aira sebagai cewek yan telah dibeli oleh Gesa.
"Kakak kelas bukannya ngasih pedoman sama adik kelas malah ngajak ribut." Sindir Dika dengan menatap dingin kearah Gita dan Siska.
Siska memutar bola matanya malas menatap Dika, "Lo sendiri siapa? Punya hubungan apa lo sama si murah di belakang lo."
"Tau tuh.. Si anak baru ngikut mulu. Lo itu nggak tahu seluk-beluk sekolah sini dan lo juga anak pindahan ngapain sih ikut-ikutan buat cari masalah." Sahut Gita kemudian.
Dika menyembunyikan Aira dibelakang tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah Siska dan Gita. "Gue emang anak baru disini dan gue juga nggak ada hak buat nantang kakak kelas."
"Tapi lo berdua nggak pantes jadi kakak kelas kalo nggak bisa mengayomi dan memberi contoh yang baik buat adik kelas." Ucap Dika kemudian dan mengalihkan pandangan fokus menatap Gita, "Bahkan lo sendiri barusan ngaku kalo lo suka cari masalah."
"Dan lo biang masalah." Ketus Dika dengan menatap Siska.
Dika menarik lengan Aira begitu saja dan berjalan cepat menuju kelas mereka berdua.
Aira hanya diam dan tidak bisa berkata apapun lagi, ia memikirkan kedepannya harus bagaimana lagi jika berhadapan dengan semua siswa SMA Pertiwi yang berhasil membuat namanya jelek.
Jelek bukab perihal penampilan seperti awalnya, namun jelek saat hubungannya dengan Gesa berganti status menjadi sepasang kekasih.
"Lo harus bilang ke Gesa kalo lo dijahatin mulu sama fans-fans alaynya."
"Gimana tadi kalo nggak ada gue? Pasti rambut lo udah rontok semua musuh tu lampir." Lanjut Dika kemudian.
Aira menganggukkan kepalanya singkat dan duduk dibangkunya, "Kalo bilang yang ada masalah nggak tambah selesai tapi tambah-tambah.. Kak Gesa orangnya keras dan akan marah jika siapapun mencari masalah dengan menyangkut namanya." Jelas Aira pada Dika.
"Terserah deh Ra, tapi yang jelas lama kelamaan Gesa akan tau sendiri gimana perlakuan fans fanatiknya sama lo." Final Dika dan meletakkan tasnya di meja lalu pergi menuju pintu.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
"Kenapa nggak di makan? Gimana nanti kalo anak gue yang ada di perut lo kelaperan?" Ucap Gesa tiba-tiba yang kini berada di belakang Aira.
Aira sengaja di kantin sendirian tanpa Dika. Selain Dika yang sibuk dengan kegiatan belajar kelompok dan tidak satu kelompok dengannya, Aira lebih suka sendiri seperti awal dimana ia tidak punya teman sejak masuk pertama kali di SMA Pertiwi.
"Kak Gesa mulutnya bisa nggak sih nggak main ceplas-ceplos gitu aja? Nanti kalo ada anak lain yang denger gimana?"
Gesa duduk begitu saja di depan Aira dan mengendikkan bahunya pelan, "Bodo amat.. Yang jelas gue mau lo sekarang makan."
"Percuma juga pesen bakso kalo nggak dimakan." Lanjut Gesa kemudian.
"Nggak jadi laper kak. Kak Gesa mau makan? Aku pesenin ya?" Tawar Aira yang mendapat gelengan kepala dari Gesa sebagai jawaban.
Mata Aira menatap Gesa yang berada di depannya, rambut basah namun rapi dan tidak bau keringat ala Gesa sama sekali membuat Aira menincingkan matanya.
"Katanya turnamen pagi, kok sekarang wangi-wangi aja nggak keringetan sama sekali.. Tumben juga rapi bajunya." Ucap Aira dengan mata yang masih fokus memandangi penampilan Gesa.
Gesa mengambil sendok garpu milik Aira dan menusuk satu tahu bakso yang ada di mangkok lalu mengunyahnya dengan santai. "Tadi emang turnamen dan gue cuma pemain bantuannya, ngapain juga harus berjuang menang.. Kecuali menangin hati lo gue akan usaha sekeras tenaga." Ucapnya kemudian yang membuat Aira menghela nafasnya pelan.
"Maksud aku kalo turnamen kan pake jersey ini kenapa kok udah pake seragam? Bawa baju ganti?"
"Perasaan aku nggak siapin deh kak dan kak Gesa juga nggak suruh aku." Lanjut Aira dengan memainkan kunci motor Gesa yang ada di atas meja.
Tersadar akan sesuatu, Aira menatap curiga ke arah Gesa yang membuat sang empu memutar bola matanya malas karena tidak faham dengan maksud tatapan dari istrinya.
"Jangan bilang kak Gesa pulang dulu ke rumah dan ambil baju sendiri di lemari." Tuduh Aira tanpa ragu.
Gesa tersenyum manis menatap Aira lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Emang tadi pulang dulu terus mandi dan ke sekolah.. Kalo nggak ada satpam sama kepsek di depan pagar mungkin gue nggak akan serapi ini." Ucapnya yang membuat Aira geram sendiri.
"Ngaku sekarang pasti lemari hancur lagi kayak ambil kemeja kemarin, seragam yang kak Gesa pake kali ini aku masih hafal kalo letaknya di tumpukan paling bawah."
"Yaudahlah sayang orang nanti tinggal di rapiin juga, marah-marah mulu heran." Jawab Gesa ringan bersamaan dengan mengunyah tahu bakso milik Aira.
Aira menahan geraman marahnya pada Gesa. Bisa-bisanya Gesa dengan ringan tanpa rasa bersalah mengatakan merapikan ulang semua tumpukan baju Gesa yang super duper banyak sekaligus branded semua.
Menatap Gesa yang lahap memakan makanannya, Aira menyodorkan mangkok tersebut tepat di depan Gesa. "Kak Gesa aja yang makan, aku nggak laper." Ucapnya kemudian.
"Nggak laper kenapa pesen? Kalo nggak ada gue terus dibuang gitu aja?" Tanya Gesa.
"Ya nggak gitu kak. Nggak tau kenapa tadi tiba-tiba mau beli terus waktu makanannya dateng nggak nafsu lagi."
"Kak Gesa aja ya yang makan, biar nggak buang-buang uang akunya." Lanjut Aira dengan memunculkan senyum manisnya yang selalu membuat Gesa salah tingkah sendiri.
"Jangan senyum kenapa sih Ra!! Ah elah.. Lo sadar nggak sih kalo senyum lo bikin gue sal-"
"Nggak jadi." Lanjut Gesa yang sengaja tidak melanjutkan ucapannya karena sadar bahwa perkataannya akan membuat Aira tersanjung.
"Sal apa kak? Salah tingkah atau apa?" Goda Aira dengan menahan tawanya melihat pipi Gesa yang memerah pertama kalinya.
Gesa mengusap wajahnya kasar dan meraih segelas es teh yang ada di depannya begitu saja lalu meneguknya cepat sampai habis.
Sadar bahwa wajahnya kini yang semakin memerah akibat godaan Aira padanya, Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kursi dimana Aira duduk.
"Wajah gue merah karena lo, sekarang lo harus tanggungjawab.. Nggak mau tau." Rengek Gesa seperti anak kecil dan tanpa permisi menenggelamkan wajahnya begitu saja di paha Aira.
Kelakuan Gesa tersebut sukses membuat siswa lain yang berada di kantin mendadak iri dan ingin berada di posisi Aira.
Bersanding dengan kapten basket yang tampan serta jenius, anak pengusaha berstatus tunggal dan kaya raya.. Itulah Gesa!
"Kak Gesa, kita dilihatin dan jadi pusat perhatian ini.. Bangun ah, nanti kalo mau manja-manja di rumah." Gumam Gesa yang tidak dihiraukan oleh Gesa.
"Kak Gesa.."
"Kak Gess.."
__ADS_1
Memdengar panggilan Aira, Gesa hanya menggelengkan kepalanya dan bergumam tidak jelas serta mulai berani mengecupi perut Aira tanpa permisi berkali-kali.
"Kalo nggak bangun, nanti malem kak Gesa tidur di lu-"
DUGH!!
"Aww.." Erang Gesa dengan mengusap kepalanya saat tidak sengaja terbentur meja karena panik dengan ancaman Aira.
"Kan bener.. Sakit nih pasti, coba aku lihat." Sahut Aira dengan mengusap pelan kepala Gesa yang terbentur meja.
Tidak menunggu lama lagi dan Gesa tidak mau jika Aira menjadi pusat perhatian maka ia segera berdiri dari duduknya dan menarik tangan Aira begitu saja.
"Mau kemana sih kak?"
"Itu kepalanya kalo ada darahnya gimana?" Lanjut Aira yang masih khawatir dengan keadaan kepala Gesa.
"Bodo amat udah nggak sakit." Jawabnya cepat lalu mengeluarkan dompet dan mengambil uang dari sana, "UANG BAKSO MILIK AIRA ADA DISINI.. SISANYA BUAT JAJAN SEMUANYA YANG ADA KANTIN SAAT INI." Teriaknya kemudian dan pergi begitu saja.
...🔥🔥🔥...
"Eh mau kemana? Enak aja mau pergi gitu aja ninggalin gue." Ucap Gesa dengan menarik ransel Aira seperti kucing.
Aira sengaja pulang sekolah menghindari Gesa, karena ia harus bekerja di kedai kopi seperti biasa dan harus sembunyi-sembunyi dari Gesa.
"Pulang sama gue!" Lanjut Gesa dengan menarik pergelangan tangan Aira menuju parkir.
Aira mengusap tengkuknya pelan, "Kayaknya aku pulang sendiri aja deh kak. Soalnya ada tugas kelompok dan harus dikumpulkan besok." Bohong Aira pada Gesa.
"Tugas kelompok mata pelajaran apa? Dan kelompok lo siapa aja?"
"Em.. Ya pokoknya tugas kelompok kak. Mata pelajaran olahraga."
Gesa memincingkan matanya menatap Aira, "Mana ada tugas kelompok mata pelajaran olahraga, itu alasan lo doang."
"Nggak ada tugas kelompok. Bohong kan lo sama gue?" Tuduh Gesa to the point pada Aira.
Mata Aira melotot mendengar tuduhan Gesa terhadapnya, "Nggak!! Aku nggak bohong kak.. Sumpah deh." Jawabnya dengan menampilkan dua jari.
Gesa sebenarnya sudah tahu kemana Aira akan pergi hari ini saat pulang sekolah. Semuanya Gesa tahu karena memang semua notifikasi ponsel Aira sudah terjaring di dalam ponsel pribadinya.
Dan hari ini kegiatan Aira adalah bekerja dan sudah memiliki janji dengan salah satu pegawai kedai dan untungnya itu adalah seorang perempuan.
"Jujur aja mau kemana? Gue anterin dan gue nggak akan marah." Ucap Gesa tiba-tiba yang membuat mata Aira berbinar.
"Beneran? Nggak akan marah? Mau ke kedai kopi biasanya." Jawab Aira dengan girangnya.
Ges tersenyum kecil melihat girang Aira dan kejujurannya kali ini. "Oke gue anterin." Ucapnya kemudian dengan menyodorkan helm untuk Aira.
Aira merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum menggunakan helm, alhasil Gesa dengan cepat dan sabar memakaikan helm tersebut.
"Aku bisa pakai sendiri kak." Gumam Aira pelan.
Cup
"Gue juga bisa bantu lo pake helm bonus cium." Ucap Gesa setelah mengecup bibir Aira secepat kilat.
Aira memutar bola matanya malas mendengar jawaban Gesa. "Beneran nggak boleh marah ya kak kalo aku disana?" Tanya Aira memastikan janji Gesa.
Gesa menaiki jok motornya yang diikuti oleh Aira, "Iya nggak akan marah.. Gue juga ada urusan sama pemilik itu kedai." Lanjut Gesa yang dijawab anggukan kepala oleh Aira tanpa curiga.
Gesa tersenyum licik di balik helm full facenya, "Gue akan negosiasi dengan pemilik kedai dan gue beli atas nama gue. Yang artinya gue akan jadi bos dari atasan lo sekaligus lo akan gue pecat dan selesai."
"Istri Gesa bekerja? Itu bukan gaya Deanova.. Aira sayang." Lanjut Gesa dengab bergumam pelan dan mata yang fokus menatap jalanan.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1
...IG : FRISKYA___...