
...IKUTI INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
BRUK..
"Aduh.." Erang cewek tersebut karena Gesa tidak sengaja menabraknya.
Gesa kini tengah berada di rumah sakit dimana Aira tengah melakukan cek kandungan.
Jam menunjukkan pukul 11 siang yng artinya Gesa bisa istirahat pulang dari kantor namun sengaja ia gunakan untuk menemani Aira.
"Maaf ya mbak, saya nggak sengaja." Ucap Gesa penuh sesal dengan membantu wanita tersebut berdiri.
Wanita tersebut terpana melihat Gesa yang tampan serta postur tubuh yang tegap dan tinggi di tambah rahang tegas yang semakin membuatnya sempurna.
"Gapapa kok mas." Jawab wanita tersebut.
"Tapi kayaknya kaki saya agak terkilir deh mas, bisa minta tolong bantuin duduk disana nggak?" Lanjut wanita tersebut sengaja ingin mengenal Gesa lebih jauh.
Gesa yang merasa bersalah dengan cepat membantu wanita tersebut tanpa curiga.
"Mau saya panggilkan dokter mbak?" Tawar Gesa kemudian.
Wanita tersebut tersenyum tipis, "Nggak perlu mas, terimakasih."
"Aduh maaf ya mbak, saya bener-bener nggak sengaja nabrak tadi.. Jadi terkilir gini kan kakinya." Ucap Gesa dengan menatap pergelangan kaki wanita tersebut.
"Mungkin masnya buru-buru jadi nggak fokus sama jalan."
Gesa menganggukkan kepalanya pelan, "Iya mbak saya emang buru-buru ini tadi."
DRTTT..
DRRTTT..
Getaran ponsel yang ada di sakunya membuat Gesa menggeser tombol hijau tersebut dengan cepat.
"Ini udah di lobby rumah sakit mau naik, habis ini kesitu kok." Ucapnya kemudian lalu mematikan panggilannya begitu saja.
Gesa berdiri dari duduknya lalu mengeluarkan dompet untuk mengambil kartu namanya yang ada disana.
"Kalo ada masalah sama kaki mbaknya langsung hubungi saya aja ya, maaf nggak bisa lama-lama.. Saya ini buru-buru banget." Ucap Gesa kemudian dengan menyerahkan kartu namanya.
"Oh jadi nama masnya Afigesa.." Ucap wanita tersebut.
Gesa menganggukkan kepalanya, "Cukup Gesa aja panggilnya."
Wanita tersebut menganggukkan kepala mengerti lalu mengulurkan tangannya berharap Gesa mau berkenalan.
__ADS_1
"Kayaknya kita seumuran deh.. Biar lebih akrab lo gue aja."
"Btw, nama gue Nada." Lanjutnya kemudian.
Gesa memincingkan matanya ragu-ragu namun tetap menghargai uluran tangan Nada yang ingin berkenalan dengannya.
"Okey.. Kalo ada masalah serius di kaki lo akibat gue tabrak tadi, lo hubungin nomor itu aja ya."
"Gue duluan, Nad." Pamit Gesa kemudian lalu berlari menuju lift untuk bertemu dengan sang istri tercinta.
Nada menatap kartu nama tersebut dengan senyum tipis terlukis di bibirnya.
"Afigesa Deanova Putra?"
"Boleh kali ya iseng-iseng kenalan sama dia.. Muda, berkharisma di tambah kaya raya lagi." Gumam Nada kemudian lalu pergi begitu saja dari rumah sakit dan mengakhiri aktingnya.
Sedangkan di ruang cek kandungan, Gesa tengah mendengarkan dengan seksama apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi keinginan sang istri tercinta.
"Di usahakan berat badan sang mama mengalami kenaikan ya.. Tidak naik tidak apa-apa sebenarnya asal tidak turun aja."
"Dan untuk sang mama kalo bisa jangan mikir yang aneh-aneh apalagi takut soal persalinan."
Gesa dan Aira menganggukkan kepala tanda mengerti lalu pamit undur diri.
...🔥🔥🔥...
"Emang badan aku kurusan ya kak?" Tanya Aira cepat begitu mereka sampai di lobby rumah sakit.
Aira mengukur pinggang bahkan lengannya dengan menggunakan tangan untuk menafsirkan ucapan dokter kandungan yang baru saja mereka berdua kunjungi.
Mata Aira melotot tidak terima mendengar jawaban Gesa, "Jadi menurut kamu aku nggak kurusan tapi aku gendut gitu?"
"Aku pulang sendiri aja." Lanjut Aira lalu berjalan meninggalkan Gesa.
Gesa hanya bisa membuang nafas lalu mengusap kasar wajahnya, "Salah lagi.."
"Sayang.. Tunggu." Panggil Gesa berusaha mengejar Aira.
Gesa menarik pelan lengan Aira lalu memeluknya tepat di depan umum tanpa rasa malu.
"Aku nggak bilang kamu gendut sayang.. Aku cuma jawab pertanyaan dari kamu aku kurusan nggak? Yaudah aku jawab nggak kurusan sayang."
"Terus salahnya aku dimana?" Lanjut Gesa bertanya pada Aira.
Aira melepaskan begitu saja pelukan Gesa, "Malu.. Di lihatin orang main peluk-pelukan di tempat terbuka kayak gini."
"Iya deh iya.. Aku salah dimananya sayang?" Sahut Gesa lagi.
Aira menundukkan kepalanya, "Cowok emang udah kodratnya salah."
"Kalo aku mau salahin kamu ya pokoknya kamu harus salah."
Gesa mengusap wajahnya, "Ya tapi say-"
__ADS_1
"Kamu nggak mau salah?" Sahut Aira cepat yang membuat Gesa diam seketika tanpa melanjutkan protesnya.
Dengan terpaksa dan mau tidak mau, Gesa akhirnya menganggukkan kepala.
"Mau sayang.. Apapun yang kamu bilang aku pasti mau."
"Salahin aku terus gapapa.. Aku emang cowok dan tempatnya salah." Lanjut Gesa kemudian dengan tersenyum semanis mungkin menatap Aira.
Aira mengalungkan tangannya begitu saja di leher Gesa dan tanpa malu mengecup singkat bibirnya.
Cup
"Kita pulang sayang.. Aku mau gado-gado, rujak buah sama es jeruk lemon." Ucap Aira kemudian dengan riang lalu menarik lengan Gesa menuju mobil.
"Semudah itukah ekspresinya berubah? Cuma anak gue doang yang bisa menangin semuanya." Gumam Gesa pelan dan mengikuti langkah kaki Aira.
Setelah menepuh perjalanan beberapa menit, kini mereka berdua telah sampai di salah satu pasar raya yang banyak sekali pedagang kaki lima untuk berjualan macam-macam camilan serta makanan ringan hingga makanan berat.
"Mau telur gulung."
"Mau cimol."
"Mau tahu bulat."
"Mau sotong sama.." Ucap Aira bingung lalu menunjuk salah satu penjual nasi bakar.
"Mau nasi bakar juga sayang tapi yang disana." Lanjut Aira kemudian.
Gesa menatap tangannya yang penuh dengan makanan keinginan Aira dan sama sekali belum di makan olehnya.
"Janji ya sampai rumah di makan semuanya? Kalo nggak dimakan kasian makanannya nanti nangis."
Aira menganggukkan kepalanya mendengar nasihat Gesa, "Pasti di makan semua.. Tenang aja." Jawabnya singkat.
Aira menarik lengan Gesa menuju penjual nasi bakar yang sedikit jauh dari tempatnya berdiri, "Naik mobil aja ya sayang.. Jauh loh, nanti kamu capek." Ucap Gesa memberi peringatan pada Aira.
"Jalan aja sayang.. Kalo capek aku tinggal minta gendong."
"Oke sayang oke.. Anything for you, babe."
"Jangan lari sayang! Jalan pelan-pelan aja, kamu bawa baby loh." Lanjut Gesa lagi.
Entah apa yang membuat Aira menjadi kalap seperti ini dan hampir semua makanan yang ada di depan matanya ia ingin beli.
Gesa tidak mempermasalahkan hal itu, ia hanya bingung dengan Aira.
Makanan yang banyak namun Gesa belum melihat Aira menyentuh makanan yang ia beli untuknya.
"Nggak mau makan ini sayang?" Tawar Gesa dengan mengangkat tangannya yang penuh dengn kantong plastik yang berisi makanan keinginan Aira.
Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak mau kak.. Di rumah aja makannya."
Gesa yang sadar akan kebiasaan Aira mengerjai dirinya tiba-tiba hal gila terlintas di otaknya, "Jangan-jangan nanti yang suruh habisin adalah gue? Bisa mampus gue." Gumam Gesa kemudian.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...