
"Gesa udah berangkat sayang?" Tanya Sofia pada Aira.
Aira sudah sampai rumah sang mertua sejak 10 menit yang lalu dimana ia juga mempunyau janji untuk bertemu dengan Deva, sahabat lamanya.
"Udah kok ma."
"Kamu udah makan?"
Aira menganggukkan kepalanya, "Sudah juga mama."
"Ini Aira bawakan sedikit masakan Aira sama buah-buahan kesukaan mama, semoga mama suka ya."
Sofia duduk begitu saja tepat di samping Aira dan mulai menyalakkan televisi untuk menonton drama kesukaannya.
Gesa memang sudah berpesan kepada Sofia untuk menitipkan Aira selama ia perjalanan bisnis hingga ia pulang.
Dan Gesa juga berpesan kepada beberapa nak buahnya yang ikut Aira ke rumah Sofia untuk melaporkan apapun kegiatan Aira selama tidak ada dirinya.
"Kenapa repot-repot segala sih sayang? Kamu ada disini temenin mama aja, mama udah seneng."
Aira tersenyum kecil, "Ma, habis ini temen lama aku mau main kesini gapapa?"
"Gapapa sayang.. Kamu suruh kesini anaknya?"
"Iya ma, mungkin sebentar lagi dateng."
Setelah beberapa menit mengobrol, tidak lama bel rumah berbunyi dan asisten rumah tangga keluarga Deanova segera berlari menuju pintu.
"Permisi nona, ada teman nona didepan."
Aira dengan cepat berdiri dari duduknya, "Sebentar ya ma." Pamitnya kepada Sofia.
Aira menarik lengan Deva memasuki rumah mewah dan besar milik keluarga Deanova.
Deva yang merasa canggung dan tanpa bertanya apapun hanya mengikuti langkah Aira yang ada di depannya.
"Gak nyangka gue ternyata lo sekarang bener-bener jadi nyonya muda keluarga Deanova." Gumam Deva.
Setelah mengobrol bersama, Firda berpamitan untuk pergi dan memberikan kesempatan Aira berbicara kepada sahabat lamanya.
"Mau minum apa?" Tanya Aira kemudian.
"Sengasihnya lo aja deh Ra.. Gue bakalan minum dan nggak mungkin juga lo akan kasih gue air putih." Jawab Deva cepat dengan nada menggoda Aira.
"Lo bisa aja.. Bentar ya."
Aira berjalan menuju dapur dan tepat disana ia mendapati asisten rumah tangga keluarga Deanova.
__ADS_1
"Ada yang bisa dibantu nona?"
"Enggak ada kok bi, cuma buat es jeruk aja untuk temen saya."
"Biar saya aja nona. Nona kesana aja, nanti biar bibi antar."
Aira menggelengkan kepala dengan tersenyum tipis, "Cuma buat es jeruk aja bi, saya bisa kok."
"Nanti kalo tuan muda tahu saya yang kena marah nona."
Mengingat peraturan Gesa yang tidak akan membiarkan Aira melangkah ke arah dapur dan kejadian beberapa hari yang lalu ketika Gesa marah besar membuat asisten rumah tangga tersebut waspada.
"Gesa tidak ada disini bibi.. Jadi, bibi silahkan memasak kembali dan ini saya yang bikin es jeruknya."
"Biar saya aja nona." Paksa bibi dengan meraih gelas di tangan Aira.
"Justru tuan muda nggak disini nona, kita harus tetap waspada." Lanjutnya kemudian.
Aira menghela nafasnya pelan, "Nggak usah bibi, saya bisa kok.. Nanti yang ada saya malah ngerepotin bibi."
"Sama sekali nggak ngerepotin bibi."
"Tapi bi-"
"Saya yakin tuan muda lagi memantau kita lewat cctv nona. Jadi, biar saya aja." Ucap bibi lalu mulai membuat es jeruk secepat kilat.
"Ahh itu cctv ternyata, baru tau." Gumam Aira pelan.
Aira dengan penasaran menarik kursi dan mulai menaiki kursi tersebut untuk mengecek apakah cctv tersebut berfungsi atau tidak.
"Astaga!! Nona.. Jangan naik-naik kursi, nona lagi hamil." Kaget Bibi dengan cepat memegang kursi tersebut tepat dibawah kaki Aira.
Aira tersenyum tipis dengan menampakkan gigi putihnya, "Iya-iya bi ini mau turun kok. Cuma ngecek aja ini berfungsi atau nggak."
"Terimakasih ya bi, saya ke depan dulu." Pamit Aira.
Asisten rumah tangga tersebut mengusap dadanya pelan, "Bisa-bisanya seaktif itu padahal perutnya udah besar, bener-bener bikin gemes."
...🔥🔥🔥...
Gesa menahan tawanya dengan tangan yang menatap tablet mahal tepat di pangkuannya.
Menghadiri acara rapat penting para direksi besar tidak membuat dirinya terhalang untuk melihat aktivitas Aira ketika tidak bersamanya.
Gesa selalu menyambungkan jaringan cctv pada ponsel maupun tablet mahalnya yang bertujuan untuk memantau Aira dimana dan kapanpun tanpa terkecuali.
Bahkan Gesa juga tidak segan-segan memasang GPS kecil di kalung yang kini Aira gunakan.
__ADS_1
"Bagaimana pendapat anda mengenai proyek kali ini tuan Deanova?"
Gesa dengan cepat mendongakkan kepalanya dan mematikan tabletnya begitu saja.
"Saya cocok dengan proyek kali ini dan untuk anggaran maupun laporan lainnya saya serahkan ke sekretaris saya."
"Biar dia nanti yang urus." Lanjut Gesa kemudian.
Gesa dengan cepat berdiri dari duduk dan berpamitan undur diri dari rapat tersebut lalu berjalan menuju lift.
"Wah ketemu disini nich, anak tunggal keluarga Deanova yang ganteng mana pembisnis lagi." Ucap salah satu pria tua paruh baya yang satu lift dengan Gesa.
Gesa mengerutkan keningnya karena ia bingung dengan siapa ia berbicara kali ini.
"Handoko.. Handoko Wijaya." Ucap pria paruh baya tersebut memperkenalkan dirinya pada Gesa dengan mengulurkan tangannya.
Gesa tanpa ragu menerima uluran tangan tersebut, "Jika anda tau saya berarti saya tidak perlu mengenalkan identitas saya lagi bukan?" Tanyanya dengan nada tegas seperti biasa.
Handoko menganggukkan kepalanya, "Saya sudah lama menantikan bisnis kita yang sekarang ini dan kebetulan sekali anda yang pegang bisnis kita kali ini."
"Memangnya kenapa dengan saya atau oranglain yang pegang? Bukannya sama saja?"
"Memang sama saja tapi saya lebih percaya jika perusahaan Deanova turut andil dalam bisnis kali ini."
"Kebetulan sekali, saya punya putri yang cantik dan belum punya pacar.. Mungki anda minat nak Gesa?" Lanjut Handoko yang membuat Gesa tersenyum sinis seketika.
Gesa memang sering ditawari gadis cantik bahkan seksi dan itu adalah anak-anak dari rekan bisnisnya.
"Jadi pembicaraan kita kali ini membahas bisnis perusahaan atau bisnis pribadi tuan Wijaya?" Tanya Gesa.
Handoko tertawa kecil dengan mengerlingkan matanya, "Bisnis perusahaan tuan Deanova. Tapi jika bisnis perusahaan sudah selesai dan jika anda minat dengan putri saya, monggo silahkan ke bisnis pribadi."
"Saya tidak terima penyogokan berupa nyawa tuan Handoko apalagi putri anda." Tegas Gesa yang membuat Handoko tersenyum kecil.
"Tapi bukankah anda perlu kekasih untuk menemani hari-hari anda yang lelah tuan Deanova?"
"Apalagi anda masih muda dan pembisnis besar lagi." Lanjut Handoko memuji Gesa seperti penjilat.
Gesa tersenyum kecil bersamaan dengan terbukanya pintu lift.
"Saya sudah beristri tuan Handoko dan saya tidak menerima sogokan berupa wanita apalagi anak anda yang mau dengan pria sana-sini."
"Anak anda memang cantik dan seksi tuan Handoko tapi anak anda sudah termasuk bekas buat saya." Lanjut Gesa kemudian.
Gesa memang beberapa kali bertemu dengan anak dari Handoko Wijaya tanpa melupakan bahwa Gesa sebelum menikah dengan Aira adalah pemain wanita kelah handal.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1