
"Lo siapa yang berani ngikutin Aira apalagi ngajak jalan bareng lagi." Ketus Gesa dengan menatap Diki tajam.
Kini Gesa tengah berada di markas besarnya dimana ia memerintahkan semua anak buahnya untuk membawa Diki, lelaki yang berani menggoda sang istri apalagi dengan mengajak jalan.
"Lo siapa sih? Main bawa gue kesini dan Aira siapa lo main ikut campur aja."
Gesa tersenyum sengit menatap Diki, "Gue nggak suka lo yang deketin milik gue."
"Lo temennya Geral kan? Pantes aja kelakuan lo sebelas duabelas sama Geral." Ejek Gesa kemudian.
Diki berusaha lepas dari tali yang tengah menempel pada tubuhnya, semua anak buah Gesa hanya menatap bosnya yang sedang mengurus urusannya.
"Gue emang sahabat Geral, tapi setidaknya gue nggak miskin kayak dia." Sarkas Diki dengan menatap Gesa nyalang.
"Gue cuma Aira karena Geral udah jual Aira sama gue dengan harga 100juta." Lanjut Diki kemudian.
Mata Gesa melotot tidak percaya bahwa Geral telah menjual Aira pada oranglain selain dirinya.
"Geral jual Aira sama lo??" Tanya Gesa memastikan.
"Dia bahkan suruh gue buat tidurin Aira dan gue akan lakukan itu sebagai imbalan gue karena gue udah beli dia sama kakaknya."
BUGH!!
Gesa menonjok rahang Diki keras dengan menggeram marah mendengar semua pernyataan yang keluar dari bibirnya.
"LO KIRA AIRA PELACUR GITU?!!" Marah Gesa dengan memukuli wajah Diki tanpa henti.
UHUKK..
UHUKK..
UHUKK...
"Berani banget lo mau nidurin Aira dengan alasan pembelian dia seharga 100juta." Ketus Gesa dengan menarik keras Diki dengan kasar.
Diki terbatuk-batuk karena pukulan Gesa yang bertubi-tubi bahkan sangat keras dan kasar.
Jangan remehkan Gesa masalah hal seperti ini. Walaupun Gesa terlihat tidak punya teman dan hanya punya dua sahabat, koneksi Gesa ada dimana-mana dengan anak buah bahkan banyak orang yang selalu memujanya.
Tentu saja semua hanya karena uang! Dan Gesa akan melindungi orang-orang yang sangat berharga baginya dengan uang yang ia punya.
Prinsip Gesa adalah uang bisa dicari namun tidak dengan nyawa seseorang apalagi nyawa orang yang paling berharga untuk kita.
Diki tersenyum sinis menatap Gesa nyalang. "G-Gue akan dapetin Aira dan akan gua jadikan sebagai wanita gue tapi nggak sebagai istri gue." Ucap Diki yang semakin membuat Gesa marah.
BUGH!!
Pukulan keras mendarat mulus di perut Diki yang membuatnya pingsan begitu saja.
Gesa mengusap wajahnya kasar lalu menatap anak buahnya satu-persatu, "Bawa dia ke sel bawah tanah dan jangan ada yang bebasin dia sebelum gue dapat informasi tentang keluarga Diki dan keberadaan Geral." Ucap Gesa tegas yang diangguki hormat oleh semua anak buahnya.
Drtt..
Drrttt..
"Ya sayang?" Ucap Gesa pada lawan bicaranya di ponsel mahalnya dan ternyata adalah panggilan dari Aira.
Gesa mengkode anak buahnya untuk berpamitan pulang lalu berjalan menuju tempat dimana mobil mahalnya terparkir disana.
"*Kak Gesa kemana? Kok belum pulang jam segini?"
"Maaf kalo lancang nanyain, tapi ini nanti makanannya keburu dingin*."
Mendengar ucapan Aira yang ternyata sangat perhatian padanya membuat senyum cerah terbit begitu saja di bibir Gesa.
"Kok diam aja kak? Halo ada orang?" Ucap Aira lagi saat tidak mendengar jawaban apapun dari Gesa.
__ADS_1
"Ini mau pulang sayang. Nitip apa?" Tanya Gesa yang membuat pipi Aira di seberang panggilan memerah bak kepiting rebus.
Aira menggelengkan kepalanya, "Nggak nitip apa-apa kak. Kak Gesa cepat pulang ya.. Hati-hati dan jangan ngebut."
"Laksanakan bu bos!" Jawab Gesa tegas lalu mematikan panggilannya begitu saja.
...🔥🔥🔥...
Cup
Gesa mengecup bibir Aira singkat saat pintu terbuka dan menampilkan tubuh sebahu Gesa yang cantik dan manis jika tersenyum, siapa lagi jika bukan Aira..
"Warna pink di bibir lo bikin candu tau nggak? Rasanya gue mau tiap hari cium lo dan makan bibir lo." Ucap Gesa gemas dengan menoel-noel pipi Aira.
Aira tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya karena malu dengan perilaku Gesa yang mulai beberapa hari terakhir ini sangat manis padanya.
"M-Mau makan sekarang kak?" Tanya Aira dengan suara yang sedikit gugup.
Tidak menjawab pertanyaan Aira, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongan lalu berjalan menuju meja makan.
"Turunin aku kak, malu tau nggak!" Ucap Aira dan berusaha turun dari gendongan Gesa.
"Malu sama siapa? Perasaan di rumah cuma ada kita doang." Jawab Gesa bersamaan dengan menurunkan Aira di kursi makannya.
Melihat Gesa yang sudah duduk di kursinya, Aira dengan cepat berdiri lagi dan mulai menuangkan makanan untuk Gesa.
"Mau makan sama apa kak?"
"Di dapur masih ada yang aku panasin, bentar ya aku ambil dulu." Lanjut Aira kemudian berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban dari Gesa atas pertanyaannya.
Mata Gesa menatap meja makan yang penuh dengan semua makanan kesukaannya, tidak ada masakan berkuah maupun sayur.
Itulah Gesa.. Tanpa kuah dan sayur!
Terlihat sangat enak dan memang sangat enak. Gesa tidak bisa berbohong lagi bahwa Aira memang istri yang patut di acungi jempol masalah memasak dan menyiapkan kebutuhannya setiap hari.
"Ini dia ayam kecap kesukaan kak Gesa, nanti kalo rasanya kurang apa dan kelebihan apa kak Gesa bilang ya." Ucap Aira tiba-tiba yang berjalan menuju meja makan dengan wadah berisi ayam kecap kesukaan Gesa.
"Tau darimana kalo gue suka ayam kecap?" Tanya Gesa kemudian dengan memincingkan matanya.
"Dari mama kak. Aku juga nggak pake resep mama.. Pake resep aku sendiri, makanya aku tadi bilang kalo rasanya kurang apa dan kelebihan apa kak Gesa bilang aja."
"Dan besok aku pake resep mama aja gitu." Jelas Aira.
Gesa tersenyum tipis menatap Aira lalu mengambil sendok begitu saja dan mulai mencicipi ayam kecap ala resep Aira untuk pertama kalinya.
"Rasanya gimana kak? Kurang apa?" Tanya Aira ragu-ragu karena takut jika Gesa tidak suka dan kembali memarahinya seperti beberapa waktu lalu.
Gesa memincingkan matanya menatap Aira yang semakin membuat Aira ketar-ketir sendiri.
"Demi apapun ekspresi kak Gesa menggambarkan semuanya." Ucap Aira cepat lalu berdiri dari duduknya dan mengambil wadah tersebut untuk dibawanya menuju dapur.
"Ehh.. Lo mau ngapain? Mau dibawa kemana ayamnya?"
"Ke dapur kak. Pasti nggak enak ya.. Makan masakan yang lain dulu aja ya atau aku pesenin makanan luar aja gimana?" Jawab Aira panik karena Gesa pasti sudah kelaparan saat ini ditambah dengan masakan dirinya yang kurang enak membuat Gesa menunda makan malamnya.
Gesa menghela nafasnya melihat tingkah Aira yang selalu memutuskan apapun sendiri, bahkan Gesa belum menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan yang ditujukan Aira untuk Gesa.
"Bahkan gue belum komentar apapun tentang masakan lo Ra.. Dan lo main comot dan bawa tu wadah ke dapur aja, mau makan apa gue? Tahu? Tempe?"
"Gue maunya makan ayam kecap yang lo bawa itu." Lanjut Gesa menunjukkan wadah yang Aira bawa dengan dagunya.
"T-Tapi ini nggak enak kak. Nggak usah bohong deh.. Ekspresi ka Gesa udah menggambarkan semuanya kalo ayam kecap ini nggak enak."
"Gue cuma memincingkan mata doang dan itu dianggap penilaian gitu?"
"Chef Juna emang gitu kalo nilai mak-mak yang ada di tv? Nggak tuh perasaan.. Siniin ayamnya! Gue mau makan ayah kecap my Rara." Geram Gesa kemudian dengan menarik lengan Aira.
__ADS_1
"Ya tapikan kak ini it-"
"Diem! Gue mau makan.. Mau lo yang gue makan? Kalo mau bentar gue habisin ini dulu kalo udah selesai, baru kita ke kamar dan gue makan lo." Jawab Gesa dengan ringannya.
"Nggak!! Kak Gesa ih mesum."
"Btw kak, rasanya gimana masakan aku yang ini?" Tanya Aira tiba-tiba saat melihat Gesa yang lahap memakan ayam kecap ala dirinya.
"Lumayan." Jawab Gesa singkat.
"Lumayan tapi habis ya kak."
Gesa menatap Aira dengan pandangan nafsu dan mengarah pada dada Aira, "Habis lah orang lagi laper makan nasi.. Tenang aja Ra, habis ini juga habisin lo dikamar karena laper bikin baby sama lo."
Cup
Kecupan Gesa yang mendarat mulus di bibirnya lalu berlari begitu saja menuju dapur untuk mencuci tangannya yang kotor.
Aira mengusap bibirnya serta pipinya yang mungkin sekarang berwarna merah bak kepiting rebus.
"INI MAKANNYA UDAH APA BELUM?? KALO UDAH AKU BERESIN YA??" Teriak Aira dengan membereskan meja makan.
"UDAH SAYANG!! GUE TUNGGU DI KAMAR.. JADWALNYA MAKAN LO DAN GUE HAUS MAU SUSU." Jawab Gesa yang membuat Aira memelototkan matanya.
"Kak Gesa bener-bener penggoda dan playboy handal kelas atas." Gerutu Aira kemudian dengan mencuci piring dan membereskan sisa makan malam hari ini.
...🔥🔥🔥...
"Lo lagi ngapain? Ini udah jam 9 malam lo nggak tidur?" Tanya Gesa saat melihat Aira yang tengah membaca buku di depannya.
Setelah selesai makan malam seperti biasa Aira yang tidak melakukan kegiatan apapun memutuskan untuk belajar sedangkan untuk Gesa sendiri sudah menyalakan PS'nya sejak tadi dengan posisi rokok yang berada di tangan nya bersama dengan stik PS'nya.
"Belajar kak. Mau ujian kenaikan kelas dan sebentar lagi aku kelas 12." Jawab Aira dengan mata yang masih terfokus pada bukunya.
Gesa menghembuskan asap rokoknya begitu saja, "Kelas 12 nggak enak Ra. Mending lo hamil aja anak gue dan home schooling di rumah."
"Gue lulus dan kerja. Dan lo hamil anak gue dirumah aja gaboleh keluar tanpa ijin gue." Lanjut Gesa kemudian.
"Bukannya kontrak pernikahan kita cuma sampai kak Gesa lulus aja? Kan kak Gesa yang bilang gitu, mana bisa aku hamil saat kontrak kita berakhir kak?" Jawab Aira yang membuat Gesa sadar dengan sikap bencinya pada Aira dulu.
Gesa menatap Aira yang masih fokus dengan bukunya, "Kita melakukan hubungan suami-istri udah berkali-kali. Lo nggak takut kalo hamil? Terus kalo seandainya lo sekarang hamil dan kontrak pernikahan kita selesai apa lo akan bunuh darah daging gue?" Tanya Gesa kemudian.
Mendengar pertanyaan Gesa membuat Aira menutup bukunya begitu saja.
"Apa yang ditakutin dari hamil kak? Bahkan semua cewek pun akan merasa sempurna dan sangat bahagia jika mereka akan menjadi seorang ibu. Dan perihal perpisahan kita dan jika aku dalam keadaan hamil tidak akan merubah apapun kalo anak yang aku bawa adalah anak kak Gesa."
"Aku nggak sebodoh dan nggak setega itu kak buat bunuh anak aku apalagi itu darah daging aku sendiri."
"Kita pisah ya pisah aja. Tapi yang jelas aku akan tetap memperkenalkan anak-anak kita ke bahwa kak Gesa lah ayah mereka." Jelas Aira.
"Jadi lo mau hamil anak gue?" Tanya Gesa dengan memincingkan matanya.
Aira menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata tajam milik Gesa, "Tuhan yang beri kita amanah untuk punya anak kak, kalo aku hamil anak kak Gesa dan kita pisah tetep aja nggak bisa berubah bahwa kita adalah orangtua mereka.. Aku juga nggak bisa menolak kehadirannya sebagai bukti bahwa kita punya darah dan daging yang sama dengan adanya anak kita."
Gesa meletakkan stik PSnya begitu saja lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Aira.
"Lagian juga aku nggak mungkin hamil. Orang aku rajin minum obat dari kak Gesa." Lanjut Aira kemudian.
Dengan cepat Gesa meraih rahang Aira dengan tangannya dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Aira.
"No!! Kak Gesa bau rokok." Tolak Aira dengan mendorong bahu Gesa.
Gesa dengan cepat mengangkat kedua tangannya begitu saja, "Oke-oke.. Gue gosok gigi dulu dan habis ini gue mau makan lo." Ucap Gesa lalu berlari cepat menuju kamar mandi untuk menggosok gigi.
"Gue akan buat lo hamil dan membawa darah daging gue Ra. Maaf atas semua kecurangan gue yang bohongin lo dengan obat penyubur rahim dan bukan pencegah hamil sesuai keyakinan lo."
"Gue cuma mau anak-anak gue lahir dari seorang ibu yang tulus dan secantik lo Ra.. Dan anak kita akan menjadi bukti pernikahan suci atas cinta yang gue impikan seumur hidup bersama dengan lo. My Rara!" Lanjut Gesa bergumam pelan dengan menatap kaca westafel yang ada di dalam kamar mandinya.
__ADS_1
...🔥🔥🔥...