AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
24 | KEMEJA BIRU


__ADS_3

"Kak Gesa tau obat aku yang aku taruh di laci nakas nggak? Tiba-tiba nggak ada." Tanya Aira dengan berlari menuruni tangga.


Gesa yang tengah asyik bermain game online dengan rokoknya di tangannya menoleh begitu saja setelah menghentikan sementara game online di ponsel mahalnya.


"Nggak tau. Nggak buka laci nakas sama sekali." Jawab Gesa dengan pura-pura bodoh padahal ia sendiri yang sengaja membuang obat penyakit jantung milik Aira.


"Emang obat apaan si? Panik amat, beli lagi aja.. Yuk gue anterin."


Aira menggelengkan kepalanya cepat dengan bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini. Jika ia mau menerima ajakan Gesa, maka Gesa akan tahu penyakitnya bahkan akan membenci dirinya.


Namun disisi lain, Aira juga sangat membutuhkan obat tersebut untuk menyokong penyakit jantungnya jika tiba-tiba kambuh dan makin parah.


"Gimana ya kak?" Gumam Aira dengan berjalan mondar-mandir di depan Gesa dan menggigiti kuku jarinya.


Gesa menghela nafas pelan melihat istri kecilnya yang bingung dan panik akibat kehilangan obatnya yang sengaja ia buang beberapa waktu lalu.


"Tapi masih minum obat yang gue kasih kan?" Tanya Gesa tiba-tiba.


Aira menganggukkan kepala, "Masih kak. Buat jaga-jaga juga biar aku nggak kebobolan karena nafsu kak Gesa yang nggak ada habisnya sama aku." Jawab Aira cepat dengan polosnya.


Gesa tersenyum kecil mendengar jawaban Aira yang begitu polos dan main ceplas-ceplos begitu saja.


"Gue lebih suka hamil baby beneran deh Ra daripada kemana-mana bawa lemak kek gitu." Ejek Gesa dengan memincingkan matanya menatap Aira dan menahan tawanya.


"Itu mah kak Gesa yang mau.. Aku belum siap kak dan aku masih kelas 11 sebentar lagi juga kelas 12 dimana kontrak kita selesai juga."


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Kalo tiba-tiba dalam jangka waktu dekat-dekat ini lo hamil gimana? Perutnya lo bukan lemak lagi isinya tapi baby gue gimana?"


Aira terkesiap mendengar pertanyaan Gesa yang jujur saja membuatnya bimbang dan bingung. Harus bagaimana jika ada bayi di antara dirinya dan Gesa? Apakah nasib bayinya kelak akan seperti dirinya yang broken home dan tidak ada kasih sayang dari orangtua yang tulus?


Itulah pemikiran Aira dimana ia sudah memikirkan masa depan anak-anaknya kelak walaupun ia belum hamil sekalipun.


Aira mengusap perutnya yang memang sedikit buncit karena lemak, "Ya gapapa kak. Anak kan rejeki dari Tuhan masak nggak aku terima sih."


"Pernikahan kita?" Tanya Gesa memastikan.


"Terserah kak Gesa aja.. Kak Gesa mau cerai saat kontrak kita selesai dalam keadaan aku hamil atau setelah persalinan aku juga gapapa." Jawab Aira dengan sedikit berat hati.


"Terus nanti kalo lo hamil dan gue ceraian lo masa-masa ngidam lo gimana? Mau minta bantuan siapa?"


"Aku bisa sendiri kak. Lagian juga udah terbiasa melakukan apapun sendiri.. Jadi kak Gesa nggak usah berlebihan apalagi dengan mikirin masa ngidam aku."


"Cerai secepatnya juga bisa buat kak Gesa deket lagi sama cewek-cewek kak Gesa diluar sana tanpa halangan lagi dari mama."

__ADS_1


Mendengar ucapan Aira, Gesa meletakkan rokoknya diatas asbak dan tidak mempedulikan lagi ponselnya yang jatuh diatas karpet lalu menarik pinggang Aira begitu saja dan memeluk erat perut Aira.


"Cepet ada disini ya jagoan papa.. Minta apapun pasti papa kasih deh." Ucap Gesa dengan mengusap bahkan mengecupi perut Aira.


Aira tersenyum tipis dan terharu melihat Gesa yang mulai meratukan dirinya walaupun dengan alasan keberadaan sang bayi yang sangat Gesa nantikan di perutnya.


...🔥🔥🔥...


"RA.. KEMEJA KOTAK-KOTAK GUE YANG WARNA BIRU DIMANA?" Teriak Gesa dari dalam kamar tepat lantai dua.


Aira yang melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air putih mendadak berhenti begitu saja saat mendengar teriakan keras dari Gesa di malam yang menunjukkan pukul 7 malam.


"BENTAR.." Jawab Aira tidak mau kalah dengan teriakan Gesa lalu menghabiskan minumnya dengan cepat.


Aira berlari dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya bersama Gesa lalu memasuki walk in closet dan melewati Gesa begitu saja.


"Udah berapa kali gue bilang jangan lari-lari apalagi naik tangga, bandel deh.." Omel Gesa dengan mengusap rambutnya yang basah dan hanya handuk yang melilit pinggangnya.


Roti sobek di perut Gesa merupakan penyebab utama mengapa Aira tidak mau menatap Gesa kali ini.


"Jangan deket-deket aku deh kak."


"Aku lagi cari kemeja yang kak Gesa cari ini." Lanjut Aira dengan memilah semua baju Gesa yang sudah rapi di dalam almari.


Aira menghela nafasnya pelan, "Kalo kak Gesa gini mulu nanti yang ada kemejanya nggak ketemu-ketemu dan kak Gesa nggak jadi keluar mau?" Ucap Aira dengan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghindari kecupan Gesa yang semakin menjadi-jadi di lehernya.


"Gapapa kalo nggak jadi keluar lagian cuma sama Jefri dan Andre doang.. Kalo di banding sama lo ya gue lebih pilih lo." Jawab Gesa dengan ringannya.


Aira melompat kecil untuk mengambil kemeja Gesa yang ternyata terletak di almari paling atas.


"Jangan lompat ada baby disini." Ucap Gesa dengan mengusap kecil perut Aira.


"Ini lemak kak.. Lemak!" Geram Aira dan mulai berani menepis tangan Gesa.


Gesa tertawa mendengar geraman Aira yang terlihat sangat menggemaskan di matanya lalu menoel-noel pipinya pelan.


"Gue ambil sendiri sendiri.. Makanya jangan pendek jadi orang." Ejek Gesa lalu mulai mengulurkan tangannya di almari bagian atas.


"Hati-hati ambilnya dan jangan sampai atas atau bawahnya berantakan. Itu yang warna biru letaknya di tengah." Peringat Aira.


Gesa yang tidak pernah mengambil baju di dalam almari hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar seolah mengerti.


"KAK GESA.." Teriak Aira saat Gesa menarik kemeja birunya yang membuat semuanya berantakan dan kucel lagi.

__ADS_1


"Benerkan kata aku, jadi berantakan semuanya.. Ih kak Geasa bikin gemes mau aku pukul." Omel Aira dengan merapikan semua baju Gesa yang berjatuhan di lantai.


Gesa hanya tersenyum geli menatap Aira beserta mendengarkan omelannya, "Yakan gue emang nggak pernah ambil baju di almari Ra, mana tahu gue caranya ambil baju yang bagian tengah."


"Tadi aku ambil nggak boleh sekarang jadi berantakan semua, mana baju kak Gesa baru aku setrika kemarin ini."


"Ya maaf sayangku." Ucap Gesa dengan ringannya.


Aira hanya menghela nafasnya pelan, "Yaudah sekarang kak Gesa siap-siap sana nanti keburu malem.. Biar aku yang beresin ini semua." Suruh Aira pada Gesa.


Memdengar ucapan Aira, Gesa dengan cepat meriah rahangnya dan mengecup singkat bibir Aira yang selalu berwarna pink bagaimana pun keadaannya.


"Jangan pulang malem-malem ya kak, nanti takutnya waktu kak Gesa pulang aku udah ketiduran dan nggak ada yang buka pintu."


"Makanya cepet-cepetin ada baby Ra, biar gue betah di rumah dan main sama baby." Jawab Gesa dengan melepas handuk yang melilit di pinggang tanpa malu di depan Aira.


Aira hanya menundukkan kepalanya dan fokus untuk membereskan kekacauan yang disebabkan langsung oleh Gesa.


"Atau gue dirumah aja ya Ra, bikin baby lagi kali aja besok pagi udah jadi." Tawar Gesa yang membuat Aira mendongakkan kepalanya.


"Dikira sulapan apa gimana kak Ges? Aneh deh.. Kali ini jadwal kak Gesa main sama temen-temen masak mau dibatalin gitu aja."


"Nggak solid dong." Lanjut Aira.


"Yakan batalinnya juga ada alasannya Ra."


Aira menatap Gesa dengan pandangan anehnya, "Alasannya ya lo! Kita investasi bibit unggul gue yang gue donasikan ke lo." Lanjut Gesa yang membuat mata Aira melotot dan memukul lengan Gesa tanpa pikir panjang.


Gesa berlari menuruni tangga dan menuju garasi untuk segera pergi bersama dengan Jefri dan Andre agar ia juga tidak pulang terlalu malam.


"KALO NGIDAM MAU MAKAN APAPUN TELFON AJA!!" Suara teriakan Gesa yang berasal dari garasi yang membuat Aira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum manis.


"Mau jadi ratunya kak Gesa beneran biar penuh cinta sama kasih sayang dari kak Gesa yang nggak pernah aku dapatkan dari sebuah keluarga.." Gumam Aira kemudian menghela nafasnya pelan dan berjalan menuju kamarnya.


...🔥🔥🔥...


...MAS GESAKUU ❤️...




__ADS_1


__ADS_2