
...FOLLOW INSTAGRAM :)...
...npaaaaa___...
...🔥🔥🔥...
"Ditawarin anak direktur kemarin namanya Nana." Ucap Gesa tiba-tiba.
Aira yang tidak faham dengan ucapan Gesa dengan cepat meletakkan sendok makannya lalu menatapnya dengan bingung.
"Ditawarin? Maksudnya gimana sih kak?" Tanya Aira kemudian dengan mengangkat kedua alisnya.
Gesa hanya mengendikkan bahu bersamaan dengan menyendokkan makanannya dengan santai, "Suruh pendekatan gitu loh sayang."
"Oh.." Jawab Aira singkat dengan perasaan yang sudah tidak mood lagi.
Gesa memang tampan, tajir dan jenius apalagi status anak tunggalnya semakin membuat semua wanita yang diluaran sana tergila-gila padanya.
Siap tidak siap Aira hanya mengikuti alur kedepannya nanti bagaimana dengan Gesa tapi yang jelas ia akan tetap berusaha menghilangkan rasa cintanya dan tidak akan berharap lagi balasan cintanya atas Gesa.
"K-Kak Gesa terima dia?" Tanya Aira ragu-ragu karenan perasaan sakit hatinya.
Gesa tampak berfikir lalu menganggukkan kepalanya pelan, "Gue terima sih. Kata papanya dia, dia mau ketemu gue." Jawab Gesa kemudian.
Aira tersenyum kecil mendengar jawaban Gesa dan sudah ia juga sadar dari awala bahwa Gesa tidak akan pernah ada rasa terhadapanya.
"Pasti cantik dia Ra kemana-mana orang anak direktur pasti dia berpendidikan."
"Aku mau ke kamar mandi bentar ya kak, tiba-tiba perut aku terasa penuh." Ucap Aira tiba-tiba dan berjalan cepat menaiki tangga.
Khawatir dengan Aira dan sang jagoan, Gesa dengan cepat berlari kecil mengikuti Aira menuju kamar mandi yang tepatnya di dalam kamar mereka berdua.
Melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan Aira yang berada di dalam, entah pikiran darimana ia dengan cepat menempelkan telingannya begitu saja di daun pintu untuk mendengarkan sedang apa istrinya di dalam.
"Sama papa udah dicarikan mama baru sayang.. Kamu nggak boleh nakal ya kalo sama papa atau sama mama baru."
"Harus nurut sama papa dan nggak boleh jadi anak manja." Lanjut Aira yang tengah berbicara dengan mengusap perutnya.
Dimana ia telah kecewa dan menangis tepat di depan kaca kamar mandi. Mencurahkan semua isi hatinya yang sakit walaupun itu hanya mendengar Gesa yang akan pendekatan dengan wanita lain.
"Mama nggak tau kenapa mama bisa kayak gini sama papa kamu. Yang mama inginkan cuma hilangin rasa cinta mama buat papa kamu.. Biar kamu nantinya bisa hidup bahagia sama papa dan mama baru kamu sayang." Ucap Aira lagi dengan menahan isak tangisnya.
Hormon hamil mudanya selalu berhasil merusak moodnya lagi dan lagi apalagi Gesa adalah pemeran utama dalam kerusakan tersebut.
Diluar kamar mandi, Gesa tampak tersenyum senang bahkan kelewat senang dengan loncat-loncat bak anak kecil yang habis di belikan permen oleh ibunya.
Mendengar ketulusan cinta Aira padanya dan bukan tulisan seperti di buku harian Aira kemarin, membuat Gesa hilang akal sendiri dan semakin ingin berdekatan dengan Aira.
Gesa tergila-tergila dengan Aira.. Sangat!
"Panas ya Tuhan muka gue."
"Cuma denger doang ini ya Tuhan dan Aira nggak ada di depan gue." Lanjut Gesa dengan mengipasi wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
Semua ungkapan cinta Aira padanya membuat Gesa mengusap kasar rambutnya karena salah tingkah sendiri, "Kenapa gue jadi gila kayak gini sih.. Arghhh! Aira emang bener-bener ya bikin gue gila."
__ADS_1
"Udah cantik, baik, mana bawa jagoan gue lagi.. Sempurnanya ciptaan-Mu ya Tuhan." Lanjut Gesa dengan tersenyum sendiri menatap foto pernikahan mereka yang berada di atas ranjang.
...🔥🔥🔥...
"Sebenarnya kita ini mau kemana kak Ges?" Tanya Aira saat Gesa dengan cepat membantu Aira memakaikan jaket denimnya.
Gesa tidak menjawab dan hanya bisa menahan senyumnya tanpa henti akibat penyataan cinta Aira sore tadi.
"Rahasia.. Nurut aja deh Ra, gue nggak akan bahayain lo apalagi nyakitin lo sama baby." Jawab Gesa kemudian dan berakhir dengan mengecup singkat perut Aira.
Aira mengenakan dress lengan pendek malam ini hingga membuat Gesa berinisiatif memberikan jaketnya pada Aira daripada harus berlama-lama lagi menunggu sang istri ganti baju.
"Yuk berangkat.." Ajak Gesa dengan tangan yang melingkar di pinggang Aira untuk menuntun jalan menuruni tangga.
Aira sendiri yang percaya dengan Gesa bahwa Gesa tidak akan menyakitinya hanya diam dan nurut apa kata Gesa malam ini.
"Nanti kalo mau muntah bilang ya sayang."
Aira menganggukkan kepalanya singkat bersamaan dengan memasuki mobil mewah milik Gesa.
"Mau makan apapun juga bilang.. Jangan ditahan! Gue nggak mau ya anak kita nanti ileran cuma karena gue nggak nurutin apa yang dia mau."
"Sejak kapan kak Gesa jadi cerewet kayak gini?" Gumam Aira pelan dengan menghela nafasnya.
"Bukannya cerewet sayang tapi gue hanya mencoba buat menjadi suami sama calon ayah yang siaga.. Siap antar dan jaga."
Aira sendiri hanya tertawa mendengar jawaban Gesa yang ternyata mendengar suara kecilnya.
Gesa segera mengemudikan mobilnya dengan tangan sebelah yang selalu mengusap perut Aira dan hal tersebut tanpa sadar sudah menjadi kebiasaannya.
Aira mengedikkan bahunya dan tangannya reflek mengusap-usap tangan Gesa yang ada di perutnya, "Dinikmatin aja kak prosesnya, nanti lama-lama juga buncit sendiri seiring berjalannya bulan."
"Apa jatahnya kurang ya?"
Mata Aira dengan cepat melotot dan memalingkan pandangannya menatap Gesa, "Jatah apa maksudnya?!"
"Y-Ya jatah makan sayang.. Ya kali jatah ranjang eh--- Nggak gitu sayang."
"Maksud aku jatah makan lo sama baby yang kurang." Jelas Gesa kemudian setelah menepuk pelan bibirnya karena salah bicara.
Gesa memang menahan gairahnya sudah lama semenjak dokter menyarankan agar berhenti dulu karena usia sang janin masih terlalu muda dan rawan keguguran. Hal tersebut mampu membuat Gesa uring-uringan sendiri karena gairahnya yang hanya untuk Aira harus tertahan entah sampai kapan.
"Besok mau kita ke dokter kandungan.. Harus!"
Aira memincingkan matanya karena bingung bukan jadwalnya untuk periksa. "Ngapain kesana kak? Jadwal aku masih satu minggu lagi." Tanyanya kemudian.
"Mau nanya kapan gue boleh tidurin lo.. Sumpah udah nggak betah." Jawab Gesa dengan mata yang sayu pada Aira.
Entah ide darimana yang ada di pikiran Aira dengan cepat ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Gesa, "Sabar ya.. Pasti dibolehin kok sama dokter."
Mendapat perlakuan tersebut dari Aira, wajah Gesa sukses memerah seperti kepiting rebus dan menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan yang sepi.
Gesa menangkup wajah Aira dan mulai mengecupinya tanpa henti karena gemas, "Istri gue yang kecil sama mungil kenapa lo gemesin banget sih ah elah." Greget Gesa kemudian dan tanpa sadar memukul setir mobil karena gemas dengan Aira sekaligus salah tingkah sendiri.
...🔥🔥🔥...
__ADS_1
"Ini ada beberapa dress untuk acara yang anda maksud tuan muda Deanova." Ucap salah satu pegawai butik dengan membawa beberapa dres seksi.
Gesa membawa Aira untuk membeli dress baru yang mana akan digunakan untuk acara lelang yang diadakan oleh kedua orangtua.
"Dress yang kak Gesa belikan kemarin cuma aku pakai satu kali dan ini kita beli lagi? Kak Gesa kenapa boros ih." Bisik Aira pelan dengan mencubit perut Gesa.
Cup
"Dikurangin bawelnya sayang. Kita di tempat umum sekarang.. Kalo nggak mau pilih gue akan habisin bibir lo sekarang juga disini." Ucap Gesa dengan berbisik setelah mengecup singkat pipi Aira.
Aira menghela nafasnya dan meneliti satu-satu dress yang dibawa oleh beberapa pegawai butik yang berdiri tepat di depannya.
"Sekedar informasi, gue suka yang belahan dada rendah." Gumam Gesa pada Aira.
"Untuk belahan dada rendah saya bisa merekomendasikan yang-"
"Nggak mbak nggak!" Tolak Aira cepat saat salah satu pegawai menyodorkan dress pendek belahan dada rendah setelah mendengar gumaman Gesa.
Gesa hanya tersenyum geli menatap Aira lalu mengecup bibirnya singkat, "Gue tunggu di sofa sana ya.. Pilih yang lo dan jangan buru-buru." Lanjutnya lalu Gesa menatap salah satu pegawai butik tersebut.
"Bikin istri saya cantik ya mbak." Ucapnya kemudian.
Beberapa menit kemudian, Aira keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju tempat dimana Gesa tengah duduk disana.
Mata Gesa melotot kagum tidak berkedip melihat Aira yang super duper cantik bahkan seksi dengan dress ketat sekaligus memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit karena hamil.
"Yang.. Cantik beneran sumpah! Gue nggak bohong." Ucap Gesa tanpa sadar dengan berjalan pelan memutari tubuh Aira.
"Saya suka yang ini, bilang aja sama pemilik butik ini kalo uangnya nanti saya transfer." Lanjut Gesa kemudian pada pegawai lalu pergi begitu saja dengan menuntun Aira.
Aira memutar bola matanya malas melihat Gesa yang baru pertama kali sesenang dan seantusias ini, "Acara lelangnya besok kak, harus dress ini aku lepas dan aku pakai buat besok."
"Bodo amat yang penting gue suka.. Eh tapi sayang, lo nyaman kan pakai dress ini?"
"Kalo aku nggak nyaman gimana kak?" Jawab Aira dengan pertanyaan ulang pada Gesa.
Gesa menghela nafasnya kecewa, "Yaudah gapapa besok kalo ke acara jangan pakai dress ini, besok kita beli lagi yang lain ya biar lo nyaman."
Aira tersenyum haru sekaligus bangga dengan Gesa, dimana Gesa kali ini benar-benar mementingkan keadaannya dan juga bayi yang tengah ia kandung.
"Aku nyaman kok kak, sumpah.. Kainnya adem dan bisa melar, jadi aku nyaman walaupun perut aku menonjol."
"Aku harap juga kak Gesa nggak malu besok bawa aku yang perutnya kelihatan buncit." Lanjut Aira dengan menundukkan kepalanya kecewa.
Gesa mengecup kening Aira singkat, "Nggak akan malu, yang menonjol baby kita.. Gue malah seneng banget lihat bentuk tubuh lo dengan perut yang menonjol kayak gitu."
"Gemesin ih." Lanjut Gesa kemudian dengan mengepalkan tangannya lalu menempelkan pelan di perut Aira.
"Tos dulu sama papa, baby boy."
Aira menatap lalu mengusap perutnya pelan, "Tos sama papa ya sayang.."
"Tidak tahu akan rumah tanggaku kelak seperti apa dengan kak Gesa.. Namun yang jelas, akan aku usahakan untuk hari ini dan esok kita tetap tertawa dan akan aku manfaatkan waktu dimana ikatan status kita dengan baik untuk kita selalu tersenyum bersama."
...🔥🔥🔥...
__ADS_1