AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
36 | HAMIL


__ADS_3

...IG : FRISKYA___...


"Kemarin kok bos lo ganti? Kemana si Revan?" Tanya Gesa tiba-tiba dan sok tidak tahu.


Aira memang belum tahu bahwa Gesa adalah bos paling tingginya saat ini, alias pemilik kedai yang pura-pura diluar negeri dan mengutus Joe sebagai kepala kedai saat ini.


Aira menghela nafasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya, "Iya kak. Kak Revan emang pindah tapi nggak pecat aku.. Aku masih diterima kerja di kedai itu dan atasan aku namanya pak Joe."


"Pak Joe orangnya baik kak, aku suka." Lanjut Aira kemudian.


"Emang si Revan pindah kemana?"


Aira menggelengkan kepalanya, "Kurang tahu pasti kak kalo pindahnya dimana tapi yang jelas dan setau aku kedainya kak Revan itu jauh lebih besar dan strategis daripada kedainya yang lama."


Gesa hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum bangganya karena Revan ternyata mau menerima kerjasama dengannya dan berani mengambil resiko besar atas bisnisnya.


"Besok rencananya aku sama Dika mau ke kedai baru milik kak Ravan." Jawab Aira.


"Kenapa nggak sama gue aja? Suami lo itu gue atau si Dika sih.. Heran gue kemana-mana sama si Dika mulu."


Aira menghela nafasnya pelan mendengar ucapan Gesa dan alasan Aira untuk tidak mengajak Gesa kemana-mana adalah kesibukan Gesa yang tidak ada habisnya. Entah itu urusan kantor maupun urusan lain.


"Kesibukan kak Gesa nggak aku doang.. Kantor dan masih banyak lagi lebih butuh kak Gesa daripada aku."


"Ya tapi gue masih bisa kalo cuma anter lo doang dan sisanya nanti biar sama penjaga-penjaga yang gue suruh buat lo."


Aira menatap Gesa, "Kenapa harus ada penjaga sih kak? Ini bukan era kerajaan yang harus dijaga kemanapun aku pergi."


"No!!" Jawab Gesa dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalo nggak mau ada penjaga yaudah nggak akan gue ijinin pergi sama Dika.. Dikira gue nggak makan hati apa waktu lo lebih banyak sama Dika daripada sama gue." Lanjut Gesa kemudian mengomeli Aira.


"Tapikan nggak harus sama penjaga juga kak Gesa yang ganteng." Tolak Aira dengan gemas menatap Gesa.


Gesa yang awalnya hanya tiduran di paha Aira dan bermain ponsel seperti biasa mendadak bangun lalu mengungkung tubuh Aira dengan lengannya.


Melihat wajah Aira yang berada di bawahnya memerah seperti kepiting rebus membuat Gesa semakin gemas sendiri dan menggigit pipi Aira pelan.


"Sakit dong kak kalo di gigit." Kesal Aira dengan mengusap pipinya sisa gigitan Gesa.


"Mau ada penjaga setiap lo kemana-mana atau gue hancurin kedai tempat lo kerja, nggak akan gue bolehin kerja disana lagi dan gue kurung di rumah kayak awal pernikahan kita.. Mau yang mana?"


Aira bingung sendiri dengan pilihan yang ditawarkan Gesa, semuanya tidak ada yang menguntungkan untuk dirinya dan malah sangat beruntung adalah Gesa.


"Emm.. Tapi kalo pergi-pergi sama Dika boleh?" Tanya Aira tiba-tiba dengan memgusap lembut lengan Gesa.


Akhir-akhir ini memang Aira lebih agresif dengan Gesa, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Namun yang jelas Gesa tidak mempermasalahkannya dan ia juga semakin betah jika Aira selalu bermanja-manja padanya.


"Nggak boleh! Gue yang suami masak iya kemana-mana sama si Dika.. Kalo hamil juga itu pasti anak gue karena gue yang berperan utama dalam proses pembuatannya." Jawab Gesa ngegas seperti biasa.


Aira menghela nafasnya pelan, "Yaudah nggak jadi pilih deh, kalo mau kemana-mana sama kak Gesa aja." Ucapnya kemudian dan tanpa basa-basi lagi Aira menarik pinggang Gesa begitu saja memeluknya erat-erat.


...🔥🔥🔥...


"Bagaimana dengan keadaan tubuh anda? Apa yang anda rasakan akhir-akhir ini atau mungkin perubahan pada tubuh anda, boleh cerita sedikit." Tanya dokter keluarga Deanova yang tengah memeriksa Aira.


Gesa sudah berkali-kali membujuk Aira untuk pergi ke dokter dan periksa masalah kesehatannya. Namun, Aira tetap menolak dan berakhir hari ini dimana ia yang tiba-tiba pingsan begitu saja di dapur.


"Sudah kesekian kalinya dia lemas dok, nafsu makan juga menurun dan ini udah 4 kali dia pingsan juga.. Untung aja saat dia pingsan saya ada di rumah." Sahut Gesa cepat karena kesal dengan Aira yang dongkol dan tidak mau menurut padanya.

__ADS_1


Dokter tersebut hanya tersenyum tipis melihat perdebatan Gesa dan Aira yang terbilang masih pengantin baru.


"Kok kak Gesa yang jawab? Yang ditanya bukan kak Gesa tapi aku." Sewot Aira dengan posisi tubuh yang masih terbaring lemas diatas ranjang.


Aira kemudian menatap dokter tersebut, "Cuma lemes sama mual aja kok dok, apapun kalo nggak cocok sama selera selalu mual. Penciuman juga sensitif secara tiba-tiba." Lanjut Aira kemudian.


Gesa hanya diam mendengarkan sedetail mungkin percakapan Aira dan dokter pribadi keluarganya. Yang jelas ia harus lebih ekstra lagi memperhatikan kesehatan Aira.


"Dilihat dari gejala-gejala yang ada mungkin nona Aira tengah mengandung dan gejala yang diawali nona Aira biasanya memang terjadi pada saat mengandung trimister awal."


Mata Gesa melotot tidak percaya mendengar ucapan sang dokter, sedangkan Aira hanya terdiam dan tangan yang tiba-tiba mengusap lembut perutnya yang masih rata seolah tidak percaya bahwa di dalamnya tengah ada kehidupan.


"Saya hanya membawa beberapa vitamin untuk menjaga agar nona Aira tetap fit dalam beraktivitas.. Saran saya lebih baik periksa ke dokter yang lebih berpengalaman masalah kehamilan."


"Saya permisi, semoga kabar baik ini beneran terjadi dan selamat untuk kalian berdua." Lanjut dokter tersebut dengan membungkukkan badan lalu pergi begitu saja.


Gesa dengan cepat berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ranjang. "Buat jalan kuat nggak? Ke dokter yuk sayang periksa kandungan lo hamil atau nggak.. Ahh nggak sabar gue." Ucap Gesa girang dengan memasukkan kepalanya ke dalam kaos Aira lalu mengecupi perutnya tanpa ragu.


"I-Ini aku beneran hamil kak? Ada bayi di dalam sini?" Tanya Aira dengan polosnya dan tangan yang mengusap-usap kepala Gesa.


Gesa tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir Aira, yang tengah ia lakukan hanya mengecupi perut Aira dengan perasaan bahagia sekaligus terharu.


"Kita ke dokter sekarang." Ucap Gesa tiba-tiba bersamaan dengan mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongannya.


Aira yang kaget dengan tindakan Gesa, dengan cepat ia mengalungkan tangannya di leher Gesa dengan erat, "Aku bisa jalan sendiri kak." Ucap Aira kemudian.


"Lagi hamil nggak boleh bandel-bandel sayang." Jawab Gesa dengan melangkahkan kakinya menuju garasi.


"Naik mobil kita? Motor aja kak."


"Nanti yang ada lo sama dedek bayi kedinginan.. Nggak ah! Nggak suka gue, mobil aja."


"Nurut ya sayang sama suami soalnya lo lagi bawa bibit gue." Lanjut Gesa kemudian setelah menasehati Aira dan tidak lupa mengecup bibirnya singkat.


Aira tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini, masih bingung dengan semuanya yang terjadi dimana ia yang harus menerima kehamilan dimasa mudanya dan terpaksa harus putus sekolah di tingkat kelas dua SMA.


"Kenapa diem?" Tanya Gesa tiba-tiba saat perjalanan menuju rumah sakit.


Tidak menjawab dan masih setia dalam diamnya, Gesa mengulurkan tangannya dan mengusap lembut jemari Aira yang membuat sang empu kaget begitu saja.


"Ah iya kak, apa? Gimana?" Tanya Aira dengan nada gugup sekaligus kaget.


"Kenapa diem? Lagi mikirin apa? Ibu hamil nggak boleh banyak pikiran." Ucap Gesa.


Aira menolehkan pandangannya menatao Gesa, "Nggak kok kak, kau baik-baik aja.. Cuma belum percaya aja kalo lagi hamil." Jawab Aira dengan mengusap perutnya, "Dan disini ada kehidupan yang aku bawa.. Tempat baby." Lanjutnya dengan menatap perutnya dengan sayang dan haru.


"Sekarang nurut ya kalo dibilangin, jangan bandel-bandel lagi."


Aira hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu tanpa sungkan lagi maupun takut meraih lengan Gesa dan bersender disana dengan nyaman.


...🔥🔥🔥...


"Gue gendong aja." Tawar Gesa begitu mereka telah sampai di basemen parkir area rumah sakit.


Aira hanya menghela nafas lelahnya mendengar ucapan Gesa semenjak tahu jika Aira tengah mengandung dari dokter pribadi keluarga Deanova beberapa jam yang lalu.


"Kak Gesa aku bisa jalan sendiri dan aku masih kuat kalo cuma masuk rumah sakit."


"Tapi lo masih lemas dan baru aja pingsan, nanti kalo pingsan lagi gimana? Nggak ah! Yuk gue gendong aja."

__ADS_1


"Aku mau jalan sendiri kak, kan kak Gesa juga bisa gandeng aku.. Kakiku masih sehat dan bisa jalan." Jawab Aira yang kesal dan tidak mau kalah.


Kali ini Gesa benar-benar ekstra dalam memperhatikan Aira, bukan hanya untuk Aira saja namun kali ini Gesa sangat bersyukur dan akan menjaga Aira serta calon bayi mereka semaksimal mungkin.


Dan Gesa juga sudah berprinsip jika akan melakukan apapun dan akan memenuhi semua kebutuhan Aira dan sang baby ke depannya.


"Kalo aku nggak dibolehin jalan yaudah kak Gesa aja sana yang periksa sendiri." Sewot Aira kemudian dengan .elipat kedua tangannya di depan dada.


Gesa mengusap wajahnya kasar, "Iya deh iya jalan sendiri." Ucap Gesa dengan nada putus asanya dan hal tersebut sukses membuat Aira tersenyum senang lalu memeluk erat lengan Gesa tanpa ragu.


"Nyonya Deanova.." Panggil salah satu perawat untuk mempersilahkan Aira dan Gesa masuk.


"Nyonya udah berasa besar aja aku, padahal aku masih kecil udah dipanggil nyonya." Bisik Aira pelan yang membuat Gesa tidak dapat menahan tawanya.


"Kalo masih kecil kita nggak akan mungkin ada disini Ra, mana ada anak kecil ke dokter kandungan." Jawab Gesa kemudian yang dihadiahi cubitan kecil di perutnya oleh Aira.


Gesa dan Aira memasuki ruang pemeriksaan secara bersamaan dan tampak bingung karena untuk mereka berdua ini adalah hal yang pertama.


"Itu ada gumpalan kecil di perut nyonya Deanova dan itu akan berkembang menjadi janin.. Tetap dijaga ya untuk kesehatan dan pola makannya."


"Moodnya juga harus baik dan semangat, jangan angkat yang berat-berat."


"Suami harus penuh mendukung sang istri atas kehamilannya, memastikan dan menuruti apapun yang istri minta itu sudah termasuk membantu."


Gesa menganggukkan kepalanya dan mendengar sedetail mungkin tanpa melewatkan apapun karena prioritas utamanya kali ini adalah Aira dan calon anaknya.


"Apa kita bisa lihat jenis kelaminnya dok?" Tanya Gesa tiba-tiba yang diangguki oleh Aira karena rasa penasaran juga ada padanya.


"Untuk kita tahu masalah jenis kelamin sang janin mungkin bisa kita lihat saat kandungan berusia lima bulan ke atas."


"Istri saya sering mual kalo makan ataupun mencium bau yang menurut saya itu wajar-wajar aja dok, tolong sarannya?" Tanya Gesa lagi.


"Trimister awal memang begitu dan itu memang wajar di alami oleh ibu-ibu yang sedang mengandung terutama hamil muda.. Tugas anda sebagai suami hanya memastikan gizi sang ibu dan janin tetap terpenuhi dan mood sang ibu tetap terjaga."


"Setelah ini saya akan tuliskan resep untuk mengurangi rasa mual istri anda." Lanjut dokter tersebut dan meninggalkan Gesa dan Aira di dalam ruangan tersebut.


Gesa berjalan menuju Aira dan nengecup keningnya lembut, "Habis ini kita makan ya, mau makan apa?" Tawar Gesa.


Aira yang merasa moodnya kurang baik dengan cepat memeluk tubuh Gesa lalu menggelengkan kepalanya, "Kenyang.. Nggak mau makan."


"Belum makan kok udah kenyang. Kapan makannya?" Gumam Gesa pelan dengan mengecupi rambut Aira.


"Mau bakso kak, deket persimpangan jalan sebelah komplek." Ucap Aira tiba-tiba yang membuat Gesa tersenyum tanpa sadar.


Memastikan gizi Aira dan sang janin dengan makan yang cukup adalah tugas Gesa sekarang.


"Selain bakso mau apalagi?" Tanya Gesa lagi.


"Peluk kak Gesa sampai rumah terus tidur, udah gitu aja." Jawab Aira dengan ringannya tanpa memikirkan Gesa akan marah atau tidak.


Berbeda dengan Gesa yang semakin senang bukan kepayang jika Aira terus saja bermanja padanya dan meminta apapun tanpa sungkan sekaligus takut lagi.


"Kalo hamil jatah istri buat suami masih boleh nggak sih?" Ucap Gesa tiba-tiba yang mendapat cubitan dari Aira.


"Sakit sayang.." Rengek Gesa kemudian dengan mengecupi seluruh wajah Aira dengan gemas dan tanpa puas.


"Kalo jatah tetep jalan kasian si baby di sodokin mulu sama papanya." Jawab Aira singkat yang bersamaan dengan mereka berdua berjalan menuju pintu dan Gesa yang tertawa renyah begitu saja.


...🔥🔥🔥...

__ADS_1


...IG : FRISKYA___...


__ADS_2