AFIGESA | NIKAH MUDA

AFIGESA | NIKAH MUDA
22 | HUKUMAN


__ADS_3

"Ada yang bisa di bantu kak?" Tanya salah satu pelayan di kedai kopi tempat Aira bekerja.


Gesa mengusap wajahnya kasar dan merasa kecewa karena bukan istrinya yang melayani. Ia sendiri juga ingin tahu bagaimana reaksi Aira jika melihat dirinya dan ketahuan berbohong atas perintah dan larangan yang sengaja ia buat untuk Aira.


"Disini ada pegawai yang bernama Aira? Mungkin Aira Kleantha." Tanya Gesa to the point pada pelayan tersebut.


Gesa yakin bahwa Aira tidak akan menggunakan marga Deanova jika untuk urusan seperti ini.


Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya, "Ada kak tapi Airanya sedang istirahat."


"Saya mau dilayani sama Aira dan tolong jangan bilang sama dia jika saya memaksa."


"Sebentar ya kak akan saya panggilkan Aira." Ucap pelayan tersebut dan pergi begitu saja dari hadapan Gesa dengan sopan.


Gesa menatap ponsel mahalnya yang ada diatas meja dengan menyalakan rokok seperti biasa dan jangan lupakan bahwa Gesa adalah golongan perokok aktif.


Aira berhasil membuatnya takluk namun tidak dengan kebiasaan rokoknya. Kesepakatan masalah ciuman Aira bersamanya tetap berjalan hingga saat ini walaupun Gesa harus berjuang mati-matian mematuhi peraturan Aira yang mengurangi porsi rokoknya dalam sehari.


"Mau pesan ap-"


"K-Kak Gesa?" Ucap Aira kaget dan gugup secara bersamaan tanpa melanjutkan pertanyaan sebelumnya yang ia lontarkan seperti biasa saat menyapa pelanggan.


Gesa menghembuskan asap rokoknya, "Duduk!" Tegasnya pada Aira.


"Ngapain disini?"


Aira hanya menundukkan kepalanya takut. Suara Gesa yang tegas membuatnya ciut seketika apalagi dengan tatapan tajamnya yang menggambarkan bahwa Gesa sedang marah padanya.


"Gue tanya, ngapain disini?" Tanya ulang Gesa tegas pada Aira.


"K-Kerja kak, habis ini juga pulang." Lirih Aira dan tidak berani menatap Gesa.


"Bisa-bisanya istri Gesa kerja di tempat ginian? Jatahnya kurang apa gimana sih, ya Tuhan istri kecil gue kenapa gemesin banget kalo lagi takut gini." Batin Gesa dengan menatap Aira yang menundukkan kepalanya takut.


"Siapa yang suruh kerja?"


Aira menggelengkan kepalanya pelan, "N-Nggak ada yang suruh, cuma kemauan diri sendiri aku aja kak.. Maafin aku dan jangan marah ya." Gumam Aira pelan.


"Tadi gue bilang apa sebelum gue berangkat turnamen?"


"Gaboleh keluar rumah dan kalo emang mau keluar harus ijin dulu."


"Ya terus sekarang ngapain keluar? Udah nggak ijin sama gue dan disini kerja.. Terus lo nggak bolehin gue untuk marah gitu?!! Hello Aira sayang gue suami lo kalo lo lupa!!" Marah Gesa pada Aira.


"I-Iya-iya maaf. Aku minta maaf kak.. Dan aku harus kerja buat beli kebutuhan aku."


Gesa meletakkan rokoknya ke dalam asbak yang ada diatas meja, "Kebutuhan yang mana? Sekarang gue tanya sama lo, kebutuhan apa yang lo butuhin dan selama ini jatah dari gue kurang apa gimana?"


"Kalo kurang itu bilang! Kalo lo kerja kayak gini sama aja lo injek-injek harga diri gue sebagai kepala rumah tangga." Lanjut Gesa yang tidak bisa menahan marahnya lagi pada Aira.


"N-Nggak gitu kak, aku bisa jelasin.. Aku nggak mau repotin kak Gesa buat beli kebutuhan aku apalagi hubungan pernikahan kita cuma kontrak dan aku juga butuh tabungan kak buat hidup saat kita nggak bersama lagi nanti."


Gesa berdiri dari duduknya lalu mengeluarkan dompet yang ada di saku celananya, mengambil semua kartu kredit, kartu debit bahkan blackcardnya yang biasa digunakan belanja tanpa batas nominal lalu menyerahkan begitu saja pada Aira.


"Belanja semua kebutuhan lo dengan ketiga kartu ini terserah yang mana. Semuanya no limit."


"Nggak mau kak, aku mau pakai uang aku sendiri dan kartu-kartu dari kak Gesa waktu kita selesai akad juga masih utuh belum aku pakai sama sekali."


"Kenapa nggak dipakai buat belanja?" Tanya Ges dengan memincingkan matanya.


"Semuanya udah tersedia lengkap di rumah kita dan mana mungkin aku belanja lagi."

__ADS_1


"Ya terus kebutuhan lo apalagi kalo kebutuhan rumah tangga kita udah lengkap? Mau beli apa gue beliin, mahal pun gue akan beliin asal itu keinginan lo dan buat lo."


Gesa memang sudah curiga dari awal tahu bahwa Aira sakit dan perihal kerja, Gesa juga tau akan Aira belikan apa jika ia menerima gaji dari kerja paruh waktunya.


Aira hanya bisa bungkam mendengar pertanyaan Gesa yang mematikan, ia bingung harus menjawab apa dan bagaimana jika gajinya akan ia belikan untuk kebutuhan obat penyakitnya selama ini.


Gesa menarik lengan Aira, "Kita pulang dan gue akan hukum lo." Tegas Gesa yang membuat Aira memelototkan matanya.


"Nggak bisa pulang gitu aja kak, aku belum waktunya pulang." Jawab Aira.


"Oh belum bisa pulang ya?" Tanya Gesa dengan tersenyum manis menatap Aira.


Aira menganggukkan kepalanya tanpa ragu saking polosnya yang terkadang membuat Gesa gemas sendiri.


"Lo lihat orang-orang diluar sana yang pakai baju hitam semua itu?" Tanya Gesa tiba-tiba dengan menunjuk semua anak buahnya yang berbaris rapi di depan kedai kopi tersebut.


"Itu semua anak buah gue yang selalu ikutin lo kemanapun dan semuanya patuh sama gue."


Aira melongo tidak percaya bahwa dirinya sejak berangkat dan bekerja sejak tadi tengah di mata-matai oleh anak buah Gesa yang tentunya terbilang sangat banyak.


"Pilihan sekarang hanya dua, pulang sama gue atau gue suruh anak buah gue buat hancurin kedai kopi ini yang seenaknya mempekerjakan istri gue apalagi tanpa seijin gue."


"Kak Ges.." Rengek Aira manja dengan mengusap lembut lengan Gesa.


Gesa memang mudah luluh dengan rengekan manja Aira akhir-akhir ini. Namun tidak dengan situasi saat ini apalagi dengan keadaan Aira yang sakit dan baru saja pulang dari rumah sakit.


"Nggak luluh! Pilih mana cepet?! Pulang atau kedai hancur?" Jawab Gesa dengan memalingkan pandangannya tanpa mau menatap Aira.


Gesa bisa jatuh dan luluh begitu saja jika menatap mata gemas Aira apalagi ditambah dengan rengekan manjanya.


Aira menghela nafas kecil dengan terpaksa ia harus melepas celemeknya begitu saja dan berjalan menuju meja kasir.


"Oh jadi lebih pilih kedai ini hancur dan nggak mau pulang sama sua-"


Gesa memelototkan matanya tidak percaya bahwa Aira yang polos kini telah berani berteriak padanya dan sialnya Gesa tidak bisa marah apalagi terpancing emosi oleh kelakuan Aira yang random.


"Bikin gemes tau nggak?!! Pingin buntingin secepatnya.." Gerutu Gesa gemas dan tersenyum kecil tanpa sadar.


...🔥🔥🔥...


"Lo itu siapa gue sih di bilangin nggak pernah nurut sama gue, mentang-mentang gue udah nggak pernah marah lagi sama lo." Omel Gesa ketika mereka berdua memasuki rumah.


Aira hanya berjalan mengikuti Gesa dengan membawa semua perlengkapan basket yang dibawa Gesa saat turnamen.


"Istrinya kak Gesa dan kata mama aku nggak boleh takut lagi sama kak Gesa." Jawab Aira dengan meletakkan ransel Gesa di sofa.


"Kenapa sama gue nggak takut? Awal-awal aja takutnya minta ampun kok sekarang main nggak takut gitu aja." Tanya Gesa tiba-tiba dan berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Aira menghela nafasnya kecil dan mau tidak mau Aira harus mengikuti Gesa untuk menyiapkan semua kebutuhannya hari ini.


"Gimana mau takut orang kak Gesa bukan hantu. Dulu juga ancamannya bikin baby dan waktu itu takut sakit eh sekarang udah nggak takut lagi soalnya udah ngerasain bikin baby sama kak Gesa." Jawab Aira yang membuat Gesa tersenyum devil.


"Yaudah ayo bikin baby sekarang. Kan nggak sakit tapi enak."


"NGGAK!!" Tolak Aira mentah-mentah saat Gesa sengaja menggodanya.


Gesa tertawa kerasa saat mendengar penolakan Aira yang selalu berteriak ngegas seperti ciri khas yang selalu ia tunjukkan padanya.


"Istriku tidak polos lagi." Gumam Gesa pelan yang membuat Aira tersenyum kecil.


Aira mengeluarkan semua yang ada di dalam ransel Gesa, "Aku nggak polos cuma akting aja sebenarnya." Jawab Aira ringan menanggapi Gesa.

__ADS_1


"Tumben bekalnya habis, nggak dibuangkan?" Lanjut Aira dengan memperlihatkan kotak makan pada Gesa.


"Laper maybe."


Gesa melepaskan jersey basketnya dan terlihatnya perut seperti roti sobek yang sangat menggiurkan untuk mata Aira.


"Kenapa tiba-tiba nunduk gitu matanya?"


"Suami ganteng kayak gini lo abaikan gitu aja Ra?" Lanjut Gesa lagi.


"Siniin jerseynya sekalian aku mau cuci." Jawab Aira cepat dengan mengulurkan tangannya dan mata yang tidak berani menatap Gesa.


Entah apa yang membuat Aira jadi malu seperti ini tapi yang jelas gambaran tubuh Gesa saat sedang berada diatasnya tercetak jelas di pikirannya kali ini.


"Nggak boleh cuci sendiri, lagi sakit juga." Omel Gesa dengan mendekatkan tubuhnya pada Aira.


"E-Eh kak."


"Kenapa mundur-mundur sih? Orang gue nggak gigit kok lo mundur-mundur gitu." Goda Gesa kemudian dengan terus melangkah ke depan yang berkahir dengan Aira menempel sempurna di lemari pakaian miliknya dan Gesa.


"Siapa yang suruh kerja?"


"Siapa yang bolehin keluar rumah?"


"Siapa yang nggak ijin saat mau keluar rumah?"


"Siapa yang berani ngelanggar aturan yang gue buat?"


"Siapa yang berani teriak sama gue?"


Cup


Gesa mengecup bibir Aira singkat sebagai penutup semua dari pertanyaannya.


"Aku udah jelasin sejujur-jujurnya kan tadi kak, kenapa sekarang aku masih diginiin?"


Aira berusah mendorong dada bidang Gesa namun itu hanya sia-sia karena tenaga Aira memang tidak sebanding dengan pertahanan Gesa.


Tidak menjawab pertanyaan Aira, Gesa dengan cepat mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongannya seperti induk koala dengan anaknya dan tanpa babibu lagi Gesa membanting kasar tubuh Aira diatas ranjang yang berukuran besar dan tentunya sangat empuk.


"K-Kak Gesa mau ngapain? Mandi dulu sana ah." Ucap Aira dengan gugup saat Gesa mulai menaiki tubuhnya.


"Hukumannya baby." Gumam Gesa pelan dengan mencium leher Aira bahkan menggigitnya kecil.


"Gue berencana mau punya baby tiga sejauh ini, tapi kalo dikasih lebih sama Tuhan gue terima dan gue seneng banget." Bisik Gesa kemudian.


Tangan Aira berusaha mendorong Gesa namun semuanya sia-sia dan yang Aira lakukan saat ini hanya berpegangan bahkan dengan berani mengusap perut kotak-kotak milik Gesa.


"Kita bikin baby ya Ra, sekarang." Ajak Gesa lalu mengecup bibir Aira singkat.


"Nggak mau." Tolak Aira begitu saja.


Tidak menghiraukan jawaban Aira, Gesa mulai aktif mengecupi rahang Aira bahkan mulai ke bagian leher dan meninggalkan bekas merah disana.


BRAK!!


"ASTAGA!!" Teriak Sofia tiba-tiba saat membuka kamar dan melihat Gesa dan Aira tengah berada diatas ranjang dan posisi yang sangat intim ditambah dengan Gesa yang tidak memakain kaos.


"Shitt!! Ah elah mama ganggu." Geram Gesa lalu turun dari tubuh Aira dan berlari menuju kamar mandi.


Aira hanya tertawa lalu bangun dan merapikan bajunya yang kucel akibat ulah Gesa.

__ADS_1


...🔥🔥🔥...


__ADS_2